Manfaat dan Risiko Terapi Rumatan Antipsikotika pada Kasus Schizophrenia

Oleh :
dr. Soeklola SpKJ MSi

Antipsikotika telah dikenal sebagai salah satu terapi utama schizophrenia.[1-5] Penelitian yang ada menunjukkan bahwa sekitar 85-90% pasien dengan psikosis episode pertama (first episode psychosis, FEP) mengalami remisi gejala setelah diberikan antipsikotika dan 50% di antaranya akan mengalami recovery fungsional setelah menggunakan antipsikotika selama 1 tahun.[1]

Kebanyakan pedoman menganjurkan penggunaan antipsikotika sekurangnya 1-2 tahun setelah remisi gejala dari sebuah episode akut untuk mencegah relapse.[1,6-8] Relapse sendiri berpengaruh terhadap peningkatan disabilitas fungsional, beban finansial, termasuk peningkatan risiko terjadinya refrakter pengobatan.[1,2] Di sisi lain, penggunaan antipsikotika jangka panjang dilaporkan berkaitan dengan risiko penurunan volume otak dan peningkatan risiko efek samping antipsikotika.[3,4,7] Besaran manfaat dan risiko perlu dipertimbangkan dalam memilih tata laksana dan terapi rumatan antipsikotika pada kasus schizophrenia.[1-5,7]

Man,With,Schizophrenia,Standing,Alone,In,A,Room,Pointing,At

Terapi Rumatan Antipsikotika dan Pencegahan Relapse

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penghentian antipsikotika akan diikuti dengan peningkatan risiko relapse.[1,6-8] Data yang ada menunjukkan 75-79% relapse (kekambuhan) terjadi dalam 12-18 bulan setelah penggunaan antipsikotika dihentikan.[7,8]

Berbagai pedoman menganjurkan penggunaan antipsikotika sekurangnya 1-2 tahun setelah terjadi remisi gejala akut. Namun, pada pasien dengan episode berulang disarankan penggunaan terus-menerus untuk mencegah relapse.[7,8] Fokus pada tindakan preventif relapse didasari oleh temuan bahwa relapse berdampak negatif terhadap integritas otak dan penurunan respons otak terhadap antipsikotika.[9]

Bukti Ilmiah Terkait Penggunaan Antipsikotika Setelah Remisi

Hingga saat ini belum ada konsensus yang menentukan durasi dan dosis optimal penggunaan antipsikotika setelah terjadi remisi gejala dari episode psikosis akut.[7,8] Secara umum, penghentian antipsikotika dipercaya meningkatkan risiko relapse. Namun, terdapat studi kohort yang melibatkan 496 subjek schizophrenia yang menunjukkan bahwa terdapat suatu subgrup pasien yang mencapai remisi bahkan tanpa konsumsi antipsikotika. Pada studi ini pemantauan dilakukan selama 10 tahun dan ditemukan beberapa faktor yang berhubungan dengan remisi yang lebih baik. Faktor tersebut antara lain jenis kelamin wanita, tidak adanya riwayat penyalahgunaan zat, skor Global Assessment of Functioning-Function (GAF-F) yang lebih tinggi, dan aktif bekerja.[8]

Tinjauan Cochrane terbaru mencoba menganalisis manfaat dari terapi rumatan antipsikotika dalam pencegahan relapse pasien schizophrenia jika dibandingkan dengan pemutusan obat. Studi ini menganalisis 75 uji klinis dan melibatkan lebih dari 9000 partisipan. Hasil studi menunjukkan bahwa terapi rumatan antipsikotika mampu mengurangi risiko relapse dan kebutuhan rawat inap. Pada kelompok subjek yang mendapat pemutusan obat, dilaporkan bahwa risiko relapse dalam satu tahun hampir 3 kali lebih tinggi. Analisis menunjukkan bahwa terapi rumatan antipsikotika berkaitan dengan efek positif seperti kemampuan berkegiatan, hubungan interpersonal, dan remisi gejala. Namun, penggunaan antipsikotika juga berkaitan dengan risiko efek samping seperti gangguan gerak, penambahan berat badan, dan sedasi.[5]

Risiko Penggunaan Jangka Panjang Antipsikotika

Seperti telah disebutkan sebelumnya, penggunaan antipsikotika dikaitkan dengan berbagai risiko, termasuk peningkatan efek samping dan penurunan volume otak.

Perburukan Skor Global Assessment of Function dan Gejala Negatif

Penelitian kohort terhadap 175 subjek dengan schizophrenia yang diikuti selama 20 tahun menunjukkan 74,1 % pasien schizophrenia mengalami perjalanan penyakit kronis dan terus mengalami penurunan kondisi klinis. Penurunan tersebut juga terjadi pada kelompok yang patuh menggunakan terapi antipsikotika. Penggunaan antipsikotika berkaitan dengan perburukan skor Global Assessment of Function (GAF) dan gejala negatif, namun perbaikan pada gejala disorganisasi dan eksitasi. Penurunan terutama nampak pada tahun ke-5 hingga ke-8.[10]

Tetap Ada Risiko Rawat Inap Berulang dan Kegagalan Terapi

Pengamatan lain terhadap 29.823 pasien schizophrenia, terdiri dari 12.822 wanita dan 17.001 laki-laki dengan rerata usia 44,9 tahun, berusaha menganalisis kaitan penggunaan jenis antipsikotika dengan risiko rawat inap berulang dan kegagalan terapi yang didefinisikan sebagai rawat inap berulang, percobaan bunuh diri, penggantian atau penghentian antipsikotika, dan kematian. Studi tersebut menunjukkan 43,7% pasien mengalami rawat inap berulang dan 71,7% mengalami kegagalan terapi. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa, dibandingkan kelompok yang tidak menggunakan antipsikotika, risiko rawat inap psikiatrik paling rendah pada kelompok yang mendapat monoterapi khususnya dengan long-acting injectable (LAI) paliperidon, LAI zuclopenthixol, clozapine, LAI perphenazine, dan LAI olanzapine. Risiko rawat inap terbesar terdapat pada kelompok yang menggunakan flupentixol, quetiapin, dan perphenazine. Clozapine dan LAI antipsikotika dikaitkan dengan risiko kegagalan terapi paling kecil (HR 0,65-0,80).[11]

Peningkatan Risiko Efek Samping

Perlu diingat bahwa gangguan mental kronis, termasuk schizophrenia juga berkaitan dengan angka mortalitas yang lebih tinggi walaupun belum diketahui penyebab pastinya. Namun, penggunaan jangka panjang antipsikotika terbukti meningkatkan risiko efek samping metabolik, kardiovaskular, efek samping ekstrapiramidal (EPS), dan kelainan neurologis. Risiko gangguan metabolik dan kardiovaskular sendiri merupakan penyumbang terjadinya peningkatan morbiditas dan mortalitas prematur.[7,8,12] Namun, berbagai data menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan dosis rumatan antipsikotika mengalami penurunan angka mortalitas dibandingkan kelompok pasien schizophrenia yang tidak mendapatkan antipsikotika. [4,9] Kelompok pasien yang tidak menerima antipsikotika juga memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi.[7]

Penurunan Volume Otak

Kondisi lain yang perlu dipertimbangkan adalah penurunan volume dan ketebalan lapisan otak, khususnya bagian prefrontal dan temporal. Beberapa penelitian juga menunjukkan reduksi volume otak bersifat progresif dan belum diketahui secara pasti mekanisme neuropatologinya. Penggunaan antipsikotika juga dilaporkan berkorelasi dengan penurunan volume grey matter, tetapi data ini juga masih bersifat kontradiktif.[7,13-15]

Alternatif Terapi Rumatan Antipsikotika

Tidak semua pasien schizophrenia memiliki risiko relapse, sehingga terdapat strategi alternatif dari penggunaan jangka panjang antipsikotika berupa targeted intermittent treatment (IT). Intervensi ini berupa menghentikan penggunaan antipsikotika jika memungkinkan dan intervensi segera antipsikotika pada gejala prodromal atau jika terdapat warning signs. [7,9] Meski demikian, perlu diketahui bahwa terdapat data ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaan IT meningkatkan risiko relapse 6 bulan jika dibandingkan dengan terapi rumatan jangka panjang. Selain itu, belum diketahui secara jelas faktor-faktor penentu apa saja yang membuat pasien sesuai untuk menjalani terapi IT.[9]

Hingga saat ini, belum ada ketentuan mengenai kriteria pasien yang dapat menjalani IT, dosis terbaik terapi rumatan, dan durasi terapi rumatan yang disarankan. Kebanyakan pedoman klinis tetap menyarankan terapi rumatan jangka panjang sebagai strategi primer dalam terapi schizophrenia.[9]

Kesimpulan

Secara umum, studi yang ada menunjukkan bahwa penggunaan terapi rumatan jangka panjang dapat secara efektif menurunkan risiko relapse pada pasien schizophrenia. Namun, penggunaan terapi rumatan juga berkaitan dengan peningkatan risiko efek samping, serta tetap memiliki risiko kegagalan terapi dan rawat inap berulang.

Referensi