Efikasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) pada Tinitus Kronis

Oleh :
dr.Dhaniel Abdi Wicaksana, Sp.T.H.T.K.L., FICS

Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) diduga bermanfaat dalam tata laksana tinitus. Tinitus adalah telinga berdenging akibat persepsi akustik seseorang tanpa disertai adanya stimulus suara eksternal. Tinitus sejatinya merupakan suatu gejala yang tidak berdiri sendiri, bukan merupakan suatu diagnosis penyakit.

Berdasarkan suara yang dihasilkan, tinitus dibagi menjadi obyektif bila suara yang dihasilkan dapat didengar juga oleh dokter pemeriksa, atau tinitus subyektif bila hanya penderita yang dapat mendengarnya. Sementara itu, berdasarkan durasi berlangsungnya, tinitus dapat dibagi menjadi akut (kurang dari 6 bulan) maupun kronis. Tinitus akut umumnya dapat membaik dengan sendirinya, tetapi sebagian dapat berkembang menjadi kronis.[1-4]

shutterstock_1462717715

Penegakan Diagnosis Tinitus Kronis

Proses diagnosis bertujuan untuk menemukan etiologi dasar dari tinitus. Karena sebagian besar kasus tinitus terkait dengan gangguan pendengaran, anamnesis diarahkan untuk mengidentifikasi jenis tinitus, progresivitas, perjalanan penyakit, dan derajat keparahan. Tinitus dapat disertai gejala lain seperti vertigo, otalgia, otorrhea, atau kelainan sendi temporomandibular. Konsumsi obat juga perlu diidentifikasi karena berbagai obat bersifat ototoksik, seperti aspirinfurosemide, dan obat antiinflamasi nonsteroid. Keadaan psikososial dan pekerjaan penderita tinitus juga perlu ditelusuri, selain untuk identifikasi faktor risiko dan penentuan penanganan yang sesuai, juga penting untuk evaluasi prognosis penderita.

Instrumen penilaian yang banyak digunakan pada kasus tinitus adalah menggunakan Tinnitus Handicap Inventory (THI) yang sangat membantu dalam kuantifikasi tinitus dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari. THI dapat digunakan pada saat diagnosis awal, proses perawatan, dan untuk evaluasi kemajuan terapi. Kuesioner tersebut memungkinkan dokter pemeriksa untuk lebih memahami bagaimana progresivitas penyakit dan membantu dalam perencanaan penanganan penderita.

Pemeriksaan fisik dilakukan tidak hanya pada telinga, tetapi juga mencakup kepala, leher, dan dada untuk evaluasi penyebab tinitus. Pemeriksaan otoskopi merupakan modalitas utama pada pemeriksaan fisik. Membran timpani diperiksa untuk mengidentifikasi adanya cairan atau infeksi yang dapat menyebabkan tinitus. Tumor dari telinga tengah, seperti tumor glomus, dapat dievaluasi dengan pemeriksaan otoskopi pneumatik yang akan menunjukkan gambaran khas yaitu adanya tanda Brown, massa telinga tengah berwarna merah kebiruan yang memucat dengan tekanan positif.

Pemeriksaan penunjang yang paling utama adalah tes audiologi yang komprehensif. Pemeriksaan ini sebaiknya tetap dilakukan meskipun pasien tidak mengeluhkan gangguan pendengaran. Pemeriksaan ini juga dapat dilanjutkan dengan pencocokan frekuensi dan kerasnya suara bising dari tinitus. Tes tersebut bermanfaat terutama bagi penderita yang akan menjalani Tinnitus Retraining Therapy (TRT). Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah maupun radiologi dapat dipertimbangkan sesuai indikasi.[2,5]

Permasalahan dalam Manajemen Tinitus Kronis

Hingga saat ini belum tersedia algoritma tata laksana yang menjadi kesepakatan bersama dalam mengatasi tinitus. Sejauh ini, tata laksana tinitus baik akut maupun kronis adalah sesuai etiologi.

Pada kondisi akut, seperti tinitus yang terkait otitis eksterna atau otitis media, pemberian antibiotika topikal dapat bermanfaat. Namun, untuk kasus kronis penanganannya lebih rumit.

Tinnitus retraining therapy (TRT) yang menggabungkan konseling direktif dengan terapi akustik untuk menciptakan habituasi pada penderita tinitus merupakan terapi paling populer saat ini. Hal ini karena tinitus, khususnya pada kasus kronis, diduga berkaitan dengan kelainan somatosensori.

Alat bantu dengar dengan sistem masking  telah banyak tersedia di pasaran, namun tidak terbukti efektif membantu perbaikan keluhan penderita, dan harganya yang mahal membuat tidak semua penderita dapat memperolehnya. Selain itu, belum ada satupun terapi medikamentosa yang telah terbukti efektif dalam tata laksana tinitus kronis. Pembedahan untuk penanganan tinitus juga jarang dilakukan, kecuali jika penyebabnya adalah tumor.[2,4-6]

Penggunaan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation sebagai Terapi Tinitus

Penggunaan stimulasi listrik untuk pengobatan tinitus bukanlah teknik baru. Grappengiesser pada awal abad 19 merupakan penulis pertama yang mencantumkan pemanfaatan arus searah (DC) untuk pengobatan tinitus. Sejak saat itu, banyak penelitian telah dilakukan dengan hasil yang bervariasi, seperti penelitian pada tahun 1987 yang melaporkan bahwa 82% subjek yang mendapat stimulus listrik mengalami perbaikan keluhan setelah 3 bulan.

Salah satu penelitian terbesar adalah yang dilakukan oleh Steenerson dan Cronin pada tahun 2003. Pada studi ini, 500 penderita tinitus dengan penyebab yang heterogen (misalnya gangguan pendengaran sensorineural, penyakit Meniere, dan trauma kepala dan akustik) diberikan stimulasi listrik sebagai terapi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan 53% penderita tinitus mengalami perbaikan. Setelah pemantauan selama 3 bulan, 72% dari penderita tersebut tetap merasakan perbaikan gejala. Akupuntur manual maupun elektroakupuntur memiliki prinsip yang serupa dengan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), namun TENS memiliki kelebihan berupa kuantifikasi stimulasi listrik yang dihasilkan.[7,8]

Mekanisme Kerja Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation dalam Terapi Tinitus Kronis

Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) merupakan terapi noninvasif, yang umumnya dimanfaatkan untuk meredakan nyeri akut maupun kronis. TENS juga diduga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keadaan, termasuk tinitus.

Beberapa penelitian telah mendokumentasikan bahwa ada hubungan antara sistem somatosensori ke dorsal cochlear nucleus (DCN) dan telah diketahui bahwa stimulasi ganglion sensoris nervus trigeminus mempengaruhi aktivitas ventral cochlear nucleus. Cedera pada sumsum tulang belakang atau struktur somatik perifer mengurangi aktivitas DCN. Penurunan sistem inhibisi dari DCN tersebut dapat menyebabkan tinitus.

TENS di area yang dekat dengan telinga dapat meningkatkan aktivitas DCN dan menambah peran sistem inhibisi oleh DCN pada sistem saraf pusat, sehingga akan mengurangi gejala tinitus.[8,9]

Protokol pemberian TENS pada kasus tinitus sendiri masih belum seragam. Intensitas stimulus yang diberikan di berbagai studi berkisar anatara 0–100 mA, pulse duration 100-1000 ms, pulse rate berkisar 1-200 Hz, dengan lama terapi selama 20 menit hingga 2 jam tiap sesi, dan dilakukan selama 2 minggu hingga 3 bulan. Sesi terapi dapat dilakukan tiap hari dalam 2 minggu, ataupun hanya 1 sesi per minggu.[7-10]

Efikasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation pada Penderita Tinitus Kronis

Studi oleh Aydemir et al melibatkan 22 pasien dengan tinitus yang diberi terapi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). Hasil studi menunjukkan perbaikan signifikan terkait tinnitus severity scoretinnitus handicap inventory scoreNottingham health profile fatigue, isolasi sosial, masalah emosional, dan berbagai parameter short form 36  termasuk fungsi fisik, vitalitas, fungsi sosial, dan kesehatan mental.[11]

Salah satu studi yang terbaru adalah oleh Tutar et al  yang dipublikasikan pada tahun 2019. Studi ini melibatkan 60 pasien yang diacak ke dalam 3 kelompok yaitu:

  1. Mendapat stimulasi elektrik pada satu telinga
  2. Mendapat stimulasi elektrik pada dua telinga
  3. Tidak mendapat stimulasi elektrik

Hasil studi menunjukkan penurunan signifikan pada tinnitus handicap inventory score dan depression anxiety stress scale pada kelompok pasien yang mendapat stimulasi elektrik. Tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok yang mendapat stimulasi di satu telinga dengan dua telinga.[9]

Kesimpulan

Belum ada tata laksana definitif untuk tinitus kronis. Mekanisme pasti terjadinya tinitus kronis subjektif juga masih belum diketahui. Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) adalah pemberian stimulasi elektrik yang noninvasif dan telah banyak dimanfaatkan dalam tata laksana nyeri akut dan kronis. Studi yang ada menunjukkan bahwa TENS efektif dalam memperbaiki gejala tinitus dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Studi lebih lanjut dengan jumlah pasien yang lebih besar, serta meneliti protokol pemberian TENS yang terbaik, masih diperlukan sebelum tindakan ini bisa direkomendasikan.

Referensi