Inflammatory Bowel Disease Meningkatkan Risiko Parkinson

Oleh :
dr. Josephine Darmawan

Studi terbaru menemukan bahwa Inflammatory Bowel Disease (IBD) dapat meningkatkan risiko terjadinya Parkinson. Mekanisme hubungan keduanya diduga diakibatkan oleh proses inflamasi kronis, faktor genetik, dan aksis usus-otak (gut-brain axis).

Penyakit Parkinson menyebabkan gangguan kualitas hidup pada penderitanya, baik secara fisik, mental, dan sosial. Penyakit ini merupakan gangguan neurologis progresif yang terjadi pada 1-2 orang per 1000 orang. Hingga saat ini, belum terdapat metode terapi kuratif yang benar-benar efektif untuk Penyakit Parkinson karena penyakit ini belum benar-benar diketahui.[1,2]

Sumber: BruceBlaus, wikimedia commons, 2013. Sumber: BruceBlaus, wikimedia commons, 2013.

Studi terbaru menemukan bahwa penyakit peradangan usus / Inflammatory Bowel Disease (IBD) berhubungan dengan penyakit Parkinson.[3-5] Penemuan ini akan membantu dokter memahami Penyakit Parkinson lebih lanjut, sehingga terapi yang lebih efektif untuk mengatasi gejala-gejala Parkinson dapat dilakukan.[3,6]

Mekanisme Hubungan Parkinson dan Inflammatory Bowel Disease

Inflammatory bowel disease merupakan penyakit inflamasi usus kronis yang terdiri dari kolitis ulseratif dan penyakit Crohn’s. Terdapat tiga mekanisme yang diduga berperan dalam menghubungkan IBD dengan Parkinson, yaitu inflamasi kronis, faktor genetik, dan gut-brain axis.

Inflamasi Kronis

Inflamasi kronis memegang peranan penting baik pada IBD ataupun Penyakit Parkinson. Ekpresi faktor-faktor proinflamasi, seperti interleukin (IL) 1b dan tumor necrosis factor (TNF) alfa ditemukan lebih tinggi pada IBD dan Parkinson.[5,7]

Faktor Genetik

Faktor genetik juga berperan dalam patogenesis IBD dan Parkinson. Polimorfisme pada gen CARD15/NOD2 dan mutasi pada gen leucine-rich repeat kinase 2 (LRRK2) meningkatkan risiko terjadinya IBD serta penyakit Parkinson. LRRK2 merupakan penyebab utama Parkinson yang diturunkan dan juga sporadik.[8-10] LRRK2 juga berperan dalam risiko terjadinya IBD. LRRK2 merupakan protein multifungsional yang memiliki beberapa peranan dalam stress oksidatif, alfa sinuklein (A-syn), disfungsi mitokondria, respon inflamasi, dan disfungsi sinaps. A-syn juga merupakan komponen yang secara normal terdapat pada usus. Ekspresi A-syn ditemukan meningkat pada usus pasien-pasien dengan PP. A-syn juga merupakan konstituen mayor dalam badan Lewy yang terjadi akibat respon inflamasi.[9,10]

Gut-Brain Axis

Aksis usus-otak (gut-brain axis) juga diperkirakan berperan dalam hubungan antara IBD dan Parkinson. Aksis usus-otak merupakan “metode komunikasi” antara sistem saraf pusat, sistem endokrin, sistem saraf saluran cerna, dan respon imun. Aksis usus-otak mengatur fungsi peripheral usus. Ketidakseimbangan mikroba usus merupakan mekanisme dalam patogenesis kolitis ulseratif dan penyakit Crohn’s. Ketidakseimbangan mikroba usus ini juga dapat mempengaruhi alpha synuclein (A-syn). Akumulasi A-syn menyebabkan gangguan respon sistem imun, sehingga mempengaruhi aksis usus-otak dan berdampak pada neuroinflamasi serta defisit motorik.[3,7,11]

Reaksi inflamasi, peranan A-syn, gen LRRK2, dan aksis usus-otak ini memberikan sudut pandang baru dalam patofisiologi penyakit Parkinson bahwa penyakit ini tidak hanya terbatas pada defisit motorik, tetapi juga melibatkan aspek nonmotorik seperti gangguan saluran cerna. Inflamasi usus dan gejala-gejala IBD lainnya dapat menjadi manifestasi awal penyakit Parkinson. Namun demikian, studi yang ada masih terbatas dan hanya melibatkan populasi minor. Studi lebih lanjut mengenai hal ini masih diperlukan.[3,5,7]

Bukti Klinis Hubungan Parkinson dan Inflammatory Bowel Disease

Studi kohort terbaru di Denmark menunjukkan bahwa pasien dengan IBD memiliki risiko Parkinson 22% lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak memiliki IBD. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita. Risiko parkinsonisme ditemukan lebih tinggi pada pasien kolitis ulseratif dibandingkan dengan penyakit Crohn’s. Studi ini melibatkan lebih dari 8 juta individu dan mulai dari 1977-2014. Studi ini membuktikan bahwa inflamasi usus berhubungan dengan terjadinya penyakit Parkinson dan memperkuat teori aksis usus-otak.[3]

Studi kohort di Taiwan juga menemukan bahwa risiko Parkinson meningkat pada pasien-pasien IBD. Studi pada lebih dari 23 juta populasi pada tahun 2000-2011 ini menunjukkan bahwa risiko terjadinya Parkinson lebih tinggi pada Penyakit Crohn’s dibandingkan kolitis ulseratif. Risiko semakin meningkat bila terdapat hipertensi, depresi, ataupun penyakit jantung koroner.[5]

Studi case-control di Swedia juga menunjukkan hasil serupa. Didapatkan bahwa pada 39,652 insidensi IBD pada tahun 2002 dan 2014 menunjukkan bahwa risiko penyakit Parkinson lebih tinggi sekitar 40% pada IBD. Risiko terjadinya Parkinson ditemukan lebih tinggi pada Penyakit Crohn’s. Namun demikian, bila analisis studi ini dilakukan secara kohort, risiko terjadinya Parkinson ditemukan lebih kecil.[4]

Namun demikian, studi case-control di Amerika Serikat pada 89.790 kasus baru penyakit Parkinson menemukan bahwa IBD dapat menurunkan risiko terjadinya Parkinson. Studi ini menyimpulkan bahwa terdapat asosiasi dose-response pada IBD dan Parkinson. Derajat keparahan IBD yang diderita akan menentukan terjadinya Penyakit Parkinson atau tidak.[12] Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kelemahan pada studi-studi terkait dan studi lebih lanjut masih sangat diperlukan.

Implikasi Klinis terhadap Penyakit Parkinson

Hubungan penyakit Parkinson dan IBD memberikan sudut pandang baru dalam patofisiologi Parkinson, sehingga memungkinkan modalitas terapi baru untuk dikembangkan. Dokter juga harus lebih cermat dalam deteksi gejala-gejala Parkinson pada pasien IBD begitu juga sebaliknya, sehingga intervensi lebih awal dapat dilakukan.[6,11,13]

Respon inflamasi melalui tumor necrosis factor (TNF) alfa dan interleukin (IL)-1b memegang peranan penting dalam terjadinya penyakit Parkinson. Hal ini menjadikan terapi anti-TNF dikembangkan sebagai modalitas terapi Parkinson. Studi menunjukkan insidensi Parkinson lebih rendah 78% pada pasien IBD yang mendapatkan terapi anti-TNF. Anti-TNF merupakan terapi standar pada kolitis ulseratif dan penyakit Crohn’s. Anti-TNF juga banyak digunakan pada penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer, sklerosis amiotropik lateral, dan multiple sclerosis dan menunjukkan perbaikan kognitif. Namun demikian, terapi anti-TNF belum dilakukan pada pasien-pasien dengan Parkinson. Adanya hubungan IBD dan Parkinson menjadikan terapi anti-TNF dapat dipertimbangkan sebagai alternatif terapi pada Parkinson. Studi lebih lanjut mengenai penggunaan anti-TNF pada Parkinson masih diperlukan.[6,13]

Aksis usus-otak dan A-syn juga berperan dalam IBD dan Parkinson. Aksis ini dapat dipengaruhi oleh mikrobiota usus, dengan demikian intervensi diet juga dapat berperan dalam pengobatan Parkinson. Intervensi diet dengan probiotik, prebiotik, ataupun sinbiotik serta docosahexaenoic acid (DHA) dinilai dapat memperbaiki disfungsi mitokondria, mengurangi inflamasi, dan mengurangi penumpukan A-syn. Hubungan IBD dan Parkinson membuktikan bahwa sistem pencernaan juga berperan penting dalam fungsi sistem saraf, sehingga terapi intervensi diet ini juga cukup menjanjikan. Namun demikian, studi mengenai intervensi diet pada Parkinson masih sangat terbatas.[11]

Kesimpulan

Studi menunjukkan adanya kemungkinan bahwa Inflammatory Bowel Disease dapat meningkatkan risiko terjadinya Parkinson. Kedua penyakit diperkirakan berhubungan melalui mutasi gen LRRK2, respon inflamasi, disregulasi sistem imun, dan alfa sinuklein. Studi terkait hal ini masih memiliki banyak kelemahan. Studi yang ada merupakan studi case-control dan kohort pada populasi tertentu. Hasil yang bertentangan antar studi juga masih ditemukan. Studi lebih lanjut mengenai hubungan IBD dan Penyakit Parkinson masih diperlukan. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kemungkinan asosiasi IBD dan Parkinson dapat membuka peluang modalitas terapi baru pada penyakit Parkinson, sehingga gejala-gejalanya dapat ditangani dengan lebih baik, kualitas hidup pasien dapat diperbaiki, dan progresi penyakit dapat ditunda. Dokter juga harus secara lebih cermat mengamati adanya gejala-gejala Parkinson pada pasien-pasien IBD dan sebaliknya, sehingga intervensi lebih awal dapat dilakukan.

Referensi