Efektivitas Citicolin dan Piracetam untuk Stroke Iskemik dan Cedera Otak Traumatik

Oleh :
dr. Josephine Darmawan

Citicolin dan piracetam sering diberikan pada pasien stroke iskemik maupun cedera otak traumatik sebagai agen neuroprotektif. Namun, efektivitas kedua obat ini dalam memperbaiki luaran klinis pasien stroke maupun cedera otak traumatik sebenarnya masih diperdebatkan.

Beberapa studi melaporkan bahwa pemberian citicolin dan piracetam berdampak positif bagi luaran klinis pasien stroke iskemik dan cedera otak traumatik, sementara studi lain melaporkan bahwa kedua obat ini tidak memberikan manfaat yang signifikan.[1-3]

shutterstock_1428637553-min (1)

Secara teori, pemberian piracetam dan citicolin pada stroke dan cedera otak traumatik dinilai dapat memberikan efek protektif pada neuron, membantu meningkatkan fungsi neuron, memperbaiki oksigenasi dan perfusi otak, serta mendukung nutrisi otak. Studi pada hewan menunjukkan dampak yang positif. Namun, studi pada manusia masih memberikan hasil yang kurang memuaskan.[6-9]

Efek Terapi Piracetam

Piracetam adalah obat nootropik turunan asam gamma-aminobutirik (GABA). Obat ini dapat meningkatkan neuroplastisitas, memperbaiki neurotransmisi, serta memberikan efek neuroprotektif. Piracetam bekerja dengan cara memengaruhi neurotransmiter serotonergik, noradrenergik, dan glutaminergik, terutama pada reseptor postsynaptic.

Piracetam bisa memengaruhi fluiditas dan plastisitas membran. Fluiditas dan plastisitas membran merupakan komponen penting dalam mempertahankan struktur sel, sehingga sel terlindungi dari kerusakan. Selain itu, piracetam juga dinilai bermanfaat untuk meningkatkan oksidasi glukosa dan menghasilkan adenosine triphosphate (ATP), sehingga dapat melindungi sel-sel saraf dari hipoksia.

Piracetam juga memiliki efek vaskular, yakni mengurangi vasospasme, mengurangi adhesi eritrosit ke endotel, serta meningkatkan vaskularisasi otak dan mikrosirkulasi perifer. Obat ini juga memiliki efek antikoagulasi karena dapat menurunkan kadar fibrinogen dan faktor von Willebrand. Faktor vaskular yang dimiliki piracetam ini diduga bermanfaat dalam terapi stroke iskemik akut.[5,7,9,10]

Efek Terapi Citicolin

Citicolin adalah suatu agen kolinergik eksogen yang berasal dari sitidin-5-difosfokolin (CDP-choline). CDP-choline merupakan salah satu zat yang berperan dalam biosintesis membran sel. Selain itu, CDP-choline juga dinilai berperan dalam sintesis fosfatidilkolin. Fosfatidilkolin adalah fosfolipid yang dibutuhkan untuk fungsi gray matter otak.

Citicolin dinilai dapat meningkatkan sintesis asetilkolin dan memperbaharui fosfolipid dalam otak. Obat ini diduga dapat meminimalkan iskemia otak dengan menurunkan radikal bebas (malondialdehyde). Hal ini membuat citicolin memiliki efek neuroprotektif, sehingga banyak digunakan pada stroke dan cedera otak traumatik.[1,7,11-13]

Studi Efektivitas Citicolin dan Piracetam pada Stroke Iskemik dan Cedera Otak

Bermacam studi telah dilakukan untuk mempelajari efektivitas citicolin dan piracetam dalam menata laksana pasien stroke iskemik dan cedera otak traumatik. Namun, hasil yang dilaporkan berbagai studi ini masih inkonsisten.

Studi tentang Pemberian Citicolin dan Piracetam pada Cedera Otak Traumatik

Suatu meta analisis dan tinjauan sistematik mempelajari 4 uji klinis acak dengan total 1.196 pasien. Hasil menunjukkan bahwa pemberian citicolin pada cedera otak akut tidak memberikan perbedaan Glasgow Outcome Scale (GOS) bila dibandingkan dengan grup plasebo. Sementara itu, manfaat citicolin pada cedera otak kronis masih dipertanyakan dan memerlukan penelitian lebih lanjut.[3]

Di lain sisi, suatu meta analisis yang mempelajari 12 uji klinis dengan total 2.706 pasien melaporkan bahwa citicolin bermanfaat dalam memperbaiki GOS pada pasien cedera otak berat (95% CI 1,302–2,530). Akan tetapi, efek ini dilaporkan “terdilusi” seiring berjalannya waktu karena adanya perbaikan kondisi klinis pasien seiring tata laksana standar kasus cedera otak. Citicolin tidak menunjukkan efek samping bermakna.[14]

Studi mengenai efektivitas piracetam pada cedera otak lebih sedikit daripada citicolin. Suatu meta analisis terhadap 13 uji klinis pernah mengkaji penggunaan cerebrolysin, citicolin, dan piracetam. Namun, meta analisis ini tidak berhasil menemukan cukup data tentang piracetam untuk menarik kesimpulan. Satu uji klinis melaporkan bahwa piracetam memberikan efek positif pada kemampuan kognitif tetapi data amat terbatas.

Pada meta analisis tersebut, citicolin tidak memperbaiki GOS (1.355 pasien; OR 0,96; 95 % CI 0,830–1,129; p = 0,676), kemampuan kognitif (4 studi; 1.291 pasien; OR 1,35; 95 % CI 0,58–3,16; p = 0,478), maupun survival (1.037 pasien; OR 1,38; 95 % CI 0,855–2,239) pasien cedera otak traumatik.[8]

Studi tentang Pemberian Citicolin dan Piracetam pada Stroke Iskemik

Suatu uji klinis acak pada 100 pasien stroke menunjukkan bahwa pasien stroke (baik stroke iskemik maupun hemoragik) yang diberikan citicolin bersama manajemen stroke standar menunjukkan perbaikan skor Barthel Index (BI) yang lebih unggul daripada grup kontrol yang hanya menerima manajemen standar. Skor BI dinilai pada follow-up 1 bulan dan 3 bulan setelah terapi (P<0.001 dan P=0.002).[15]

Meta analisis lain terhadap 10 uji klinis acak juga menunjukkan bahwa pemberian citicolin bermanfaat dalam memperbaiki fungsi neurologi pasien, terutama bila diberikan dalam 24 jam setelah onset stroke iskemik (OR 1,27; 95% CI: 1,05–1,53). Namun, pemberian citicolin tidak lebih baik daripada reperfusi dengan recombinant tissue plasminogen activator (rtPA). Studi ini berkesimpulan bahwa pemberian citicolin tidak banyak bermanfaat bila ada opsi terapi terbaik, yaitu rtPA.[4]

Suatu meta analisis lain oleh sekelompok peneliti di Cina melaporkan bahwa citicolin tidak bermanfaat untuk menurunkan mortalitas (OR 0.91; 95% CI: 0,07–1.09; p = 0,3) stroke akut dan tidak memiliki luaran klinis yang berbeda bermakna dibandingkan grup kontrol. Akan tetapi, pemberian citicolin memiliki profil keamanan yang baik.[16]

Data mengenai efek piracetam pada stroke iskemik masih terbatas bila dibandingkan dengan citicolin. Suatu tinjauan sistematik oleh Cochrane terhadap 3 uji klinis (total 1.002 pasien) menunjukkan bahwa piracetam tidak bermanfaat dalam terapi stroke iskemik akut. Sebaliknya, piracetam diperkirakan berhubungan dengan peningkatan mortalitas. Namun hal ini tidak signifikan secara statistik.[5]

Kesimpulan

Penggunaan citicolin dan piracetam sebagai agen neuroprotektif pada cedera otak traumatik maupun stroke iskemik masih bersifat kontroversial. Menurut beberapa studi, citicolin dapat memberikan perbaikan fungsi neurologi pada cedera otak maupun stroke iskemik. Namun, studi lain menunjukkan bahwa manfaat ini tidak berbeda bermakna dengan grup kontrol.

Manfaat citicolin terutama tidak signifikan bila opsi terapi definitif seperti reperfusi rtPA tersedia. Namun, pemberian citicolin dilaporkan memiliki profil keamanan yang baik, sehingga obat ini masih umum digunakan sebagai terapi tambahan.

Data mengenai efektivitas maupun profil keamanan piracetam terhadap pasien stroke iskemik maupun cedera otak traumatik masih lebih terbatas daripada citicolin. Menurut beberapa studi yang ada, pemberian piracetam tidak bermanfaat dan pada beberapa kasus justru dapat meningkatkan mortalitas pasien stroke iskemik.[3,5,14,16]

 

Direvisi oleh: dr. Irene Cindy Sunur

Referensi