Tinjauan Pustaka Hubungan Vegetarian dan Depresi

Oleh :
dr. Immanuel Natanael Tarigan

Sebuah laporan penelitian terbaru, tahun 2017 yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa pria yang menjalani gaya hidup vegetarian  atau vegan memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami depresi. Vegetarian adalah gaya hidup yang menghindari mengkonsumsi daging, unggas atau ikan. Vegetarian terdiri atas beberapa spektrum diet yang mengurangi atau menghindari sebagian atau seluruh produk makanan hewani, salah satunya adalah vegan. Vegan adalah diet yang menghindari konsumsi semua produk makanan yang berasal dari hewani.[1]

sumber-vitamin-ini-bisa-memicu-keracunan-makanan-alodokter

Pengaruh makanan terhadap kejadian depresi sudah banyak dikemukakan sebelumnya. Gangguan depresi ditemukan berhubungan secara konsisten terhadap peningkatan deposit jaringan lemak dan peningkatan berat badan. Pola makan yang tidak teratur , tidak sehat termasuk konsumsi buah-buahan, sayur, serat dan protein yang berasal dari kacang-kacangan yang kurang, peningkatan konsumsi lemak trans dan lemak jenuh, natrium, serta peningkatan konsumsi alkohol menyebabkan peningkatan jaringan lemak dan berisiko meningkatan berat badan. Hal ini ditemukan secara konsisten memiliki hubungan dengan terjadinya depresi.[2]

Keterkaitan Kadar Nutrien dengan Kejadian Depresi

Salah satu nutrien yang banyak dihubungkan dengan kejadian depresi adalah vitamin B seperti Vitamin B1, B2, B12, B6 dan asam folat.  Vitamin B memiliki peran sebagai kofaktor pada metabolisme metionin. Homosistein dikonversi menjadi metionin dan sistein dengan bantuan vitamin B. Metionin merupakan prekursor S-adenosilmetionin yang bekerja dalam berbagai reaksi metilasi termasuk yang melibatkan neurotransmitter monoamin dan katekolamin serta metilasi posfolipid pada sistem saraf pusat. Penurunan konsumsi vitamin B menyebabkan akumulasi homosistein dan penurunan sintesis monoamin di otak. Mekanisme ini diduga memiliki peranan dalam mekanisme terjadinya gangguan depresi. Selain itu, asam folat juga diduga memiliki keterlibatan dalam terjadinya ganggaun depresi melalui proses neurotransmitter terutama serotonin, dopamin dan norepinefrin. Kedua proses tersebut dapat menyebabkan gangguan neurotransmitter di otak yang dipercaya berkaitan dengan terjadinya gangguan depresi. Hal ini mencoba menjelaskan mekanisme molekular defisiensi nutrien tertentu terhadap terjadi depresi.[3] Pada sebuah studi yang dilakukan tahun 2005 terhadap 412 pria ditemukan bahwa peningkatan kadar homosistein dan penurunan kadar asam folat pada serum plasma darah memiliki hubungan dengan peningkatan derajat keparahan depresi.[4]

Sebuah penelitian di Inggris yang melibatkan 9668 pria memukan bahwa gaya hidup vegetarian dan vegan meningkatkan risiko terjadinya depresi pada pria. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian besar The Avon Longitudinal Study of Parents and Childern yang melibatkan 14.541 peremuan hamil muda yang melahirkan dalam rentang waktu 1 April 1991 hingga 31 Desember 1992. Dalam perkembangannya, studi kohort ini melibatkan 9845 pasangan pria dari ibu hamil tersebut. Data yang diambil pada penelitian ini termasuk data demografik, diet dan variabel psikososial lainnya. Evaluasi terhadap keadaan depresi dilakukan dengan kuesioner The Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Kuesioner ini berfokus pada keadaan kognitif dan afektif pada depresi, bukan pada gejala depresi. Skoring diatas 10 dinyatakan memiliki kecenderungan mengalami depresi sedang dan skoring diatas 12 menunjukkan kemungkinan besar depresi berat pada responden. Kuesioner EPDS tidak dapat menegakkan diagnosis gangguan depresi dan pada subjek dengan risiko depresi tidak dilakukan konfirmasi diagnosis oleh dokter. Subjek dikelompokkan menjadi vegetarian dan bukan vegetarian berdasarkan laporan subjek pada kuesioner yang menanyakan 17 kategori makanan.[5]

Pada penelitian tersebut didapatkan bahwa:[5,6]

  • Sebanyak 350 (3,6%) pria pada subjek melaporkan diri sebagai vegetarian dan vegan.
  • Sekitar dua pertiga pria vegetarian menjalani diet tersebut kurang dari 10 tahun (<1 hingga 41 tahun).
  • Vegetarian memiliki rerata skoring EPDS yang lebih tinggi dibanding kelompok non vegetarian (5,26 berbanding 4,18; p<0,0001)
  • Proporsi vegetarian yang memiliki skoring EPDS diatas 10 (depresi sedang berat) lebih tinggi dibanding kelompok non vegetarian (12,3% berbanding 7,4% p=0,0001) dan skoring EPDS diatas 12 adalah 6,8% berbanding 3,9% (p<0.01) .
  • Unadjusted odds ratio (OR) untuk skoring EPDS diatas 10 adalah 1,75 untuk kelompok vegetarian/vegan (95% CI, 1,26-2,43)

  • Walaupun tidak terdapat signifikansi secara statistik, ditemukan bahwa terdapat kecenderungan pengaruh lama menjalani diet vegetarian terhadap peningkatan skoring EPDS (p=0,103)
  • Beberapa faktor lain yang ditemukan berhubungan dengan skoring EPDS adalah tingkat pendidikan yang lebih rendah, usia di bawah 25 tahun, tidak memiliki akomodasi permanen dan memiliki lebih banyak anak, tidak menikah, tidak bekerja, memiliki riwayat gangguan psikiatri pada saat anak dan merokok.
  • Beberapa faktor yang memiliki hubungan dengan gaya hidup vegetarian adalah tingkat edukasi yang lebih tinggi, memiliki akomodasi permanen, tidak memiliki anak, atau tidak menikah.
  • Setelah mempertimbangkan faktor-faktor gaya hidup dan sosial lain yang memiliki hubungan secara statistik baik pada peningkatan skoring EPDS dan gaya hidup vegetarian, terdapat hubungan yang secara statistik bermakna antara vegetarian dengan kejadian depresi yakni adjusted OR 1,67 (95% CI: 1,14, 2,44; p=0,009).

Bukti Penelitian Sebelumnya

Beberapa penelitian pendahulu mengemukakan beberapa faktor yang dihipotesiskan menjadi penjelasan peningkatan risiko depresi pada populasi vegetarian. Hal ini dihubungkan dengan jenis dan kualitas lemak pada vegetarian.

  • Vegetarian lebih sedikit mengkonsumi omega 3, vitamin B12 dan asam folat yang lebih sedikit dan konsumsi omega 6 yang lebih banyak diduga meningkatan risiko depresi.
  • Faktor lain yang ditemukan berhubungan dengan peningkatan faktor risiko depresi pada vegetarian adalah kadar fitoesterogen yang tinggi (akibat konsumsi sayur dan kacang kedelai), metabolit pestisida (meningkat seiring konsumsi buah dan sayuran), konsumsi makanan laut yang rendah (berhubungan dengan kadar omega 3 yang rendah).
  • Konsumsi daging yang rendah mengakibatkan terjadinya defisiensi vitamin B12. Pada studi observasional ditemukan bahwa peningkatan homosistein dan kadar vitamin B12 yang rendah berhubungan dengan gejala depresi.

Selain itu, terdapat beberapa penelitian lain yang mendukung hasil pada temuan ini, misalnya:[7]

  1. Pada studi yang dilakukan Larsson ditemukan bahwa remaja vegetarian cenderung lebih depresi pada minggu sebelumnya.
  2. Pada penelitian Perry ditemukan bahwa pada kelompok remaja yang vegetarian lebih memiliki kecenderungan melakukan percobaan bunuh diri dibanding kelompok non vegetarian. Namun, tidak ditemukan perbedaan gejala depresi pada kedua kelompok tersebut. Kelompok vegetarian juga lebih sering melaporkan gangguan makan dibanding kelompok non vegetarian.
  3. Penelitian yang dilakukan oleh Baines menyebutkan pada kelompok usia 22-27 tahun di Australia, kelompok vegetarian lebih sering terdiagnosis depresi oleh dokter. Pada ditemukan kelompok vegetarian ditemukan derajat keparahan depresi yang lebih tinggi selama 12 bulan terakhir.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam temuan penelitian tersebut adalah;

  1. Tidak dilakukan konfirmasi ulang pada subjek berkaitan dengan penjelasan mekanisme peningkatan risiko depresi. Tidak dilakukan pemeriksaan kadar kolestrol atau lemak atau vitamin B12.
  2. Studi bersifat self reporting, tidak dilakukan konfirmasi diagnosis pada subjek dengan skoring EPSD di atas 10.
  3. Studi ini tidak dapat menyimpulkan hubungan kausalitas pada peningkatan risiko depresi pada kelompok vegetarian mengingat bahwa depresi dapat menyebabkan perubahan gaya hidup penderita, termasuk pola makannya.

Kesimpulan

Hubungan antara gaya hidup vegetarian dan depresi belum sepenuhnya dipahami. Beberapa hasil penelitian yang ada belum dapat menentukan hubungan kauasiltas pada kedua hal tersebut. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian yang ada adalah terdapat risiko risiko depresi pada kelompok pria vegetarian bahkan setelah mempertimbangkan beberapa faktor perancu. Namun hasil penelitian juga belum dapat memberikan kesimpulan apakah perubahan gaya hidup menjadi vegetarian dapat merubah risiko depresi pada pria dan sebaliknya. Untuk mendapatkan kesimpulan yang bermakna klinis penelitian mengenai hal ini harus dilakukan dalam bentuk eksperimental uji klinis dengan melibatkan sampel yang lebih besar dan representatif

Referensi