Pertolongan Pertama Prehospital Luka Bakar

Oleh :
dr. Sandy S Sopandi

Pertolongan pertama pre hospital yang adekuat pada pasien luka bakar termal  sebelum pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan memadai dapat memberikan outcome yang baik. Tatalaksana rujukan ini setelah  memastikan tidak adanya cedera yang mengancam nyawa. Outcome yan baik dinilai dari menurunnya angka morbiditas dan mortalitas pasien, serta hasil penyembuhan luka yang optimal baik secara fungsional maupun estetik.[1]

Di Indonesia, setiap tahunnya terdapat sekitar 200.000 kematian akibat luka bakar yang fatal, namun lebih banyak kasus luka bakar nonfatal yang terjadi di rumah atau tempat kerja. Hal ini menyebabkan pentingnya mengetahui tatalaksana awal luka bakar prehospital yang bisa dilakukan oleh siapa saja.[2]

Depositphotos_48906869_s-2019-min

Selain dokter umum, tenaga awam nonprofesional seperti teman, saudara atau orang di sekitar lokasi kejadian dapat memberikan pertolongan pertama pada luka bakar akut. Pertolongan yang segera diberikan berperan penting dalam rangkaian manajemen luka bakar. Karena itu, tindakan pertolongan pertama luka bakar harus dilakukan secara seragam, sesegera mungkin setelah awitan, dan oleh siapapun.[2]

Pertolongan pertama cepat, tepat dan seragam diperlukan untuk pertolongan pertama pada luka bakar. Karena luka bakar merupakan luka kronik, maka pengetahuan tentang dressing luka kronik yang tepat diperlukan dalam penanganan awal luka bakar. Pada sebuah studi di Vietnam, hanya 27,2% pasien anak penderita luka bakar yang menerima pertolongan pertama yang tepat. Sementara sebanyak 25,5% pasien masih menerima terapi dengan bahan-bahan rumah tangga seperti pasta gigi, minyak hewan, rumput, bumbu masak, dan lain-lain. Hal ini umum dijumpai dalam kasus-kasus luka bakar di negara berkembang.[3]

Pertolongan pertama pada lokasi kejadian kebakaran mencakup 3 aspek yaitu: menghentikan proses pembakaran, mendinginkan suhu luka bakar, dan mencegah hipotermia.[1,3]

Menghentikan Proses Pembakaran

Tindakan menghentikan proses terjadinya luka bakar bertujuan untuk meminimalisasi kerusakan jaringan akibat panas. Penanganan pertama luka bakar adalah menghentikan sumber panas seperti api atau air panas. Secara teori, api membutuhkan tiga unsur, yaitu oksigen, bahan bakar, dan ignition. Eliminasi salah satu unsur tersebut akan menghentikan api. Pada kasus luka bakar akibat api, tubuh manusia berperan sebagai unsur bahan bakar, sehingga pasien harus dipisahkan dari sumber panas dan dibawa ke tempat aman.[2]

Salah satu teknik yang didesain untuk pasien terbakar adalah Stop Drop Cover (face) and Roll. Pasien berhenti bergerak, tiarap ke tanah, menutupi wajah, dan berguling untuk memadamkan api.[1,5] Pasien diwajibkan melepaskan seluruh unsur penghantar panas seperti pakaian dan perhiasan. Tindakan ini bertujuan untuk membantu penilaian luka dan tata laksana lanjutan yang akurat. Pakaian khusus dengan material adheren seperti pakaian nilon harus dibiarkan terpasang bila kain meleleh dan menempel pada pasien.[1,3,5]

Mendinginkan Suhu Luka Bakar

Upaya mendinginkan luka bakar bertujuan untuk mengurangi produksi mediator inflamasi dan mempertahankan viabilitas zona stasis. Sesuai dengan rekomendasi Australian and New Zealand Burn Association (ANZBA), pertolongan pertama dilanjutkan dengan mendinginkan luka bakar dengan air mengalir selama 20 menit sesegera mungkin.[1,5-9]

Studi Kohort Mengenai Keuntungan Pendinginan Menggunakan Air Mengalir

Sebuah penelitian cohort melaporkan bahwa pendinginan selama 20 menit dengan air mengalir sebelum rujukan ke unit luka bakar menurunkan kemungkinan operasi rekonstruksi tandur kulit sampai 13%, pemindahan ke perawatan ICU turun sebanyak 48%, dan  memperpendek durasi rawat inap sebesar 18%.[6]

Hal serupa diungkapkan oleh Nguyen et al, pasien anak dengan luka bakar dalam yang mendapatkan terapi irigasi memiliki kebutuhan tindakan operasi skin grafting sebesar 32% lebih rendah dan menjalani lama perawatan yang lebih singkat.[7] Selain itu pendinginan memberikan efek analgesik yang efektif. Tindakan pendinginan masih efektif bila dilakukan dalam 3 jam setelah awitan cedera.[1,5,9]

Studi in vivo  menunjukkan bahwa pendinginan selama 20 dan 30 menit menghasilkan peningkatan suhu yang lebih kecil setelah pendinginan dihentikan dan perbaikan histologis yang lebih baik dibandingkan kelompok yang menerima pendinginan selama 5 dan 10 menit. Pendinginan dengan durasi lebih sebentar (5 dan 10 menit)  memberikan efek analgesik Sementara durasi yang panjang (30 menit) tidak menampilkan perbaikan yang signifikan dan menimbulkan risiko hipotermia terutama pada pasien dengan luka bakar luas (>25% luas permukaan tubuh) dan pasien anak, sehingga 20 menit tetap merupakan durasi pendinginan yang optimal.[10,11]

Proses pendinginan dengan air mengalir akan membersihkan luka dan membilas agen berbahaya, mengurangi reaksi inflamasi dengan menstabilkan sel mast dan pelepasan histamin maupun sitokin, serta menghentikan progresi nekrosis pada zona stasis. Pendinginan luka bakar mempertahankan struktur sitoplasma dan membran basalis, yang akan mensinyalir regenerasi epidermis. Hal ini mempercepat proses penyembuhan yang lebih adekuat dan meminimalisasi perlunya tindakan bedah dan pembentukan parut patologis.[1,5,7-9]

Suhu air untuk mendinginkan luka yang direkomendasikan adalah 15 derajat celsius. Tidak dianjurkan menggunakan air es atau es batu. Suhu dingin yang ekstrim menyebabkan vasokonstriksi dan memperdalam cedera jaringan.[1,6] Pendinginan luka bakar pada hewan coba babi dengan air es atau air dingin (1 - 8 derajat celsius) terbukti menghasilkan kerusakan jaringan yang lebih hebat.[13] Selain itu, pasien berisiko menderita hipotermia yang dapat meningkatkan mortalitas.[1,6,14-15]

Bila ada keterbatasan air mengalir, dapat dilakukan metode lain seperti menyemprotkan air atau memeras air dari spons, meskipun tidak seefektif air mengalir. Kain basah juga tidak memiliki efisiensi optimal karena tidak dapat menjangkau seluruh area luka bakar. Selain itu suhu kain basah cepat meningkat karena posisinya yang dekat dengan tubuh. Bila digunakan metode kompres kain basah, kain perlu sering diganti.[1]

Sebuah studi oleh Yuan membandingkan berbagai metode pendinginan luka bakar pada hewan coba babi. Hewan coba dikenakan luka bakar dengan air panas, diberikan pendinginan selama 20 menit, lalu foto klinis dan histologi jaringan diperiksa pada hari ke-1 dan ke-9. Kelompok kontrol (tanpa perlakuan pendinginan) menunjukkan luka bakar dengan kedalaman yang menetap atau memburuk. Hasil pada kelompok kain basah dan semprotan air menunjukkan variabilitas. Kelompok yang mendapatkan perlakuan air mengalir menunjukkan perbaikan kedalaman luka yang konsisten.[6]

Efektivitas Hidrogel sebagai Agen Pendinginan

Hidrogel, yang merupakan dressing dengan 96% air, juga efektif sebagai pilihan untuk menurunkan suhu luka dan menghasilkan penyembuhan yang dapat dibandingkan dengan metode kompres air. Sampai saat ini belum ada studi yang mendukung efektifitas hidrogel sebagai agen pendingin. Secara hipotesis, hidrogel sangat efektif sebagai evaporative cooling agents namun cara kerja belum diteliti secara khusus.[16]

Meskipun harga lebih mahal dan tidak tersedia bebas, aplikasi hidrogel dapat dilakukan lebih jarang daripada kompres air (biasanya hidrogel mengering 1 jam setelah aplikasi).[9] Namun berdasarkan pedoman ANZBA, hidrogel tidak sebaiknya digunakan pada pertolongan pertama, tetapi dapat digunakan sebagai dressing untuk transportasi bila terapi lini pertama lain tidak tersedia. Hidrogel efektif sebagai dressing dengan efek analgesik, tetapi mengandung risiko menimbulkan hipotermia pada luka bakar luas dan pasien anak.[1,9]

Menghindari Hipotermia

Pasien luka bakar memiliki risiko hipotermia, terutama pada populasi anak karena permukaan tubuh yang luas dibandingkan volume cairan. Pasien tetap harus dijaga agar tetap hangat dan kering bila memungkinkan.[11] Menjaga eutermia pada pasien luka bakar bertujuan untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas kasus luka bakar. Hipotermia terbukti meningkatkan infeksi luka, memperpanjangan durasi rawat inap, dan perburukan pasca-operasi.

Pada kasus luka bakar pasca pendinginan, nyeri kembali timbul setelah air mengalir dihentikan dan tidak terdapat faktor lain yang menghalangi tindakan tersebut, pemberian air mengalir dapat dilanjutkan untuk memperoleh efek analgesik.[1] Proses pendinginan tidak seharusnya menyebabkan pasien menggigil.[3]

Manajemen Luka Bakar Awal

Pada manajemen awal luka bakar, perlu diperkirakan pasien untuk dipersiapkan untuk transfer ke fasilitas kesehatan yang memadai pada kasus luka bakar berat. ANZBA memberikan beberapa kriteria rujukan, seperti:

  • Pasien dewasa dengan luka bakar >10% Total Body Surface Area (TBSA)
  • Pasien anak dengan luka bakar >5% TBSA
  • Luka bakar pada daerah wajah,tangan, kaki, genital,perineum, sendi-sendi mayor dan luka bakar sirkumferensial di kaki atau dada
  • Cedera inhalasi
  • Pasien luka bakar dengan penyakit komorbiditas
  • Luka bakar dengan cedera multiple
  • Luka bakar pada usia sangat muda dan tua

Pasien tanpa komorbiditas dapat dipertimbangkan untuk manajemen rawat jalan. Bila ragu, konsultasikan atau rujuk pasien ke unit luka bakar atau fasilitas bedah plastik setempat.[5,9,11]

Dokter umum dapat menghitung luas luka bakar dengan cara rule of nine, Lund and Browder chart, atau teknik palmar. Setelah mengetahui luas luka bakar, dapat dilakukan resusitasi awal menggunakan rumus Parkland 3-4 mL x KgBB x luas luka bakar. Sambil merencanakan rujuk ke fasilitas yang sesuai.[17]

Sebelum dirujuk ke fasilitas yang sesuai dan pertolongan pertama diberikan, luka sebaiknya dicuci dengan air, saline, atau larutan chlorhexidine 0,1% aqueous disertai sabun.[1] Dressing luka yang diberikan pada fase awal diberikan sesuai waktu transportasi ke unit kesehatan tujuan. Bila pasien dapat tiba di unit rujukan dalam 8 jam sejak awitan, luka dapat ditutup dengan pembungkus plastik polivinyl klorida (plastic wrap, cling film) atau dressing lain yang kering dan bersih. Berikan injeksi tetanus pada pasien luka bakar dengan cedera jaringan yang ekstensif.

Pembungkus plastik direkomendasikan karena steril, tersedia dalam ukuran besar, tidak menempel pada luka, mudah dibentuk, transparan (sehingga memudahkan inspeksi luka), serta mengurangi penguapan dan kehilangan panas tubuh. Bila waktu transportasi berkepanjangan, dapat digunakan dressing antimikroba topikal sesuai hasil konsultasi dengan unit rujukan. Pemakaian dressing tidak boleh mengkonstriksi atau melingkari ekstremitas.[1,3,5]

Area luka sebaiknya dielevasi selama manajemen awal dan transportasi. Elevasi dapat mengurangi edema yang menghambat perfusi dan penghantaran nutrisi jaringan, sehingga meningkatkan kemungkinan jaringan bertahan hidup serta menunda atau menghindari perlunya eskarotomi.[1,8]

Kesimpulan

Pertolongan pertama pada pasien luka bakar kulit tanpa cedera yang mengancam nyawa harus dilakukan secara tepat, seragam, sesegera mungkin setelah awitan, dan oleh siapapun. Proses pertolongan pertama luka bakar ini penting diketahui oleh tenaga medis atau orang awam untuk mengurangi paparan termal pada pasien dengan luka bakar.

Pertolongan pertama ini dibagi menjadi 3 aspek yaitu menghentikan proses luka bakar, pendinginan dan pencegahan hipotermia. Menghentikan proses luka bakar dilakukan dengan cara Stop Drop Cover (face) and Roll. Dilanjutkan dengan proses pendinginan. Proses pendinginan menjadi hal penting sebagai pertolongan awal pada pasien luka bakar. Proses pendinginan selama 20 menit dengan air mengalir terbukti secara klinis memperbaiki long-term outcome dari pasien dengan luka bakar. Pencegahan hipotermia sebelum merujuk terbukti untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas pasien.

Memberikan penyuluhan ke masyarakat dan komunitas mengenai pencegahan dan penanganan luka bakar awal merupakan salah satu peran penting dokter. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan outcome yang baik pada pasien dengan luka bakar.

Penentuan rujukan dan resusitasi awal penting dalam penanganan lanjutan pasien luka bakar. Seperti pengenalan luas bakar dengan resusitasi awal sesuai dengan rekomendasi yang sudah tertera.

Referensi