Serumenolitik Tetes Untuk Serumen Prop

Oleh dr. Yelvi Levani

Terdapat berbagai cara untuk mengeluarkan serumen. Selain tindakan pengeluaran serumen oleh dokter, pasien dapat menggunakan obat tetes telinga atau serumenolitik secara mandiri untuk melembutkan serumen sehingga diharapkan serumen dapat keluar sendiri. Selain itu penggunaan tetes telinga juga dapat membantu memudahkan dokter untuk mengeluarkan serumen dengan menggunakan alat seperti suction atau hook telinga. Efek samping yang dapat dialami pasien setelah menggunakan tetes telinga adalah iritasi ringan pada telinga, nyeri ringan, dan telinga berbau. Penggunaan tetes telinga untuk mengeluarkan serumen umumnya tidak memberikan efek samping yang berat.

Serumen merupakan produk campuran dari sekresi kelenjar sebasea dan kelenjar keringat apokrin, dan sel-sel epitel. Serumen bermigrasi ke lateral dengan kecepatan 2mm per bulan.[1] Sekresi serumen merupakan mekanisme alamiah tubuh untuk melindungi liang telinga dan biasanya secara alami akan keluar sendiri. Tetapi bila terjadi penumpukan serumen maka dapat menimbulkan berbagai keluhan diantaranya telinga terasa tersumbat, tinnitus, nyeri telinga, gatal di telinga, vertigo dan penurunan pendengaran. Keluhan telinga terasa tersumbat dan penurunan pendengaran akibat penumpukan serumen merupakan salah satu alasan pasien memeriksakan diri ke dokter umum.

Penumpukan serumen bisa menyebabkan keluhan telinga tersumbat, tetapi sebaliknya tidak semua pasien dengan keluhan telinga tersumbat disebabkan oleh penumpukan serumen. Penumpukan serumen juga dapat memiliki dampak klinis diantaranya: (a) menyebabkan dokter sulit melihat gendang telinga / membrane timpani, (b) dapat menyebabkan tuli konduksi sehingga dapat menurunkan nilai ambang pendengaran, (c) bila serumen mengenai membrane timpani dapat menyebabkan keluhan vertigo, dan (d) penumpukan serumen dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.[2]

Penumpukan serumen lebih sering terjadi pada laki-laki bila dibandingkan dengan wanita, serta lebih sering dialami oleh pasien usia tua.[3,4] Penumpukan serumen tidak berkaitan dengan tingkat kebersihan personal yang rendah. Penumpukan serumen dapat berhubungan dengan pembersihan telinga menggunakan cotton bud, penggunaan earphone terlalu sering serta penggunaan alat bantu pendengaran.[5] Pengeluaran serumen merupakan tindakan THT yang paling sering dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Di Inggris, tindakan pengeluaran serumen dilakukan sebanyak empat juta kali setiap tahunnya.[6]

ear drop

Jenis Serumenolitik Tetes

Tetes telinga yang dapat digunakan untuk melembutkan serumen di antaranya adalah:

  • Tetes telinga berbahan dasar minyak (oil based solution), seperti trietanolamin polipeptida, dan benzokain. Tetes telinga berbahan dasar minyak dapat meningkatkan lubrikasi dari serumen.

  • Tetes telinga berbahan dasar air (water based solution) seperti hydrogen peroksida (H2O2) 3%, Asam asetat 2%, natrium klorida 0,9%, air atau natrium bikarbonat 10%. Tetes telinga berbahan air dapat meningkatkan kelarutan serumen.

  • Larutan selain minyak dan air (non oil non water based solution) seperti karbamid peroksida, gliserol, karbogliserin 10%.[1,5]

Cara Penggunaan Serumenolitik Tetes

Secara umum, serumenolitik tetes dapat digunakan dengan cara:

  • Bersihkan bagian luar telinga dan keringkan sebelum meneteskan obat
  • Sebelum digunakan, sebaiknya hangatkan obat tetes dengan cara menggenggam botol obat selama 1 sampai 2 menit untuk mengurangi risiko pusing / vertigo akibat penetesan cairan yang dingin.
  • Miringkan kepala, Tarik cuping telinga ke atas secara perlahan untuk meluruskan liang telinga, teteskan obat ke liang telinga, serta pertahankan posisi kepala sekitar 5 menit sehingga obat dapat masuk kedalam liang telinga. Lakukan hal yang sama di telinga satunya bila memang diperlukan.
  • Untuk mencegah kontaminasi bakteri pada obat tetes, aplikator obat tidak boleh menyentuh permukaan apapun termasuk telinga. Tutup tempat obat secara rapat setelah digunakan.
  • Penggunaan obat tetes telinga dapat dilakukan dalam beberapa hari sesuai dengan anjuran dokter.[7]

Obat tetes telinga untuk melembutkan serumen tidak dapat diberikan bila pasien memiliki riwayat alergi terhadap bahan (misalnya alergi gliserol / gliserin), membran timpani tidak intak, atau memiliki keluhan keluar cairan dari telinga.[7]

Studi Efektivitas Penggunaan Serumenolitik Tetes

Penggunaan serumenolitik tetes dapat meningkatkan kesuksesan irigasi telinga sampai 97%.[8] Pada studi yang mengevaluasi penggunaan serumenolitik tetes sebelum irigasi telinga, ditemukan bahwa tetes telinga yang berbahan dasar air lebih efektif bila dibandingkan dengan tetes telinga yang berbahan dasar minyak.[9]

Sebuah metaanalisis dilakukan untuk mengetahui efektivitas penggunaan tetes telinga untuk mengeluarkan serumen, melibatkan 10 studi yang membandingkan antara penggunaan tetes telinga baik yang berbahan dasar minyak, berbahan dasar air, hanya menggunakan air, hanya menggunakan larutan salin atau tidak melakukan terapi apa-apa. Terdapat 623 partisipan dari berbagai usia yang mengalami penumpukan serumen total atau parsial.[5]

Satu studi membandingkan kelompok pasien yang menggunakan tetes telinga yang berbahan aktif dengan kelompok pasien yang tidak melakukan terapi apa-apa. Kelompok yang melakukan terapi aktif memiliki proporsi kebersihan telinga yang lebih tinggi (22%) bila dibandingkan kelompok yang tidak melakukan terapi (5%) setelah lima hari terapi. Pada studi yang membandingkan antara kelompok pasien yang menggunakan tetes telinga berbahan aktif dengan kelompok pasien yang menggunakan air/larutan salin, ditemukan tidak ada perbedaan yang signifikan. Selain itu tidak ditemukan perbedaan yang bermakna antara penggunaan tetes telinga dari bahan dasar minyak bila dibandingkan dengan tetes telinga dari bahan dasar air.[5]

Dari studi metaanalisis tersebut disimpulkan bahwa penggunaan tetes telinga dapat membantu untuk mengeluarkan serumen, tetapi masih belum jelas apakah tetes telinga yang mengandung bahan aktif lebih baik dari air larutan salin. Tidak ada perbedaan antara tetes telinga yang berbahan dasar minyak bila dibandingkan dengan tetes telinga yang berbahan dasar air.[5]

Kesimpulan

Serumen merupakan produk yang disekresi di kelenjar sekitar telinga sebagai mekanisme alamiah perlindungan pada telinga. Serumen umumnya dapat keluar sendiri, tetapi pada sebagian orang dapat mengalami penumpukan sehingga menyebabkan keluhan seperti telinga terasa penuh, gatal, nyeri, vertigo dan penurunan pendengaran.

Serumen dapat dilunakkan dengan menggunakan serumenolitik tetes yang berbahan dasar air, minyak, ataupun bukan keduanya. Penggunaan serumenolitik tetes dapat membantu mengeluarkan serumen bila dibandingkan tanpa terapi, namun belum ada bukti klinis yang signifikan mengenai perbedaan efektivitas serumenolitik tetes berbahan aktif dibandingkan air/larutan salin.

Referensi