Risiko Morbiditas Maternal pada Sectio Caesarea

Oleh :
dr. Andreas Michael Sihombing

Risiko morbiditas maternal pada sectio caesarea hanya memiliki perbedaan yang sangat rendah dengan persalinan per vaginam. Namun, operasi sectio caesarea juga memiliki risiko komplikasi akibat operasi, misalnya infeksi atau sepsis, memiliki biaya yang lebih tinggi, serta membutuhkan waktu rawat yang lebih lama.

Operasi sectio caesarea merupakan prosedur bedah yang bertujuan untuk mengeluarkan bayi dari dalam rahim ibu dengan menggunakan insisi pada abdomen dan rahim.[1] Data epidemiologi menunjukkan keterbatasan fasilitas dan kurangnya jumlah operasi sectio caesarea di suatu daerah dapat meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi di daerah tersebut. Namun, operasi sectio caesarea tanpa indikasi diduga justru meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada ibu.[2-4]

Depositphotos_19971453_s-2019_compressed

Morbiditas Maternal Terkait Operasi Sectio Caesarea

Efek samping terkait operasi sectio caesarea masih menjadi perdebatan. Pasien yang menjalani operasi sectio caesarea dianggap memiliki kondisi dasar yang lebih buruk dibanding pasien yang melahirkan secara per vaginam. Hal ini dapat menjadi pencetus angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi pada pasien-pasien tersebut. Kesimpulan ini diperkuat dengan adanya data yang menunjukkan bahwa pasien yang menjalani operasi sectio caesarea gawat darurat memiliki risiko mortalitas dua kali lipat dibandingkan operasi sectio caesarea terencana. Artinya, komplikasi pada pasien mungkin saja tidak disebabkan secara langsung oleh tindakan operasi sectio caesarea, namun disebabkan oleh fakta bahwa pasien dengan kondisi dasar yang lebih buruk lebih sering menjalani persalinan dengan operasi sectio caesarea.[5,6]

Morbiditas Maternal Sectio Caesarea pada Negara Maju

Meskipun begitu, terdapat pula hasil yang menunjukkan kesimpulan yang berbeda. Pasien dengan operasi sectio caesarea terencana memiliki risiko terjadinya histerektomi akibat perdarahan postpartum dan henti jantung yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan persalinan per vaginam. Hal yang patut menjadi perhatian adalah penelitian tersebut dilakukan di negara maju dengan angka komplikasi yang sangat rendah (Tabel 1). Operasi sectio caesarea juga memperpanjang lama rawat setelah persalinan selama 0,6-1,4 hari. [7,8]

Dengan risiko relatif histerektomi mencapai 2,31 kali lipat, dan henti jantung sebesar 4,91 kali lipat dibandingkan persalinan per vaginam, beberapa ahli berpendapat bahwa operasi sectio caesarea tanpa indikasi harus dihindari, sementara ahli lain berpendapat bahwa prevalensi kejadian yang ada terlalu kecil untuk dijadikan alasan untuk mengurangi angka operasi sectio caesarea.[7,8]

Tabel 1. Morbiditas Maternal pada Operasi Sectio Caesarea Terencana Dibandingkan Persalinan Per vaginam Terencana

Komplikasi Prevalensi (Operasi Sectio caesarea) Prevalensi (Persalinan Per vaginam) Risiko Relatif
Histerektomi akibat perdarahan postpartum 0,03% 0,01% 2,31
Henti jantung 0,19% 0,03% 4,91

Sumber: Sandall J, Tribe RM, Avery L, et al. Short-term and long-term effects of caesarean section on the health of women and children. Lancet. 2018.[7]

Morbiditas Maternal Sectio Caesarea pada Negara Berkembang

Penelitian lain di negara berkembang membandingkan operasi sectio caesarea dan persalinan dengan ekstrasi vakum. Pada setting dengan sumber daya terbatas, angka morbiditas maternal berupa ruptur uteri, histerektomi, laparotomi, serta kematian menurun secara signifikan pada pasien yang menjalani ekstraksi vakum.

Hasil ini menunjukkan bahwa persalinan dengan ekstraksi vakum dapat menjadi pilihan yang lebih aman untuk menekan angka operasi sectio caesarea. Namun, perlu diingat bahwa ekstraksi vakum tidak selalu berhasil, dan kegagalan tersebut dapat menjadi indikasi untuk operasi sectio caesarea.

Di lain pihak, data juga menunjukkan bahwa sebagian pasien yang direncanakan menjalani operasi sectio caesarea dapat menjalani ekstraksi vakum percobaan pada saat menunggu kamar operasi (22,1% pasien), dengan angka kesuksesan 92,4%. Risiko morbiditas maternal pada kelompok pasien ini tidak berbeda dengan kelompok operasi sectio caesarea.[10]

Yang patut menjadi perhatian adalah tingginya angka mortalitas dalam persalinan di negara berkembang; angka kematian ibu setelah operasi sectio caesarea di Afrika mencapai 50 kali lipat lebih tinggi dibanding negara maju. Hal ini terkait risiko perioperatif yang lebih tinggi pada pasien-pasien di negara berkembang akibat akses kesehatan terkait kehamilan dan persalinan, terutama terkait operasi sectio caesarea yang sangat terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasikan data tersebut pada kasus operasi sectio caesarea yang direncanakan dengan baik.[11]

Morbiditas Maternal Lainnya pada Sectio Caesarea

Komplikasi lain yang dapat terjadi akibat operasi sectio caesarea di antaranya perdarahan uterus abnormal, inkontinensia urine dan fekal, serta prolaps organ dalam pelvis. Sebuah ulasan sistematis dan meta analisis di tahun 2018 menunjukkan bahwa risiko perdarahan uterus abnormal dan inkontinensia fekal pada pasien yang menjalani operasi sectio caesarea tidak berbeda dengan pasien yang menjalani persalinan per vaginam. Sementara itu, risiko inkontinensia urine dan prolaps organ dalam pelvis pada pasien operasi sectio caesarea terlihat lebih rendah.[7,9]

Morbiditas Maternal Terkait Operasi Sectio Caesarea Berulang

Operasi sectio caesarea berulang meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, plasenta akreta, dan histerektomi pada ibu. Risiko tersebut meningkat secara progresif seiring jumlah operasi sectio caesarea pada pasien, dengan peningkatan risiko yang signifikan pada pasien dengan >3 kali operasi sectio caesarea. Data ini berarti risiko terbesar pada pasien yang menjalani operasi sectio caesarea bukanlah pada persalinan sectio caesarea pertama, melainkan kehamilan dan persalinan setelahnya, sehingga pasien yang tidak memiliki rencana untuk hamil kembali tidak perlu mempertimbangkan risiko ini.[12]

Operasi Sectio Caesarea Atas Permintaan Sendiri

Sebuah kajian etik dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia menyatakan bahwa operasi sectio caesarea terencana hanya memiliki sedikit perbedaan morbiditas maternal dengan persalinan per vaginam, dan memperbolehkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi melakukan tindakan operasi sectio caesarea berdasarkan permintaan pasien. Kajian tersebut menyatakan bahwa operasi sectio caesarea yang dilakukan pada usia kehamilan >39 minggu tidak meningkatkan risiko morbiditas maternal, sebaliknya, operasi sectio caesarea yang direncanakan dengan baik dapat membantu ibu dalam perencanaan setelah persalinan.[13]

Di Indonesia, operasi sectio caesarea atas permintaan sendiri yang tertulis secara eksplisit diperbolehkan setelah pasien mendapat penjelasan dari dokter yang akan melakukan pembedahan mengenai:

  • Persalinan secara sectio caesarea akan dilakukan walaupun berdasarkan pemeriksaan dokter, pasien dapat melahirkan secara per vaginam
  • Persalinan secara sectio caesarea tidak lebih baik maupun lebih berisiko jika dibandingkan dengan persalinan per vaginam
  • Adanya risiko yang dapat timbul pada ibu dan janin terkait tindakan sectio caesarea, misalnya infeksi atau sepsis, biaya yang lebih tinggi, waktu rawat inap yang lebih lama[13]

Hal ini sejalan dengan rekomendasi dari The American College of Obstetricians and Gynecologists, yang menyatakan bahwa meskipun dokter harus tetap memberikan edukasi dan rekomendasi agar pasien memilih persalinan per vaginam, dokter tidak boleh menolak permintaan pasien untuk menjalani operasi sectio caesarea jika usia kehamilan lebih dari 39 minggu. Pasien harus tetap diingatkan bahwa risiko terjadinya plasenta previa, plasenta akreta, dan histerektomi meningkat secara progresif seiring jumlah operasi sectio caesarea yang dijalani pasien.[1]

Kesimpulan

Di negara maju, morbiditas terkait operasi sectio caesarea sangatlah rendah, dengan komplikasi yang paling signifikan berupa histerektomi akibat perdarahan (0,03%) dan henti jantung (0,19%). Walau lebih tinggi 2-4 kali lipat dibandingkan pasien yang menjalani persalinan per vaginam, angka prevalensi komplikasi yang rendah tersebut menjadi alasan operasi sectio caesarea tetap umum dilakukan atas permintaan pasien tanpa adanya indikasi.

Data dari negara berkembang pada setting sumber daya terbatas menunjukkan bahwa morbiditas terkait operasi sectio caesarea lebih tinggi dibandingkan ekstraksi vakum, namun interpretasi data ini harus dilakukan dengan hati-hati, sebab data yang ada berasal dari daerah dengan akses kesehatan terkait kehamilan dan persalinan yang rendah, dan sulit diaplikasikan pada kasus di mana operasi sectio caesarea dilakukan dengan perencanaan yang baik.

Di Indonesia, operasi sectio caesarea dapat dilakukan atas permintaan sendiri tanpa adanya indikasi, dengan syarat dilakukan pada usia kehamilan >39 minggu, dan pasien telah mendapatkan penjelasan yang cukup dari dokter. Penjelasan yang harus disampaikan mencakup risiko morbiditas maternal yang mendekati persalinan per vaginam, risiko dari operasi sectio caesarea itu sendiri (misalnya infeksi atau sepsis), biaya yang lebih tinggi, serta durasi rawat inap yang lebih panjang. Jika pasien tetap memutuskan untuk melakukan sectio caesarea, dokter tidak boleh menolak permintaan pasien.

Referensi