Hydrochlorothiazide Meningkatkan Risiko Terkena Karsinoma Sel Basal dan Skuamosa

Oleh dr. Yenna Tasia

Beberapa penelitian terbaru menemukan bahwa pengguna hydrochlorothiazide (HCT) lebih berisiko untuk menderita kanker kulit non-melanoma, yaitu karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa.[1,2]

Karsinoma Sel Skuamosa dan Basal Karsinoma Sel Skuamosa dan Basal. Sumber: BruceBlaus, Wikimedia commons, 2015.

Hydrochlorothiazide adalah obat dalam golongan diuretik yang digunakan untuk mengobati hipertensi dan mengontrol retensi cairan pada kasus edema dan gagal jantung kongestif. Hydrochlorothiazide merupakan salah satu obat antihipertensi yang sering digunakan dan direkomendasikan. Pada pedoman yang dikeluarkan oleh Joint National Committee (JNC) 8, HCT adalah salah satu obat lini pertama untuk mengobati hipertensi. Di Amerika Serikat sendiri, sekitar 10 juta pasien menggunakan HCT setiap tahunnya.[1,3-5]

Hydrochlorothiazide sudah lama dihubungkan dengan peningkatan fotosensitifitas kulit dan terjadinya sunburn, bahkan ada penelitian yang menghubungkan penggunaan HCT dengan karsinoma sel skuamosa pada bibir. Namun penelitian terbaru telah menghubungkan konsumsi HCT dengan kanker kulit non-melanoma.[1,2,6,7]

Karsinoma Sel Basal dan Skuamosa

Karsinoma sel basal dan skuamosa merupakan jenis kanker kulit non-melanoma yang paling sering ditemui dengan insidensi di dunia adalah sekitar 1 juta kasus per tahun.[8] Karsinoma sel basal dan skuamosa mempunyai angka mortalitas yang rendah, namun bersifat rekuren sehingga mempunyai angka morbiditas dan beban pada sistem kesehatan yang tinggi. Keluhan dari segi kosmetik dan insidensi yang tinggi membuat karsinoma sel basal (KSB) menjadi salah satu dari 5 kanker yang paling membutuhkan biaya tinggi untuk penanganannya.[2,6,9-12]

Faktor risiko kanker kulit non-melanoma secara umum adalah:

  • Paparan terhadap sinar ultraviolet (UV) kronis atau intermiten: dari paparan sinar matahari atau alat tanning

    • Sinar UV A: merusak DNA secara tidak langsung melalui pembentukan spesies oksigen reaktif
    • Sinar UV B: menyebabkan mutasi pada DNA

  • Fenotipe kulit yang sensitif terhadap sinar UV: terutama kulit putih
  • Penggunaan obat imunosupresan seperti siklosporin dan azatioprine
  • Penggunaan obat-obatan seperti inhibitor calcineurin topikal atau sistemik
  • Merokok, konsumsi alkohol
  • Obesitas dengan indeks massa tubuh > 30 kg/m2[2,6,7,12]

Efek Hydrochlorothiazide Pada Kulit

Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, telah diketahui bahwa HCT bersifat fotosensitif.[1-5,7,9] Fotosensitifitas yang disebabkan oleh obat didefinisikan sebagai perkembangan penyakit kulit akibat interaksi antara agen kimia dan radiasi UV.[2] Fotosensitifitas dapat menginduksi antara reaksi fototoksik atau fotoalergik, sehingga kulit lebih rentan untuk terjadi kerusakan yang diinduksi oleh sinar UV.[11]

Obat yang bersifat fotosensitif atau metabolitnya mempunyai spektrum penyerapan yang luas, terutama pada sinar ultraviolet alfa (UV A). Obat seperti golongan diuretik tiazide mempunyai spektrum fotosensitifitas pada UV A (320-400 nm) dan bukan pada spektrum UV beta atau cahaya/visible light. Sinar UV A dihipotesakan bersifat karsinogenik karena menginduksi produksi cyclobutane pyrimidine dimers dan meningkatkan produksi spesies oksigen reaktif, menyebabkan terjadinya kerusakan pada membran sel dan DNA, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kanker kulit.[2,3,10,13]

Hipotesa lain adalah sifat fotosensitif HCT menginduksi reaksi inflamasi kronis di kulit, sehingga menyebabkan kerusakan pada sel kulit (karsinogenik).[5]

Konsumsi Hydrochlorothiazide dan Risiko Terjadinya Kanker Kulit Non-Melanoma

Risiko terjadinya kanker kulit non-melanoma akibat konsumsi hydrochlorothiazide dipengaruhi oleh 6 faktor: dosis, durasi, obesitas, jenis kelamin, usia, dan jenis kanker kulit.

1. Dosis

Hasil penelitian terbaru menemukan bahwa dosis HCT berhubungan dengan risiko terjadinya karsinoma sel basal dan skuamosa. Pada pasien yang mendapatkan dosis kumulatif HCT sebanyak > 200,000 mg mempunyai risiko 7 kali lebih besar untuk mendapat karsinoma sel skuamosa (KSS).[6]

Dosis hydrochlorothiazide juga dihubungkan dengan risiko terjadinya KSS pada bibir. Pada pasien yang mendapat dosis kumulatif HCT > 100,000 mg mempunyai risiko 7 kali lipat untuk menderita KSS bibir.[5,6,14]

2. Durasi

Lama penggunaan hydrochlorothiazide juga berkorelasi dengan risiko terkena KSB dan KSS. Risiko tertinggi dihubungan dengan durasi pemakaian HCT > 5 tahun. [3] Ditemukan bahwa pada pasien yang konsumsi hydrochlorothiazide setiap hari selama minimal 6 tahun mempunyai risiko 29% lebih tinggi untuk mendapatkan KSB dan hampir 4 kali lipat untuk mendapatkan KSS daripada individu yang tidak mengkonsumsi obat ini.[1] Pada pasien yang mengonsumsi hydrochlorothiazide setiap hari selama 24 tahun, memiliki risiko menderita KSB 54% lebih banyak dan 7 kali lipat untuk mendapatkan KSS.[1]

Hubungan durasi pemakaian HCT dengan risiko terjadinya kanker kulit juga telah dibuktikan oleh penelitian Pottergard et al dimana penggunaan HCT > 5 tahun dihubungkan dengan 4 kali lipat risiko terkena KSS pada bibir.[5]

3. Obesitas

Suatu penelitian menghubungkan risiko terjadinya KSB pada penggunaan hydrochlorothiazide dengan obesitas. Beberapa hipotesa yang mencoba menjelaskan hubungan tersebut adalah:

  • Pada pasien dengan obesitas, hipertensi lebih sulit untuk dikontrol. Maka sering kali HCT diberikan bersama dengan obat antihipertensi lainnya. Obat antihipertensi lainnya ini dapat secara sinergis bekerja dengan HCT untuk meningkatkan risiko KSB
  • Pasien dengan obesitas sering kali mendapatkan dosis obat yang lebih tinggi atau memerlukan pengobatan jangka panjang
  • Obesitas menurunkan metabolisme obat HCT, sehingga intensitas dan durasi dari efek fotosensitif dari HCT meningkat
  • Pasien dengan obesitas dan hipertensi lebih sering kontrol ke dokter, sehingga KSB akan lebih terdiagnosa pada kelompok pasien ini[4]

4. Jenis Kelamin

Ditemukan bahwa insidensi KSB dan KSS dengan penggunaan HCT lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini bisa akibat perbedaan pada ketebalan kulit, dimana wanita mempunyai lapisan epidermis dan dermis yang lebih tipis dibandingkan dengan pria.[6]

5. Usia

Asosiasi penggunaan hydrochlorothiazide dengan kanker kulit non-melanoma juga berbeda pada kelompok usia. Risiko tertinggi adalah pada kelompok usia dibawah usia 50 tahun. Hal ini berhubungan dengan efek fotosensitifitas dari HCT dan risiko terjadinya kanker kulit non-melanoma. Sedangkan pada kelompok usia diatas 50 tahun, risiko terjadinya kanker kulit non-melanoma lebih dikarenakan alasan lain (misalnya akumulasi pada kerusakan DNA dan imunosenescence).[6]

6. Jenis Kanker Kulit

Penggunaan hydrochlorothiazide terutama diasosiasikan dengan KSS daripada KSB. Hal ini sesuai dengan hasil beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa paparan terhadap sinar UV secara kumulatif mempunyai peran lebih besar pada patologi KSS daripada KSB.[6]

Risiko Terjadinya Kanker Kulit Non-Melanoma pada Obat Antihipertensi Lainnya

Dari semua obat golongan antihipertensi, diuretik memiliki risiko reaksi fotosensitif tertinggi sehingga muncul pertanyaan apakah golongan obat antihipertensi lainnya juga menyebabkan peningkatan risiko terjadinya kanker kulit non-melanoma.[10,14] Hasil penelitian menemukan tidak adanya hubungan antara penggunaan obat antihipertensi selain golongan diuretik dengan risiko kanker kulit non-melanoma.[6]

Rekomendasi

Berikut adalah rekomendasi terkait risiko peningkatan karsinoma sel basal dan skuamosa pada pasien yang mendapat hydrochlorothiazide:

  • Berikan penjelasan ke pasien mengenai kemungkinan terjadinya efek samping pada kulit akibat penggunaan obat antihipertensi (efek samping akut maupun kronik, misalnya sunburn dan kanker kulit)[3,9]

  • Ajari pasien untuk melakukan pemeriksaan kulit sendiri secara berkala[9]
  • Himbau pengguna hydrochlorothiazide untuk lebih berhati-hati untuk proteksi kulit dari kerusakan yang disebabkan oleh paparan sinar matahari. Gunakan tabir surya dengan SPF 30 atau lebih dan hindari paparan langsung dengan sinar UV[1,3]
  • Pada pasien lansia yang mengkonsumsi obat lainnya, pantau untuk kemungkinan terjadinya interaksi obat karena ada beberapa golongan obat lainnya yang bersifat fotosensitif (seperti amiodaron, obat anti inflamasi non-steroid)[9]
  • Pasien yang menggunakan HCT sebaiknya konsultasikan dahulu dengan Dokter sebelum menghentikan terapi HCT[1]
  • Sebaiknya pertimbangkan perubahan pengobatan jika pasien memiliki:

    • Faktor predisposisi terhadap kanker kulit
    • Riwayat kanker kulit
    • Tingkat paparan sinar matahari yang tinggi[1,3]

Referensi