Komparasi Efektivitas Paracetamol dan NSAID untuk Manajemen Nyeri pada Trauma Muskuloskeletal

Oleh dr. Alexandra Francesca Chandra

Paracetamol dianggap memiliki efek antinyeri yang inferior dibandingkan obat analgesik non steroid sehingga NSAID lebih dipilih sebagai manajemen nyeri pada trauma muskuloskeletal. Walau demikian, penelitian terkini menunjukkan tidak adanya perbedaan antara efek nyeri keduanya.

Depositphotos_109684826_m-2015_compressed

Trauma muskuloskeletal merupakan salah satu masalah medis yang sering dijumpai di berbagai belahan dunia. Kebanyakan trauma muskuloskeletal terkait dengan jaringan lunak seperti sprain, strain, dan kontusio/memar. Di Amerika Serikat dilaporkan terdapat lebih dari 65 juta kunjungan ke pusat kesehatan terkait dengan kasus cedera muskuloskeletal pada tahun 2010, 77% diantaranya disebabkan trauma.[1] Sekitar 17 juta kunjungan ke instalasi gawat darurat (IGD) dilaporkan terkait kasus cedera muskuloskeletal seperti strain, sprain, kontusio, maupun fraktur.[2] Di Belanda pada tahun 2011 tercatat insidensi cedera muskuloskeletal 3.3 juta dari total jumlah penduduk 16.7 juta.[3] Cedera muskuloskeletal menempati posisi keempat tertinggi yang berdampak pada kematian dan kecacatan/disabilitas di dunia setelah penyakit kardiovaskular, tumor, dan gangguan mental.[4]

Manajemen Nyeri pada Trauma Muskuloskeletal

Manajemen nyeri pada kasus trauma muskuloskeletal umumnya dibedakan menjadi 2: medikamentosa (menggunakan analgesik) dan non medikamentosa (rest, ice, compression, elevation atau “RICE”). Menurut pedoman dari World Health Organization (WHO), manajemen nyeri dilakukan dengan pendekatan stepwise atau “anak tangga”, di mana pada step 1 nyeri ditatalaksana dengan analgesik non-opioid seperti paracetamol atau non-steroidal anti-inflammatory drugs/NSAID.[5]

NSAID, misalnya ibuprofen atau diklofenak, umum digunakan pasca cedera muskuloskeletal dan sering dianggap sebagai tata laksana medikamentosa terbaik karena efek analgesik dan anti-inflamasinya. Namun belakangan ini semakin banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manfaat NSAID jangka pendek ini masih tidak sebanding dengan dampak negatif jangka panjangnya dalam menghambat proses penyembuhan, mengingat inflamasi adalah salah satu tahapan penting dalam proses penyembuhan.[6]

NSAID pada Trauma Muskuloskeletal

NSAID adalah penghambat enzim cyclo-oxygenase (COX) yang mengkatalisator pembentukan prostaglandin dan thromboxane. NSAID menghasilkan efek antiinflamasi, analgesik, dan penghambat agregasi platelet.[7] NSAID umum digunakan sebagai manajemen nyeri lini pertama pada kasus trauma muskuloskeletal karena tidak menyebabkan depresi napas, menghambat motilitas sistem gastrointestinal, maupun menyebabkan ketergantungan. Meskipun mudah didapat dan efektif dalam mengatasi nyeri, penggunaan NSAID terkait dengan kejadian ulkus peptikum, perdarahan saluran cerna, serta perforasi, terutama untuk NSAID non selektif yang juga menghambat COX-1 (yang berfungsi menghambat asam lambung dan menjaga mukosa gaster).[7,8]

Di Indonesia, sediaan NSAID yang umum diresepkan yaitu sediaan per oral. Namun, di luar negeri sudah lazim digunakan sediaan NSAID topikal, terutama sejak disetujuinya penggunaan transdermal patch diklofenak di tahun 2007. Sediaan topikal seperti transdermal patch digunakan untuk kasus trauma seperti sprain, strain, dan kontusio, sementara tipe gel dan larutan digunakan pada penatalaksanaan kasus nyeri osteoartritis.[7]

Paracetamol pada Trauma Muskuloskeletal

Paracetamol merupakan analgesik/antipiretik yang umum digunakan meskipun mekanisme kerja paracetamol dalam menghambat nyeri dan menurunkan demam masih diperdebatkan. Efek analgesik paracetamol diduga akibat pengaruh sentral karena paracetamol dinilai tidak memiliki efek perifer yang cukup bermakna. Mekanisme kerja paracetamol dihipotesiskan melalui inhibisi dari jaras L-arginine-nitric oxide (NO), via substansi P atau N-methyl-D-aspartate (NMDA), menghambat aktivasi descending serotonergic pathway spinalis, dan aktivasi reseptor cannabinoid (CB). Ada pula teori yang mengatakan bahwa paracetamol adalah sebuah prodrug di mana metabolit aktifnya itulah yang mengaktifkan reseptor CB dan menghambat enzim prostaglandin H2 synthetase (PGHS).[9]

Banyak yang beranggapan bahwa paracetamol lebih inferior dibandingkan NSAID dalam mengatasi nyeri[8] namun meta analisis pada tahun 2000 menyatakan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa NSAID lebih efektif dari paracetamol sebagai analgesik untuk sindroma muskuloskeletal akut.[10]

Rekomendasi Penanganan Nyeri pada Trauma Muskuloskeletal

Sebuah meta analisis Cochrane tahun 2015 mengkaji pemberian paracetamol dibandingkan NSAID pada 16 randomized controlled trial (RCT) mencakup 2144 pasien pasca trauma jaringan lunak dalam 48 jam pertama. Paracetamol tidak berbeda bermakna dengan NSAID dalam menghilangkan nyeri dan mengembalikan fungsi muskuloskeletal; temuan ini konsisten meskipun semua studi yang meneliti paracetamol dan NSAID pada meta analisis ini dinilai berkualitas rendah ataupun sangat rendah.[11]

Paracetamol vs NSAID untuk Penanganan Nyeri Trauma Muskuloskeletal

Paracetamol setara dengan NSAID dalam menghilangkan nyeri trauma muskuloskeletal. Hal ini didukung meta analisis Cochrane tahun 2015 yang menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara visual analog scale (VAS) kedua kelompok tersebut dalam 24 jam pertama berdasarkan 4 studi.[11] Studi tahun 2018 pada pasien dewasa dengan trauma ekstremitas minor akut juga menemukan hal yang serupa, paracetamol tidak inferior dibandingkan diklofenak ataupun kombinasi keduanya dalamm manajemen nyeri pada kasus trauma ekstremitas minor akut.[12]

Sebuah RCT double-blind pada pasien dewasa yang membandingkan 3 kelompok (paracetamol, ibuprofen, dan kombinasi keduanya) juga tidak menemukan perbedaan bermakna (baik secara statistik maupun klinis) pada skor nyeri antar ketiga kelompok pada 2 jam pertama maupun 3 hari pertama.[8] Selain itu, RCT pada tahun 2005 dengan subjek pasien >16 tahun dengan nyeri ekstremitas pasca trauma juga menunjukkan bahwa pengunaan paracetamol 1 gram dibandingkan dengan diklofenak 25 mg maupun kombinasi keduanya tetap tidak memiliki penurunan nyeri yang bermakna baik secara statistik maupun secara klinis.[13]

Paracetamol vs NSAID untuk Pengembalian Fungsi Pasca Trauma Muskuloskeletal

Terdapat 3 penelitian yang membandingkan paracetamol dan NSAID terhadap pengembalian fungsi pasca trauma muskuloskeletal. Paracetamol dinilai setara dengan NSAID dalam menatalaksana cedera jaringan lunak dan mengembalikan fungsi pada hari ke-7 atau setelahnya.[11]

Kesimpulan

Paracetamol memiliki efek analgesik yang setara dengan NSAID saja ataupun pemberian kombinasi NSAID-paracetamol dalam menurunkan nyeri maupun pengembalian fungsi pada kasus akut trauma minor muskuloskeletal. Dengan demikian, paracetamol lebih baik digunakan dibandingkan NSAID pada kasus akut trauma minor muskuloskeletal terutama mengingat lebih banyaknya efek samping NSAID secara umum bila dibandingkan paracetamol.[11-14]

Referensi