Penggunaan Antibiotik pada Serangan Asthma

Oleh dr.Irwan, SpKJ, PhD.

Antibiotik sering digunakan dalam penatalaksanaan serangan asthma. Asthma adalah gangguan pernafasan kronik yang ditandai oleh adanya wheezing, batuk, sesak nafas (dada sesak), dan nafas yang pendek-pendek. Gejala asthma umumnya bersifat intermiten dan bisa memburuk dalam waktu singkat (serangan asthma/eksaserbasi).  Serangan asthma bisa sangat berat dan membutuhkan rawat inap, bahkan bisa menimbulkan kematian.

Serangan asthma memang bisa dipicu oleh infeksi, baik viral maupun bakterial. Tetapi sebagian besar pemicu serangan asthma adalah multifaktorial, dengan banyak kasus mengalami komplikasi akibat infeksi viral di saluran nafas bagian atas. Seringkali antibiotik disertakan dalam regimen terapi untuk serangan asthma, padahal hanya sebagian kecil serangan asthma yang dipicu oleh infeksi bakterial [1, 2]. Sebagian besar infeksi yang memicu serangan asthma adalah infeksi viral (seperti infeksi respiratory syncytial virus [RSV], adenovirus, virus parainfluenza, dan virus influenza) dan infeksi kronis (seperti infeksi mycoplasma dan klamidia) [3, 4].

Sebagian besar pedoman penatalaksanaan serangan asthma merekomendasikan bahwa sebaiknya antibiotik hanya diberikan bila ada tanda, gejala, atau hasil pemeriksaan penunjang yang jelas mendukung infeksi bakterial sebagai pemicu serangan asthma [5].

asthma

Penggunaan Antibiotik pada Serangan Asthma

Antibiotik adalah golongan obat yang mempunyai properti antimikrobial dan digunakan untuk penanganan atau pencegahan infeksi bakterial. Beberapa antibiotik golongan makrolid (misalnya azithromycin) dan ketolide mempunyai properti anti inflamasi, yang mungkin akan bermanfaat bila diberikan pada pasien dengan asthma [7]. Selain properti anti inflamasi, azithromycin diperkirakan juga mempunyai properti antiviral [8, 9]. Meskipun demikian, makrolid tetap tidak direkomendasikan untuk penanganan serangan asthma bila tidak ada tanda dan gejala yang jelas infeksi bakteri[10].

Normansell et al (2018) melakukan meta analisis dan menemukan bahwa pemberian antibiotik pada waktu terjadi serangan asthma mungkin bisa lebih baik memperbaiki gejala asthma dibandingkan penanganan standar atau placebo. Namun perbaikan ini tidak konsisten pada semua penelitian yang disertakan dalam meta analisis dan sebagian besar subyek adalah pasien yang datang ke instalasi gawat darurat, sehingga hasil meta analisis ini sulit untuk digeneralisasikan ke populasi penderita asthma pada umumnya [5].

Antibiotik bekerja melalui mekanisme bakterisidal atau bakteriostatik untuk membantu tubuh menyingkirkan infeksi bakteri. Bila infeksi bakteri merupakan pemicu serangan asthma, maka pemberian antibiotik yang tepat akan membantu mengurangi gejala dengan lebih cepat. Namun bila penggunaannya tidak tepat atau tidak sesuai indikasi, maka hal ini berpotensi menimbulkan masalah pada pasien, misalnya resistensi antibiotik dan risiko timbulnya efek samping obat.

Alasan lain penggunaan antibiotik pada serangan asthma adalah karena misdiagnosis, terutama pada anak-anak. Anak-anak dengan asthma umumnya lebih sering mengunjungi dokter dengan gejala-gejala yang cenderung memberat seiring waktu. Gejala-gejala yang muncul sering disertai dengan gejala-gejala bronkiolitis, pneumonia atipikal, dan infeksi saluran nafas lain. Karena gejala-gejala ini mereka sering mendapat antibiotik, meskipun etiologi terbesarnya adalah viral. Gedik et al (2014) menemukan bahwa diagnosis yang tepat dan penanganan asthma yang tepat menurunkan frekuensi penggunaan antibiotik dan serangan asthma pada anak [11].

Sebuah penelitian observasional di tahun 2015 terhadap pasien asthma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) menemukan bahwa pasien yang mempunyai komorbiditas asthma dan PPOK lebih sering mendapatkan antibiotik dibandingkan pasien dengan asthma saja. Kelainan pada pemeriksaan thoraks, peningkatan CRP, dan penurunan saturasi oksigen merupakan prediktor bagi peresepan antibiotik pada penelitian mereka [12].

Antibiotik yang sering ditambahkan pada regimen terapi standar asthma adalah makrolid azithromycin. Namun sebuah randomized clinical trial (RCT) menemukan bahwa tidak ada manfaat klinis yang signifikan penambahan azithromycin pada regimen standar asthma. [13].

Kesimpulan

Pemberian antibiotik pada serangan asthma hanya didukung bukti mutakhir yang lemah. Pemberian antibiotik pada serangan asthma sebaiknya dibatasi hanya pada kasus-kasus serangan asthma yang menunjukkan tanda, gejala, atau pemeriksaan penunjang yang mendukung ke arah infeksi bakterial sebagai pemicunya. Sebagian besar infeksi yang memicu serangan asthma adalah infeksi viral, sehingga tidak membutuhkan antibiotik.

Pemberian antibiotik pada kasus serangan asthma bisa menimbulkan terjadinya resistensi antibiotik. Selain itu penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan memberikan resiko pada pasien untuk mengalami efek samping obat yang sebenarnya tidak perlu.

Referensi