Terapi Uap tidak Bermanfaat sebagai Penanganan Common Cold

Oleh dr. Josephine Darmawan

Terapi uap (steam inhalation) kerap kali dianjurkan dokter sebagai penanganan common cold karena dinilai dapat melegakan pernapasan. Praktik ini ternyata tidak sejalan dengan bukti klinis yang ada.

Common cold adalah penyakit yang sangat sering ditemukan dalam praktik kedokteran sehari-hari. Setiap orang dari seluruh usia mengalami lebih dari 1 kali common cold per tahun. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dan umumnya melibatkan saluran napas atas. Common cold merupakan penyakit self-limitting, sehingga terapi yang dibutuhkan hanya terapi suportif.[3-5]

Depositphotos_145883823_m-2015_compressed

Penanganan common cold berupa terapi suportif yang meliputi pemberian obat-obat simtomatik, edukasi dan metode nonfarmakologis. Perlu diingat bahwa semua terapi ini hanya bermanfaat untuk mengurangi gejala, tidak untuk menyembuhkan. Obat simtomatik yang dapat digunakan misalnya antipiretik sesuai kebutuhan dan suplementasi zinc. Konsumsi vitamin C secara rutin 200 mg/hari bermanfaat menurunkan durasi dan keparahan common cold. Obat batuk over the counter (OTC) tidak terbukti efektif untuk menangani gejala common cold. Edukasi pasien juga merupakan komponen penting dalam penanganan common cold, yaitu menjaga kebersihan tangan/hand hygiene, istirahat cukup, hidrasi cukup, dan diet seperti biasa. Metode terapi nonfarmakologis seperti konsumsi madu serta menghangatkan tubuh dengan minyak kayu putih atau vapor rub dapat bermanfaat untuk mengurangi gejala common cold.[2,6]

Terapi inhalasi uap juga merupakan terapi suportif yang sering kali dianjurkan karena dinilai dapat membantu melegakan saluran napas. Praktik ini sudah cukup lama dilakukan. Namun demikian, bukti medis yang mendukung praktik ini sangat minimal. Beberapa studi yang ada bahkan tidak menganjurkan dilakukannya terapi inhalasi uap pada pasien-pasien selesma karena berpotensi menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan / adverse event.

Mekanisme Terapi Uap pada Saluran Napas

Uap air panas akan mengalami evaporasi dan kondensasi (higroskopisitas) saat dihirup dan masuk ke dalam saluran napas. Uap air yang dihirup dapat meningkatkan transport aliran udara/air flow dari mulut ke trakea dan bronkus bagian atas. Inhalasi uap juga dapat meningkatkan aktifitas mukosiliaris hidung dan membantu pengeluaran lendir. Kedua mekanisme yang ditimbulkan oleh inhalasi uap ini dinilai dapat membantu pernapasan pasien dan mengurangi gejala yang dirasakan.[7,8]

Prosedur Pemberian Terapi Uap

Terapi inhalasi uap dapat dilakukan dengan menggunakan nebulizer atau dengan menghirup uap dari air panas dalam wadah tertentu. Penggunaan cara tradisional menghirup uap dari air panas dalam wadah lebih tidak disarankan karena memiliki risiko terjadinya luka bakar pada pasien.

Manfaat dan Efek Samping Terapi Uap: bukti klinis vs. pengalaman dokter

Hingga saat ini, kegunaan terapi uap sebagai penanganan common cold masih banyak diperdebatkan. Data dari studi yang ada masih inkonklusif dan juga sangat minimal.[3-5,9,10] Studi literatur sistematik Cochrane dari 6 uji klinis acak/randomized controlled trial (RCT) pada 387 pasien menunjukkan bahwa penggunaan terapi uap tidak memberikan perbaikan ataupun perburukan gejala common cold. Terdapat uji klinis dalam studi ini yang menunjukkan adanya perbaikan gejala dengan inhalasi uap tetapi secara statistik tidak signifikan. Studi ini menyimpulkan bahwa kegunaan terapi uap dalam terapi common cold inkonklusif karena studinya masih terbatas (low evidence).[3]

Terapi uap juga dinilai tidak efektif dan tidak dimasukkan dalam rekomendasi terapi common cold di Inggris, Amerika, Kanada, dan Australia.[2,4,6,10] Hal ini dikarenakan manfaat dari terapi uap masih belum jelas dan sangat minimal bila dibandingkan dengan kejadian tidak diinginkan yang dapat terjadi. Salah satu studi di 3 buah pusat luka bakar/burn center di Belanda menunjukkan bahaya yang dapat ditimbulkan dari inhalasi uap panas. Sekitar 3 orang per tahun mengalami luka bakar karena melakukan terapi inhalasi uap panas dan membutuhkan cangkok kulit/skin grafting. Luka bakar tersebut tidak jarang terjadi pada daerah vital seperti suprapubik dan genitalia. Hal ini menimbulkan dampak jangka panjang yang fatal dan memerlukan biaya medis yang jauh lebih besar dibandingkan dengan terapi common cold sendiri.[4] Iritasi hidung, rasa tidak nyaman karena penggunaan masker, pusing, dan rasa tidak nyaman karena suhu panas juga dilaporkan terjadi karena terapi uap.[3,5,6]

Salah satu tulisan dalam British Journal of General Practice mengkritisi bahwa anjuran untuk tidak memberikan terapi uap karena berisiko menimbulkan luka bakar tidak sepenuhnya dapat diterima. Pasien dapat melakukan alternatif dengan metode yang lebih aman, misalnya menghirup uap dari gelas berisi minuman panas atau menghirup uap air panas di kamar mandi/shower. Hal ini dinilai dapat meminimalisir risiko luka bakar yang dapat timbul. Pasien tetap dapat mendapatkan manfaat dari terapi uap dengan biaya sangat sangat terjangkau dan akses yang sangat mudah.[11] Bukti klinis lain dari sebuah studi RCT di Australia pada 157 pasien juga menunjukkan bahwa menghirup uap dari air panas sauna tidak menunjukkan manfaat dalam menurunkan gejala common cold.[11] Hal ini menjadikan manfaat dari menghirup uap baik dengan gelas berisi minuman panas ataupun air panas shower juga dapat dipertanyakan kembali manfaatnya.

Meskipun bukti medis yang ada menunjukkan bahwa terapi uap tidak efektif dalam memperbaiki gejala common cold, dokter-dokter tetap menyarankan pasiennya untuk melakukan inhalasi uap karena dalam praktiknya terapi uap dinilai tetap bermanfaat dalam membantu meredakan gejala common cold pasien. Dokter juga menilai bahwa efek samping yang dapat ditimbulkan dari menghirup uap sangatlah minimal dan tetap aman dianjurkan tanpa membahayakan pasien.[5,6,11] Praktik seperti ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan, namun demikian, hal ini tidak sesuai dengan tujuan utama dari kedokteran berbasis bukti (Evidence Based Medicine) dan perlu dipertimbangkan kembali oleh masing-masing dokter dalam praktik nya.

Kesimpulan

Karena harganya yang terjangkau dan tergolong tidak menimbulkan efek samping pada pasien, dokter umumnya masih menganjurkan pemberian terapi uap pada common cold. Hal ini tidak sesuai dengan bukti ilmiah yang menyatakan bahwa manfaat terapi ini inkonklusif dan sangat minimal.

Dokter harus mempertimbangkan kembali bukti klinis yang ada, manfaat, akses, biaya medis, serta risiko yang dapat ditimbulkan sebelum menyarankan terapi uap kepada pasien common cold. Dokter juga harus mengedukasi pasien yang melakukan terapi uap untuk melakukannya dengan cara yang aman sehingga mencegah terjadinya luka bakar. Penelitian dengan jumlah sampel yang besar juga masih perlu dilakukan untuk membuat pedoman definitif terkait penggunaan terapi uap.

Referensi