Panduan Praktis Klinis Cara Menggali Latar Belakang Seksual Pasien

Oleh :
dr. Adrian Prasetio

Panduan klinis untuk menggali latar belakang seksual pasien secara praktis dan komprehensif diperlukan karena tidak semua pasien merasa nyaman membahas topik ini, demikian juga dengan tenaga medis yang menangani. Namun, keadaan yang tidak nyaman ini tetap harus dilakukan untuk mencegah dan menangani HIV/AIDS atau penyakit menular seksual lain.[1-3]

Berdasarkan definisinya, kesehatan seksual adalah keadaan fisik, emosional, mental, dan sosial yang berhubungan dengan seksualitas, tidak terbatas pada tidak adanya penyakit, disfungsi, atau kelemahan. Topik mengenai kesehatan seksual sangat luas, dan mencakup pengetahuan tentang fungsi dan anatomi organ seksual, seksualitas, identitas seksual, orientasi seksual, kesehatan reproduksi, fertilitas, dan kekerasan seksual. Di Indonesia pembahasan mengenai seks masih tergolong tabu, tetapi beberapa tahun terakhir terdapat gerakan-gerakan yang berkampanye mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi mulai dari usia sekolah.[1,7]

shutterstock_1751068037-min

Tujuan Menggali Latar Belakang Seksual Pasien

Tujuan utama dari menggali latar belakang seksual pasien adalah untuk mencari etiologi, faktor risiko, dan patofisiologi masalah kesehatan seksual pasien. Umumnya dilakukan sebelum dilakukan pemeriksaan genitalia pria atau wanita. Tujuan lain dari anamnesis ini di antaranya untuk mengidentifikasi pasien yang membutuhkan profilaksis prapajanan (pre-exposure prophylaxis / PrEP) HIV/AIDS, mencegah penyebaran penyakit menular seksual, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan maupun praktik seksual yang tidak aman. Petugas kesehatan selama anamnesis tidak boleh memberi penilaian secara tergesa-gesa terhadap status seksual pasien, seperti impotensi dan frigiditas.[3,4]

Upaya Menggali Latar Belakang Seksual Pasien

Kebanyakan tenaga medis merasa ragu tentang bagaimana cara membahas topik tentang fungsi seksual. Prinsip umum dalam menggali latar belakang seksual adalah:

  • Memastikan kerahasiaan dan privasi pasien
  • Mempertahankan kontak mata dan tidak menghakimi
  • Memperhatikan komunikasi non verbal
  • Menanyakan pertanyaan dengan terminologi yang tepat
  • Menanyakan pertanyaan umum lebih dulu, kemudian melanjutkan kepada pertanyaan spesifik
  • Menjelaskan semua prosedur dan terapi secara jelas[4]

Menyediakan Ruangan yang Aman

Upaya untuk membahas topik yang sensitif ini dapat dimulai dari menyediakan ruangan yang yang aman, nyaman, rahasia, dan tidak menghakimi. Dapat memperlihatkan gambar-gambar seksualitas yang beraneka macam pada ruang tunggu.[1,4,5]

Memperlihatkan Bahasa Tubuh yang Baik

Bahasa tubuh petugas medis harus terlatih baik, yaitu bersikap tenang, mempertahankan kontak mata, dan tidak gagap dalam berbicara. Sikap yang baik akan meningkatkan kepercayaan pasien, sehingga yakin bahwa mereka dapat menceritakan apapun dan kerahasiaannya akan terjaga dengan baik. Menggunakan nada yang sensitif dapat menormalisasi topik yang dibahas. Membina relasi yang baik berperan penting dalam menggali latar belakang seksual secara komprehensif. Idealnya, penggalian latar belakang seksual dilakukan bersama pasangan dari pasien.[1,4,5]

Memilih Terminologi yang Tepat

Petugas medis harus memilih terminologi yang sensitif secara kultural. Bahasa yang digunakan adalah kata-kata yang inklusif secara gender dan mengurangi bias. Petugas medis tidak boleh memberikan asumsi berdasarkan gender pasien, dan penilaian risiko harus didasarkan pada latar belakang seksual tiap pasien. Hati-hati dalam menanyakan identitas gender saat ini dan jenis kelamin saat lahir. Memastikan bagaimana pasien ingin diidentifikasi menunjukkan bahwa petugas medis menghargai diri pasien. [4]

Penggalian latar belakang seksual dimulai dengan meminta izin kepada pasien untuk membicarakan riwayat seksual. Berikan penegasan bahwa menanyakan hal tersebut dilakukan kepada semua pasien. Apabila pasien ditemani oleh pasangan atau keluarga, mintalah mereka untuk menunggu di ruang tunggu. Pertanyaan awal bersifat terbuka kemudian semakin spesifik seiring dengan berjalannya pemeriksaan.[3,4,6]

Beberapa contoh kalimat awal saat akan mulai menggali latar belakang seksual pasien adalah:

  • “Saya akan menanyakan beberapa hal mengenai latar belakang seksual anda. Saya menanyakan hal ini kepada semua pasien saya. Apapun yang anda ceritakan kepada saya bersifat rahasia”
  • “Saya akan menanyakan beberapa hal tentang kesehatan dan kegiatan seksual anda. Saya paham bahwa pertanyaan ini bersifat pribadi, tetapi hal ini penting untuk kesehatan anda”[2,4]

Poin-poin penting untuk membahas kesehatan seksual terdiri dari:

  • Menghindari menghakimi perilaku pasien secara moral atau agama
  • Memastikan pemahaman bersama mengenai terminologi dan pengucapan kata-kata untuk menghindari kekeliruan, contohnya apabila pasien menggunakan istilah untuk anatomi mereka, hubungkan istilah tersebut dengan terminologi medis dengan menjawab menggunakan anatomi yang benar
  • Membina hubungan yang baik dan meminta persetujuan sebelum membahas topik yang sensitif
  • Menghargai hak pasien untuk menolak menjawab pertanyaan atau membagikan informasi[3]

Tabel 1. Menggunakan Bahasa yang Tepat

Hindari Gunakan
Apa Anda sudah menikah? Apa status hubungan Anda sekarang?
Anda sudah menikah, jadi Anda tidak memerlukan pemeriksaan penyakit menular seksual, kan? Apakan Anda memiliki pasangan seksual yang baru setahun terakhir?
Apakah Anda mencurigai pasangan Anda berselingkuh? Apakah pasangan Anda memiliki pasangan lain?
Apakah Anda tidur dengan banyak orang? Berapa banyak pasangan seksual yang Anda miliki?
Apakah Anda seorang pengguna obat injeksi? Apakah Anda pernah menyuntikkan obat?

Sumber: Center of Disease Control. 2020[2]

Informasi yang Didapat dari Menggali Latar Belakang Seksual Pasien

Menggali latar belakang seksual pasien dilakukan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis penyakit maupun untuk edukasi dan promosi penyakit. Berbagai informasi harus didapat dari proses anamnesis ini, terutama informasi 5P yang terdiri dari partner, practices, past history/protection, pregnancy plans, dan pleasure.[1,3]

Partner

Mengetahui gender dan jumlah pasangan seksual pasien penting untuk menilai risiko penyakit menular seksual. Perlu diketahui penggunaan kondom dan faktor risiko pasangan apabila pasien memiliki lebih dari satu partner dalam 12 bulan terakhir. Apabila hanya satu pasangan, galilah seberapa dalam hubungan tersebut. Ketahui faktor risiko pasangan dan riwayat penggunaan zat. Jangan pernah memberikan asumsi mengenai orientasi seksual pasien. Riwayat seksual mencakup aktivitas seksual pasien di masa lalu, walaupun sekarang tidak aktif secara seksual.[1,3]

Practices

Aktivitas seksual pada pasien yang memiliki pasangan seksual lebih dari satu atau dengan pasangan yang memiliki pasangan lain perlu digali lebih dalam. Termasuk aktivitas atau cara kontak seksual yang pernah dilakukan pasien, seperti hubungan koitus genital (penis ke vagina), anal (penis ke anus), dan oral (mulut ke penis, vagina, atau anus).[1,3]

Past History/Protection

Pertanyaan terbuka lebih baik digunakan dalam menggali riwayat penyakit seksual terdahulu, yaitu arah pertanyaan mengikuti jawaban dari pasien. Riwayat penyakit menular seksual patut digali lebih dalam karena menempatkan pasien pada risiko yang lebih besar.[1,3]

Apakah pasien pernah mengalami penyakit menular seksual, kapan, dan bagaimana ditanganinya saat itu. Pertanyaan yang sama ditujukan juga untuk pasangan pasien. Dilanjutkan pertanyaan apakah keluhan penyakit menular seksual yang lalu berulang. Pasien juga harus ditanyakan mengenai faktor risiko terkait HIV, seperti transfusi darah, cedera tusukan jarum, penggunaan obat intravena, penyakit menular seksual, dan pasangan yang mungkin berisiko. Apakah pasien pernah melakukan pemeriksaan HIV atau penyakit menular seksual lain, dan apakah mau menjalani pemeriksaan tersebut kembali saat ini.[1,3]

Riwayat terdahulu juga termasuk riwayat penggunaan proteksi oleh pasien dan pasangan untuk mencegah penyakit menular seksual. Apabila tidak, harus digali alasannya. Apabila iya, maka ditanyakan jenis proteksi yang digunakan. Dan bila jawabannya terkadang, maka perlu dilanjutkan dengan pertanyaan seberapa sering, pada situasi apa, dan bersama siapa saat menggunakan proteksi. Berikan kesempatan pasien untuk berdiskusi mengenai alat proteksi yang dianjurkan dari sisi kesehatan.[1,3]

Pregnancy Plans

Penggalian mengenali rencana kehamilan dilakukan berdasarkan informasi yang didapatkan dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Ketahui apakah pasien berisiko hamil, dan apakah kehamilan tersebut direncanakan. Setiap pertanyaan harus disesuaikan dengan gender pasien.[1,3]

Pleasure

Pleasure atau kenikmatan yang dirasakan pasien saat berhubungan seksual adalah untuk menggali risiko penularan penyakit maupun risiko gangguan seksual. Informasi yang ditanyakan adalah mengenai penggunaan peralatan tertentu untuk meningkatkan gairah seksual, pengalaman nyeri selama berhubungan seks (dispareunia), kesulitan dengan lubrikasi, kesulitan mencapai orgasme, disfungsi ereksi, dan gangguan ejakulasi. Berikan kesempatan pasien untuk berdiskusi mengenai fungsi seksualnya dan apakah ada aktivitas seksual yang ingin atau perlu untuk diubah.[1,3]

Akhir dari Menggali Latar Belakang Seksual Pasien

Pada akhir dari anamnesis, berikan apresiasi terhadap keterbukaan pasien dan penggunaan proteksi diri pasien. Mungkin pasien menyatakan informasi yang tidak siap ia diskusikan sebelumnya, karena itu selalu akhiri diskusi dengan memberi kesempatan pasien bertanya tentang kesehatan seksual atau praktik seksual yang ingin didiskusikan. Petugas kesehatan dapat mengatakan “Apakah ada pertanyaan atau kekhawatiran lain terkait kesehatan seksual yang ingin Anda bahas?”.[3]

Profilaksis prapajanan

Pengambilan latar belakang seksual yang komprehensif akan membantu tenaga medis untuk melakukan tindakan profilaksis prapajanan (pre-exposure prophylaxis / PrEP). Tindakan preventif meliputi skrining penyakit menular seksual, konseling perilaku, dan konseling prakonsepsi. Abstinensia, monogami, dan penggunaan kondom rutin dengan benar dapat menurunkan risiko penyakit menular seksual. Berikan perhatian khusus pada tindakan seksual yang berisiko tinggi, dan tawarkan rujukan apabila diperlukan. [1,3]

Pasien yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV dapat diberikan profilaksis prapajanan HIV. Hingga saat ini, terapi tenofovir atau emtricitabine merupakan regimen profilaksis prapajanan yang disetujui FDA (Food and Drug Administration). Pemberian obat ini dilakukan pada pasien berikut:

  • Pasien HIV negatif dan sedang dalam relasi seksual bersama pasangan HIV positif
  • Pasien yang tidak menjalani hubungan monogami bersama dengan pasangan yang baru saja mendapatkan hasil HIV negatif, dan pasien gay atau biseksual dengan riwayat seks anal tanpa kondom atau telah didiagnosa dengan penyakit menular seksual dalam kurun waktu 6 bulan terakhir
  • Pasien yang tidak menjalani hubungan monogami dengan pasangan yang baru saja mendapatkan hasil HIV negatif dan merupakan pria heteroseksual atau wanita yang tidak secara rutin menggunakan kondom selama berhubungan seksual dengan pasangan dengan status HIV tidak diketahui dengan risiko tinggi mengalami infeksi HIV
  • Pasien dengan riwayat injeksi obat dalam 6 bulan terakhir dan menggunakan jarum suntik yang dipakai bersama atau telah menjalani terapi obat dalam 6 bulan terakhir[1]

Kesimpulan

Menggali latar belakang seksual dapat menimbulkan ketidaknyamanan baik bagi pasien maupun tenaga medis yang memeriksa. Meskipun demikian, penggalian latar belakang seksual tetap harus dilakukan untuk mengidentifikasi pasien yang membutuhkan profilaksis prapajanan, mencegah penyakit menular seksual, serta menghindari kehamilan yang tidak diinginkan dan praktik seksual yang tidak aman.

Pasien harus merasa nyaman dan aman dalam membahas hal yang sensitif, karena kepercayaan pasien akan meningkatkan keberhasilan penggalian latar belakang seksual yang komprehensif. Topik yang harus digali dalam pemeriksaan dirumuskan sebagai 5P, meliputi partner, past history, protection, pregnancy, pleasure. Pemeriksaan harus dilakukan secara komprehensif untuk menentukan langkah-langkah preventif dan intervensi yang mungkin dibutuhkan oleh pasien dan atau pasangannya.

 

Penulisan pertama: dr. Hunied Kautsar

Referensi