Manfaat dan Keamanan Vaksin Dengue

Oleh dr. Hunied Kautsar

Vaksin dengue merupakan salah satu vaksin terbaru yang diharapkan menunjukkan manfaat dalam menangani penyakit demam berdarah. Walau demikian, isu penarikan vaksin pada akhir tahun 2017 membuat keamanannya dipertanyakan.

Indonesia yang beriklim tropis merupakan salah satu negara endemis penyakit demam berdarah yang disebabkan oleh virus dengue sehingga dipatenkannya vaksin dengue merupakan harapan baru dalam menangani penyakit demam berdarah. Virus dengue memiliki 4 serotipe yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

Vaksin dengue (yang kelak dipatenkan dengan nama Dengvaxia®), merupakan penggabungan dari chimeric yellow fever dan dengue viruses (DENV) 1, 2, 3, dan 4. Pengembangan vaksin preklinis dilakukan selama 10 tahun oleh OraVax (Cambridge, MA) kemudian dilanjutkan oleh Acambis Inc. Pada tahun 2005 Sanofi Pasteur membeli perusahaan tersebut dan mengambil alih serta melanjutkan pengembangan dan penelitian vaksin dengue yang kemudian dipatenkan dengan nama Dengvaxia®.[1]

Depositphotos_21864667_m-2015_compressed

Vaksin Dengue, Dengvaxia®, telah dinyatakan aman dan diterima oleh Brasil, El Salvador, Mexico dan Filipina pada tahun 2015.[1] Dengvaxia® telah mendapatkan izin edar dari Badan POM RI pada tanggal 31 Agustus 2016 dengan indikasi pencegahan kasus dengue yang disebabkan oleh dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 pada individu usia 9-16 tahun yang tinggal di area endemis.[2]

Efikasi Vaksin Dengue

Penelitian fase ke-3 dari vaksin Dengvaxia® diadakan di lima negara Asia (CYD14) dan lima negara Amerika Latin (CYD15) yang melibatkan lebih dari 35.000 partisipan berusia 2 sampai 16 tahun secara keseluruhan.[3] Vaksinasi Dengvaxia®, dilakukan dalam tiga dosis pada bulan ke-0, ke-6 dan ke-12.

Partisipan di lima negara Asia (CYD14) berusia 2-14 tahun pada saat vaksinasi pertama. Partisipan di lima negara Amerika Latin (CYD15) berusia 9-16 tahun pada saat vaksinasi pertama. Pada setiap studi, partisipan secara acak dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan rasio 2:1. Partisipan di-follow up secara aktif 1 tahun dari dosis terakhir vaksinasi (25 bulan setelah dosis pertama vaksinasi) dan hospital-based follow up selama 4 tahun, yang masih berlangsung sampai saat ini. [3]

Hasil yang dikumpulkan dari dua studi tersebut (CYD14 dan CYD15) menunjukkan bahwa efikasi vaksin Dengvaxia® terhadap kasus dengue berat adalah 79,1%. Efikasi vaksin bervariasi, bergantung pada serotipe; efikasi vaksin lebih tinggi terhadap serotipe 3 dan 4 (71,6% dan 76,9% berturutan) jika dibandingkan terhadap serotipe 1 dan 2 (54,7% dan 43,0% berturutan).  Efikasi vaksin juga bergantung pada usia saat vaksinasi dan status serotesting pada saat vaksinasi (sudah pernah terinfeksi dengue sebelumnya).[3]

Efikasi vaksin terhadap kasus rawat inap dan dengue berat tercatat pada tahun ke-1 dan ke-2 setelah dosis pertama. Namun pada tahun ke-3 terlihat peningkatan kasus resiko kasus rawat inap dan dengue berat pada kelompok partisipan berusia 2-5 tahun pada studi CYD14 di negara Asia. Tercatat 15 kasus pada kelompok perlakuan dan 1 kasus pada kelompok kontrol [3]

Pada kelompok usia 9 tahun ke atas, pada 25 bulan setelah dosis pertama di percobaan fase ke-3, terdapat reduksi kasus dengue berat sebanyak 93% dan reduksi kasus rawat inap sebesar 81%. Oleh karena itu, kelompok usia dibawah 9 tahun tidak masuk dalam indikasi vaksin Dengvaxia®. [4]

Keamanan Vaksin Dengvaxia®.

Vaksin Dengvaxia® terbukti memberikan manfaat proteksi yang baik pada individu dengan serotesting positif atau yang sebelumnya pernah terinfeksi dengue. Penghentian sementara vaksin Dengvaxia® di Filipina menyusul adanya hasil studi eksploratorif yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan risiko rawat inap dan dengue berat pada individu dengan serotesting negatif atau belum pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Badan POM RI menginstruksikan kepada PT. Aventis Pharma sebagai pemilik izin edar Dengvaxia® di Indonesia untuk memantau secara ketat penggunaan vaksin Dengvaxia® di Indonesia, terutama terhadap pasien yang teridentifikasi sudah menerima vaksin ini. [2]

Badan POM RI sedang melakukan re-evaluasi keamanan dan manfaat vaksin Dengvaxia®, dengan memperhatikan hasil studi terbaru, data keamanan penggunaan vaksin Dengvaxia® di Indonesia, hasil evaluasi yang dilakukan oleh WHO dan rekomendasi Asosiasi Kesehatan Profesional yang terkait (IDAI).

WHO melalui Strategic Advisory Group of Experts (SAGE), yang merupakan badan penasihat WHO dalam bidang vaksinasi, merekomendasikan seroprevalence thresholds sebagai strategi terbaik pada tingkat populasi. Berdasarkan perhitungan matematika, seroprevalence yang optimal bagi kelompok usia yang menjadi target vaksinasi adalah yang berada dalam kisaran ≥70%. [4] WHO meminta Sanofi Pasteur untuk melakukan riset lebih lanjut dan menyediakan data mengenai efikasi dan keamanan vaksin Dengvaxia® pada kelompok individu dengan seronegatif.

Hingga diperoleh hasil re-evaluasi keamanan dan efikasi vaksin Dengvaxia® tersebut, Badan POM RI dan WHO merekomendasikan untuk tidak menggunakan vaksin Dengvaxia® pada kelompok individu dengan seronegatif sampai dikeluarkannya pemberitahuan lebih lanjut. [2, 4]

Penelitian Lebih Lanjut Mengenai Vaksin Dengue

Pada penelitian fase ke-3 vaksin Dengvaxia®, Sanofi Pasteur tidak melakukan pengumpulan sampel darah untuk menentukan serostatus sebelum dilakukan vaksinasi. Sanofi Pasteur melakukan tes tambahan untuk mengumpulkan darah semua partisipan pada bulan ke-13 (1 bulan setelah dosis ke-3 diterima).

Sampel darah tersebut kemudian diuji coba dengan assay yang mengenali antibodi terhadap kode protein dengue non-struktural (NS1). Serostatus partisipan sebelum dilakukan vaksinasi tetap dapat ditentukan (walaupun semua partisipan sudah menerima vaksinasi) karena kode protein non-struktural untuk Dengvaxia® adalah kode protein vaksin Yellow Fever. [4]

Sesuai dengan hasil tes tersebut, Sanofi Pasteur melakukan analisa ulang untuk menentukan keamanan dan efikasi vaksin Dengvaxia® sesuai dengan status seronegatif atau seropositif setiap individu sebelum dilakukan vaksinasi.

Sudah ada lima kandidat vaksin dengue lain, dengan 2 kandidat (masing-masing dikembangkan oleh Butantan dan Takeda) sudah memulai penelitian fase ketiga pada awal tahun 2016. [3] Vaksin dengue yang dikembangkan oleh Butantan dan Takeda berbeda secara signifikan dengan Dengvaxia® sehingga manfaat dan keamanan dari dua vaksin tersebut belum dapat dipastikan. [4]

Dampak Bagi Masyarakat Indonesia

Vaksin dengue belum masuk ke dalam program imunisasi nasional sehingga administrasinya masih terbatas pada klinik atau rumah sakit tertentu atas permintaan dan biaya pasien sendiri. Oleh karena itu dokter perlu memperhatikan rekomendasi Badan POM RI dan WHO yang menyatakan bahwa vaksin dengue Dengvaxia® diindikasikan untuk individu berusia 9-16 tahun di daerah endemis dengan status seropositif (sudah pernah terinfeksi dengue sebelumnya).

Sebelum dilakukan vaksinasi, dokter perlu melakukan pemeriksaan imunoserologi terlebih dahulu untuk menentukan serostatus. Dengan adanya rekomendasi dari Badan POM RI dan WHO, cakupan vaksin Dengvaxia® belum universal dan optimal karena terbatas hanya untuk individu yang sudah pernah terinfeksi dengue sebelumnya.

Walau demikian, pemberian  vaksin Dengvaxia® kepada individu yang sudah terinfeksi dengue sebelumnya (seropositif) terbukti bermanfaat karena pemberian vaksin kepada individu yang sudah terinfeksi dengue sebelumnya dapat mencegah individu tersebut dari infeksi dengue yang lebih berat (seperti shock dengue yang disebabkan oleh infeksi sekunder yang disebabkan oleh virus dengan serotipe berbeda)

Referensi