Episiotomi Rutin VS Episiotomi Selektif pada Persalinan Pervaginam

Oleh :
dr. Cipta Pramana SpOGK

Masih ada perdebatan mengenai apakah lebih baik episiotomi dilakukan secara selektif atau rutin pada ibu yang menjalani persalinan pervaginam. Episiotomi merupakan tindakan kebidanan yang dilakukan untuk memperbesar diameter jalan lahir, vagina, atau vulva untuk mempermudah lewatnya kepala janin dan mencegah robekan perineum yang luas saat berlangsungnya proses persalinan.

Prosedur episiotomi pertama kali diperkenalkan oleh Ould pada tahun 1741, dan dianjurkan untuk dilakukan pada semua persalinan primipara untuk melindungi dari trauma dasar panggul dan laserasi perineum yang tidak terkendali.[1-3] Namun, pada tahun 1920, Joseph DeLee, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan terkenal dari Chicago, merekomendasikan penggunaan episiotomi secara selektif atau hanya jika ada indikasi ibu atau janin saja.[4]

shutterstock_1543677338-min

Bukti Ilmiah: Episiotomi Rutin vs Selektif

Sebuah studi kohort prospektif yang melibatkan 100 wanita primigravida persalinan spontan dan induksi, mencoba membandingkan antara penggunaan episiotomi rutin dan selektif. Studi ini menemukan robekan vagina dan parauretra pada 14% pasien primigravida kelompok episiotomi rutin dan 22% pada kelompok episiotomi selektif, tanpa perbedaan bermakna secara statistik. Robekan perineal didapatkan pada 26% pasien kelompok episiotomi rutin dan 15,5% pasien kelompok episiotomi selektif, tanpa perbedaan bermakna secara statistik. Kebutuhan jahitan juga jauh lebih rendah pada kelompok episiotomi selektif dibandingkan episiotomi rutin (20% vs 100%), dengan 64% pasien kelompok episiotomi selektif melahirkan dengan perineum yang intak. Studi ini juga menemukan bahwa penggunaan episiotomi selektif tidak memperpanjang kala II persalinan, menghasilkan penurunan kebutuhan obat analgesik, dan tidak menyebabkan perbedaan bermakna pada luaran ibu dan janin.[5] Studi ini mengindikasikan bahwa episiotomi selektif menghasilkan luaran yang sebanding dengan episiotomi rutin, serta mampu mengurangi trauma jaringan ataupun kebutuhan jahitan yang tidak perlu.

Studi lain, berupa uji klinik yang melibatkan 3006 wanita hamil yang menjalani persalinan pervaginam, juga mencoba membandingkan episiotomi rutin dengan selektif. Studi ini tidak menemukan perbedaan bermakna kejadian laserasi perineal antara kedua kelompok. Episiotomi selektif menghasilkan luaran perineum yang lebih intak pada wanita multipara. Studi ini juga menemukan bahwa episiotomi selektif meningkatkan risiko laserasi vagina pada wanita primipara dan multipara, namun tidak menyebabkan penambahan jahitan. Luaran berupa laserasi serviks, perdarahan postpartum, komplikasi luka, asfiksia neonatus, dan perawatan bayi di ruang intensif ditemukan sebanding antar kedua kelompok.[6]

Tinjauan sistematik Cochrane library menganalisis 12 uji klinis acak terkontrol dengan total subjek 6.177 wanita. Studi ini menemukan bahwa episiotomi selektif dapat menurunkan 30% jumlah wanita yang mengalami trauma vagina atau perineal berat. Episiotomi rutin dan selektif juga tidak ditemukan menghasilkan perbedaan bermakna terkait skor Apgar neonatus, infeksi perineal, dispareunia, dan inkontinensia urine.

Peneliti menyimpulkan bahwa selektif episiotomi mampu mengurangi trauma vagina dan perineal berat, tanpa bukti harm jangka panjang baik untuk ibu maupun bayi. Manfaat penggunaan episiotomi secara rutin dalam menurunkan risiko trauma jalan lahir tidak didukung dengan bukti yang ada saat ini.[7]

Rekomendasi WHO

WHO memberikan rekomendasi bahwa episiotomi secara rutin harus dihindari dan dilakukan dengan sangat selektif. Episiotomi terutama diindikasikan pada kasus-kasus kegawatdaruratan obstetrik.

Sebelum melakukan episiotomi, tenaga medis perlu mendapat persetujuan dari pasien dan disarankan penggunaan anestesi lokal saat tindakan. Teknik yang dianjurkan adalah irisan mediolateral, karena sayatan di medial  berhubungan dengan peningkatan risiko cedera sfingter anal obstetrik kompleks. Teknik penjahitan yang disarankan adalah jahitan jelujur atau kontinyu, dibandingkan penjahitan terputus.[3,8,9]

Risiko Dilakukannya Episiotomi

Pada beberapa penelitian tentang perbandingan episiotomi selektif dan rutin, didapatkan bahwa episiotomi rutin menyebabkan laserasi perineum yang lebih berat dan serius dibandingkan episiotomi selektif.[3,7,10] Robekan perineal derajat tiga dan empat dapat mengakibatkan inkontinensia alvi sekunder, fistula rektovagina, skin tag, introitus menjadi asimetris atau menyempit, pembentukan hematoma, nyeri, infeksi, dan dispareunia.[11]

Episiotomi rutin juga meningkatkan kemungkinan timbulnya komplikasi akibat episiotomi, seperti disuria, kehilangan darah lebih banyak, nyeri, rusaknya otot sfingter ani, dan robekan spontan pada persalinan berikutnya. [10,12] Episiotomi juga bisa menyebabkan penundaan mobilisasi dan aktivitas normal, seperti duduk, berjalan, atau menggendong bayi. [10] Selain itu, episiotomi yang dilakukan secara rutin juga akan meningkatkan beban biaya medis pasien.[9]

Kondisi yang Memerlukan Episiotomi

Beberapa indikasi untuk dilakukan episiotomi meliputi distosia bahu, presentasi bokong, makrosomia, kala 2 yang lama (lebih 90 menit), riwayat cedera sfingter ani, keadaan yang memerlukan persalinan secepatnya (misal fetal distress), persalinan dengan instrumen (ekstraksi vakum atau Forseps), dan kemungkinan robekan perineum berat.[3,7,10] Selain itu, episiotomi juga perlu dipertimbangkan jika taksiran berat janin lebih dari 4000 gram.[13]

Kesimpulan

Bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa episiotomi selektif mampu mengurangi risiko trauma jalan lahir dan kebutuhan jahitan yang tidak perlu, tanpa meningkatkan risiko harm pada ibu dan janin. Episiotomi yang dilakukan tanpa indikasi medis jelas akan meningkatkan morbiditas dan beban biaya medis pasien.

Referensi