Manfaat Penundaan Penjepitan Tali Pusat

Oleh :
dr. Ashfahani Imanadhia

Berbagai studi telah membuktikan bahwa penundaan penjepitan tali pusat atau delayed cord clamping lebih memberi manfaat baik bagi bayi cukup bulan maupun bayi prematur dibandingkan penjepitan tali pusat segera setelah lahir atau immediate cord clamping.

Penjepitan tali pusat segera yakni di bawah 15-30 detik setelah bayi lahir telah lama dipraktikkan di kebanyakan fasilitas kesehatan. Berdasarkan panduan dari WHO, penjepitan tali pusat sebaiknya dilakukan tertunda yakni tidak kurang dari 1 menit setelah kelahiran atau menunggu saat pulsasi tali pusat telah berhenti.[1]

Depositphotos_8125624_m-2015_compressed

International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR) juga merekomendasikan penjepitan tali pusat setidaknya 60 detik setelah kelahiran pada bayi cukup bulan yang tidak membutuhkan resusitasi. Sementara American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memberi rekomendasi untuk menunda penjepitan tali pusat setidaknya 30-60 detik untuk bayi cukup bulan yang bugar.[3]

Teknik Penundaan Penjepitan Tali Pusat

Studi sebelumnya menganjurkan untuk memposisikan bayi lebih rendah dari plasenta saat dilakukan penundaan penjepitan tali pusat dengan landasan dasar gravitasi akan memudahkan terjadinya transfusi plasenta. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa metode ini tidak memberi efek yang signifikan.

Studi klinis lanjutan pada bayi cukup bulan bugar dari persalinan pervaginam yang pada saat lahir diletakkan di perut atau dada ibu tidak ditemukan volume transfusi yang lebih rendah dibandingkan bayi yang diposisikan di sejajar dengan introitus. Oleh karena itu, kontak skin-to-skin antara ibu dan bayi dan inisiasi menyusui dini dianjurkan untuk segera dilakukan selama menunggu proses penjepitan tali pusat.

Dalam kasus persalinan caesar, bayi dapat diletakkan di perut ibu atau dipegang oleh penolong dengan posisi yang dekat dengan plasenta hingga tali pusat dijepit. Langkah awal yang harus dilakukan saat menolong bayi baru lahir seperti stimulasi pernapasan atau refleks menangis bayi, serta menjaga suhu bayi dapat dilakukan selama penundaan penjepitan tali pusat.

Penundaan penjepitan tali pusat juga seharusnya tidak mengganggu tindakan manajemen aktif kala 3 seperti pemberian obat uterotonika setelah persalinan untuk mencegah perdarahan pada ibu.[3]

Manfaat Penundaan Penjepitan Tali Pusat pada Bayi Cukup Bulan

Penundaan penjepitan tali pusat terbukti memberikan manfaat baik untuk bayi cukup bulan maupun prematur. Manfaat penundaan penjepitan ini dikaitkan dengan menurunnya kejadian anemia atau defisiensi besi serta perbaikan luaran perkembangan saraf.[4]

Pada bayi cukup bulan, transfer darah dari plasenta terjadi sebanyak 80 ml pada 1 menit setelah kelahiran, kemudian mencapai 100 ml di 3 menit setelah bayi lahir. Upaya napas pertama oleh bayi juga terlibat dalam terjadinya transfusi plasenta ini.

Studi dengan menggunakan ultrasonografi Doppler yang menilai pola aliran darah tali pusat selama dilakukan penjepitan menunjukkan adanya peningkatan transfusi plasenta saat bayi bernapas pertama kali. Hal ini dikaitkan dengan inflasi paru yang menghasilkan tekanan negatif intratorakal.[5]

Adanya tambahan volume darah akan menambah suplai zat besi sebesar 40–50 mg/kgBB sehingga dengan kadar zat besi yang cukup dapat mengurangi dan mencegah terjadinya defisiensi besi selama tahun pertama kehidupan bayi.[3]

Studi Mengenai Manfaat Penundaan Penjepitan Tali Pusat

Sebagian besar studi yang mengamati perbedaan penjepitan tali pusat segera dengan tertunda melaporkan manfaat pada marker hematologis.

Tinjauan Cochrane tahun 2013 yang melibatkan 3.911 wanita beserta bayinya menemukan adanya konsentrasi hemoglobin yang lebih rendah saat lahir maupun setelahnya pada bayi yang dilakukan penjepitan tali pusat segera. Selanjutnya saat dilakukan evaluasi ulang pada usia 3–6 bulan, defisiensi zat besi lebih banyak ditemukan pada bayi yang dilakukan penjepitan tali pusat segera dibanding tertunda (RR 2.65; 95% CI, 1.04-6.73).[6]

Studi meta-analisis oleh Zhou et al. yang melibatkan 20 uji klinis acak menemukan pada persalinan cukup bulan, tindakan untuk menunda penjepitan tali pusat dapat menurunkan kejadian anemia setelah pemantauan ≥6 bulan, defisiensi besi pada saat anak berusia <6 bulan maupun ≥6 bulan, serta anemia defisiensi besi pada saat anak berusia 4–12 bulan.

Studi oleh Zhou et al. ini juga melaporkan manfaat jangka panjang dari penundaan penjepitan tali pusat yakni adanya peningkatan nilai hemoglobin, mean corpuscular volume, serum iron, total body iron, serum ferritin, dan saturasi transferin.[7]

Zat besi memiliki peranan penting selama masa bayi dan anak karena dihubungkan dengan perbaikan kognitif, motorik, dan perkembangan perilaku.

Pada negara atau daerah dengan prevalensi tinggi defisiensi besi pada bayi dan anak, tindakan penundaan penjepitan tali pusat dapat memberikan manfaat. Hal ini berkaitan dengan dampak morbiditas defisiensi besi pada bayi di antaranya penurunan perkembangan saraf, serta meningkatnya kerentanan terhadap infeksi yang juga berdampak jangka panjang pada beban ekonomi.[3,8]

Penundaan Penjepitan Tali Pusat pada Bayi Prematur

Tidak hanya pada bayi cukup bulan, penundaan penjepitan tali pusat juga memberi manfaat pada bayi prematur. Studi meta-analisis oleh Li et al. pada tahun 2021 yang melibatkan 20 uji klinis acak dengan sampel 1807 bayi prematur melaporkan penjepitan tali pusat setelah lahir dapat meningkatkan nilai hematokrit dan hemoglobin pada 24 jam pertama kehidupan, menurunkan kejadian anemia, serta menurunkan lama rawat di rumah sakit dan tingkat kematian.

Penundaan penjepitan tali pusat juga mampu menstimulasi aliran perfusi darah di saluran cerna sehingga berperan untuk perkembangan mukosa usus dan menurunkan risiko iskemia intestinal termasuk mengurangi terjadinya necrotizing enterocolitis (NEC).[9]

Berbagai studi juga melaporkan manfaat penundaan penjepitan tali pusat pada bayi prematur terkait penurunan insiden intraventricular haemorrhage, perbaikan jaringan dan organ serta perkembangan saraf.

Manfaat Penundaan Tali Pusat pada Insiden Intraventricular Haemorrhage

Studi oleh Brocato et al. yang menyebutkan dari semua dampak morbiditas dan mortalitas pada neonatal yang signifikan, penundaan penjepitan tali pusat berhubungan dengan menurunnya kejadian intraventricular haemorrhage (IVH). Penurunan risiko didapatkan pada bayi yang lahir dari usia gestasi antara 24-34 minggu.

Menurunnya kejadian IVH didasari oleh meningkatnya tekanan darah awal pada bayi baru lahir yang dilakukan penundaan penjepitan tali pusat. Hipotensi saat lahir telah banyak dihubungkan dengan peningkatan mortalitas, IVH, dan retinopathy of prematurity (ROP). Sehingga dengan memperbaiki fungsi kardiovaskuler di awal tidak hanya membantu mengatasi komplikasi tersebut, tetapi juga membantu transisi dari lingkungan rahim, termasuk menghindarkan dari tindakan resusitasi yang tidak perlu.

Selama dilakukan penundaan penjepitan tali pusat didapatkan peningkatan aliran vena cava superior, volume sekuncup ventrikel kanan atau right ventricular stroke volume dan cardiac output. Manfaat pada kardiovaskuler ini akan terlihat dalam beberapa menit setelah lahir hingga 2 minggu setelah kelahiran.[10,11]

Manfaat Penundaan Tali Pusat pada Perbaikan Jaringan dan Organ

Melalui penundaan penjepitan tali pusat yang memungkinkan transfer darah dari plasenta dengan durasi yang lebih lama dapat memfasilitasi transfer imunoglobulin dan stem cell yang berperan penting untuk perbaikan jaringan dan organ. Untuk bayi prematur manfaat ini penting, terutama setelah adanya cedera sel, peradangan, dan disfungsi organ yang sering terjadi. Namun, masih diperlukan studi lebih lanjut untuk mengevaluasi besar manfaat penundaan penjepitan tali pusat terhadap efek tersebut.[3]

Manfaat Penundaan Tali Pusat pada Perkembangan Saraf

Defisiensi besi pada bayi diketahui dapat mempengaruhi perkembangan saraf namun pengaruh dari penundaan penjepitan tali pusat terhadap perkembangan saraf dan perilaku pada bayi prematur masih belum jelas.

Datta et al. dalam studinya melaporkan penundaan penjepitan tali pusat bisa menjadi intervensi sederhana yang bermanfaat dalam meningkatkan luaran neurobehavioral jangka pendek pada bayi prematur.[12]

Sementara pada studi Andersson et al. dibandingkan dengan penjepitan tali pusat segera, yakni <10 detik, penjepitan tali pusat tertunda setidaknya selama 180 detik tidak mempengaruhi perkembangan saraf secara keseluruhan.[8,13]

Risiko pada Penundaan Penjepitan Tali Pusat

Walaupun telah banyak studi yang melaporkan bukti manfaat dari tindakan penundaan penjepitan tali pusat, namun beberapa potensi risiko yang muncul perlu diketahui. Risiko ini terutama dihadapkan pada bayi prematur yang memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

Salah satu risiko yang akan dihadapi adalah tertundanya tindakan resusitasi. Oleh karena itu, beberapa kondisi maternal maupun neonatal tertentu mengharuskan penjepitan tali pusat dilakukan segera. Berdasarkan WHO, penjepitan tali pusat segera tidak direkomendasikan kecuali neonatus mengalami asfiksia dan perlu segera diberikan tindakan resusitasi.[1]

Kondisi maternal yang menjadi indikasi penjepitan tali pusat segera meliputi perdarahan atau ketidakstabilan hemodinamik seperti abruptio placenta atau plasenta previa.[14,15]

Hipotermia

Risiko lain yang dilaporkan adalah hipotermia yang dapat berhubungan dengan keterlambatan untuk melakukan kontak skin to skin antara ibu dan bayi. Namun, dalam suatu studi uji klinis acak dengan sampel bayi prematur, penjepitan tali pusat tertunda justru dihubungkan dengan kejadian hipotermia yang lebih rendah pada bayi yang masuk neonatal intensive care unit (NICU).[13,16]

Fenton et al. dalam studinya melaporkan pada bayi usia gestasi ≤29 minggu yang dilakukan penundaan penjepitan tali pusat, yakni dilakukan dalam 45–60 detik, memiliki suhu aksila yang lebih tinggi saat pengukuran pertama di ruang NICU. Dalam hal ini dibutuhkan studi klinis lebih lanjut untuk menentukan efek durasi penundaan penjepitan tali pusat terhadap hipotermia terutama untuk bayi yang sangat prematur.[11,17]

Hiperbilirubinemia dan Efek Samping Lainnya

Perpindahan darah dari plasenta selama penundaan penjepitan tali pusat dihubungkan dengan efek samping hiperbilirubinemia, hipervolemia, polisitemia, dan sindrom hiperviskositas. Namun, bukti studi yang membahas beberapa efek samping tersebut menunjukkan hasil yang tidak konsisten.

Studi oleh Mercer et al. dan Nesheli et al. melaporkan penundaan penjepitan tali pusat tidak menyebabkan perbedaan yang signifikan terhadap terjadinya polisitemia, hiperbilirubinemia, takipnea, atau penurunan jumlah neonatus yang membutuhkan fototerapi dibanding bayi dengan riwayat penjepitan tali pusat tertunda.[13,18,19]

Hasil studi yang berbeda dilaporkan oleh Fenton et al. dan Nakagawa et al., yakni penundaan penjepitan tali pusat dihubungkan dengan meningkatnya kejadian hiperbilirubinemia, polisitemia, dan transient tachypnea in newborn.[17,20]

Studi komprehensif dengan pemantauan jangka panjang dibutuhkan untuk membahas lebih lanjut efek samping dari penundaan penjepitan tali pusat.

Kesimpulan

Penundaan penjepitan tali pusat termasuk metode yang sederhana, aman, dan efektif untuk diterapkan pada setiap persalinan. Namun, adanya risiko atau efek samping harus dihadapi pada kondisi tertentu seperti bayi asfiksia yang membutuhkan resusitasi segera dan masalah yang berhubungan dengan sirkulasi uteroplasenta, sehingga pada kondisi ini direkomendasikan untuk melakukan penjepitan tali pusat segera.

Penundaan penjepitan tali pusat setidaknya selama 30–60 detik dinilai dapat memberikan manfaat baik untuk bayi cukup bulan maupun prematur. Manfaat dari penundaan penjepitan tali pusat diantaranya meningkatkan nilai haemoglobin dan cadangan besi terutama pada beberapa bulan awal kehidupan bayi.

Walaupun tidak semua studi melaporkan kejadian hiperbilirubinemia atau jaundice  yang dihubungkan dengan tindakan penundaan penjepitan tali pusat namun adanya risiko ini tetap harus dipertimbangkan. Keputusan yang dibuat harus melibatkan baik dokter kandungan, dokter anak, maupun orangtua dengan mempertimbangkan fasilitas yang dimiliki tiap sarana kesehatan.[3,4]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Tanessa Audrey Wihardji

 

Referensi