Rekomendasi Peningkatan Berat Badan Ibu Hamil

Oleh :
dr. Paulina Livia Tandijono

Peningkatan berat badan pada ibu hamil tidak boleh terlalu banyak atau sedikit, harus disesuaikan dengan rekomendasi yang berlaku. Sebab, peningkatan berat badan yang berlebih atau kurang akan menimbulkan akibat buruk bagi janin dan ibu. Bahkan, hal ini dapat memberikan efek jangka panjang pada janin atau pada kehamilan berikutnya.

Depositphotos_31984907_m-2015_compressed

Data dari Pregnancy Risk Assessment Monitoring System menyatakan bahwa 50–73% ibu hamil di Amerika Serikat mengalami penambahan berat badan di luar rentang yang direkomendasikan. Padahal, sebagian besar dokter spesialis kebidanan telah memberikan edukasi mengenai penambahan berat badan yang disarankan selama kehamilan pada saat kunjungan antenatal. Sayangnya, edukasi ini tidak sepenuhnya sampai pada pasien. Sebuah survei menyatakan bahwa mayoritas ibu merasa tidak mendapat edukasi mengenai batasan peningkatan berat badan selama kehamilan, bahkan ada beberapa subjek yang merasa bahwa dokter menyarankan peningkatan berat badan di luar kisaran yang disarankan.[1,2]

Padahal, peningkatan berat badan yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah berikut:

  • Peningkatan berat badan lebih dari kisaran yang disarankan

  • Peningkatan berat badan kurang dari kisaran yang disarankan

    • Intrauterine fetal growth restriction (IUGR)

    • Small gestational age (SGA)

    • Persalinan prematur
    • Gangguan perkembangan neurologis janin (mungkin dapat memengaruhi perkembangan neurologis setelah dilahirkan) [2]

Rekomendasi Peningkatan Berat Badan

Saat ini, sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk menentukan kisaran peningkatan berat badan ideal bagi ibu hamil. Salah satu rekomendasi yang paling banyak dianut adalah rekomendasi dari Institute of Medicine (IOM), Amerika Serikat, pada tahun 2009. Rekomendasi ini menggantikan versi sebelumnya yang dikeluarkan pada tahun 1990. Dalam rekomendasi IOM terbaru, peningkatan berat badan ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) sebelum kehamilan (Lihat Tabel 1).[1]

Tabel 1 Rekomendasi peningkatan berat badan selama kehamilan (IOM 2009)

Berat badan sebelum kehamilan Peningkatan berat badan total (kg) Laju peningkatan berat badan pada trimester 2 dan 3 (kg/minggu)
Kategori IMT (kg/m2) Rata-rata Kisaran
Underweight <18,5 12,5–18,0 0,51 0,44–0,58
Normal 18,5–24,9 11,5–16,0 0,42 0,35–0,50
Overweight 15–29,9 7,0–11,5 0,28 0,23–0,33
Obesitas ≥30,0 5,0–9,0 0,22 0,17–0,27

Rekomendasi IOM 2009 tidak membedakan derajat obesitas. Diperkirakan, obesitas derajat II (IMT 35–39,9 kg/m2) dan derajat III (IMT ≥40 kg/m2) sebaiknya mengalami penambahan berat badan lebih sedikit dari kisaran yang disarankan (5–9 kg). Bukti yang ada saat ini belum mencukupi untuk membuat rekomendasi penambahan berat badan untuk kategori obesitas derajat II dan III.[1]

Rekomendasi Peningkatan Berat Badan pada Kehamilan Kembar

Kehamilan dengan >1 janin tentunya menyebabkan peningkatan berat badan yang lebih banyak dibandingkan kehamilan 1 janin. IOM 2009 juga mencantumkan rekomendasi penambahan berat badan untuk kehamilan kembar (2 janin). Namun, belum ada bukti yang memadai untuk membuat rekomendasi peningkatan berat badan untuk kategori underweight pada kehamilan >2 janin.[1]

Tabel 2 Rekomendasi peningkatan berat badan selama kehamilan kembar (2 janin)

Berat badan sebelum kehamilan Peningkatan berat badan total untuk janin kembar (kg)
Kategori IMT (kg/m2)
Underweight <18,5 Belum ada rekomendasi
Normal 18,5–24,9 16,5–25,0
Overweight 25–29,9 14,0–22,5
Obesitas ≥30,0 11,5–19,0

Rekomendasi untuk Populasi Asia

Rekomendasi IOM 2009 dibuat berdasarkan penelitian dengan subjek populasi Amerika dan Europa. Saat ini, beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui apakah rekomendasi IOM dapat diterapkan untuk populasi lain, termasuk Asia. Hampir seluruh penelitian dengan subjek orang Asia (kecuali penelitian di Jepang) menggunakan batasan IMT khusus Asia yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO).[3]

Tabel 3 Indeks Massa Tubuh untuk orang Asia

Kategori IMT (kg/m2)
Underweight <18,5
Normal 18,5–22,9
Overweight 23–24,9
Obesitas ≥25

Korea

Sebuah penelitian tahun 2017 dengan 4.557 subjek menyatakan bahwa kisaran peningkatan berat badan optimal untuk ibu hamil etnis Korea lebih tinggi dan lebih lebar dibandingkan rekomendasi IOM. Peningkatan berat badan optimal dalam penelitian tersebut adalah 20,8 kg (kisaran 16,7–24,7 kg) untuk underweight; 16,6 kg (kisaran 11,5–21,5 kg) untuk normal; 13,1 kg (kisaran 8,0–17,7 kg) untuk overweight; serta 14,4 kg (kisaran 7,5–21,9 kg) untuk obesitas.[3]

Jepang

Berdasarkan panduan dari Japanese Ministry of Health, Labour and Welfare (JMHLW) dan Japan Society for the Study of Obesity (JASSO), penambahan berat badan untuk ibu hamil adalah 9–12 kg untuk underweight, 7–12 kg untuk normal, <7 untuk overweight, dan <5 untuk obesitas. Kisaran yang disarankan JMHLW dan JASSO lebih sedikit dibandingkan IOM 2009.[4]

Suatu penelitian pada 2016 membandingkan rekomendasi dari JMHLW, JASSO, dan IOM 2009. Hasilnya, komplikasi lebih sedikit ditemukan pada subyek dengan penambahan berat badan sesuai rekomendasi IOM dibandingkan rekomendasi JMHLW dan JASSO. Hasil ini berbeda dengan penelitian pada tahun 2017 yang menyatakan bahwa rekomendasi berat badan dari JMHLW dan JASSO berhubungan dengan SGA dan LGA yang lebih sedikit dibandingkan IOM.[4,5]

Penelitian lainnya (tahun 2017) menyatakan bahwa rekomendasi dari JMHLW dan JASSO terlalu ketat. Dalam penelitian tersebut, peningkatan berat badan optimal yang disarankan adalah 12,0±3,4 kg untuk underweight, 11,4±3,7 kg untuk normal, 10,0±4,8 kg untuk overweight, dan 3,2±2,2 kg untuk obesitas.[6]

Vietnam

Penelitian pada tahun 2010 dengan 2.989 subjek menyatakan bahwa penambahan berat badan optimal untuk ibu hamil adalah 18,8 kg (kisaran 16,5–29,5 kg) untuk underweight; 12,8 kg (kisaran 11,8–14 kg) untuk normal; 6,6 kg (kisaran 0–9,0 kg) untuk overweight; dan obesitas.[7]

Indonesia

Suatu penelitian tahun 2017 di Sumatera Barat dengan 607 sampel menyatakan bahwa sebagian besar subjek mengalami berat badan di luar kisaran yang ditetapkan IOM. Hal ini berhubungan dengan makrosomia, peningkatan berat badan ibu pascapersalinan, persalinan prematur, serta SGA. Belum ada penelitian mengenai penambahan berat badan optimal untuk Indonesia.[8]

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa hasil antar penelitian dari berbagai negara di Asia tidak konsisten. Oleh karena itu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan rekomendasi IOM untuk populasi Asia. Penelitian yang dilakukan sebaiknya berupa kohort prospektif untuk menghindari bias. Selain itu, sebaiknya ditetapkan standar penelitian untuk menentukan keluaran/outcome yang dinilai dan metode penelitian yang dipakai.

Pengaturan Berat Badan Ibu Hamil

Pengaturan berat badan memerlukan kerja sama antara dokter dan pasien. Pengaturan berat tidak hanya dilakukan selama kehamilan, tetapi juga sebelum dan setelah kehamilan.[2]

Sebelum Kehamilan

Wanita dengan berat badan overweight atau obesitas disarankan untuk menurunkan berat badan sebelum hamil. Hal ini akan memperbaiki siklus menstruasi, ovulasi, profil metabolik, serta mengurangi infertilitas. Selain itu, ibu yang sebelumnya obesitas justru sering mengalami penurunan berat badan selama kehamilan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan perkembangan neurologis janin, berat badan lahir rendah (BBLR), dan persalinan prematur. Oleh karena itu, wanita dengan berat badan berlebih sebaiknya mengurangi berat badan sebelum kehamilan.[2]

Selama Kehamilan

Tujuan pada tahap ini adalah ibu dapat mencapai penambahan berat badan sesuai kisaran yang direkomendasikan melalui cara berikut:

  • Memberikan edukasi pada ibu hamil mengenai target pertambahan berat badan, akibat pertambahan berat badan yang tidak sesuai, serta cara untuk mencapai penambahan berat badan ideal.
  • Mengatur asupan makanan dengan membuat jadwal makanan harian atau mencatat makanan yang dimakan setiap hari.
  • Melakukan aktivitas fisik secukupnya, misalnya mengikuti senam ibu hamil
  • Memantau pertambahan berat badan. Dokter dapat membuat plot/grafik berat badan setiap kunjungan antenatal[2]

Setelah Kehamilan

Dokter perlu mengedukasi ibu untuk tetap menjaga berat badan dalam kisaran normal. Sebab, hal ini akan memberikan manfaat untuk kehamilan berikutnya. Ibu dapat menjaga berat badan dengan menjaga pola makan, melakukan aktivitas fisik, serta menyusui bayinya.[2]

Kesimpulan

Peningkatan berat badan yang kurang atau berlebih selama kehamilan dapat menyebabkan berbagai komplikasi jangka pendek dan panjang bagi ibu serta janin.  Rekomendasi peningkatan berat badan yang paling sering dipakai saat ini adalah rekomendasi dari IOM 2009.

Masih diperlukan penelitian untuk memvalidasi IOM 2009 untuk populasi Asia, termasuk Indonesia. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan kisaran peningkatan berat badan optimal untuk orang Asia. Pengaturan berat badan membutuhkan kerja sama dokter dan pasien dan dilakukan sebelum, selama, serta setelah kehamilan.

Referensi