COVID-19 dan Upaya Berhenti Merokok

Oleh :
dr.Dina Fauziah

Berdasarkan penelitian epidemiologi, merokok merupakan faktor risiko yang dapat memperberat COVID-19, sehingga upaya berhenti merokok menjadi salah satu tindakan yang perlu dipertimbangkan bagi individu yang merokok hingga praktisi kesehatan.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Pandemi ini secara tidak langsung meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya menjaga kesehatan. Salah satu upaya menjaga kesehatan ditengah pandemic ini adalah berhenti merokok. Rekomendasi dari WHO yang menyarankan berhenti merokok sebagai salah satu upaya pencegahan COVID-19.[1] Berhenti merokok dapat menurunkan resiko seseorang terkena infeksi COVID19 yang berat.

Merokok Meningkatkan Infeksi Berat Covid-19

Sebuah metaanalisis dan telaah sistemik oleh Zheng et al. menilai faktor risiko dari pasien-pasien kritikal COVID-19. Hasil temuan penelitian ini melaporkan bahwa laki-laki, usia >65 tahun dan merokok memiliki risiko perburukan COVID-19.[2] Penelitian beberapa telaah sistemik mendapatkan korelasi antara riwayat merokok dengan progresivitas perburukan pasien dengan COVID-19. Dari berbagai penelitian tersebut, ada perbedaan antara riwayat merokok dengan perokok aktif.[2-5]Depositphotos_374822822_s-2019-minZheng et al. melaporkan dari 140 pasien dengan covid-19, 58 pasien mengalami COVID-19 gejala berat. 3,4% merupakan perokok aktif  dan 6,9% merupakan riwayat merokok. [1] Hal serupa juga dilaporkan oleh Alqahtani et al. Berdasarkan 8 studi dan 221 kasus konfirmasi COVID-10 didapatkan 22,30% adalah perokok aktif dan 46% adalah riwayat merokok. Hasil perhitungan risk ratio didapatkan bahwa perokok aktif memiliki 1,45 kali mengalami komplikasi COVID-19 dibandingkan riwayat merokok dan tidak merokok.[3]

Salah satu studi yang dibahas dalam systematic review tersebut merupakan studi oleh Guan et al dengan 1099 sampel konfirmasi COVID-19. Studi tersebut menemukan bahwa pada populasi dengan gejala berat terdapat 16,9% perokok aktif dan 5,2% pasien dengan riwayat merokok. Sedangkan pada populasi dengan gejala ringan hanya ada 11,8% perokok aktif dan 1,3% pasien dengan riwayat merokok. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan risiko antara perokok aktif dengan orang yang hanya memiliki riwayat merokok. [5]

Patogenesis Rokok pada COVID-19

Penjelasan terkait penyebab infeksi berat Covid19 pada pasien dengan riwayat merokok secara umum dapat dijelaskan dengan 2 mekanisme patogenesis.

Distribusi Reseptor ACE-2 Pada Jaringan Paru

Teori pertama ada kaitannya dengan perubahan distribusi reseptor ACE2 pada jaringan paru perokok. Paparan kronis dari rokok dapat memicu remodelling dari epitel bronkial serta hiperplasia ekstensif dari sel goblet sebagai mekanisme perlindungan tubuh terhadap zat iritan dari rokok. [6] Sedangkan sel goblet diketahui memiliki ekspresi ACE2 yang tinggi, sehingga peningkatan ACE2 pada perokok diduga merupakan efek sekunder dari hiperplasia sel goblet.[7]

Kadar Nikotin dan Ekspresi Reseptor ACE2

Sedangkan teori kedua menyatakan bahwa terdapat korelasi antara kadar nikotin dalam tubuh dengan ekspresi reseptor ACE2. Studi oleh Russo et al mendapati bahwa pemberian nikotin secara invitro dapat meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel epitel bronkial manusia. [8] Seperti yang sudah diketahui ACE2 merupakan reseptor yang digunakan oleh SARS-CoV-2 untuk menginfeksi sel host. Sehingga nikotin secara tidak langsung dapat meningkatkan uptake dari SARS CoV-2 di sel epitel bronkial.[9]

Selain itu, hasil studi yang dilakukan oleh Smith et al menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi ACE2 bersifat dose-dependent. Pasien yang memiliki riwayat merokok lebih dari 80 bungkus dalam setahun memiliki peningkatan ekspresi ACE2 hingga ~100%  dibandingkan dengan pasien yang memiliki riwayat merokok kurang dari 20 bungkus dalam setahun.[6] Meskipun efek dari merokok terhadap paru-paru sangat berbahaya, namun berhenti merokok dapat memperbaiki fungsi paru dan menurunkan faktor risiko penyakit akibat rokok secara signifikan. Bahkan berhenti merokok diketahui dapat menormalisasi struktur epithelial saluran pernafasan, mengurangi hiperplasia, dan menurunkan ekspresi ACE2.[10] Sehingga berhenti merokok dapat membantu mengurangi risiko infeksi Covid-19 berat.

Strategi Berhenti Merokok: Medikamentosa

Berhenti merokok saat ini secara tidak langsung dapat mengurangi faktor risiko perokok mengalami gejala berat bila terinfeksi COVID-19. Secara umum terdapat dua kategori umum strategi berhenti merokok yang bisa diadvokasikan ke pasien saat ini yakni medikamentosa dan terapi Perilaku. Pilihan medikamentosa untuk berhenti merokok sangat beragam, namun tidak semua pilihan obat dapat memberikan hasil positif pada semua pasien. Ada beberapa jenis obat yang memiliki efek positif namun disertai dengan efek samping yang cukup berat. Sehingga pemilihan obat untuk berhenti merokok memerlukan pendekatan yang personal pada masing-masing kasus.

Terapi Pengganti Nikotin (TPN)

TPN merupakan metode medikasi yang paling sering digunakan untuk membantu pasien berhenti merokok. Akan tetapi ketersediaannya di Indonesia masih sulit untuk ditemukan.

Nicotine Receptor Partial Agonist

Terdapat dua obat dari golongan ini yang dapat membantu upaya berhenti merokok yakni varenicline dan cystine. Keduanya terbukti secara klinis dapat meningkatkan probabilitas angka berhenti merokok, akan tetapi varenicline memiliki lebih banyak hasil studi positif dibanding cystine.[11] Pemberian varenicline dalam dosis standar dapat meningkatkan probabilitas berhenti merokok sebanyak 2 hingga 3 kali lipat dibanding tanpa pemberian bantuan medikasi. Penggunaan varenicline lebih superior dibandingkan penggunaan terapi pengganti nikotin atau obat anti depresi dalam meningkatkan angka keberhasilan berhenti merokok.[12,13] Efek samping paling sering dari varenicline adalah mual, namun efek ini cenderung ringan dan bisa berkurang dengan sendirinya seiring pemberian terapi. Namun bila masih dirasa mengganggu, pemberian varenicline dalam dosis rendah juga terbukti masih dapat membantu upaya berhenti merokok. [11] Secara praktis penggunaan varenicline untuk berhenti merokok seringkali sulit dikarenakan harganya yang mahal serta minimnya ketersediaan obat ini di Indonesia selama pandemi.

Strategi Berhenti Merokok: Terapi Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy)

Berikut adalah 2 jenis terapi perilaku yang dapat diadvokasikan pada pasien ditengah pandemi.

Call Center Untuk Berhenti Merokok

Konsultasi berbasis telepon memiliki berbagai jenis variasi pendekatan. Ada beberapa konselor yang hanya menyediakan konsultasi melalui telepon. Namun ada pula konselor yang menyediakan konsultasi melalui telepon serta dukungan berhenti merokok yang lain seperti leaflet, sesi konsultasi secara langsung, serta pemberian medikasi sebagai upaya berhenti merokok tambahan. Konsultasi berhenti merokok melalui telepon terbukti meningkatkan kemungkinan berhenti merokok, terlepas apakah konsultasi tersebut didapat secara aktif (konsultasi diinisiasi oleh pasien) maupun pasif (konsultasi diinisiasi oleh tenaga kesehatan/konselor).[14]

Kemenkes RI memberikan pelayanan Quitline (+62-800-177-6565) yang yang bertujuan membantu upaya berhenti merokok rakyat Indonesia. Melalui Quitline ini pasien akan mendapatkan layanan konseling berhenti merokok melalui telepon bebas biaya pulsa. Quitline merupakan sarana komunikasi antara orang yang ingin berhenti merokok dengan seorang konselor berhenti merokok. Konselor dari kemenkes sudah terlatih untuk memberikan bantuan dalam menyusun rancangan berhenti merokok dan membuat jadwal konseling untuk membantu mengatasi kecanduan merokok.  Sehingga orang yang ingin berhenti merokok tetap termotivasi hingga target berhenti merokok akhirnya tercapai.[15]

Terapi Perilaku Berbasis Aplikasi

Sebuah studi oleh Whittaker et al mempelajari penggunaan terapi perilaku berbasis aplikasi sebagai penunjung upaya berhenti merokok. Berapa keuntungan dari intervensi dukungan berhenti merokok berbasis telepon genggam (mCessation)  tidak bisa didapatkan bila menggunakan metode konsultasi konvensional. Pertama layanan mCessation dapat digunakan dimana saja dan kapan saja dengan mudah sehingga sangat cost-effective untuk populasi menengah kebawah. Kedua layanan mCessation mampu dipersonalisasi sehingga sesuai karakter pengguna (usia, jenis kelamain, dan ras); sehingga pesan yang disampaikan bisa lebih sesuai. Ketiga mCessation memungkinkan penggunanya terhubung dengan komunitas berhenti merokok dan merasakan dukungan sosial dari orang lain dengan latar belakang serupa. [16] Bahkan sebuah studi mengindikasikan bahwa kelompok sosial ekonomi menengah kebawah lebih memilih menggunakan mCessation karena merasa memiliki kontrol lebih terhadap informasi yang didapatkan.[17]

Dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini, penggunaan aplikasi berhenti merokok berbasis telepon genggam lebih mudah diakses dibanding pelayanan kesehatan konvensional. Sehingga pendekatan mCessation menjadi sangat esensial tidak hanya untuk mengurangi ketidakseimbangan upaya promosi kesehatan di kalangan menengah kebawah, namun juga untuk meningkatkan angka berhenti merokok di populasi Indonesia secara umum. Bila seseorang mampu berhenti merokok saat ini, maka orang tersebut tidak hanya terhindar dari infeksi berat akibat covid-19 namun juga peningkatan kualitas kesehatan secara umum.

Beberapa aplikasi berbasis android® dan IOS® sudah tersedia di Indonesia untuk membantu individu untuk berhenti merokok. Beberapa aplikasi tersebut ialah smokefree®, quitnow®, kwit®, maupun drop it! ®. Selain itu, health app ALODOKTER juga menyediakan psikolog terregistrasi untuk membantu individu untuk berhenti merokok.

Gradual Quitting

Berhenti merokok pada beberapa orang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dikarenakan ketergantungan yang cukup tinggi terhadap zat adiktif yang terkandung dalam rokok. Oleh karena itu ada proses yang dinamakan gradual quitting dimana proses berhenti merokok berlangsung secara bertahap. Akan tetapi,  hingga kini tidak ada bukti jelas yang menunjukkan manfaat pengurangan jumlah rokok secara bertahap terhadap kesehatan. Oleh karena itu, akan lebih baik bila pengurangan bertahap jumlah rokok bisa dilakukan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya untuk mendapatkan manfaat yang optimal.  [18]

Salah satu upaya menurunkan bahaya merokok adalah menggunakan e-cigarette. Walaupun sampai saat ini banyak perdebatan  yang muncul, namun ada keuntungan menggunakan e-cigarette dibandingkan rokok biasa. Pandangan e-cigarette dinilai memiliki risiko mortalitas lebih rendah dibandingkan rokok biasa sudah banyak digaungkan. Sehingga e-cigarette dapat dipertimbangkan sebagai sarana untuk membantu pasien berhenti merokok secara total.

Keuntungan Berhenti Merokok Saat Pandemi

Physical distancing dalam rangka mencegah penularan corona memiliki keuntungan tersendiri bagi perokok yang ingin berhenti merokok saat ini. Seringkali perokok yang tengah berusaha berhenti dapat kembali merokok karena pengaruh dari lingkungan pergaulannya. [19] Pandemi ini merupakan sebuah momentum yang pas bagi seseorang untuk berusaha berhenti merokok. Karena dengan adanya kebijakan physical distancing maka berkurang pula pengaruh negatif lingkungan pergaulan terhadap upaya berhenti merokok. Terlebih berhenti merokok saat ini dapat menurunkan faktor risiko terkena infeksi Covid-19 yang berat.

Kesimpulan

Merokok merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terkena infeksi Covid-19 dan mengalami komplikasi berat. Hal ini disebabkan zat yang terkandung dalam rokok dapat meningkatkan ekspresi reseptor ACE2 pada paru perokok. Namun efek ini dapat dikurangi secara signifikan dengan berhenti merokok segera. Terdapat berbagai macam metode berhenti merokok. Terapi medikamentosa seperti Terapi Pengganti Nikotin (TPN) dan varenicline dapat membantu proses berhenti merokok. Vareniciline merupakan pilihan obat yang efektif dan aman namun harganya cenderung mahal. Kombinasi dengan terapi perilaku dapat meningkatkan angka keberhasilan berhenti merokok serta mencegah “kekambuhan” merokok. Ditengah kondisi pandemik kali ini pendekatan terapi perilaku berbasis telepon genggam menjadi lebih superior dibanding terapi perilaku konvensional dalam mendampingi seseorang untuk berhenti merokok.

Referensi