Kajian Literatur Pemberian Sitikolin dan Pirasetam pada Struk Iskemik dan Cedera Kepala

Oleh dr. Josephine Darmawan

Stroke dan cedera kepala merupakan kasus kegawatdaruratan neurologi yang sangat sering menyebabkan mortalitas, morbiditas, dan gangguan kualitas hidup. Kecepatan dan ketepatan terapi merupakan kunci keberhasilan tata laksana, karena terjadi kematian sekitar 2 juta neuron setiap menitnya.[1,2] Hal ini membuat suplemen neuroprotektif dan nootropik, seperti citicolin dan piracetam sering kali diberikan pada pasien-pasien dengan struk iskemik akut dan cedera kepala. Namun demikian, pendapat mengenai pemberian citicolin dalam terapi stroke serta cedera kepala sangat berbeda-beda.[3–7]

Depositphotos_21456355_m-2015_compressed

Pembahasan

Dekompresi dan reperfusi merupakan terapi definitif pada cedera kepala dan struk iskemik, tetapi sering kali tindakan ini terlambat untuk dilakukan dan menyebabkan kerusakan neurologis yang ekstensif. Hal ini menjadikan obat yang memiliki efek neuroprotektif banyak dikembangkan dan diberikan. Piracetam dan citicolin sering kali diberikan pada struk dan cedera kepala karena dinilai memiliki efek protektif terhadap sel neuron, membantu meningkatkan fungsi sel saraf, memperbaiki oksigenasi otak, nutrisi otak, memperbaiki perfusi otak, dan sebagainya.[6–9]

Efek Terapi Piracetam

Piracetam adalah obat nootropik turunan asam gamma-aminobutirik (GABA). Obat ini memiliki efek neuronal dan juga vaskular.[9,10] Efek neuronal piracetam antara lain adalah meningkatkan neuroplastisitas, memperbaiki proses neurotransmisi, neuroprotektif, dan antikonvulsan. Piracetam bekerja dengan mempengaruhi neurotransmiter serotonergik, noradrenergik, dan glutamanergik, terutama pada reseptor post-sinaps. Obat ini juga dapat mempengaruhi fluiditas dan plastisitas membran. Fluiditas dan plastisitas membran merupakan komponen penting dalam mempertahankan struktur sel, sehingga dapat terproteksi dari kerusakan (neuroproteksi). Piracetam juga dinilai bermanfaat dalam meningkatkan oksidasi glukosa dan menghasilkan ATP, sehingga dapat melindungi sel-sel saraf dari hipoksia. Piracetam juga memiliki efek vaskular, yaitu menurunkan vasospasme, mengurangi adesi eritrosit ke endotel, meningkatkan vaskularisasi otak dan mikrosirkulasi perifer. Piracetam juga memiliki efek antikoagulasi karena dapat menurunkan kadar fibrinogen dan faktor vonWillebrand. Faktor vaskular yang dimiliki piracetam ini dinilai bermanfaat dalam terapi struk iskemik akut.[5,7,10]

Efek Terapi Citicolin

Citicolin adalah obat kolinergik eksogen yang berasal dari sitidin-5-difosfokolin (CDP-choline). CDP-Choline adalah salah satu zat yang faktor yang berperan dalam biosistensi membrane sel. CDP-choline juga dinilai berperan dalam membantu sintesis fosfatidilkolin. Fosfatidilkolin adalah fosfolipid yang dibutuhkan untuk fungsi gray matter otak. Citicolin juga dinilai dapat meningkatkan sintesis asetilkolin dan memperbaharui fosfolipid dalam otak. Obat ini juga dinilai dapat meminimalisir iskemia otak dengan menurunkan radikal bebas (malondialdehida). Hal ini menjadikan citicolin dianggap memiliki efek neuroprotektif dan regeneratif, sehingga banyak digunakan pada stroke dan cedera kepala.[1,7,11–13]

 Studi Terkait Pemberian Citicolin dan Piracetam

Banyak studi yang ada terkait efek terapi citicolin dan piracetam, terutama pada struk iskemik akut dan cedera kepala. Hasil studi ini menunjukkan hasil yang beragam.

Salah satu studi meta-analisis dan studi literatur sistemik terbaru mengenai citicolin pada cedera kepala terhadap 1128 pasien menunjukkan bahwa pemberian citicolin pada cedera kepala tidak memiliki manfaat. Tidak terdapat perbedaan Glasgow Outcome Scale (GOS) pada pasien-pasien yang diberikan citicolin dan tidak, terutama pada cedera kepala akut. Sedangkan, manfaat citicolin pada cedera kepala kronik masih dipertanyakan dan memerlukan penelitian lanjutan.[3] Meta-analisis dari 12 uji klinik sebelumnya menunjukkan bahwa citicolin dapat bermanfaat dalam memperbaiki Glasgow Coma Scale (GCS) bila diberikan pada pasien cedera kepala berat (95% CI 1.302–2.530), akan tetapi hasil ini sangat heterogen pada kasus cedera kepala.[14]

Pada kasus struk iskemik, pemberian citicolin dinilai cukup signifikan. Penelitian uji klinis acak/randomized controlled trial (RCT) pada 100 pasien menunjukkan bahwa pasien yang diberikan citicolin mengalami perbaikan fungsi dalam aktifitas sehari-hari berdasarkan indeks Barthel pada follow-up 1 bulan dan 3 bulan setelah terapi (P<0.001 dan P=0.002).[15] Meta-analisis pada 10 RCT juga menunjukkan bahwa pemberian citicolin bermanfaat dalam memperbaiki fungsi neurologi pasien, terutama bila diberikan dalam 24 jam setelah onset struk (OR 1.27 95%CI: 1.05-1.53). Namun, pemberian citicolin tidak lebih baik dari reperfusi rtPA.[4] Meta-analisis lain menilai bahwa pemberian citicolin tidak bermanfaat untuk menurunkan mortalitas (OR=0.91, 95%CI: 0.07-1.09 dengan P = 0.3), tetapi pemberian citicolin aman untuk dilakukan.[16]

Data tentang penggunaan piracetam untuk struk dan cedera kepala cukup terbatas. Salah satu literatur menunjukkan bahwa piracetam dosis tinggi dapat memperbaiki afasia pada struk serta perbaikan gejala klinis pada trauma.[7] Dalam studi literatur sistemik/systematic literature review yang lebih baru dari Cochrane pada 1002 pasien menunjukkan bahwa piracetam tidak terlalu bermanfaat dalam terapi struk akut. Piracetam berhubungan dengan peningkatan mortalitas, tetapi hal ini tidak signifikan secara statistik (95% CI 81% meningkatkan - 5% menurunkan).[5]

Pertimbangan Pemberian Citicolin dan Piracetam

Penggunaan citicolin pada cedera kepala ataupun struk secara umum menunjukkan perbaikan gejala pada pasien meskipun manfaatnya terbatas dan sangat bergantung pada dosis serta waktu pemberian. Data-data yang ada menunjukkan hasil terapi yang lebih baik dengan pemberian citicoline. Pemberian citicolin juga aman untuk dilakukan dan tidak merugikan pasien. Citicolin bersifat sebagai suplemen dan tidak dapat menggantikan terapi definitif seperti reperfusi rtPA ataupun dekompresi. Pemberian piracetam tidak lebih baik dari citicoline dan pada beberapa kasus dapat meningkatkan mortalitas. Studi terkait manfaat citicolin masih terus dikembangkan dan diperbaharui untuk cedera kepala dan struk, sedangkan piracetam sudah mulai ditinggalkan.[3,5,14,16]

Referensi