Liburan Sebagai Pemicu Infark Miokard – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Catherine Ranatan

Christmas, National Holidays, Sport Events, and Time Factors as Triggers of Acute Myocardial Infarction: SWEDEHEART Observational Study 1998-2013

M.A Mohammad, S. Karlsson, J. Haddad, B. Cederburg, et al., British Medical Journal 2018;363:k4811. PMID: 30541902

Abstrak

Tujuan: Untuk mempelajari ritme sirkardian, libur nasional, dan acara olahraga besar sebagai pemicu dari infark miokard.

Rancangan: Studi observasi retrospektif menggunakan data dari unit rawat jantung nasional (SWEDEHEART).

Lokasi: Swedia

Partisipan: 283.014 kasus infark miokard yang dilaporkan pada SWEDEHEART pada tahun 1998-2013. Tanggal dari onset gejala didokumentasikan untuk seluruh kasus, dan waktu ke menit terdekat pada 88% kasus.

Intervensi: Identifikasi infark miokard dilakukan pada kasus dengan onset gejala pada libur natal atau tahun baru, paskah, liburan pertengahan musim panas. Selain itu identifikasi juga dilakukan bersamaan dengan infark miokard yang terjadi pada FIFA World cup, UEFA European Championship, serta Olimpiade musim dingin dan musim panas. Periode kontrol dari studi merupakan 2 minggu sebelum dan setelah dari hari libur tersebut, sedangkan untuk acara olahraga yaitu waktu yang sama pada 1 tahun sebelum dan sesudah dari turnamen. Analisis circadian dan circaseptan dilakukan dengan hari Minggu dan 24:00 sebagai hari dan jam referensi, dengan membanding hari dan jam lainnya. Rasio incidence rate dihitung menggunakan count regression model.

Luaran Utama Penelitian: perhitungan harian dari jumlah kasus infark miokard.

Hasil: Pada liburan natal dan pertengahan musim panas berhubungan dengan risiko yang lebih besar untuk terkena infark miokard (incidence rate ratio 1.15, 95% confidence interval 1.12 to 1.19, P<0.001, and 1.12, 1.07 to 1.18, P<0.001, respectively). Risiko paling besar didapatkan pada malam sebelum natal atau Christmas Eve (1.37, 1.29 to 1.46, P<0.001). Tidak didapatkan peningkatan risiko pada liburan paskah dan acara olahraga. Pada observasi variasi circaseptan dan circadian, didapakan bahwa risiko infark miokard paling tinggi pada pagi dan hari Senin. Dari hasil pengamatan, banyak dari pasien yang terkena infark miokard berusia lebih dari 75 tahun, memiliki riwayat diabetes dan penyakit jantung koroner.

Kesimpulan: Pada studi yang mencakup data nasional dengan data admisi infark miokard selama 16 tahun di rumah sakit, dengan onset gejala yang didokumentasikan hingga menit terdekat, liburan Natal dan liburan pertengahan musim panas berhubungan dengan risiko yang lebih besar untuk terkena infark miokard, terutama pada pasien usia lanjut dan sedang sakit, menunjukkan terdapat pemicu eksternal pada individu yang rentan.

Depositphotos_52093541_m-2015_compressed

Ulasan Alomedika

Infark miokard akut merupakan penyebab tersering dari mortalitas dan morbiditas di seluruh dunia. Banyak faktor risiko yang mempengaruhi infark miokard,  termasuk faktor eksternal yang dapat memicu ruptur dari plak yang tidak stabil. Maka peneliti ingin meneliti beberapa dari faktor yang diduga faktor eksternal dari infark miokard yaitu liburan nasional, acara olahraga besar, dan ritme sirkadian.

Pada studi ini, peneliti mengambil registrasi data admisi pasien dengan infark miokard di rumah sakit pada tahun 1998-2013 dari Swedish Web System for Enhancement and Development of Evidence-Based Care in Heart Disease Evaluated According to Recommended Therapies  (SWEDEHEART), yang mencakup seluruh data nasional di Swedia.

Studi ini mengobservasi dan menganalisis tingkat kejadian infark miokard pada liburan, acara olahraga, analisis sirkadian dan sirkaseptan. Liburan yang diobservasi yaitu liburan seperti liburan Natal/tahun baru, Paskah dan pertengahan musim panas dengan periode kontrol 2 minggu setelah dan sebelum liburan. Acara olahraga yang diobservasi yaitu Federation Internationale de Football Association (FIFA) World Cup tournaments, Union of European Football Association (UEFA) European Championship tournaments, serta Olimpiade musim dingin dan musim panas dengan periode kontrol setahun sebelum dan sesudah turnamen. Analisis sirkadian dan sirkaseptan dilakukan dengan hari dan waktu kontrol yaitu hari Minggu dan pukul 24.00 dibandingkan dengan hari dan waktu lainnya. Kelompok pasien dibedakan menjadi subgrup berdasarkan kelamin, umur >75 tahun dibandingkan <75 tahun, status merokok, diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, konsumsi obat seperti beta-blocker, calcium inhibitors, aspirin, angiotensin converting enzyme inhibitors/angiotensin receptor blockers (ACE-I/ARB), dan statin.

Hasil yang didapatkan dari studi ini yaitu dari 283.014 kasus infark miokard, 95176 pasien didiagnosis sebagai ST elevation myocardial infarction (STEMI), dan memiliki karakteristik 4 tahun lebih muda, lebih banyak pria dan perokok dibandingkan non-ST elevation myocardial infarction (NSTEMI). Risiko infark miokard meningkat terutama NSTEMI, sebanyak rata – rata 15% pada liburan natal/tahun baru. Risiko meningkat pada malam natal (24 Desember), hari Natal (25 Desember), Boxing day (26 Desember) dan tahun baru (1 Januari), dengan risiko terbesar yaitu pada malam natal (37% dibanding kontrol). Risiko juga meningkat pada liburan pertengahan musim panas. Hal ini dapat dikaitkan dengan konsumsi makanan dan alkohol yang berlebih, kekurangan tidur, serta udara yang dingin. Pada analisis subgrup didapatkan bahwa risiko infark miokard meningkat terutama pada pasien berusia > 75 tahun, dengan diabetes, dan riwayat penyakit jantung koroner pada liburan natal. Peningkatan risiko infark miokard tidak didapatkan pada acara olahraga. Dalam aspek waktu, infark miokard memiliki risiko tertinggi terjadi pada hari Senin dengan puncak pada jam 8 pagi, terutama NSTEMI. Hal tersebut dikaitkan dengan perilaku pasien untuk menunda admisi ke rumah sakit saat liburan. Selain itu, terdapat variasi sirkadian yang mempengaruhi peningkatan kortisol, viskositas darah, agregasi platelet, tekanan darah, serta laju jantung pada pagi hari.

Studi ini memiliki sampel yang cukup besar dalam kurun waktu cukup lama serta diambil dari data nasional sehingga taraf signifikansi lebih tinggi. Limitasi dari studi ini yaitu pada studi sebelumnya didapatkan bahwa suhu rendah memiliki risiko infark miokard yang lebih tinggi. Sedangkan di negara Swedia merupakan negara yang memiliki 4 musim, dengan musim dingin dari bulan November/Desember hingga Maret/Februari. Pada studi ini didapatkan bahwa risiko terbesar didapatkan pada liburan natal/tahun baru (Desember-Januari) yaitu pada saat musim dingin di Swedia. Maka diperlukan penelitian lain untuk membandingkan populasi di negara yang berbeda musimnya dengan Swedia untuk melihat pengaruh suhu terhadap risiko infark miokard.

Pada liburan seperti tahun baru dan Lebaran di Indonesia sangat identik dengan konsumsi makanan yang berlebihan. Hal ini terutama pada saat lebaran di mana sering kali dirayakan dalam beberapa hari dan disertai banyak makanan tinggi lemak dan tinggi kalori. Konsumsi alkohol yang berlebihan dan kurangnya waktu tidur juga sering terjadi pada malam tahun baru. Hal ini dapat dihubungkan dengan peningkatan risiko infark miokard pada studi ini.

Berdasarkan penelitian di atas, terdapat beberapa faktor risiko infark miokard yang dapat dimodifikasi sehingga perlu diedukasi pada pasien yang berisiko mengalami infark miokard. Faktor eksternal ini adalah konsumsi makanan dan minuman beralkohol berlebih, dan kurangnya istirahat yang umum ditemui saat liburan, stres, serta keterlambatan berobat ke fasilitas kesehatan. Pasien yang berisiko terkena infark miokard harus diedukasi untuk tetap menjaga makanan dan konsumsi alkoholnya saat liburan, serta tidak menunda berobat sampai setelah liburan jika ditemukan tanda-tanda sindrom koroner akut.

Referensi