Epidemiologi Karsinoma Sel Renal
Berdasarkan data epidemiologi, karsinoma sel renal adalah keganasan ginjal tersering pada dewasa dan mencakup sebagian besar kanker ginjal. Secara global, insidensi karsinoma sel renal menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa dekade terakhir, yang dipengaruhi oleh peningkatan penggunaan modalitas pencitraan serta perubahan faktor risiko populasi.[11–13]
Global
Berdasarkan data epidemiologi global dari Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2020, terdapat sekitar 431.000 kasus baru kanker ginjal di seluruh dunia. Karsinoma sel renal menempati urutan ke-16 kanker tersering secara global, dengan age-standardized rate (ASR) sekitar 4,6 per 100.000 penduduk.[11,12]
Distribusi geografis karsinoma sel renal menunjukkan variasi yang signifikan. Insidensi tertinggi ditemukan di negara dengan Human Development Index (HDI) tinggi, terutama di wilayah Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru, dengan ASR berkisar antara 10–12 per 100.000 penduduk. Sebaliknya, insidensi terendah terdapat di wilayah Afrika dan Asia Selatan dengan ASR sekitar 1–2 per 100.000 penduduk.[11,12]
Karsinoma sel renal lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio sekitar 2:1, dengan ASR masing-masing sekitar 6,1 per 100.000 pada laki-laki dan 3,2 per 100.000 pada perempuan. Selain itu, studi di Amerika Serikat menunjukkan adanya variasi rasial, di mana insidensi sedikit lebih tinggi pada individu kulit hitam dibandingkan kulit putih.[11-13]
Obesitas, merokok, hipertensi, dan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid jangka panjang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko karsinoma sel renal.[7,9]
Indonesia
Berdasarkan estimasi GLOBOCAN, terdapat sekitar 2.500–2.700 kasus baru kanker ginjal per tahun, meskipun data spesifik karsinoma sel renal secara nasional masih terbatas.[11,14]
Data berbasis rumah sakit menunjukkan bahwa karsinoma sel renal lebih banyak terjadi pada laki-laki dan umumnya terdiagnosis pada usia dekade ke-5 hingga ke-6 kehidupan. Studi di National Cancer Center Dharmais Hospital Jakarta periode 2013–2020 melaporkan rasio laki-laki terhadap perempuan sekitar 2,3:1, dengan kelompok usia terbanyak antara 51–65 tahun.[14,15]
Temuan serupa juga dilaporkan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 2019–2023, dengan dominasi subtipe clear cell renal cell carcinoma (±74%), diikuti papillary renal cell carcinoma (15,6%), dan chromophobe renal cell carcinoma (10,4%). Distribusi histopatologi ini sejalan dengan pola global yang menunjukkan dominasi clear cell sebagai subtipe utama.[14,15]
Mortalitas
Secara global, angka mortalitas karsinoma sel renal sekitar 179.000 kematian per tahun dan ASR sekitar 1,8 per 100.000 penduduk, dengan angka yang lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Beberapa negara maju menunjukkan tren penurunan mortalitas seiring perkembangan terapi target dan imunoterapi.[11,12]
Angka kelangsungan hidup 5 tahun (5-year survival rate) sangat bergantung pada stadium saat diagnosis. Di Amerika Serikat, angka kelangsungan hidup 5 tahun secara keseluruhan mencapai sekitar 75–77%. Berdasarkan stadium, survival rate dilaporkan sekitar lebih dari 90% pada stadium I, sekitar 70–80% pada stadium II, 30–50% pada stadium III, dan menurun menjadi sekitar 10–20% pada stadium IV.[11–13]
Di Indonesia, data mortalitas karsinoma sel renal masih terbatas. Namun, laporan dari beberapa pusat rujukan menunjukkan bahwa tingginya proporsi pasien yang datang dalam stadium lanjut berkontribusi terhadap rendahnya angka kelangsungan hidup dan tingginya risiko kematian.[14,15]
Penulisan pertama oleh: dr. Putri Kumala Sari