Untung Rugi Tonsilektomi pada Tonsilitis Kronis

Oleh dr. Immanuel

Banyak ahli memiliki pendapat berbeda mengenai untung rugi tonsilektomi pada kasus tonsilitis kronis. Pada awal abad ke-21, tonsilektomi banyak dilakukan pada berbagai indikasi. Dokter, harus mampu mempertimbangkan berbagai hal sebelum memberikan saran untuk melakukan tonsilektomi. Dokter harus mempertimbangkan indikasi, efikasi dan komplikasi yang terjadi pada tindakan tonsilektomi.

Pertimbangan lain yang harus dilakukan adalah apakah tindakan tonsilektomi ini dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, seperti kesehatan secara umum, fungsi fisik, dan fungsi sosialnya. Pertimbangan pembiayaan juga menjadi hal penting. Beberapa laporan melaporkan bahwa tonsilektomi adalah tindakan yang efektif secara pembiayaan. Pembiayaan tonsilektomi setara dengan pembiayaan yang dihabiskan dalam 2,5 tahun pengobatan medis, termasuk memperhitungkan kerugian kehilangan hari kerja untuk kontrol.[1]

Indikasi Tonsilektomi

Indikasi tonsilektomi yang digunakan di Indonesia adalah AAO‐NHS Clinical Indicator Compendium tahun 1995. Indikasi absolut adalah pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan napas, disfagia berat, sleep apnea, gangguan berbicara, dan cor pulmonale. Indikasi absolut lain adalah rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak sembuh dengan pengobatan, serta hipertrofi tonsil unilateral yang dicurigai keganasan. Indikasi relatif adalah riwayat serangan tonsilitis lebih dari 3 kali dalam setahun walaupun dengan terapi adekuat, halitosis yang tidak hilang dengan pengobatan, otitis media efusi, atau otitis media supuratif.[2]

Pedoman lain yang juga digunakan adalah SIGN (Scottish Intercollegiate Guidelines Network). Menurut SIGN, indikasi tonsilektomi adalah episode tonsilis yang berulang dan menyebabkan nyeri tenggorokkan yang berat. Jumlah episode tonsilitis yang memenuhi kriteria tonsilektomi adalah lebih dari 7 kali episode tonsilitis yang terdokumentasi selama setahun, lebih dari 5 kali episode tonsillitis dalam setahun selama 2 tahun, atau lebih dari 3 kali episode dalam setahun selama 3 tahun. [3]

Sebuah studi retrospektif yang melibatkan 326 pasien yang menjalani operasi tonsilektomi melaporkan bahwa sebanyak 74,85% pasien menjalani tonsilektomi dengan indikasi tonsilitis berulang, sebanyak 8,9% lainnya menjalani tonsilektomi karena abses peritonsil atau parafaringeal berulang. Indikasi tonsilitis berulang disertai abses terdapat pada 8,59% subjek studi, dan tonsilitis berulang yang disertai dengan sleep apnea pada 0,92%, serta indikasi lain berupa curiga keganasan pada 3,37%.[4]

child sore throat

Komplikasi Pasca Operasi

Pertimbangan lain yang perlu diperhatian dalam melakukan sebuah prosedur adalah bagaimana komplikasi yang mungkin terjadi. Pada sebuah studi retrospektif yang menganalisis 361 rekam medis pasien yang menjalani tonsilektomi, dilaporkan bahwa komplikasi post operatif ditemukan pada 15% kasus. Komplikasi terbanyak adalah perdarahan pada 5% kasus, diikuti dengan nyeri dan dehidrasi pada 5% kasus.[5]

Penelitian lain menemukan bahwa 1 dari 10 pasien yang menjalani tonsilektomi mengalami komplikasi. Dari total 33 pasien yang mengalami komplikasi, 8 diantaranya terjadi selama perawatan sedangkan 25 pasien lainnya datang kembali ke IGD. Perdarahan merupakan komplikasi yang paling sering terjadi, diikuti dengan odinofagia, demam, dan adenitis. Pada sebanyak 76,74% pasien yang mengalami perdarahan terpaksa dilakukan koreksi pembedahan ulang. [4]

Quality of Life Setelah Tonsilektomi

Tonsilektomi bertujuan untuk mengangkat jaringan tonsil sehingga menghilangkan patologi yang terjadi pada jaringan tersebut. Pada infeksi tonsil kronis, tonsilektomi bertujuan untuk menyelesaikan masalah infeksi.

Sebuah studi prospektif observasional melibatkan 72 pasien yang menjalani tonsilektomi untuk mengetahui perbaikan kualitas hidup pasien tonsilitis kronis pasca tonsilektomi. Perbaikan kualitas hidup diukur berdasarkan kuesioner TAHSI (Tonsil and Adenoid Health Status Instrument). Penelitian ini melaporkan bahwa terjadi peningkatan kualitas hidup yang signifikan setelah pasien menjalani tonsilektomi berdasarkan 6 subskala TAHSI. Namun perlu dicatat bahwa penelitian ini memiliki berbagai keterbatasan. Keterbatasan yang paling mencolok adalah penggunaan kuesioner TAHSI yang belum divalidasi untuk pasien dewasa, padahal subjek penelitian ini adalah subjek dewasa. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan ketidak akuratan interpretasi hasil studi.[6]

Penelitian lain berupa survey cross-sectional pada 65 pasien yang menjalani tonsilektomi dengan usia rerata 27,3 tahun. Perbaikan kualitas hidup diukur berdasarkan skala GBI (Glasgow Benefit Inventory). Penelitian ini melaporkan peningkatan kualitas hidup secara bermakna. Perbaikan kualitas hidup ditemukan secara global juga pada masing-masing aspek, yakni masalah kesehatan umum, fungsi sosial dan fungsi fisik. [7]

Sebuah studi lain yang merupakan studi survey retrospektif menyimpulkan bahwa kualitas hidup pasien ditemukan meningkat dengan jumlah hari kerja/sekolah yang terganggu akibat nyeri tenggorok berkurang hingga 95,3% dan kunjungan ke dokter akibat nyeri tenggorok juga berkurang hingga 95,6%. [8]

Sebuah review sistematik Cochrane juga menganalisis efek dari tonsilektomi pada pasien dengan tonsilitis kronik dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan pengobatan non-operatif. Studi ini menyimpulkan bahwa tonsilektomi dapat mengurangi jumlah hari sakit tenggorokan per tahun dibandingkan pengobatan non-operatif, dimana pengurangan tampak lebih bermakna pada pasien dengan keadaan penyakit yang lebih berat. Pada pasien dengan sakit yang lebih ringan, manfaat yang didapat lebih moderat. [9]

Efek Tonsilektomi Terhadap Sistem Imun

Perdebatan mengenai efek tonsilektomi terhadap sistem imun sudah ada sejak dulu. Sebuah studi pada tahun 2002 dengan jumlah sampel kecil, membandingkan kadar imunoglobulin serum dan limfosit perifer, 24-48 jam sebelum dan 4-6 minggu setelah tonsilektomi, pada pasien dengan tonsilitis kronis dan kelompok kontrol normal. Studi ini melaporkan bahwa pasien dengan tonsilitis kronis memiliki kadar CD19+ B lebih tinggi sebelum operasi dibandingkan kontrol. Setelah dilakukan tonsilektomi, walaupun aktivasi limfosit B tetap terus terjadi, kadar limfosit CD8+ T meningkat dengan kadar sel B yang mulai kembali normal. Ditemukan pula sedikit penurunan serum IgG, IgA, dan IgM post operatif dibandingkan pre operatif. Namun, semua perubahan dalam sistem imun ini disimpulkan tidak memberikan defisiensi imun yang bermakna. [10]

Studi lain juga mencoba untuk melihat efek jangka pendek dan jangka panjang tonsilektomi terhadap sistem imun. Pemantauan pada sistem imun dilakukan pada bulan ke-1 dan ke-54. Komponen imun yang diukur adalah kadar IgA, IgG, IgM, dan C4. Studi ini melaporkan bahwa kendati terdapat perubahan komponen imun pada pemantauan jangka pendek, tidak terdapat perbedaan bermakna komponen imun pasien pada pemantauan jangka panjang jika dibandingkan dengan kontrol normal. [11]

Sebuah studi review sistematik dan meta analisis yang dipublikasikan pada tahun 2015 menganalisis lebih lanjut mengenai hal ini. Analisis dilakukan pada 35 studi yang diterbitkan dari tahun 1971 hingga 2014. Disimpulkan bahwa tonsilektomi tidak mempunyai efek bermakna secara klinis terhadap sistem imun.[12]

Kesimpulan

Tonsilektomi merupakan salah satu tindakan operatif yang sering dilakukan pada kasus tonsilitis kronis. Studi yang ada menunjukkan bahwa tonsilektomi dapat membawa manfaat yang signifikan pada kualitas hidup pasien dengan tonsilitis kronis, dimana manfaat yang ada tampak semakin besar pada pasien dengan keluhan yang semakin berat. Selain daripada itu, walaupun terjadi perubahan pada sistem imun post operatif, tonsilektomi tidak memiliki efek yang terlalu bermakna secara klinis terhadap sistem imun jangka panjang. Namun, perlu diingat bahwa komplikasi perdarahan adalah komplikasi yang cukup sering terjadi dan pada sebagian kecil pasien dapat menyebabkan perlunya operasi ulangan. Perlu dipertimbangkan pula bahwa penelitian yang ada mengenai efek tonsilektomi terhadap kualitas hidup dan sistem imun adalah penelitian dengan jumlah subjek yang kecil dan memiliki berbagai keterbatasan studi. Maka dari itu, sebelum melakukan tindakan operatif ini, penting bagi dokter untuk mengevaluasi efek tonsilitis rekuren terhadap kualitas hidup pasien dan kemudian melakukan seleksi yang adekuat untuk menentukan pasien mana yang akan mendapatkan manfaat lebih dari tonsilektomi.

Referensi