Injeksi Glukokortikoid dan Osteoarthritis - Telaah Jurnal Alomedika

Oleh dr.Bedry Qintha

Intramuscular Glucocorticoid Injection Versus Placebo Injection in Hip Osteoarthritis: A 12-Week Blinded Randomised Controlled Trial

Dorleijn D.M.J.D, Luijsterburg P.A.J, Reijman M, Kloppenburg M, Verhaar J.A.N, Bindels P.J.E, Bos P.K, Bierma-Zeinstra S.M.A. Intramuscular glucocorticoid injection versus placebo injection in hip osteoarthritis: a 12-week blinded randomised controlled trial. Annals of The Rheumatic Disease, 2018. 77(6):875-882. PMID : 29514801

Abstrak

Latar Belakang: Pedoman yang ada merekomendasikan injeksi glukokortikoid intraartikular pada pasien dengan nyeri panggul osteoarthritis. Namun, injeksi intra-artikular panggul adalah sebuah prosedur yang invasif. Efektifitas glukokortikoid sistemik untuk penatalaksanaan nyeri pada osteoarthritis panggul masih belum diketahui. Uji klinis acak tersamar ganda ini menilai efektivitas pengurangan nyeri panggul pada injeksi glukokortikoid intramuskular dibandingkan injeksi plasebo pada pasien dengan osteoarthritis panggul.

Metode : Pasien dengan nyeri panggul osteoarthritis dirandomisasi untuk mendapatkan triamcinolone acetate 40 mg atau plasebo yang diinjeksikan secara intramuskular pada otot gluteus. Luaran primer adalah nyeri panggul saat istirahat, saat berjalan (0-10), dan nyeri WOMAC 2 minggu pasca injeksi. Digunakan model campur linear untuk pengukuran ulang pada minggu ke-2, 4, 6, dan 12 untuk dilakukan intention-to-treat data analysis.

Hasil : Dari 107 pasien yang dirandomisasi, 106 dapat diikutkan dalam analisis, (52 pada kelompok glukokortikoid, 54 pada kelompok plasebo). Pada pemantauan setelah 2 minggu, dibandingkan dengan plasebo, glukokortikoid intramuskular menunjukkan perbedaan bermakna dan relevan secara klinis pada pengurangan nyeri panggul saat istirahat (beda −1.3, 95% CI −2.3 hingga −0.3). Efek ini menetap selama 12 minggu pemantauan. Untuk nyeri panggul ketika berjalan, efek didapat pada pemantauan minggu ke-4, ke-6, dan ke-12, dan nyeri WOMAC efek didapatkan pada pemantauan minggu ke-6, dan ke-12.

Kesimpulan : Injeksi glukokortikoid intramuskular menunjukkan efektifitas yang baik untuk pasien dengan osteoarthritis panggul pada satu dari tiga luaran primer yang dinilai pada pemantauan 2 minggu pasca injeksi. Seluruh luaran primer didapatkan efektif mulai dari pemantauan minggu ke 4-6, hingga minggu ke-12.

Gambar 1. Osteoarthritis panggul. Sumber : Openi, 2016 Gambar 1. Osteoarthritis panggul. Sumber : Openi, 2016

Ulasan Alomedika

Penelitian ini dilakukan karena injeksi glukokortikoid intraartikular (IA) dalam penatalaksanaan osteoarthritis (OA) bersifat invasif. Disimpulkan bahwa injeksi glukokortikoid intramuskular (IM) efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien OA panggul dengan lama efek yang lebih panjang dibandingkan injeksi IA yang dilaporkan pada penelitian terdahulu.

Kelebihan penelitian adalah pada seleksi pasien, metodologi, dan protokol penelitian yang digunakan. Pasien yang diikutkan adalah pasien OA dengan nyeri sedang-berat walaupun dengan analgesik oral. Pasien yang memiliki komorbiditas (misalnya diabetes melitus), pasien yang pernah mendapatkan glukokortikoid IA dalam 6 bulan sebelum intervensi, dan pasien yang masuk dalam daftar tunggu total hip replacement (THR) dieksklusi. Derajat keparahan OA secara radiologis dinilai oleh dua pemeriksa untuk menghindari bias.

Intervensi yang dilakukan adalah triamcinolone acetate 1 mL atau plasebo (cairan saline normal 1 mL). Penyamaran dilakukan secara double blind, tetapi karena warna triamcinolone dan saline berbeda, perawat yang menyuntikkan obat bersifat non-blinded karena mengetahui intervensi apa yang diberikan kepada subjek penelitian. Untuk menghindari bias, perawat yang sama tidak dilibatkan dalam pemantauan pasien. Spuit yang digunakan untuk injeksi dibungkus aluminium foil untuk memastikan penyamaran pada pasien.

Walaupun penelitian ini menunjukkan potensi glukokortikoid IM, ada beberapa keterbatasan studi. Jumlah sampel seharusnya adalah 128 subjek, namun yang diikutkan dalam analisis hanya 106. Selain itu, pada penelitian ini efektifitas glukokortikoid IM dibandingkan dengan plasebo, bukan dengan injeksi IA sehingga tidak apple to apple. Ditambah lagi, penelitian terdahulu melaporkan potensi toksik glukokortikoid IA terhadap kondrosit, namun pada penelitian ini efek samping dan keamanan injeksi IM tidak ikut dianalisis. Masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui rekomendasi dosis, frekuensi pemberian, fitur keamanan, dan efek samping sebelum hasil studi dapat diterapkan secara klinis.

Referensi