Skrining Toxoplasmosis untuk Wanita Hamil

Oleh :
dr. Utari Nur Alifah

Skrining toxoplasmosis pada wanita hamil dilakukan sebagai upaya pencegahan transmisi vertikal, serta untuk meningkatkan luaran pediatrik pada janin yang telah diketahui terkena infeksi.Infeksi toxoplasmosis selama kehamilan dapat menyebabkan defek lahir, termasuk gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dan deformitas neurologi.

Toxoplasmosis merupakan infeksi parasit Toxoplasma gondii yang merupakan protozoa obligat intraselular. Parasit ini dapat bertahan di dalam tubuh dalam jangka waktu lama. Pada manusia, infeksi biasanya diperoleh dari konsumsi daging mentah atau kurang matang. Infeksi juga dapat terjadi dari memakan sayur dan buah yang belum dicuci, kontak dengan kotoran kucing atau tanah, atau transmisi vertikal dari ibu ke janin. Pada janin, toxoplasmosis kongenital merupakan infeksi fetal yang membawa risiko signifikan.[1-3]

ToxoplasmosisWanitaHamil

Potensi Risiko Infeksi Toxoplasma gondii pada Janin

Pada wanita yang terinfeksi hingga 3 bulan sebelum konsepsi, risiko pada janin akan meningkat. Ketika terinfeksi pada awal kehamilan, risiko penularan terhadap janin kurang dari 6%.

Walau transmisi selama embriogenesis tergolong jarang, efeknya terhadap fetus sangat serius. Infeksi parasit Toxoplasma gondii memiliki potensi risiko yang mencakup hidrosefalus, mikrosefali, kalsifikasi intrakranial, retinokoroiditis, strabismus, kebutaan, epilepsi, retardasi mental dan psikomotor, trombositopenia, serta anemia.[3-5]

Pada trimester kedua, risiko transmisi vertikal meningkat sebanyak 25%. Sementara itu, tingkat transmisi vertikal berkisar antara 60-81% pada trimester ketiga. Infeksi toxoplasmosis pada trimester ketiga sering menyebabkan bayi baru lahir tanpa gejala. Walau tanpa gejala, jika tidak diobati dengan tepat, bayi baru lahir yang terinfeksi dapat mengalami retinokoroiditis dan defisit neurologis pada masa kanak-kanak atau dewasa awal.[3]

Data Epidemiologi Infeksi Toxoplasmosis pada Kehamilan

Sebuah tinjauan sistematik menganalisis 217 studi dengan total partisipan 902.228 wanita hamil dari 74 negara. Prevalensi keseluruhan infeksi toxoplasmosis akut pada wanita hamil secara global adalah 1,1%. Dalam studi dimana kriteria yang lebih ketat untuk mendiagnosis toxoplasmosis akut digunakan, prevalensi keseluruhan adalah 0,6%.

Prevalensi tertinggi dilaporkan di wilayah Mediterania Timur (2,5%) dan terendah di wilayah Eropa (0,5%). Prevalensi toxoplasmosis akut yang lebih tinggi secara signifikan ditemukan di negara-negara dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah, indeks pembangunan manusia yang lebih rendah, suhu yang lebih tinggi, dan garis lintang yang lebih rendah.[6]

Skrining Toxoplasmosis pada Kehamilan

Skrining toxoplasmosis sering menjadi perdebatan, terutama terkait efikasinya dalam mencegah transmisi vertikal, menunda kehamilan jika terinfeksi, atau deteksi dini pada neonatus. Pada orang yang terinfeksi, antibodi imunoglobulin M (IgM) muncul segera setelah infeksi akut dan mencapai tingkat maksimum dalam 1 bulan. Antibodi imunoglobulin G (IgG) muncul setelah antibodi IgM dan dapat dideteksi dalam beberapa minggu setelah infeksi serta memberikan kekebalan. Titer IgG dan IgM yang tinggi dapat bertahan selama bertahun-tahun setelah infeksi akut terjadi. Uji serologis IgG dan IgM sebaiknya hanya digunakan pada evaluasi awal wanita hamil yang dicurigai mengalami toxoplasmosis.

Isolasi dari Toksoplasma gondii melalui darah atau cairan tubuh dapat menunjukkan adanya infeksi akut. Namun secara klinis, pengujian serologis untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap T.gondii merupakan metode utama. Kelemahan dari tes ini adalah belum terstandar dan memiliki tingkat positif palsu dan negatif palsu yang tinggi.

Jika infeksi toxoplasmosis pada wanita hamil telah dikonfirmasi secara serologis, maka dapat dilanjutkan dengan uji aviditas IgG untuk menentukan perkiraan waktu infeksi. Aviditas rendah mengindikasikan infeksi primer dalam 5 bulan terakhir. Rangkaian uji ini dapat membantu diagnosis dan konseling prenatal.[5]

Rekomendasi Skrining Toxoplasmosis di Berbagai Negara

Di Amerika Serikat, skrining serologi toxoplasmosis rutin pada ibu hamil tidak dianjurkan. Alasan tidak direkomendasikannya skrining rutin antara lain seroprevalensi yang relatif rendah, insiden infeksi akut yang relatif rendah, kurangnya standarisasi tes serologis, dan efikasi biaya. Panduan di Amerika Serikat menganjurkan agar skrining prenatal untuk toxoplasmosis dibatasi hanya pada wanita yang mengalami imunosupresi atau imunodefisiensi.[5]

Di lain pihak, negara Perancis sudah menerapkan skrining prenatal untuk pencegahan toxoplasmosis kongenital. Di Perancis, sekitar 70% wanita hamil belum memiliki kekebalan terhadap T. gondii, dimana sekitar 0,2-0,25% terinfeksi selama kehamilan.[7] Selain Perancis, negara lain yang memiliki program skrining prenatal untuk toxoplasmosis adalah Austria dan Slovenia.[8]

Skrining Toxoplasmosis di Indonesia

Belum ada data nasional resmi mengenai prevalensi toxoplasmosis di Indonesia. Penelitian di Kota Samarinda yang melakukan skrining toxoplasmosis pada 23 wanita di komunitas pecinta kucing melaporkan bahwa sebanyak 43% mengalami toxoplasmosis.[9] Sementara itu, penelitian lain di Puskesmas Sipang Kawat, Jambi yang melibatkan 41 sampel yang diuji dengan Rapid Test IgG menunjukkan hasil 17 orang reaktif IgG toxoplasmosis, 22 non-reaktif, dan 2 sampel meragukan.[10]

Di Indonesia, belum ada program skrining toxoplasmosis untuk semua wanita hamil. Serologi IgG dan IgM Toxoplasma diperiksakan jika ada kecurigaan kuat, seperti pada kasus abortus habitualis. Skrining toxoplasmosis di Indonesia biasanya dilakukan berbarengan dengan skrining TORCH (Toxoplasmosis, Other diseases, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes).[9,10]

Kesimpulan

Toxoplasmosis merupakan infeksi yang berdampak signifikan bagi janin, terutama jika paparan terjadi pada trimester awal kehamilan. Di beberapa negara, seperti Perancis dan Austria, skrining toxoplasmosis untuk wanita hamil atau berencana akan hamil sudah menjadi program nasional. Di beberapa negara lain, termasuk Indonesia, skrining toxoplasmosis hanya dilakukan pada kelompok berisiko saja. Di Indonesia, program skrining toxoplasmosis belum diterapkan secara universal bagi semua wanita hamil. Serologi IgG dan IgM Toxoplasma hanya diperiksakan jika ada indikasi atau atas permintaan pasien.

Studi lebih lanjut diperlukan di Indonesia untuk lebih memahami seroprevalensi karena studi saat ini kecil dan hanya pada komunitas risiko tinggi yang ditargetkan. Angka kejadian toxoplasmosis kongenital juga belum diketahui di Indonesia. Pemahaman yang lebih baik dari informasi ini kemudian dapat memandu kebijakan apakah skrining universal untuk toxoplasmosis pada kehamilan diperlukan, dengan mengetahui bahwa skrining dan pengobatan toxoplasmosis dapat mencegah deformitas kongenital yang menyebabkan cacat seumur hidup.

Referensi