Manfaat Asam Traneksamat pada Cedera Otak Traumatik

Oleh :
dr. Ade Wijaya SpS

Serangkaian uji klinis terbaru menunjukkan potensi manfaat pemberian asam traneksamat pada cedera otak traumatik ringan-sedang. Cedera otak traumatik merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan. Sebanyak 40,6 % cedera otak traumatik diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Cedera otak traumatik juga lebih banyak terjadi pada populasi pasien usia produktif, sehingga memiliki dampak besar pada aspek sosial dan ekonomi.

Cedera otak traumatik sering menimbulkan lesi pada otak berupa perdarahan, baik itu perdarahan epidural, subdural, subaraknoid, maupun kontusio dan perdarahan intraserebral. Asam traneksamat merupakan suatu agen terapi yang telah terbukti dan banyak digunakan untuk mengurangi perdarahan akibat pembedahan dan mengurangi mortalitas pada pasien dengan perdarahan ekstrakranial akibat trauma. Namun, serangkaian studi terbaru oleh CRASH Intracranial Bleeding Mechanistic Study Collaborators menunjukkan potensi manfaat penggunaannya pada perdarahan intrakranial akibat cedera otak traumatik.[1,2]

shutterstock_163177883-min

Peran Asam Traneksamat dalam Tata Laksana Cedera Otak Traumatik

Cedera otak traumatik bisa menyebabkan konsekuensi sekunder berupa perdarahan intrakranial. Adanya perdarahan intrakranial setelah trauma berkaitan dengan peningkatan risiko koagulopati yang akan memperparah perdarahan dan meningkatkan risiko mortalitas. Asam traneksamat sebagai agen antifibrinolitik diduga mampu menurunkan perdarahan intrakranial traumatik.[3]

Asam traneksamat adalah inhibitor kompetitif reversibel dari reseptor lisin pada plasminogen yang bersifat selektif. Ikatan pada reseptor ini akan mencegah plasmin untuk berikatan dan menstabilisasi matriks fibrin. Hasil akhirnya adalah pencegahan dan pengurangan perdarahan.[4]

Bukti Ilmiah Manfaat Asam Traneksamat pada Cedera Otak Traumatik

Penelitian CRASH-2 (Clinical Randomisation of an Antifibrinolytic in Significant Haemorrhage 2) merupakan studi besar multisenter yang menilai manfaat pemberian dini asam traneksamat terhadap luaran berupa kematian, kejadian oklusi vaskular, dan kebutuhan transfusi pada pasien dengan perdarahan signifikan akibat cedera. Studi besar ini dilakukan di 274 Rumah sakit dari 40 negara pada tahun 2005. Pasien cedera otak traumatik secara acak diberikan plasebo atau asam traneksamat dengan dosis infus 1 gram dalam 10 menit dan diikuti infus 1 gram dalam 8 jam. Studi ini menyimpulkan bahwa asam traneksamat dapat dipertimbangkan untuk diberikan pada pasien dengan perdarahan akibat cedera karena mengurangi risiko kematian.[5]

Dengan latar belakang penelitian CRASH-2 ini, kemudian dilakukan penelitian CRASH-3 dimana subjek penelitian lebih spesifik yaitu pada pasien-pasien dengan perdarahan intrakranial akibat cedera otak traumatik. Penelitian CRASH-3, dipublikasikan pada tahun 2019, dilakukan di 175 rumah sakit dari 29 negara. Subjek penelitian adalah subjek dewasa dengan cedera otak traumatik onset kurang dari 3 jam. Subjek memiliki tingkat kesadaran berdasarkan Glasgow Coma Scale < 12 atau terdapat perdarahan intrakranial berdasarkan CT scan, tetapi tidak terdapat perdarahan ekstrakranial mayor. Dosis dan cara pemberian asam traneksamat sama seperti pada studi CRASH-2, yaitu dengan dosis infus 1 gram dalam 10 menit dan diikuti infus 1 gram dalam 8 jam.

Luaran primer yang dinilai pada studi CRASH-3 adalah kematian dalam 28 hari pertama. Luaran sekunder antara lain kematian dalam 24 jam pertama, angka disabilitas, kejang, ada tidaknya tindakan bedah saraf, lama perawatan di ruang intensif, serta kejadian vaskular oklusif seperti infark miokardstrokedeep vein thrombosis (DVT), dan emboli paru. Diagnosis DVT atau emboli paru dinilai dengan ultrasonografi atau pemeriksaan post-mortem.

Kesimpulan dari studi CRASH-3 ini adalah bahwa pemberian asam traneksamat pada pasien cedera otak traumatik ringan-sedang dengan onset kurang dari 3 jam akan mengurangi risiko mortalitas pasien tanpa meningkatkan efek samping, komplikasi, maupun angka disabilitas. Penurunan angka mortalitas ini terjadi pada cedera otak traumatik ringan-sedang, tetapi pada cedera otak traumatik berat tidak terjadi penurunan angka mortalitas yang signifikan.[2]

Studi ini juga melaporkan bahwa semakin dini pemberian asam traneksamat, maka akan semakin efektif. Setiap 20 menit yang tertunda maka efikasi akan berkurang 10 %. Berdasarkan studi CRASH-2 pada perdarahan ekstrakranial, pemberian asam traneksamat pada kasus cedera otak traumatik juga dapat diberikan pada saat pre-hospital maupun di unit gawat darurat selama onset kurang dari 3 jam.[2,5]

Aplikasi Pemberian Asam Traneksamat di Indonesia

Berdasarkan Konsensus nasional penanganan trauma kapitis dan trauma spinal tahun 2006 serta buku panduan praktik klinis neurologi tahun 2016, tidak ditemukan rekomendasi pemberian asam traneksamat pada kasus cedera otak traumatik. Namun, kedua pedoman nasional tersebut dibuat sebelum terdapat publikasi studi CRASH-3 pada tahun 2019.

Dengan adanya studi CRASH-3 yang merupakan studi skala besar dengan kualitas yang baik, pemberian asam traneksamat dapat dipertimbangkan pada pasien-pasien yang memenuhi kriteria. Namun, pedoman umum tata laksana cedera otak traumatik seperti pengelolaan jalan nafas, resusitasi, serta penanggulangan peningkatan tekanan intrakranial maupun tindakan pembedahan, tetap menjadi pilar utama yang harus diperhatikan.[6,7]

Kesimpulan

Perdarahan intrakranial sering ditemukan pada pasien cedera otak traumatik dan akan meningkatkan risiko mortalitas dan morbiditas. Sebuah rangkaian studi terbaru oleh tim peneliti CRASH Intracranial Bleeding Mechanistic Study Collaborators menunjukkan potensi manfaat pemberian asam traneksamat dalam mengurangi mortalitas pada pasien cedera otak traumatik ringan-sedang ketika diberikan dalam kurun waktu 3 jam dari onset kejadian. Pada kedua studi CRASH yang dibahas dalam artikel ini, asam traneksamat diberikan dengan dosis infus 1 gram dalam 10 menit dan diikuti infus 1 gram dalam 8 jam.

Referensi