Pemeriksaan Coronary Computed Tomography Angiography untuk Nyeri Dada

Oleh dr. Hunied Kautsar

Seiring dengan berkembangnya teknologi, functional stress testing tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan untuk pemeriksaan pada pasien dengan keluhan nyeri dada (terutama stable angina). Coronary Computed Tomographic Angiography (CCTA) saat ini merupakan metode alternatif pemeriksaan non invasif yang juga dapat digunakan untuk pemeriksaan pasien dengan nyeri dada.

Sumber: Wikimedia commons, 2014. Sumber: Wikimedia commons, 2014.

Coronary Computed Tomography Angiography (CCTA) merupakan pemeriksaan penunjang inisial non-invasif untuk mendapatkan gambaran arteri koroner pada pasien dengan keluhan nyeri dada (stable angina). Alat yang digunakan dapat berupa retrospectively gated, single-source, 64-slice CT scan yang memiliki dosis radiasi antara 9,5-21,4 mSv.[1] Alternatif pemeriksaan penunjang inisial yang lain adalah functional stress testing, yang terdiri dari exercise ECG, stress echocardiography dan nuclear stress test (stress perfusion scanning test). Pemilihan jenis pemeriksaan inisial yang tepat penting untuk dilakukan agar dapat mencegah pemeriksaan invasif lanjutan yang tidak diperlukan.

Indikasi Pemeriksaan Coronary Computed Tomography Angiography

Pada tahun 2010, sembilan ikatan spesialis di Amerika Serikat yang bergerak di bidang radiologi dan kardiologi bekerja sama untuk menerbitkan pedoman kriteria penggunaan Coronary Computed Tomography Angiography (CCTA).[2] Secara garis besar indikasi penggunaan CCTA adalah:

  • Deteksi penyakit jantung koroner pada pasien dengan gejala akut atau non akut namun tidak memiliki riwayat penyakit jantung
  • Deteksi penyakit jantung koroner pada pasien dengan kasus baru atau gagal jantung yang baru terdiagnosis dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung koroner
  • Pemeriksaan pembuluh koroner sebelum operasi jantung non-koroner (contoh: valve replacement surgery)
  • Pasien yang sudah menjalani pemeriksaan exercise ECG dengan hasil normal namun gejala yang dialami terus berlanjut atau pasien dengan risiko menengah (intermediate risk) berdasarkan skor Duke treadmill

  • Pasien yang sudah menjalani prosedur stress imaging dengan hasil exercise ECG dan imaging yang tidak sejalan atau hasil stress imaging yang diragukan.
  • Evaluasi dari pasien yang memiliki riwayat hasil stress imaging yang normal namun datang dengan gejala baru atau gejala yang memburuk
  • Evaluasi risiko pasca revaskularisasi, pasien dengan gejala pasca coronary artery bypass grafting atau pasien pasca pemasangan left main coronary stent yang berukuran ≥ 3 mm
  • Evaluasi struktur dan fungsi jantung dan pembuluh pada pasien dewasa dengan kelainan jantung kongenital

  • Evaluasi struktur dan fungsi jantung, terutama untuk morfologi ventrikel dan fungsi sistolik
  • Evaluasi struktur dan fungsi jantung dan pembuluh, struktur intrakardiak dan ekstrakardiak[2]

Perbandingan antara Pemeriksaan CCTA dan Functional Stress Testing

Pada tahun 2010 diadakan sebuah penelitian multicenter oleh Prospective Multicenter Imaging Study for Evaluation of Chest Pain (PROMISE). Penelitian ini merupakan uji kontrol terkendali yang diadakan di 193 institusi di Amerika Serikat dan melibatkan pasien dengan gejala nyeri dada (stable angina) yang diduga mengarah pada penyakit jantung koroner namun tidak memiliki riwayat penyakit jantung koroner. Kriteria inklusi lainnya adalah usia di atas 54 tahun (untuk laki-laki) dan di atas 64 tahun (untuk perempuan) atau usia 45-54 tahun (untuk laki-laki) dan usia 50-64 tahun (untuk perempuan) yang memiliki paling tidak satu faktor risiko penyakit kardiovaskular (diabetes, penyakit arteri perifer, konsumsi tembakau, hipertensi atau dislipidemia). Seluruh partisipan dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok yang menjalani pemeriksaan penunjang inisial menggunakan CCTA, berjumlah 4.840 partisipan, dan kelompok yang menjalani pemeriksaan penunjang inisial dengan functional stress testing, berjumlah 4.759 partisipan. Periode follow up adalah 1-2 tahun pasca pemeriksaan penunjang inisial.[3]

Setelah pemeriksaan penunjang inisial, 1.015 pasien menjalani invasive cardiac catherization dalam kurun waktu 90 hari pasca CCTA atau functional stress testing. Jika dibandingkan, pemeriksaan penunjang inisial dengan menggunakan CCTA memiliki jumlah partisipan yang menjalani invasive cardiac catherization dan terbukti tidak memiliki penyakit jantung koroner obstruktif yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan dengan pemeriksaan inisial functional stress testing. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pemeriksaan penunjang inisial dengan CCTA dapat mereduksi pemeriksaan invasif yang tidak diperlukan. [3]

Jika dilihat dari sisi besarnya radiasi, pemeriksaan dengan CCTA memiliki dosis radiasi yang lebih rendah dari nuclear stress testing, namun dosis radiasi CCTA lebih tinggi jika dibandingkan dengan functional stress testing yang lain (stress echocardiography dan exercise ECG). Berdasarkan follow up selama 1-2 tahun pasca pemeriksaan penunjang inisial, hasil dari penelitian yang diadakan oleh PROMISE menyimpulkan bahwa pemeriksaan penunjang inisial dengan menggunakan CCTA tidak menghasilkan clinical outcome yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemeriksaan inisial dengan functional stress testing. [3]

Sebuah studi meta analisis diadakan untuk membandingkan antara pemeriksaan penunjang inisial yang menggunakan CCTA dengan pemeriksaan inisial functional stress testing pada pasien dengan keluhan nyeri dada. Studi meta analisis ini melibatkan 13 uji kontrol terkendali dengan jumlah pasien yang menjalani pemeriksaan CCTA sebanyak 10.315 partisipan dan 9.777 pasien yang menjalani functional stress testing. Hasil dari studi meta analisis ini menyatakan bahwa pemeriksaan penunjang inisial dengan menggunakan CCTA diasosiasikan dengan penurunan insidensi infark miokard, namun penggunaan CCTA juga diasosiasikan dengan peningkatan insidensi invasive coronary angiography, revaskulariasai, diagnosis penyakit jantung koroner dan peresepan aspirin dan statin. Pemeriksaan penunjang inisial dengan CCTA tidak diasosiasikan dengan penurunan angka mortalitas atau angka rawat inap kasus penyakit jantung. [4]

Berdasarkan Panduan Praktis Klinis yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) pemeriksaan penunjang inisial yang dianjurkan untuk pasien dengan keluhan nyeri dada dengan derajat CCS kelas 1 dan 2 (keluhan angina terjadi saat aktifitas berat yang lama atau terjadi saat aktifitas yang lebih berat dari aktifitas sehari-hari) adalah pemeriksaan ischemic stress test yang meliputi Treadmill test atau Stress Echocardiography, atau Stress perfusion scanning test (nuclear stress test) atau MRI. MSCT dilakukan sebagai alternatif pemeriksaan penunjang lain.[5]

Kesimpulan

Hasil dari beragam uji kontrol terkendali dan studi meta analisis yang membandingkan antara Coronary Computed Tomography Angiography (CCTA) dengan functional stress testing sebagai pemeriksaan penunjang inisial pada pasien dengan keluhan nyeri dada (stable angina) menunjukkan bahwa CCTA tidak diasosiasikan dengan penurunan angka mortalitas atau angka rawat inap kasus penyakit jantung. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pemeriksaan penunjang inisial dengan metode CCTA tidak lebih superior dari functional stress testing. Oleh karena itu pemilihan pemeriksaan penunjang inisial untuk pasien dengan keluhan nyeri dada (stable angina) harus berdasarkan pertimbangan semua aspek yakni kondisi klinis pasien, faktor risiko yang dimiliki oleh pasien, pertimbangan dosis radiasi dan kemampuan ekonomi pasien.

Referensi