Pedoman WHO tentang Manajemen Diabetes pada Ibu Hamil – Ulasan Guideline Terkini

Oleh :
dr. Novita

Pedoman manajemen diabetes pada ibu hamil dipublikasikan oleh WHO pada tahun 2025. Salah satu rekomendasi dalam pedoman ini adalah untuk memberikan edukasi anjuran diet dan aktivitas fisik pada ibu hamil dengan diabetes gestasional, diabetes melitus tipe 1, dan diabetes melitus tipe 2. Pada ibu dengan diabetes melitus tipe 1, continuous glucose monitoring (CGM) dianjurkan. Pada ibu dengan diabetes melitus tipe 2, CGM tidak rutin digunakan.

Selain itu, pedoman ini juga memberikan rekomendasi terkait pilihan terapi pada setiap tipe diabetes dalam kehamilan. Pada ibu dengan diabetes tipe 1, jenis dan cara pemberian insulin umumnya bisa dilanjutkan seperti sebelum hamil. Di sisi lain, metformin atau insulin merupakan farmakoterapi yang direkomendasikan pada diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional.[1]

Pedoman WHO tentang Manajemen Diabetes pada Ibu Hamil

Tabel 1. Tentang Pedoman Klinis Ini

Penyakit Diabetes pada Ibu Hamil
Tipe Penatalaksanaan
Yang Merumuskan

World Health Organization (WHO)

Tahun 2025
Negara Asal Internasional
Sasaran Dokter spesialis kandungan, dokter umum, bidan, perawat dan ahli gizi.

Penentuan Tingkat Bukti

Pengembangan pedoman dimulai dari identifikasi pertanyaan dan luaran prioritas, penelusuran bukti, penilaian dan sintesis bukti, perumusan rekomendasi, dan perencanaan diseminasi, implementasi, evaluasi dampak, serta pembaruan rekomendasi di masa mendatang.

Tinjauan sistematik de novo digunakan untuk menyiapkan profil bukti bagi pertanyaan-pertanyaan yang diprioritaskan. Kualitas bukti ilmiah dinilai menggunakan pendekatan Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation (GRADE) serta GRADE Confidence in the Evidence from Reviews of Qualitative Research .

GRADE evidence to decision framework (EtD) yaitu alat pengambilan keputusan berbasis bukti yang mencakup efek intervensi, nilai, penggunaan sumber daya, kesetaraan dan hak asasi manusia, akseptabilitas, serta kelayakan digunakan untuk memandu perumusan rekomendasi oleh Guideline Development Group (GDG).[1]

Rekomendasi Utama untuk Diterapkan dalam Praktik Klinis Anda

Pedoman ini mencakup manajemen diabetes melitus tipe 1, diabetes melitus tipe 2, dan diabetes gestasional pada ibu hamil. Rekomendasi yang dibicarakan mencakup cara pemantauan klinis, intervensi nonfarmakologi, dan pilihan farmakoterapi.[1]

Intervensi Nonfarmakologi

Saran mengenai diet, aktivitas fisik, dan pengelolaan berat badan antara lain:

  • Klinisi perlu memberikan saran yang bersifat individual mengenai pola makan, aktivitas fisik, dan pengelolaan berat badan berdasarkan pedoman WHO yang sudah ada.
  • Pola makan yang baik meliputi konsumsi karbohidrat yang berasal dari sumber utuh seperti biji-bijian, sayur, buah, dan kacang-kacangan.
  • Asupan sayur minimal 400 gram/hari, serta serat sekitar 25 gram/hari.
  • Asupan lemak dianjurkan tidak melebihi 30% dari total energi harian, dengan dominasi lemak tidak jenuh. Pembatasan lemak jenuh kurang dari 10%, lemak trans kurang dari 1%, serta pengurangan gula bebas hingga di bawah 5–10% dari total asupan harian.
  • Dari sisi aktivitas fisik, ibu hamil dianjurkan tetap aktif selama masa kehamilan.
  • Ibu hamil disarankan melakukan aktivitas aerobik dengan intensitas sedang selama sekitar 150 menit/minggu, disertai latihan penguatan otot, peregangan, dan melanjutkan kebiasaan olahraga sebelum hamil bila sebelumnya sudah terbiasa beraktivitas fisik.

Selain mengatur diet, aktivitas fisik, dan pengelolaan berat badan, selama perawatan antenatal, klinisi perlu memberikan edukasi mengenai:

  • Dampak diabetes dalam kehamilan terhadap kesehatan ibu, janin, neonatus, dan anak
  • Kenaikan berat badan yang diperbolehkan selama masa kehamilan
  • Pengelolaan kadar glukosa darah.[1]

Pemantauan Kadar Glukosa Darah

Berikut ini merupakan rekomendasi mengenai cara pemantauan kadar glukosa darah pada ibu hamil dengan diabetes:

  • Metode pemantauan glukosa darah yang dianjurkan untuk ibu hamil dengan diabetes tipe 1, tipe 2, atau diabetes gestasional, berupa pemantauan mandiri glukosa darah sebagai tambahan dari perawatan rutin.
  • Untuk ibu hamil dengan diabetes tipe 1 anjurkan penggunaan CGM, jika memungkinkan.
  • Untuk ibu hamil dengan diabetes tipe 2 atau diabetes gestasional, tidak dianjurkan penggunaan sistem CGM secara rutin.
  • Pada ibu hamil dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2, pemeriksaan HbA1c sebaiknya dilakukan pada trimester pertama atau segera setelah kunjungan antenatal pertama. Pada kasus diabetes gestasional, pemeriksaan HbA1c tidak dilakukan secara rutin.
  • Target kadar glukosa darah pada kehamilan dengan diabetes ditentukan secara individual, dengan tujuan mencapai kontrol glikemik yang optimal serta menurunkan risiko komplikasi pada ibu dan bayi.[1]

Farmakoterapi

Rekomendasi tata laksana pada kehamilan dengan diabetes tipe 1:

  • Pasien direkomendasikan untuk melanjutkan jenis insulin yang sama seperti yang digunakan sebelum kehamilan, kecuali apabila dianggap perlu untuk mengoptimalkan pengendalian glukosa darah.
  • Metode pemberian insulin yang digunakan sebelum kehamilan pada prinsipnya dapat diteruskan, kecuali bila diperlukan perubahan untuk meningkatkan stabilitas kadar glukosa dan meningkatkan luaran ibu maupun janin.

Rekomendasi tata laksana pada kehamilan dengan diabetes tipe 2:

  • Apabila kadar glukosa darah ibu tidak terkontrol hanya dengan modifikasi gaya hidup, terapi farmakologi seperti metformin atau insulin perlu dipertimbangkan untuk memperbaiki kontrol glikemik.
  • Pada pasien yang sudah menggunakan monoterapi insulin atau metformin namun kadar glukosa tetap belum optimal, kombinasi metformin dan insulin dapat dipertimbangkan agar target glikemik yang optimal dapat tercapai.
  • Pada ibu hamil yang sebelumnya menggunakan obat antidiabetik oral dengan potensi risiko selama kehamilan, terapi sebaiknya diganti menjadi insulin atau metformin yang lebih aman digunakan selama masa kehamilan.
  • Bagi pasien yang telah menggunakan insulin sebelum kehamilan, jenis insulin yang sama umumnya dapat dilanjutkan, kecuali terdapat indikasi klinis untuk penyesuaian terapi.

Rekomendasi tata laksana pada kehamilan dengan diabetes gestasional:

  • Jika modifikasi gaya hidup saja belum cukup untuk mencapai kadar glukosa yang diharapkan, maka terapi metformin atau insulin dapat mulai diberikan.
  • Pada ibu hamil yang sudah menggunakan monoterapi metformin atau insulin tetapi hasil kontrol glukosa masih belum optimal, kombinasi metformin dan insulin dapat dipertimbangkan agar target glikemik lebih mudah tercapai.[1]

Pemantauan dan Penilaian Tambahan

Beberapa pemantauan lain yang diperlukan pada ibu hamil dengan diabetes adaah

  • Pada ibu hamil dengan diabetes, pemeriksaan USG sebaiknya sudah dilakukan sebelum usia kehamilan 24 minggu. Khusus untuk ibu hamil dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2, USG dapat dilakukan sejak awal kehamilan, kemudian diikuti dengan pemeriksaan ulang pada trimester kedua untuk menilai kondisi anatomi serta pertumbuhan janin.
  • Skrining retinopati sebaiknya dilakukan sejak kunjungan antenatal pertama. Keperluan pemantauan lanjutan disesuaikan dengan tingkat risiko perburukan retinopati selama kehamilan.
  • Fungsi ginjal diperiksa sejak awal kunjungan. Bila ditemukan gangguan, pasien dirujuk untuk tindak lanjut.[1]

Perbandingan dengan Pedoman Klinis di Indonesia

Pedoman yang digunakan di Indonesia adalah pedoman dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). Secara umum pedoman layanan kesehatan diabetes pada ibu hamil di Indonesia relatif sama dengan WHO. Skrining dianjurkan pada usia kehamilan 24–28 minggu. Modifikasi gaya hidup menjadi langkah awal, dan terapi insulin atau metformin diberikan bila target glikemik belum tercapai.

Pada fase persalinan, pedoman POGI dan PERKENI menekankan pengendalian kadar glukosa selama proses intrapartum serta penentuan waktu dan cara persalinan sesuai indikasi obstetri. Sementara itu, pada fase pascapersalinan, layanan difokuskan pada evaluasi ulang status glikemik ibu, skrining risiko diabetes tipe 2, serta konseling jangka panjang terkait gaya hidup dan perencanaan kehamilan berikutnya.

Meski begitu, pedoman POGI dan PERKENI tidak menjabarkan secara khusus mengenai pemeriksaan tambahan seperti pemantauan pertumbuhan janin, skrining retinopati, atau evaluasi fungsi ginjal sebagaimana dijelaskan dalam rekomendasi WHO.[2,3]

Kesimpulan

Di tahun 2025, WHO mempublikasikan pedoman mengenai manajemen diabetes pada ibu hamil. Beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan adalah:

  • Pada ibu hamil dengan diabetes, edukasi mengenai diet, aktivitas fisik, serta dampak hiperglikemia pada ibu dan janin perlu diberikan
  • Untuk pemantauan glukosa darah, continuous glucose monitoring (CGM) dianjurkan penggunaannya pada ibu hamil dengan diabetes melitus tipe 1, tetapi tidak dianjurkan secara rutin pada ibu dengan diabetes melitus tipe 2 atau diabetes gestasional.
  • Pada ibu dengan diabetes tipe 1, jenis dan cara pemberian insulin umumnya bisa dilanjutkan seperti sebelum hamil.
  • Pada ibu dengan diabetes tipe 2 atau diabetes gestasional yang tidak mencapai kontrol glikemik memadai setelah modifikasi gaya hidup, insulin atau metformin merupakan farmakoterapi yang dianjurkan.

Referensi