Penatalaksanaan DM tipe 2 pada FKTP - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alo Dokter, izin bertanya, di Puskesmas kadang hanya tersedia obat diabetes seperti metformin dan glimepiride, apakah penggunaan keduanya saja bisa...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Penatalaksanaan DM tipe 2 pada FKTP

    18 Februari 2020, 07:55

    Alo Dokter, izin bertanya, di Puskesmas kadang hanya tersedia obat diabetes seperti metformin dan glimepiride, apakah penggunaan keduanya saja bisa diandalkan untuk menurunkan kadar HbA1C? Posisi rumah sakit terdekat cukup jauh sehingga pasien kesulitan untuk memperoleh insulin. Pasien hanya mampu berobat ke kota 6 bulan sekali. Terimakasih atas infonya ya Dok.

18 Februari 2020, 09:02
dr. Andre
dr. Andre
Dokter Umum

Alo dokter Nurul!

Tentu saja obat antidiabetes oral bisa digunakan untuk diabetes mellitus. Kan memang itulah perbedaan antara diabetes mellitus tipe 1 yang memang membutuhkan insulin dibandingkan dengan diabetes mellitus tipe 2 yang bahkan kalau ringan masih dapat dicoba hanya dengan modifikasi gaya hidup dan aktivitas fisik saja. Bahkan pada diabetes mellitus tipe 1, ada studi yang meneliti mengenai efektivitas pemberian metformin untuk menurunkan kebutuhan insulin walau masih kontroversi hasilnya.

https://www.alomedika.com/efektivitas-penggunaan-metformin-terhadap-luaran-kardiovaskular-pada-pasien-diabetes-mellitus-tipe-1-telaah-jurnal-alomedika

Jadi obat hipoglikemik oral tentunya memiliki peran pada penanganan diabetes mellitus tipe 2 dan juga memiliki potensi sebagai terapi ajuvan untuk mengurangi kebutuhan insulin pada pasien DM tipe 1.

Mungkin bisa dilengkapi data pasiennya berapa kadar gula darah dan HbA1Cnya? Apa obat hipoglikemik oral yang diberikan pada pasien, sudah berapa lama, dan berapa dosisnya? Berapa berat badan pasien? Apakah pasien melakukan modifikasi penurunan berat badan dan berolahraga secara teratur?

Silahkan pelajari link artikel insulin di Alomedika berikut ini.

https://www.alomedika.com/obat/anti-diabetes-parenteral/insulin-regular/indikasi-dan-dosis

Di artikel tersebut, disampaikan bahwa insulin diberikan untuk DM tipe 2 yang tidak merespons terhadap pemberian obat hipoglikemik oral dalam jangka waktu tiga bulan.

 

18 Februari 2020, 09:06
Pasien Saya HbA1C terakhir (Juli 2019) 8% Dok, jadi pasien sempat mendapatkan insulin dari rumah sakitnya, namun karena keterbatasan biaya transportasi pasien berhenti terapi insulin dan Saya hanya berikan obat yang tersedia saja di Puskesmas Dok. Terimakasih atas infonya Dok Andre, sangat bermanfaat.
18 Februari 2020, 09:11
dr. Andre
dr. Andre
Dokter Umum

Sama" Dok. Mungkin bisa ditanyakan ke pasien apakah sebelumnya sudah pernah mendapat obat hipoglikemik oral atau tidak, lalu apakah konsumsi obatnya teratur atau tidak karena bisa jadi pengobatan dinilai tidak respons padahal ternyata pasien hanya mengonsumsi obatnya saat dirasa 'sakit' saja.

Umumnya pasien akan menanyakan mengenai isu ketergantungan obat karena harus meminum setiap hari dan juga risiko kerusakan ginjal akibat konsumsi obat. Anda perlu menggali dan menenangkan kekuatiran ini supaya pasien bisa patuh minum obat.

Lalu yang tidak kalah pentingnya adalah penekanan akan pentingnya modifikasi gaya hidup dan aktivitas fisik.

18 Februari 2020, 09:13
Baik Dok, sangat bermanfaat untuk infonya, nanti akan Saya tanyakan lagi saat pasien kontrol ya Dok.
19 Februari 2020, 20:45
21 Februari 2020, 15:30

Alo Dok,

Ada beberapa alasan penggunaan insulin antara lain:

- HBA1C > 9 %

- krisis hiperglikemia

- adanya stres berat (infeksi sistemik, sedang operasi, stroke)

- kehamilan

- gagal dengan obat oral antidiabetik dgn dosis optimal

- gangguan hati atau ginjal berat

Nah, pemantauan dgn HbA1c ini dilakukan setiap 3 bulan sekali dok, jika kadarnya sudah < 9% namun masih > atau = 7,5% maka dianjurkan untuk menggunakan kombinasi dua atau 3 obat oral antidiabetik dan jika sudah <7,5% boleh menggunakan monoterapi. Bila sudah stabil, evaluasi HbA1c bisa dilakukan tiap 6-12 bln sekali. 

Penggunaan kombinasi glimepirid boleh digunakan bersamaan atau menggunakan satu jenis obat (dengan merk A*maryl, contohnya)

Ref: Konsensus DM Perkeni 2015 

21 Februari 2020, 17:57
Terimakasih atas infonya ya Dok Pika.
21 Februari 2020, 16:05
Saya kerja di fktp dok, dan obat diabetes yg ready di pkm hanya glimepirid, metformin glibenclamid, klo pasien didiagnosa dm 2 murni maka tdk boleh dirujuk, pasien yg bileh dirujuk dengan kartu bpjs yaitu pasien IDDM,dengan atau tanpa komplikasi,untuk pemeriksaan rutin gula sudah tersedia dia pkm tp untuk hba1c memang tdk ada, solusinya pasien tetap diobati rutin dan disarankan kontrol gula darah sebulan sekali,untuk memeriksakan hba1c memang harus dilakukan pemeriksaan laborat luar mengingat pemeriksaan hba1c tidak ada di pkm
21 Februari 2020, 17:57
Terimakasih atas sharingnya ya Dok.
24 Februari 2020, 20:00
Terima kasih dokter, izin berpendapat. Pasien pasien diabetes mellitus. Sebagai dokter di lini terdepan di faskes tingkat 1. Pentingnya untuk selalu mengetahui tentang 4 pilar pengobatan diabetes 
1. Edukasi tentang diabetes
2. Diet/ pola makan yang seimbang
3. Aktifitas fisik
4. Medikamentosa
Terkait dengan ketersediaan di faskes 1 yang hanya metformin dan glimepiride, hal itu memang tidak bisa dihindari terkait dengan regulasi obat obatan oleh pemerintah. Metformin menjadi lini pertama dalam pengobatan medikamentosa bila tidak terdapat kontraindikasi, sementara golongan sulfonyl urea sebaiknya dikurangi/ dihindari penggunaannya. Mengenai apakah apakah metformin dan glimepiride dapat mengendalikan kadar HBA1C? menurut kami bisa, dengan syarat kadar gula harus selalu stabil terkontrol, dan 4 pilar pengandalian DM harus berjalan, karena pemantauan HbA1C mengindikasikan keberhasilan terapi dalam 3 bulan terakhir.  Terima kasih dokter
24 Februari 2020, 22:15
Alo dokter Nurul,
Seperti kita ketahui bahwa penanganan terhadap pasien Diabetes harus tetap mengikuti 4 pilar yaitu :
1.Edukasi
2.Pengaturan makan
3.Aktivitas Fisik /olahraga
4.Medikamentosa (obat-obatan oral dan insulin)
Jadi obat-obatan hanyalah salah satu dari 4 pilar tersebut.
Yang paling utama yang dapat dilakukan di puskesmas adalah penekanan terhadap EDUKASI.
Dan ini yang justru sering kali (maaf ) kurang dilaksanakan oleh Para Sejawat di puskesmas.
Edukasi tentang bagaimana menjalani hidup sebagai Diabetisi,komplikasi apa saja yang dapat terjadi jika pasien tidak berobat secara teratur (jika kadar glukosa darah tidak terkontrol dengan baik),apa saja mitos yang dianut oleh masyarakat awam yang sering kali menyebabkan kegagalan dalam penanganan pasien Diabetes yang harus diberi penjelasan yang benar (contohnya istilah gula kering dan gula basah,makan keladi/kentang untuk menurunkan kadar gula,harus makan nasi yang dingin dll )
,bagaimana pengaturan makan pada Diabetesi yang menekankan pada 3 J (jadwal,jumlah dan jenis) yang disesuaikan dengan kebutuhan kalori masing-masing pasien,
Edukasi tentang aktivitas dan olahraga yang dapat dilakukan dan edukasi tentang pemberian obat-obatan.

Jika pemberian Edukasi diberikan berkesinambungan dan sudah dijalankan dengan baik,
maka pemberian obat Metformin dan Glimepirid dapat memberikan hasil yang baik bagi pasien Diabetes.
Yang penting Para Sejawat benar-benar memahami cara kerja obat-obat tersebut sehingga dapat menetapkan pilihan pemberian obat diabetes pada pasien- pasien yang ditangani di puskesmas.

Pemantauan kadar glukosa darah pasien dan pemantauan berbagai komplikasi akibat Diabetes tetap dilakukan di puskesmas sebelum pasien memungkinkan untuk dapat dirujuk ke RS untuk pemeriksaan HbA1c dan penanganan lebih lanjut terhadap pasien Diabetes dengan berbagai komplikasi.

Sebagai Edukator Diabetes yang bertugas di RS,  saya sangat memahami betapa besar peran Edukasi dalam keberhasilan penanganan Diabetes.Dan semua membutuhkan kerja sama dari Para Sejawat  Dokter umum yang bertugas di puskesmas.

Selamat melayani pasien Diabetes,
Salam sejawat 😊



24 Februari 2020, 22:15
Alo dokter Nurul,
Seperti kita ketahui bahwa penanganan terhadap pasien Diabetes harus tetap mengikuti 4 pilar yaitu :
1.Edukasi
2.Pengaturan makan
3.Aktivitas Fisik /olahraga
4.Medikamentosa (obat-obatan oral dan insulin)
Jadi obat-obatan hanyalah salah satu dari 4 pilar tersebut.
Yang paling utama yang dapat dilakukan di puskesmas adalah penekanan terhadap EDUKASI.
Dan ini yang justru sering kali (maaf ) kurang dilaksanakan oleh Para Sejawat di puskesmas.
Edukasi tentang bagaimana menjalani hidup sebagai Diabetisi,komplikasi apa saja yang dapat terjadi jika pasien tidak berobat secara teratur (jika kadar glukosa darah tidak terkontrol dengan baik),apa saja mitos yang dianut oleh masyarakat awam yang sering kali menyebabkan kegagalan dalam penanganan pasien Diabetes yang harus diberi penjelasan yang benar (contohnya istilah gula kering dan gula basah,makan keladi/kentang untuk menurunkan kadar gula,harus makan nasi yang dingin dll )
,bagaimana pengaturan makan pada Diabetesi yang menekankan pada 3 J (jadwal,jumlah dan jenis) yang disesuaikan dengan kebutuhan kalori masing-masing pasien,
Edukasi tentang aktivitas dan olahraga yang dapat dilakukan dan edukasi tentang pemberian obat-obatan.

Jika pemberian Edukasi diberikan berkesinambungan dan sudah dijalankan dengan baik,
maka pemberian obat Metformin dan Glimepirid dapat memberikan hasil yang baik bagi pasien Diabetes.
Yang penting Para Sejawat benar-benar memahami cara kerja obat-obat tersebut sehingga dapat menetapkan pilihan pemberian obat diabetes pada pasien- pasien yang ditangani di puskesmas.

Pemantauan kadar glukosa darah pasien dan pemantauan berbagai komplikasi akibat Diabetes tetap dilakukan di puskesmas sebelum pasien memungkinkan untuk dapat dirujuk ke RS untuk pemeriksaan HbA1c dan penanganan lebih lanjut terhadap pasien Diabetes dengan berbagai komplikasi.

Sebagai Edukator Diabetes yang bertugas di RS,  saya sangat memahami betapa besar peran Edukasi dalam keberhasilan penanganan Diabetes.Dan semua membutuhkan kerja sama dari Para Sejawat  Dokter umum yang bertugas di puskesmas.

Selamat melayani pasien Diabetes,
Salam sejawat 😊