Mitos Seputar Mata dan Penglihatan

Oleh dr. Hunied Kautsar

Beragam pendapat mengenai mata dan penglihatan beredar di masyarakat. Kenali mana yang fakta, mana yang hanya mitos belaka.

MITOS: Mengkonsumsi Wortel Dapat Meningkatkan Kualitas Penglihatan

Faktanya:

  • Wortel mengandung banyak vitamin A, nutrien yang penting untuk penglihatan yang baik.
  • Mengkonsumsi wortel akan menyuplai vitamin A yang penting untuk penglihatan yang baik, namun vitamin A tidak terbatas pada wortel, vitamin A dapat ditemukan di keju, kuning telur dan hati.[1]

  • Ada dua macam vitamin A yakni retinoid yang berasal dari produk hewani dan beta karoten, vitamin A yang berasal dari tumbuhan.
  • Sumber vitamin A sebaiknya berasal dari makanan, suplemen vitamin A hanya dianjurkan bagi orang yang menderita defisiensi vitamin A.
  • Anjuran asupan vitamin A berdasarkan usia dan jenis kelamin:

KategoriRekomendasi Diet Vitamin A (Retinol Activity Equivalent) dalam mikrogram (μg)
Anak-anak
1-3 tahun

300 μg/hari(atau 1.000 International Units/hari)

4-8 tahun

400 μg/hari(1.320 IU/hari)

9-13 tahun

600 μg/hari(2.000 IU/hari)

Perempuan
14 tahun ke atas

700 μg/hari2.310 IU/hari

Ibu Hamil

14-18 tahun: 750 μg/hari (2.500 IU/hari)19 tahun keatas: 770 μg/hari (2.565 IU/hari)

Ibu Menyusui

Di bawah 19 tahun: 1200 μg/hari (4.000 IU/hari)19 tahun keatas: 1.300 μg/hari (4.300IU/hari)

Laki-laki
14 tahun keatas

900 μg/hari(3.000 IU/hari)

Sebagai gambaran, berikut disampaikan kandungan vitamin A pada berbagai sumber makanan (per 100g)
Wortel (mentah)835 μg/hari
Telur (mentah)160 μg/hari
Keju cheddar330 μg/hari
Hati sapi (mentah)4968 μg/hari
Hati ayam (mentah)3296 μg/hari

  • Selain vitamin A, vitamin C dan E juga mengandung antioksidan yang sangat baik untuk mencegah katarak dan degenerasi makular yang disebabkan oleh proses penuaan.[2]

  • Walau demikian, konsumsi vitamin-vitamin tersebut tidak dapat mengoreksi rabun jauh maupun rabun dekat.[2]

  • Mengkonsumsi wortel (atau sumber vitamin A lainnya) menjaga supaya kualitas penglihatan tidak menurun (akibat defisiensi vitamin A) namun tidak dapat meningkatkan kualitas penglihatan pada mata rabun jauh maupun dekat.

MITOS: Membaca di Tempat Redup akan Melemahkan Penglihatan

Faktanya:

  • Tempat yang redup akan menyulitkan mata dalam menentukan fokus ketika membaca sehingga otot-otot mata harus bekerja lebih keras yang kemudian berujung pada mata lelah.[3]

  • Ketika fokus membaca biasanya refleks kedip akan menurun sehingga mata tidak terlubrikasi dengan baik dan berujung pada mata kering.[3]

  • Mata lelah, mata kering dan nyeri kepala yang ditimbulkan karena membaca di tempat yang redup bersifat sementara.
  • Belum ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa membaca di tempat redup dapat menyebabkan efek buruk bagi mata yang permanen.

Membaca di tempat redup tidak akan melemahkan penglihatan. Sumber: StockSnap, Pixabay, 2017 Membaca di tempat redup tidak akan melemahkan penglihatan. Sumber: StockSnap, Pixabay, 2017

MITOS: Duduk Terlalu Dekat Ketika Menonton TV akan Merusak Penglihatan

Faktanya:

  • Sama seperti membaca di tempat redup, duduk terlalu dekat ketika menonton TV bisa menyebabkan mata lelah dan nyeri kepala namun tidak akan merusak penglihatan.
  • Anak-anak, terutama yang menderita rabun jauh, cenderung menonton TV dengan jarak yang dekat. Mereka membutuhkan kacamata.

MITOS: Melakukan Latihan Mata Akan Menunda Kebutuhan Memakai Kacamata

Faktanya:

  • Latihan mata tidak akan meningkatkan kemampuan penglihatan atau menunda kebutuhan memakai kacamata.
  • Kemampuan penglihatan bergantung pada banyak faktor seperti bentuk bola dan struktur mata serta kesehatan dari jaringan mata, di mana faktor-faktor tersebut tidak bisa dipengaruhi secara signifikan oleh latihan mata.[2]

MITOS: Menggunakan Kacamata atau Lensa Kontak akan Melemahkan Penglihatan dan Menimbulkan Ketergantungan

Faktanya:

  • Penglihatan tidak akan melemah karena menggunakan kaca mata atau lensa kontak korektif.
  • Ukuran dari kacamata atau lensa kontak dapat berubah seiring berjalannya waktu karena usia atau adanya penyakit lain.
  • Bertambahnya ukuran kacamata tidak disebabkan oleh ukuran kacamata yang sedang dipakai.

MITOS: Mata Anak-anak dengan Strabismus dapat Terkoreksi dengan Sendirinya Seiring dengan Tumbuh Kembang Anak

Faktanya:

  • Anak-anak dengan strabismus tidak akan bisa sembuh dengan sendirinya.
  • Dengan penanganan yang tepat, mata anak dengan strabismus dapat dikoreksi sedini mungkin.
  • Penting untuk memeriksakan mata anak, pertama kali ketika masih bayi, kemudian ketika anak berusia 2 tahun.

MITOS: Tidak Ada yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Kehilangan Penglihatan

Faktanya:

  • Seiring dengan berjalannya usia, lensa mata akan bertambah gelap, menjadi lebih opak dan dalam beberapa kasus lensa mata akan menebal sehingga menyebabkan rabun jauh. [2]

  • Dengan bertambahnya usia, retina akan menipis dan menjadi kurang sensitif karena kematian sel, menurunnya aliran darah, atau degenerasi.
  • Bagian yang paling rentan terhadap degenerasi adalah makula. Degenerasi makula yang disebabkan oleh bertambahnya usia bisa menyebabkan kehilangan penglihatan. [2]

  • Jika pasien langsung memeriksakan matanya ketika timbul gejala pertama seperti penglihatan yang kabur atau tidak jelas, sakit pada mata, semburat cahaya, titik hitam yang timbul tiba-tiba, maka bergantung pada kasusnya, akan ada penanganan yang dapat memperbaiki, mencegah atau paling tidak memperlambat proses kehilangan penglihatan. [1]

MITOS: Penggunaan Lampu Tidur di Kamar Tidur Anak dapat Menimbulkan Rabun Jauh

Faktanya:

  • Tidak ada cukup bukti yang mendukung pernyataan ini.
  • Dengan menggunakan lampu tidur dapat membantu bayi untuk fokus dan membantu perkembangan koordinasi mata ketika mereka terbangun. [1]

FAKTA: Melihat Langsung ke Arah Matahari Dapat Merusak Penglihatan

  • Melihat langsung ke arah matahari tidak hanya menyebabkan pusing dan mengganggu penglihatan secara sementara, namun dapat merusak retina secara permanen. [1]

  • Paparan sinar matahari menambah radiasi ultraviolet kumulatif terhadap mata.
  • Radiasi ultraviolet terhadap mata berkaitan dengan beragam kelainan pada mata seperti degenerasi makular, solar retinitis, dan distropi kornea.
  • Waktu yang paling berbahaya untuk menatap matahari adalah ketika gerhana matahari karena pancaran cahaya matahari sangat sedikit namun cahaya yang tidak terlihat yang bisa merusak mata secara permanen tidak berkurang jumlahnya. [1]

FAKTA: Mengkonsumsi Pemanis Buatan Menyebabkan Mata Lebih Sensitif Terhadap Cahaya

  • Pemanis buatan seperti siklamat mempunyai efek samping dapat membuat mata lebih sensitif terhadap cahaya. [4]

  • Selain itu, antibiotik, kontrasepsi oral, obat hipertensi, obat diuretik dan obat diabetes juga mempunyai efek samping mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya. [4]

  • Namun, efek samping ini tidak selalu muncul pada semua orang yang mengkonsumsi pemanis buatan ataupun obat-obatan tersebut. [4]

FAKTA: Anak yang Memiliki Masalah Rabun Jauh/Dekat Bisa Diturunkan dari Orang Tuanya

  • Beberapa penelitian menemukan faktor genetik berupa kromosom yang berperan dalam menentukan ukuran mata dan lengkung kornea. [5,6]

  • Ukuran mata dan lengkung kornea merupakan faktor genetik yang berperan dalam timbulnya rabun jauh atau rabun dekat.
  • Genetik bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan rabun jauh atau rabun dekat
  • Beberapa penelitian menyatakan bahwa faktor lingkungan dan tingkat pendidikan dapat mempengaruhi berkembangnya miopia pada seseorang. [7]

  • Tingkat pendidikan berkaitan erat dengan aktivitas yang membutuhkan fokus jarak dekat, seperti menulis dan membaca. Akumulasi dari aktivitas melihat dengan fokus jarak dekat selama bertahun-tahun dapat mempengaruhi timbulnya miopia. [7]
  • Melakukan aktivitas di luar ruangan seperti berolahraga memiliki efek proteksi terhadap berkembangnya miopia pada anak. [8]

FAKTA: Orang dengan Miopia Berat (Lebih dari Minus 6) Beresiko Untuk Kehilangan Penglihatan karena Ablasio Retina dan Glaukoma

  • Pasien dengan rabun dekat atau pasien dengan mata kecil memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap glaukoma karena seiring dengan berjalannya usia ruang anterior mata menjadi lebih dangkal sehingga meningkatkan resiko adanya sumbatan pada sistem drainase aqueous humor. [2]

  • Adanya sumbatan menyebabkan tekanan di dalam bola mata meningkat sehingga merusak saraf optik, sebuah kondisi yang dinamakan open-angle glaucoma. Jika tidak ditangani maka akan menyebabkan kebutaan. [2]

  • Orang dengan miopia berat juga beresiko mengalami ablasio retina (retinal detachment) yang jika tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kebutaan. [9]

  • Gejala dari ablasio retina antara lain bertambahnya jumlah floaters dan timbulnya kilatan cahaya pada mata.
  • Pemeriksaan mata secara rutin bagi penderita miopia berat sangat penting untuk mencegah kebutaan akibat ablasio retina atau glaukoma.

MITOS: Resiko Glaukoma Hanya Dimiliki oleh Orang dengan Rabun Jauh

Faktanya:

  • Pasien yang tidak menderita miopia dan memiliki tekanan bola mata normal juga memiliki resiko mengalami normal-tension glaucoma (NTG).

  • NTG dapat disebabkan oleh tekanan intrakranial atau aliran darah yang tidak normal sehingga asupan oksigen terhambat. [2]

  • Pasien biasanya tidak menyadari menderita glaukoma sampai akhirnya kehilangan peripheral vision.

  • Pemeriksaan mata secara reguler dan menjalani gaya hidup sehat adalah cara terbaik untuk mencegah kehilangan penglihatan akibat glaukoma.

Referensi