Risiko Reinfeksi COVID-19 - Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Hendra Gunawan, Sp.PD

SARS-CoV-2 antibody-positivity protects against reinfection for at least seven months with 95% efficacy

Laith J. Abu-Raddad, Hiam Chemaitelly, Peter Coyle, et al. SARS-CoV-2 antibody-positivity protects against reinfection for at least seven months with 95% efficacy. EClinicalMedicine. 2021 May;35:100861. doi: 10.1016/j.eclinm.2021.100861. Epub 2021 Apr 28. PMID: 33937733

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Abstrak

Latar Belakang: Terdokumentasinya reinfeksi virus SARS-CoV-2 telah mengangkat perhatian kesehatan masyarakat.  Kasus reinfeksi virus SARS-CoV-2 telah dianalisis dalam sebuah studi kohort dari subjek dengan hasil antibodi yang positif di Qatar.

Metode:

Orang dengan hasil tes antibodi yang positif terhadap SARS-CoV-2 sejak 16 April–31 Desember 2022, dengan hasil swab PCR yang positif ≥14 hari sejak pertama kali tes antibodi menunjukkan hasil positif, telah diinvestigasi akan bukti reinfeksi. Genome sequencing dilakukan untuk mengonfirmasi reinfeksi. Insidensi reinfeksi dibandingkan dengan insidens infeksi pada kohort komplementer pada subjek penelitian yang tidak memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2.

Hasil: Dari 43.044 subjek penelitian yang memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2 yang diikutkan selama median 16,3 minggu (0–34,6), 314 individu (0,7%) memiliki setidaknya satu hasil tes PCR yang positif ≥14 hari setelah antibodi terhadap SARS-CoV-2 terdeteksi positif.

Dari 314 individu tersebut, sebanyak 129 orang (41,1%) memiliki bukti epidemiologis akan adanya reinfeksi. Reinfeksi kemudian dideteksi dengan menggunakan viral genome sequencing. Dengan menggunakan tingkat konfirmasi teknik tersebut, didapatkan bahwa tingkat insidensi reinfeksi adalah 0,66 per 10.000 orang per minggu (95%IK: 0,56-0,78).

Tingkat insidensi reinfeksi dibandingkan dengan follow up bulanan tidak menunjukkan adanya bukti menurunnya kekebalan selama lebih dari 7 bulan pengamatan. Sementara itu, pada kohort komplementer dari 149.923 subjek dengan hasil antibodi negatif terhadap SARS-CoV-2 yang diikuti selama median 17 minggu (0-45.6), tingkat insidensi infeksi diperkirakan sebesar 13,69 per 10.000 orang per minggu (95%IK: 13,22-14,14).

Efikasi infeksi alamiah dalam mencegah reinfeksi diperkirakan sebesar 95,2% (95%IK: 94,1-96,0). Reinfeksi memiliki gejala klinis yang tidak lebih berat daripada infeksi primer. Dalam penelitian ini, hanya didapatkan satu kasus reinfeksi dengan gejala berat, dua dengan gejala sedang, dan tidak didapatkan kasus kritis atau kematian. Kebanyakan kasus reinfeksi (66,7%) didiagnosis secara insidental melalui pemeriksaan rutin, acak, maupun tracing terhadap kontak erat.

Kesimpulan:

Reinfeksi jarang ditemukan pada populasi usia muda dan populasi internasional di Qatar. Infeksi alami COVID-19 tampaknya memiliki kemampuan untuk menghasilkan proteksi terhadap reinfeksi dengan efikasi kurang lebih 95% selama minimal 7 bulan.

shutterstock_1937960653-min (1)

Ulasan Alomedika

Pandemi COVID-19 telah menyebar ke seluruh dunia dan telah menyebabkan morbiditas, mortalitas, dan krisis multidimensial terutama dalam hal sosial dan ekonomi. Mengingat pandemi telah berlangsung cukup lama, perlu dipikirkan bahwa kasus reinfeksi merupakan hal yang sangat mungkin terjadi dan memerlukan perhatian khusus, terutama dari sisi klinis dan epidemiologi. Pada penelitian ini, pengamatan dilakukan terhadap 43.044 subjek dengan hasil antibodi yang positif terhadap SARS-CoV-2, yang diikuti selama 35 minggu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kasus reinfeksi dapat terjadi, tetapi insidensinya cukup kecil, dengan risiko kumulatif  kurang lebih 2 per 1.000 orang dalam durasi pengamatan 35 minggu.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kohort yang sumber datanya diambil dari kompilasi data Hamad Medical Corporation, yaitu suatu fasilitas kesehatan utama untuk Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Data tersebut mencakup semua pemeriksaan serologi yang dilakukan di Qatar yang terdiri dari pemeriksaan spesimen residu, yang digunakan untuk pemeriksaan rutin dari pasien di HMC, dan pemeriksaan serologi untuk kepentingan epidemiologi. Pemeriksaan juga dilakukan sebelum periode vaksinasi COVID-19 di Qatar dilakukan, sehingga pengaruh vaksinasi dapat disingkirkan.

Ulasan Hasil penelitian

Studi ini meneliti 43.044 subjek dengan hasil antibodi yang positif, yang terdiri dari 20,8% perempuan dan 79,2% laki-laki, yang berasal dari 158 negara. Median usia untuk perempuan adalah 35 (IQR 28-45) dan 38 tahun (IQR: 31-47). Sebanyak 46,4% dari total sampel memiliki hasil PCR COVID-19 positif sebelum pemeriksaan antibodi dilakukan pertama kali, sedangkan hanya 314 subjek menunjukkan terjadinya rekurensi COVID-19, yang ditunjukkan dengan hasil PCR positif ≥14 hari setelah pertama kalinya antibodi terdeteksi, sehingga dapat diikutkan pada analisis. Hasil ini menunjukkan angka drop out yang sangat besar.

Dari 314 subjek tersebut, sebanyak 32 kasus memiliki bukti yang cukup untuk kasus reinfeksi (CT ≤30), 97 kasus masih dalam dugaan reinfeksi (CT>30), dan sisanya memiliki bukti yang cukup lemah akan dugaan reinfeksi (memiliki satu atau lebih hasil positif PCR dalam 45 hari sebelum dugaan reinfeksi ditegakkan).

Analisis dengan kurva Kaplan-Meier melaporkan bahwa risiko reinfeksi yang dihasilkan dari penelitian ini adalah risiko kumulatif reinfeksi sebesar 0,17% (95%IK: 0,1-0,3%) setelah follow up selama 34,6 minggu dengan tingkat insidensi sebesar 0,66 per 10.000 orang per minggu (95%IK: 0,56-0,78).

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini memberikan suatu bukti ilmiah yang baik mengenai insidensi reinfeksi COVID-19 pascainfeksi primer setelah terbentuknya antibodi. Hal ini dapat dijadikan bahan untuk penelitian lain yang mengevaluasi apakah efek imunitas yang dihasilkan oleh vaksinasi bersifat noninferior dibandingkan dengan antibodi yang timbul akibat infeksi alami. Konfirmasi reinfeksi yang dilakukan dengan metode genome sequencing mengindikasikan bahwa diagnosis dilakukan dengan sangat teliti.

Kekurangan Penelitian

Walaupun angka rekrutmen sampel cukup besar, banyak subjek yang drop out. Selain itu, kurangnya informasi yang diberikan kepada pasien mengenai protokol penelitian belum memenuhi kaidah penelitian yang baik mengingat tidak adanya persetujuan dan edukasi mengenai protokol penelitian kepada pasien. Selain itu, tidak dijelaskan juga mengenai spektrum klinis gejala COVID-19 yang dialami subjek, apakah termasuk gejala ringan, sedang, berat, kritis, atau tanpa gejala.

Aplikasi Penelitian di Indonesia

Penelitian ini sebenarnya memberikan informasi yang baik mengenai imunitas alami yang didapatkan setelah terdiagnosis COVID-19. Perlu diperhatikan juga bahwa studi ini dilakukan pada tahun 2020 saat belum terjadi mutasi virus COVID-19 dengan beberapa varian yang mengkhawatirkan, seperti varian Delta dan Lambda. Oleh karena itu, dibutuhkan data lebih lanjut mengenai imunitas terhadap masing-masing varian virus COVID-19 yang saat ini menjadi masalah di berbagai negara. Mengingat ilmu mengenai COVID-19 adalah suatu living knowledge, maka hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran dasar dan landasan penelitian berikutnya, tetapi belum dapat diaplikasikan di Indonesia.

Referensi