Alat Tes pada Popok untuk Skrining Infeksi Saluran Kemih pada Anak – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Anastasia Feliciana

Diaper-embedded urine test device for the screening of urinary tract infections in children: a cohort study

Paalanne N, Wikstedt L, Pokka T, et al. BMC Pediatrics. 2020;378(20):1-7. DOI: 10.1186/s12887-020-02277-5

studilayak

Abstrak

Latar belakang: Dibutuhkan suatu metode yang mudah dan sensitif untuk skrining infeksi saluran kemih (ISK) pada anak. Peneliti menguji kelayakan dan keandalan alat tes urin baru yang menempel pada popok sebagai alat skrining ISK pada anak.

Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menguji alat tes pada popok untuk skrining ISK pada anak.

Metode: Studi kohort prospektif ini melibatkan subjek anak yang dicurigai mengalami infeksi saluran kemih pada instalasi gawat darurat pediatri Rumah Sakit Oulu, Finlandia. Peneliti menganalisis sampel urin yang sama menggunakan tiga metode berbeda, yaitu: (1) Uji memakai alat yang tertanam pada urine pad dalam popok, (2) Uji dipstick di mana sampel diperoleh dari urine pad dalam popok, dan (3) Uji analisa kimia menggunakan alat otomatis di laboratorium di mana sampel diperoleh dari urine pad dalam popok. Baku emas konfirmasi infeksi saluran kemih adalah dengan kultur bakteri kuantitatif.

Hasil: Sampel urin diperoleh dari 565 anak. Dari keseluruhan sampel, kultur bakteri positif infeksi saluran kemih ditemukan pada 143 anak. Sensitivitas skrining leukosit positif dari alat yang tertanam pada popok adalah 93,1%, dari alat dipstick adalah 95,4% dari total 528 sampel yang bisa dilakukan kedua tes tersebut. Sensitivitas skrining leukosit positif dari alat yang tertanam pada popok adalah 91,4%, dari alat laboratorium otomatis adalah 88,5% dari total 547 sampel yang bisa dilakukan kedua tes tersebut.

Waktu yang dibutuhkan dari berkemih sampai memperoleh hasil adalah: segera (langsung) untuk alat tes yang tertanam pada popok, 1-5 menit untuk alat dipstick, dan 30-60 menit untuk alat analisis kimia otomatis di laboratorium.

Kesimpulan: Dari studi prospektif ini disimpulkan bahwa alat tes yang tertanam pada popok merupakan metode yang mudah dan sensitif untuk skrining infeksi saluran kemih pada anak usia muda. Manfaat yang paling besar secara klinis adalah hasil pemeriksaan yang cepat atau langsung dapat diperoleh.

Dirty,Baby,Diaper,Pant,With,Urine

Ulasan Alomedika

Infeksi saluran kemih adalah penyakit yang cukup umum dijumpai di praktik, terutama pada pasien anak. Metode-metode non-invasif dilakukan untuk mengambil sampel urin, termasuk pengambilan sampel urin dari urine pad dalam popok. Baku emas untuk diagnosis infeksi saluran kemih adalah kultur urin kuantitatif dari sampel clean catch atau aspirasi urin suprapubik, namun hasil tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat.

Skrining infeksi saluran kemih (ISK) idealnya adalah menggunakan metode yang sensitif, cepat dan non-invasif. Alat dipstick urin adalah alat yang terjangkau dan digunakan secara luas untuk skrining ISK saat ini. Demikian juga dengan alat analisis kimia otomatis laboratorium yang cukup umum digunakan untuk skrining ISK, tetapi sayangnya tidak dapat dilakukan di tempat yang sama dengan pasien (bukan point-of care test).

Saat ini terdapat alat skrining ISK yang tertanam dalam popok, tetapi belum ada studi yang menguji akurasi diagnosis alat ini untuk skrining ISK pada bayi dan anak usia muda.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan uji kohort prospektif dengan mengambil sampel dari anak usia muda yang dicurigai mengalami ISK di unit gawat darurat pediatrik, Rumah Sakit Pendidikan Oulu, Finlandia. Peneliti mengambil subjek antara 1 Juni 2013 hingga 31 Augustus 2017.

Intervensi dan Luaran:

Setelah orang tua subjek menandatangani lembar persetujuan, perawat pediatrik akan memasang alat tes skrining ISK pada urine pad di popok anak. Perawat akan mengecek alat setiap 30 menit. Orang tua subjek akan diminta laporan kemudahan pengambilan sampel dengan visual analog scale 0-90 mm (0 berarti paling mudah, 90 berarti paling sulit).

Kejadian tidak diinginkan akan dicatat oleh perawat atau orang tua. Perawat juga memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil setelah anak berkemih. Pada akhirnya, perawat akan diwawancarai kemudahan pengambilan sampel dari setiap metode. Minimal satu sampel urine pad diperoleh dari semua anak, sedangkan metode pengambilan sampel tambahan dipilih oleh dokter anak yang menangani.

Apabila aspirasi suprapubik tidak dilakukan atau clear catch urine gagal diperoleh, maka sampel tambahan kedua diperoleh dari urine pad.

Keterangan Alat:

Alat skrining yang tertanam pada popok memiliki nama merk Tena-U® (digunakan untuk masa studi 2013-2017) dan Essity Hygiene® (digunakan di tahun 2017). Alat ini diletakkan pada urine pad sedekat mungkin dengan orifisium uretra. Alat ini dapat mendeteksi leukosit dan nitrit pada urin. Perawat akan menginterpretasi hasilnya, kemudian mengaspirasi sampel dari urine pad untuk pemeriksaan dipstick dan pemeriksaan kimia urin otomatis di laboratorium.

Penegakan Diagnosis Infeksi Saluran Kemih:

Diagnosis ISK menggunakan metode baku emas yaitu kultur bakteri urin kuantitatif. Diagnosis ISK tegak apabila:

  • Terdapat pertumbuhan >104 colony-forming units (cfu)/mL dari dua sampel urin bersih atau sampel urin yang diambil dari urine pad

  • Bila hanya ada satu sampel, diagnosis tegak bila ada pertumbuhan >105 cfu/mL dari dua sampel urin bersih atau sampel urin yang diambil dari urine pad

  • Adanya pertumbuhan bakteri berapapun pada sampel urin yang diambil dari aspirasi suprapubik.

Metode diagnosis baku emas ini hampir mirip dengan dengan panduan diagnosis ISK anak dari European Association of Urology (EAU) di mana diagnosis ISK tegak bila kultur urin dari clean catch urine ≥104 CFU/ml untuk pasien dengan gejala dan ≥105 CFU/ml untuk pasien tanpa gejala. EAU juga menekankan bahwa clean catch urine memiliki kemungkinan kontaminasi yang jelas lebih tinggi (26%) dibandingkan aspirasi suprapubik.[2]

Ulasan Hasil Penelitian

Penelitian ini sudah memenuhi jumlah sampel minimal (553 sampel), yaitu sebanyak 565 pasien. Dilakukan perbandingan antara alat yang tertanam di popok dengan tes dipstick (sebanyak 528 sampel) serta alat yang tertanam di popok dengan alat otomatis di laboratorium (sebanyak 547 sampel). Kemudian diagnosis ISK dikonfirmasi dengan kultur bakteri, dan ditemukan diagnosis ISK pada 143 anak (62,2% perempuan dan 37,8% laki-laki), di mana patogen terbanyak (87,4%) adalah Escherichia coli.

Sampel kultur lainnya sebanyak 422 sampel menghasilkan hasil negatif sebanyak 29,6% (125 sampel), pertumbuhan bakteri normal atau campuran sebanyak 57,3% (242 sampel) dan pertumbuhan patogen kontaminasi sebanyak 13% (55 sampel). Tingkat kontaminasi dengan metode aspirasi dari urinary pad cukup tinggi yaitu mencapai 52,6%. Aspirasi suprapubik dilakukan pada 56 subjek. Dari 56 sampel tersebut, 16 menghasilkan kultur negatif dan hanya 1 yang termasuk kontaminasi.

Akurasi Diagnosis:

Sensitivitas untuk deteksi leukosit positif pada kasus infeksi saluran kemih yang terkonfirmasi oleh kultur adalah 93,1% untuk alat yang tertanam di popok dan 95,4% untuk point-of-care dipstick. Spesifisitas adalah 64,4% untuk alat yang tertanam di popok dan 77,3% untuk dipstick.

Positive predictive value (PPV) untuk alat yang tertanam di popok adalah 46,4%, sedangkan untuk uji dipstick adalah 58,1%. Negative predictive value (NPV) tinggi untuk kedua tes, yaitu 96,6% untuk alat yang tertanam di popok dan 98,1% untuk uji dipstick.

Penggunaan Metode:

Alat uji urin dalam popok dilaporkan lebih mudah digunakan oleh perawat dibandingkan dengan metode pemeriksaan konvensional. Hasil dari alat uji urin dalam popok siap segera setelah pengamatan buang air kecil dilakukan oleh anak. Uji dipstick di tempat membutuhkan waktu 1-5 menit, sedangkan pemeriksaan otomatis berbasis laboratorium membutuhkan waktu 30 hingga 60 menit.

Orang tua merasa pengambilan sampel mudah dengan skor rata-rata pada skala visual analog sebesar 9,3 dari rentang 0 mm untuk mudah hingga 90 mm untuk sangat sulit. Dari total 787 sampel, hanya 3% (24 sampel) hasil dari alat uji urin dalam popok yang tidak dapat dibaca.

Efek Samping:

Tidak ada kejadian serius yang dilaporkan. Namun, dalam dua kasus, alat uji urin dalam popok menempel pada bantalan pengumpulan urin dan merusak permukaan bantalan. Hasil tes masih dapat dibaca, dan sampel urin berhasil diambil untuk kultur bakteri.

Dalam satu kasus, alat uji urin dalam popok sedikit menempel pada kulit anak, menyebabkan kemerahan ringan di area popok. Empat keluarga (0,7%) melaporkan kemerahan ringan di area popok anak.

Kelebihan Penelitian

Kelebihan studi ini adalah pada ukuran sampel yang cukup besar dengan periode studi yang cukup panjang, beberapa metode pemeriksaan berbeda dilakukan pada sampel yang sama dari setiap anak, serta dilakukan perbandingan hasil pemeriksaan dengan baku emas diagnosis ISK yaitu kultur bakteri.

Rekomendasi EAU untuk pengambilan sampel yang tidak invasif dan rendah kontaminasi adalah clean catch urine, namun seringkali metode ini memakan waktu dan tingkat keberhasilannya rendah apalagi pada bayi atau anak usia muda yang belum bisa mengontrol miksi. Penggunaan metode quick-wee dapat meningkatkan keberhasilan dan kecepatan pengambilan sampel urin pada bayi.[2]

Penggunaan urine pad dapat dijadikan alternatif pengambilan sampel pemeriksaan urin yang lebih praktis. Pada penelitian ini,  alat skrining langsung dipasang pada urine pad popok sehingga sampel urin dapat langsung diperiksa, hasilnya cepat, mudah dan nyaman bagi anak dan orang tua.

Limitasi Penelitian

Pengambilan sampel pada studi ini tidak diseragamkan, banyak sampel kultur urin yang diambil dari aspirasi urinary pad (hanya sedikit sampel yang diambil dengan metode aspirasi suprapubik), sehingga tidak heran angka kontaminasi cukup tinggi.

Studi ini dilakukan di Departemen Gawat Darurat Pediatrik Rumah Sakit Universitas Oulu di Finlandia. Oleh karena itu, hasil dari studi ini mungkin tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada populasi atau pengaturan klinis lain.

Keterbatasan lain adalah sample availability. Beberapa sampel tidak tersedia untuk kedua metode pengujian, yang dapat mempengaruhi hasil analisis sensitivitas dan spesifisitas.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Studi ini sangat menarik dan tentunya bermanfaat bila dilakukan di Indonesia, mengingat kasus infeksi saluran kemih anak cukup sering dijumpai dan diperlukan alat skrining yang tidak hanya sensitif tetapi juga cepat dan tidak invasif.

Penelitian ini mengindikasikan bahwa alat uji urin yang tertanam dalam popok memiliki sensitivitas yang hampir sebanding dengan uji dipstick, dengan keuntungan tambahan dari kemudahan penggunaan dan hasil yang lebih cepat tersedia. Nilai prediksi negatifnya tinggi, sehingga tes ini berguna untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih. Metode ini paling baik digunakan ketika menangani bayi atau anak kecil yang demam, untuk menyingkirkan infeksi seluran kemih sebagai penyebab demam mereka, dan dokter perlu mencari penyebab lain. Apabila hasil pemeriksaan positif, akan diperlukan tes tambahan untuk memastikan infeksi saluran kemih.

Perlu diingat bahwa setiap metode pemeriksaan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan keputusan akhir dalam memilih metode tergantung pada kebutuhan spesifik dari situasi klinis dan preferensi pihak terkait.

Referensi