Penetapan Tujuan Perawatan pada Pasien Penyakit Kronis dan Perawatan Paliatif

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna

Tujuan perawatan dibuat secara kolaboratif antara dokter, pasien dan orang yang merawat (caregiver). Tujuan ini terbukti penting untuk meningkatkan hasil klinis, kualitas hidup, serta kepuasan pasien, terutama pada pasien penyakit kronis dan perawatan paliatif.

Penyakit tidak menular menjadi salah satu masalah kesehatan yang dihadapi Indonesia dan dunia karena proporsinya semakin hari semakin meningkat. Sejak tahun 1990 hingga 2014, proporsi angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular meningkat dari 37% menjadi 71%.[1] Jumlah pasien dengan satu atau lebih kondisi kronis yang dirawat di perawatan primer telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.[2]

Depositphotos_172154106_m-2015_compressed

 

Penyakit-penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan dan penderitaan yang panjang bagi pasiennya. Komunikasi yang baik antara dokter dan pasien mengenai target pengobatan merupakan tantangan yang penting untuk dilakukan untuk tujuan peningkatan kualitas hidup. Penetapan tujuan perawatan dan diskusinya dengan pasien dan keluarga merupakan kesepakatan profesional antara pihak medis dengan pasien mengenai tujuan yang berkaitan dengan kesehatan pasien (collaborative goal setting).[3,4] Penelitian Kangovi, et al. menunjukkan pasien dengan status sosioekonomi rendah yang mengalami penyakit kronis dapat menggunakan collaborative goal setting dan pendekatan dari tenaga medis untuk mematok sasaran dan membuat cara-cara yang kreatif dan unik untuk mencapai sasaran tersebut.[5]

Tujuan Perawatan

Diskusi mengenai tujuan perawatan terutama pada pasien dengan penyakit kronis dan kritis penting untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, spiritual dan sosial untuk pasien, keluarga dan orang yang merawat. Tujuan perawatan pada pasien dengan penyakit kronis dan perawatan paliatif bermanfaat menyelaraskan perawatan pasien dengan tujuan, keinginan, dan nilai-nilai mereka. Keselarasan ini dapat tercapai dengan proses diskusi berulang, hubungan dan kepercayaan antara dokter-pasien serta keterlibatan keluarga dan orang yang merawat (caregiver) untuk mengambil keputusan.[6]

Komunikasi efektif pada diskusi ini membentuk dasar hubungan dokter-pasien yang konstruktif dan tidak hanya memenuhi etika kedokteran, tetapi juga mengarah pada peningkatan kepuasan pasien dan hasil klinis yang lebih baik. Beberapa tujuan lain yang diharapkan dalam diskusi tujuan perawatan pasien adalah menunda kematian, mengurangi penderitaan, mengontrol gejala, mendukung keluarga dan orang terdekat pasien serta mempersiapkan kematian (terutama pada kasus paliatif).[7] Penetapan tujuan kolaboratif ini ditemukan dapat memperbaiki gaya hidup yang memperburuk penyakit kronis dan meningkatkan hasil yang terukur (contoh: perbaikan HbA1C pada kasus diabetes mellitus).[4]

Diskusi Tujuan Perawatan dengan Pasien

Waktu yang baik untuk melakukan diskusi perawatan adalah pada saat kejadian akut dan perubahan status kesehatan serta diskusi rutin setiap tahunnya. Diskusi ini harus dilakukan sedini mungkin, terutama sebelum pasien tidak dapat menentukan keputusan (pada tahap akhir penyakit). Diskusi tentang tujuan perawatan dengan pasien perlu dilakukan beberapa komponen berikut:

  • Pencarian pemahaman pasien dan keluarganya mengenai kondisi medisnya
  • Penggalian dugaan dan harapan dari pasien dan keluarganya
  • Pemberian informasi dan saran mengenai tujuan pengobatan yang realistis
  • Pemberian informasi mengenai rencana pengobatan dan alternatifnya
  • Pemberian tanggapan yang bersifat empatik
  • Pembuatan rencana dan tindak lanjut
  • Peninjauan dan revisi serta diskusi secara berkala[6]

Model 5-A

Model 5-A merupakan metode sistematik yang dapat digunakan untuk mendukung proses perawatan pasien melalui diskusi dengan dokter:

  • “Assess”, ditujukan untuk mengetahui pemahaman pasien mengenai penyakitnya serta harapan dan motivasinya

  • “Advise”, dokter memberikan edukasi mengenai penyakitnya, termasuk adanya rencana pengobatan atau pemeriksaan

  • “Agree”, rencana pengobatan dan saran perubahan gaya hidup yang disesuaikan dengan keinginan dan persetujuan pasien

  • “Assist”, dokter memberikan informasi bila adanya potensi halangan saat proses pasien mencapai sasaran medis, dan memberikan dukungan untuk menghadapi halangan tersebut

  • “Arrange”, melakukan evaluasi berkala[4]

Komponen lain yang dapat didiskusikan, khususnya pasien paliatif, antara lain memulai pengobatan untuk meringankan gejala, perlunya perawatan di rumah (homecare), keputusan untuk tidak melakukan resusitasi (do not resucitate atau DNR), manajemen nyeri, lokasi kematian, dan donasi organ juga dapat disertakan dalam diskusi. Dokumentasi perlu dilakukan dalam setiap diskusi ini.[6,8]

Potensi Hambatan dalam Diskusi Tujuan Perawatan

Terdapat beberapa hambatan yang potensial untuk terjadi dalam diskusi tujuan perawatan dari berbagai faktor. Pertama, dokter merasa bahwa pasien dan/atau keluarganya tidak siap untuk berbicara dan kurangnya waktu untuk berdiskusi hal ini. Pada kenyataannya, pasien dan perawat sebenarnya bersedia untuk berdiskusi ketika dokter memulai diskusi tersebut. Kedua, adanya ekpektasi yang tinggi dari pihak keluarga. Ketiga, adanya ketakutan dokter untuk menghancurkan harapan pasien. Keempat, adanya kesulitan dalam menentukan prognostik penyakit yang bersifat progresif (contoh: gagal jantung), dan yang terakhir kesulitan akan timbul bila ada keterlibatan emosi.[6]

Dokter yang akan berkomunikasi dengan pasien penyakit kronis dan perawatan paliatif perlu mengetahui potensi hambatan ini. Keterampilan komunikasi, pengalaman dan adanya empati diperlukan untuk mengatasi hambatan ini sehingga proses diskusi dapat berlangsung dengan baik.

Alat bantu seperti kursus atau seminar awam mengenai penyakit terkait dapat digunakan untuk membantu perawatan kolaboratif ini. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menentukan elemen-elemen penting dalam pembuatan metode alat bantu ini yang dapat memberikan rekomendasi pada praktik dokter sehari-hari khususnya bagi para dokter di Indonesia dengan mempertimbangkan latar belakang, nilai dan budaya setempat.

Kesimpulan

Pendekatan perawatan yang berorientasi pada pasien dengan cara  menetapkan tujuan kolaboratif antara dokter dan pasien perlu dilakukan. Hal ini untuk meningkatkan kualitas hidup bagi pasien dengan penyakit kronis dan multimorbiditas yang pada zaman dewasa ini semakin meningkat jumlahnya. Keterampilan khusus terutama dalam bidang komunikasi yang efektif pada diskusi kolaboratif ini diperlukan untuk mencapai tujuan.

Diskusi mengenai tujuan perawatan perlu dilakukan secara kolaborasi, melibatkan dokter, pasien (bila masih memungkinkan), keluarga pasien dan orang yang merawat pasien (caregiver). Diskusi ini tidak dapat dilakukan hanya sekali saja karena tujuan perawatan merupakan suatu hal yang dinamis, dipengaruhi oleh waktu dan kondisi pasien. Tujuan perawatan pada pasien dengan penyakit kronis dan perawatan paliatif adalah untuk menyelaraskan perawatan pasien dengan tujuan, keinginan, dan nilai-nilai mereka. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan hasil klinis yang lebih baik dan/atau optimalisasi kualitas hidup serta meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga.

Diskusi harus dilakukan sedini mungkin, terutama sebelum pasien berada pada tahap akhir penyakit dan tidak dapat membuat keputusan. Metode “5-A” dapat digunakan sebagai alat bantu untuk diskusi ini, yang meliputi Assess, Advise, Agree, Assist dan Arrange.

Potensi hambatan yang dapat terjadi pada diskusi untuk menetapkan tujuan kolaboratif ini dapat datang dari dokter sendiri, pasien ataupun keluarga pasien. Penanggulangan hambatan-hambatan ini dapat dilakukan dengan mempertajam keterampilan komunikasi dari dokter, pengalaman dan meningkatkan empati terhadap pasien. Alat bantu seperti seminar awam dapat digunakan untuk membantu mencapai tujuan kolaboratif.

Sebagai kesimpulan, dokter yang menangani pasien dengan penyakit kronis dan perawatan paliatif perlu meningkatkan perhatian terhadap penetapan tujuan pengobatan kolaboratif melalui diskusi dengan pasien agar dapat mengoptimalkan kualitas hidup pasien.

Referensi