Manajemen Awal Trauma Jaringan Lunak pada Wajah

Oleh :
dr. Johannes Albert B. SpBP-RE

Trauma jaringan lunak pada wajah merupakan salah satu kasus tersering yang dijumpai dalam pelayanan kegawatdaruratan. Manajemen trauma jaringan lunak wajah yang baik akan memberikan hasil rekonstruksi yang optimal dengan risiko komplikasi yang minimal.

Trauma Jaringan Lunak Wajah dan Komplikasinya

Kasus trauma jaringan lunak pada wajah merupakan salah satu kasus kedaruratan yang sangat sering ditemukan dalam praktik sehari-hari. Angka kejadiannya berkisar antara 7-10% dari seluruh kunjungan instalasi gawat darurat. Sekitar 50% kasus luka yang ditangani di instalasi gawat darurat adalah luka laserasi pada area wajah dan kepala. Penyebab trauma jaringan lunak pada wajah bervariasi mulai dari kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, olah raga, kecelakaan pada saat aktivitas sehari-hari, tindak kekerasan, gigitan hewan, hingga perlukaan yang dilakukan diri sendiri.[1,2]

shutterstock_1445861399-min

Trauma pada jaringan lunak di wajah dapat menimbulkan masalah fungsi dan estetik. Komplikasi dini yang mungkin terjadi antara lain gangguan jalan napas, kematian jaringan, dan infeksi. Trauma jaringan lunak wajah yang tidak ditangani dengan baik berpotensi menyebabkan berbagai komplikasi jangka panjang, misalnya deformitas struktur wajah, corpus alienum yang tertinggal dalam jaringan, jaringan parut yang bermasalah, ektropion, epifora, gangguan gerak wajah, gangguan sensasi pada wajah, abses akibat terputusnya saluran air liur, hingga gangguan visus.[2–5]

Prinsip Tata Laksana Emergency Trauma Jaringan Lunak Wajah

Tatalaksana kedaruratan pada kasus trauma jaringan lunak wajah mengikuti prinsip tatalaksana kedaruratan pada kasus trauma sesuai dengan protokol Advanced Trauma Life Support (ATLS). Hal paling penting yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi dan mengatasi masalah-masalah yang mungkin mengancam nyawa (life threatening condition). Kondisi mengancam nyawa yang umum ditemukan pada kasus ini adalah gangguan airway, cedera intrakranial (perdarahan intrakranial), cedera tulang belakang, perdarahan aktif, dan kemungkinan trauma multipel. Melakukan evaluasi khusus pada trauma wajah setelah kita menyelesaikan survei primer dan mengatasi semua masalah yang berpotensi mengancam nyawa pasien.[1,3]

Anamnesis Pasien dengan Trauma Jaringan Lunak pada Wajah

Anamnesis yang terarah akan sangat membantu dalam manajemen trauma jaringan lunak wajah. Informasi paling penting yang perlu didapatkan adalah waktu dan mekanisme terjadinya cedera. Kedua data ini akan sangat memengaruhi rencana manajemen pasien.[1,3]

Informasi lain yang penting untuk digali adalah riwayat imunisasi, riwayat operasi atau cedera sebelumnya pada area wajah, riwayat penyakit penyerta lainnya, dan riwayat merokok. Data tersebut dapat membantu kita untuk mengidentifikasi kelainan yang mungkin sudah ada sebelum terjadinya cedera dan faktor-faktor yang mungkin menghambat proses penyembuhan pada pasien.[1,3]

Pemeriksaan Fisik Utama pada Trauma Wajah

Pada pemeriksaan fisik dilakukan evaluasi terhadap lokasi, kedalaman, dan karakteristik cedera yang terjadi. Kita juga perlu melakukan identifikasi adanya jaringan nonvital, kontaminasi luka, dan corpus alienum. Kecurigaan adanya fraktur pada tulang-tulang wajah dapat dikonfirmasi dengan menggunakan bantuan imaging seperti foto Rontgen dan CT-Scan.[1–3]

Pada pasien yang sadar dan kooperatif, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi nervus trigeminus (sensorik pada kulit wajah) dan nervus fasialis (motorik/gerak otot wajah). Evaluasi ini penting untuk mengidentifikasi ada tidaknya cedera saraf. Struktur lain yang juga perlu dievaluasi adalah sistem lakrimal, kanalis akustikus eksterna, serta kelenjar dan saluran air liur.[1–3]

Cedera pada area sekitar mata memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan tidak ada cedera pada bola mata atau cedera yang menyebabkan kekeringan pada bola mata akibat paparan secara langsung terhadap udara luar. Pada beberapa kasus (anak-anak atau pasien yang tidak kooperatif), pemeriksaan fisik yang akurat hanya dapat dilakukan setelah luka diinfiltrasi dengan zat anestesi lokal.[1–3]

Tata Laksana Umum pada Trauma Wajah

Tatalaksana umum pada cedera jaringan lunak wajah meliputi kontrol perdarahan, irigasi luka, membuang benda asing yang ada di jaringan, debridement jaringan non-vital, dan penutupan luka. Perdarahan yang aktif dapat dikontrol dengan penekanan menggunakan kasa atau ligasi pembuluh darah.

Selanjutnya, luka diirigasi dengan cairan NaCl 0,9% dalam jumlah banyak untuk mengurangi kontaminasi pada luka. Benda asing dapat dibuang secara manual atau dengan tekanan cairan irigasi. Benda asing seperti pasir yang sering ditemukan pada vulnus ekskoriasi harus dibersihkan seluruhnya agar tidak menyebabkan gambaran “tattoo” karena tertutup di bawah lapisan epidermis yang menyembuh. Debridement surgical dilakukan untuk membuang jaringan nonvital dengan prinsip mempertahankan sebanyak mungkin jaringan lunak yang masih bisa dipertahankan, terutama pada area-area dengan struktur anatomi yang unik atau penting.[1,3]

Prinsip Penutupan Luka pada Trauma Jaringan Lunak Area Wajah

Penutupan luka sebaiknya tidak melebihi 12 jam sejak kejadian trauma, idealnya dilakukan dalam waktu kurang dari 6 jam. Luka gigitan hewan atau manusia pada wajah dapat ditutup langsung setelah diirigasi dan di debridement secara adekuat pada kasus dengan risiko infeksi yang rendah (pasien tidak immunocompromised, luka bukan berupa vulnus punctum yang dalam).[1,3,4]

Salep antibiotik topikal dapat diberikan pada luka selama 2-7 hari pertama untuk mencegah terjadinya infeksi. Pemberian antibiotik sistemik tidak rutin dilakukan, tetapi dapat dipertimbangkan pemberiannya pada luka yang sangat kotor dan kasus luka gigitan dengan risiko infeksi yang tinggi. Vaksinasi tetanus dan pemberian serum anti-tetanus diberikan pada luka yang berisiko terinfeksi tetanus, yaitu luka yang terbuka lebih dari 6 jam, luka dengan kedalaman lebih dari 1 cm, luka yang sangat terkontaminasi, gangguan vaskularisasi pada area luka, luka gigitan hewan maupun manusia, dan pasien yang belum mendapatkan booster vaksin tetanus dalam 5 tahun terakhir.[1,3,4]

Prinsip untuk Mendapatkan Penyembuhan Luka Optimal

Penutupan luka pada wajah sebaiknya mengikuti beberapa prinsip berikut:

  • Aproksimasi jaringan yang akurat, penjahitan luka yang menghasilkan eversi pada tepi luka untuk menghindari ketegangan berlebih pada jaringan
  • Penutupan luka lapis demi lapis untuk menghindari terbentuknya dead space dan akumulasi cairan.
  • Apabila luka dijahit, sebaiknya benang jahitan terluar dibuka pada hari ke-5 hingga hari ke-7 agar tidak menimbulkan parut bekas benang jahit (railroad track).
  • Area wajah yang lebih rentan mengalami pembentukan jaringan parut yang kurang baik adalah area-area wajah yang cembung (dahi, pipi, hidung, dagu) dan area yang mobile atau banyak bergerak[1,3,5]

Jenis Luka Trauma Wajah yang Dirujuk ke Spesialis Bedah Plastik

Luka yang sebaiknya dikonsultasikan ke spesialis bedah plastik rekonstruksi adalah trauma jaringan lunak yang kompleks, misalnya: disertai kehilangan jaringan lunak yang signifikan (tissue loss), amputasi struktur tertentu, disertai fraktur pada tulang wajah, mengenai struktur yang kompleks (kelopak mata, telinga, hidung), luka yang mengenai seluruh ketebalan bagian tubuh atau menembus rongga di bawahnya (luka tembus pada bibir, pipi, kelopak mata, telinga, hidung) disertai cedera struktur penting di bawah kulit (saraf, tulang rawan, sistem lakrimal, kelenjar dan saluran parotis).[1–3]

Tabel 1. Cedera Wajah yang Membutuhkan Perhatian Khusus

Letak Anatomi Penjelasan
Dahi

Luka yang mengenai perbatasan kulit yang berambut (hairline dan alis) perlu diaproksimasi dengan sempurna. Otot frontalis yang terputus harus dijahitkan satu sama lain untuk mengembalikan fungsi mengangkat alis.

Luka yang cukup dalam di atas alis atau pada sisi lateral dahi berpotensi disertai cedera nervus trigeminus cabang supraorbital dan nervus fasialis cabang temporal.

Periorbita

Cedera yang berisiko disertai cedera sistem lakrimal adalah cedera pada sisi superolateral palpebral superior dan di sekitar kantus medial palpebra superior-inferior. Laserasi yang melibatkan seluruh ketebalan kelopak mata membutuhkan teknik rekonstruksi yang lebih rumit.

Benang jahitan luar di sekitar kelopak mata harus dipastikan tidak mengenai bola mata agar tidak menyebabkan iritasi konjungtiva atau erosi kornea. Cedera pada area kantus medial dan lateral berpotensi disertai terputusnya tendon kantus palpebra.

Perioral Cedera yang menyebabkan terputusnya otot orbicularis oris memerlukan rekonstruksi otot untuk memastikan fungsi sphincter oral yang kompeten. Laserasi yang melibatkan seluruh ketebalan bibir memerlukan penjahitan yang baik pada sisi mukosa intraoral untuk memastikan air liur tidak merembes masuk ke dalam luka. Aproksimasi jaringan harus baik terutama pada area perbatasan kulit dengan vermilion bibir.
Pipi Luka yang dalam pada area pipi apalagi bila menembus hingga intraoral berisiko disertai cedera cabang saraf fasialis, kelenjar parotis, dan duktus parotis. Apabila mengalami cedera, struktur-struktur ini harus direkonstruksi untuk mencegah komplikasi berupa asimetri gerak wajah, kista air liur, dan infeksi akibat retensi air liur di bawah kulit/mukosa.
Hidung Cedera pada struktur ini dapat menyebabkan terjadinya deformitas pada hidung. Salah satu penyebab terseringnya adalah hematoma yang menyebabkan kerusakan pada struktur tulang rawan. Hal ini sering menjadi perhatian pasien karena lokasi hidung yang terletak pada bagian tengah wajah, sehingga deformitas yang terjadi akan tampak dengan jelas.
Telinga Bentuk daun telinga yang kompleks menyebabkan aproksimasi jaringan membutuhkan presisi yang lebih tinggi, apalagi bila cedera yang terjadi melibatkan tulang rawan di bawah kulit. Hematoma yang terbentuk di antara kulit dan tulang rawan karena cedera atau proses penjahitan dapat menyebabkan destruksi tulang rawan dan mengakibatkan deformitas telinga. Area ini juga merupakan area predileksi timbulnya keloid, sehingga tindakan rekonstruksi, perawatan, dan monitoring pasca tindakan perlu dilakukan untuk mencegah terbentuknya keloid.

Sumber: dr. Johannes Albert, 2020[1,3]

Kesimpulan

Trauma jaringan lunak pada wajah merupakan kasus yang sering ditemukan pada praktik sehari-hari, khususnya di instalasi gawat darurat. Penanganan trauma jaringan lunak wajah memerlukan pengetahuan anatomi, fisiologi, serta awareness untuk mengidentifikasi cedera yang berpotensi menyebabkan komplikasi jangka pendek dan jangka panjang.

Penanganan awal pada instalasi gawat darurat harus tetap menyesuaikan dengan primary survey dan secondary survey. Bila pasien sudah tertangani dengan baik, beberapa trauma wajah dapat dilakukan penutupan luka secara primer di IGD. Pada beberapa kasus, trauma wajah sebaiknya dirujuk ke bidang spesialis bedah plastik untuk mendapatkan penanganan lebih.

Trauma jaringan lunak wajah yang sifatnya kompleks sebaiknya dikonsultasikan ke dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi untuk meminimalkan potensi komplikasi pasca tindakan rekonstruksi.

Referensi