Efek Analgesik Paracetamol Oral setara dengan Intravena

Oleh dr. Gisheila Ruth

Efek analgesik paracetamol intravena nyatanya tidak lebih superior dibandingkan dengan paracetamol oral dalam manajemen nyeri. Belum ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa paracetamol intravena dapat memberikan manfaat lebih dibandingkan dengan pemberian secara oral.

Paracetamol merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan sebagai analgesik dan antipiretik di seluruh dunia. Paracetamol dapat dibeli bebas tanpa perlu resep dokter. Paracetamol adalah drug of choice pada pasien yang tidak bisa mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid, misalnya pada pasien asthma, ulkus peptikum, anak di bawah 12 tahun, atau ibu hamil dan menyusui. Paracetamol dapat diberikan melalui beberapa cara, yaitu secara oral, per rektal, dan intravena. Sering kali pasien-pasien yang menjalani rawat inap diberikan paracetamol intravena untuk berbagai indikasi. Namun, masih belum terdapat bukti klinis yang jelas mengenai pemberian paracetamol secara intravena apakah memberikan manfaat lebih dibandingkan dengan pemberian paracetamol secara oral.[1,2]

Depositphotos_47781227_m-2015

 

Farmakokinetik Paracetamol

Paracetamol dapat diberikan secara oral, per rectal, maupun intravena. Apabila diberikan secara oral, efek klinis paracetamol dapat terasa setelah kurang lebih 30 menit. Paracetamol oral biasanya diberikan dengan dosis 15 mg/kgBB dengan dosis maksimal 1 g. Ketika paracetamol diberikan secara per rektal (suppositoria), bioavailabilitas akan berkurang, sekitar 2/3 dibandingkan dengan paracetamol oral. Efek terapeutiknya terjadi setelah 2-3 jam setelah obat dimasukkan. Paracetamol juga dapat diberikan secara intravena dan sangat sering dijumpai penggunaannya pada pelayanan kesehatan di rumah sakit. Biasanya paracetamol intravena dipakai sebagai terapi antinyeri pascaoperasi. Ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa pemberian paracetamol intravena pada jam pertama lebih efisien dalam menurunkan intensitas nyeri dibandingkan dengan pemberian secara oral.[1,3]

Secara umum, paracetamol merupakan obat yang aman digunakan, baik sebagai antipiretik ataupun analgesik. Meskipun demikian, apabila penggunaannya berlebihan, paracetamol dapat menyebabkan toksik pada ginjal, otak, dan kerusakan hati. Paracetamol juga cukup aman diberikan pada pasien dengan gangguan pencernaan, meskipun beberapa penelitian menghubungkan efek samping yang bisa didapat dari penggunaan paracetamol, seperti mual dan muntah, dispepsia, atau perut begah.[1,3]

Bukti Klinis Paracetamol Oral vs Paracetamol Intravena

Berbagai pelayanan di rumah sakit sudah banyak menggunakan paracetamol secara intravena dalam kasus tertentu, seperti kontrol nyeri post operasi dan demam tinggi. Pemberian paracetamol secara intravena menjadi rute pilihan pemberian obat pada pasien rawat inap karena dinilai dapat menurunkan kebutuhan penggunaan analgesik lain, seperti golongan opioid. Dikatakan pula bahwa pemberian secara intravena dapat lebih mudah diperkirakan sifat farmakodinamik dan farmakokinetiknya dibandingkan dengan pemberian oral. Selain itu, pemberian secara intravena dapat menghindari pajanan first pass liver melalui sirkulasi portal, sehingga dapat menurunkan potensi kerusakan liver.[2]

Meta analisis dilakukan oleh Sun, et al., untuk melihat perbandingan efikasi antara paracetamol intravena dan oral sebagai terapi ajuvan untuk regimen analgesik pada manajemen nyeri setelah arthroplasti lutut dan panggul. Meta analisis ini mendapatkan hasil yang tidak signifikan terhadap adanya perbedaan penurunan nyeri pada grup paracetamol IV maupun grup paracetamol oral setelah 12, 24, maupun 48 jam post operasi. Meta analisis ini juga tidak menemukan perbedaan yang bermakna dari durasi rawat inap pada kedua grup. Angka kejadian nausea dan muntah tidak berbeda bermakna pada kedua grup. Meta analisis ini menyimpulkan bahwa pemberian paracetamol secara intravena tidak memperlihatkan manfaat yang signifikan dalam mengurangi nyeri dibandingkan dengan pemberian secara oral. Namun, terdapat beberapa keterbatasan meta analisis ini, yaitu hanya terdapat 2 Randomised Control Trials (RCT) dan terdapat bias publikasi yang dapat mempengaruhi hasil.[4]

Sebuah RCT oleh Furyck J, et al., juga meneliti apakah paracetamol intravena lebih superior dibandingkan dengan paracetamol oral sebagai terapi ajuvan dari opioid dalam manajemen nyeri sedang–berat pada kasus gawat darurat. RCT ini juga mendapatkan hasil yang sama dengan meta analisis sebelumnya. Pada RCT ini tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara grup paracetamol intravena dengan oral pada penurunan skor nyeri, kepuasaan pasien, dan durasi rawat inap. RCT ini menyimpulkan bahwa pemberian paracetamol intravena tidak lebih superior dibandingkan dengan paracetamol oral sebagai terapi ajuvan dari opioid pada manajemen nyeri pada kasus gawat darurat. Terdapat beberapa alasan yang memungkinkan berdasarkan analisis RCT ini, yaitu karena tidak adanya manfaat secara klinis, namun dapat pula disebabkan oleh adanya heterogenitas pada populasi sampel atau pemberian analgesik opioid sebelum pemberian paracetamol menjadi faktor perancu. Selain itu, hambatan penggunaan paracetamol intravena salah satunya adalah harga yang lebih mahal dibandingkan dengan oral serta timbulnya kemungkinan efek samping infeksi lokal dan flebitis[5]

Meta analisis lain dilakukan oleh Jibril, et al. yang bertujuan untuk menilai efikasi, keamanan, dan farmakokinetik dari paracetamol intravena dan oral. Pada meta analisis ini juga didapatkan tidak adanya hasil yang signifikan perbedaan efikasi antara kedua rute pemberian paracetamol tersebut. Tidak didapatkan hasil yang cukup konsisten untuk bisa menyimpulkan keamanan dari kedua rute pemberian. Pemberian paracetamol secara intravena tidak memberikan peningkatan bioavailabilitas yang signifikan dibandingkan dengan oral. Oleh karena itu, studi ini menyimpulkan bahwa tidak ada indikasi pemberian paracetamol intravena bagi pasien yang sebenarnya dapat mengonsumsi obat paracetamol secara oral. Studi ini juga menyebutkan bahwa formulasi intravena membutuhkan biaya yang lebih tinggi dan waktu administrasi obat yang lebih lama dibandingkan dengan rute oral. Faktor tersebut sebaiknya menjadi bahan pertimbangan dalam memberikan terapi.

Kesimpulan

Paracetamol merupakan obat yang paling umum digunakan sebagai terapi analgesik maupun antipiretik. Paracetamol dapat diberikan baik secara oral, supositoria, dan intravena. Berdasarkan berbagai studi yang ada, pemberian paracetamol secara intravena nyatanya tidak lebih superior dibandingkan dengan paracetamol oral dalam hal penurunan skor nyeri, durasi lama rawat inap, maupun tingkat kepuasan pasien. Selain itu, adanya biaya yang lebih tinggi yang perlu dikeluarkan oleh pasien serta adanya kemungkinan risiko iritasi lokal dan flebitis perlu menjadi pertimbangan dokter sebelum memberikan terapi paracetamol secara intravena. Diperlukan penelitian yang lebih lanjut mengenai perbandingan paracetamol intravena dan oral sebagai antipiretik.

Referensi