Rekomendasi Vaksinasi Relawan Kesehatan saat Bencana

Oleh :
dr. Hendra Gunawan, Sp.PD

Vaksinasi untuk relawan kesehatan pascabencana diperlukan untuk melindungi relawan dari penyakit menular. Artikel ini akan membahas vaksin-vaksin yang diberikan sebagai perlindungan untuk menghadapi bencana.

Bencana alam atau disaster dapat terjadi dalam berbagai bentuk, baik bencana alam maupun bencana yang terjadi bukan oleh pengaruh alam seperti krisis keamanan maupun pengeboman di Bali pada tahun 2002. Dampak dari bencana alam dapat menimbulkan berbagai pengaruh pada kehidupan manusia, baik pengaruh negatif maupun positif.[1]

shutterstock_1708106761-min

Pada berbagai studi sebelumnya, telah diteliti bahwa petugas yang menangani kesehatan, baik relawan maupun non-relawan memiliki berbagai masalah kesehatan yang dapat mempengaruhi performa mereka dalam menjalankan tugasnya dalam menangani bencana tersebut. Masalah tersebut dapat terjadi pada berbagai aspek kesehatan, mulai dari psikologis hingga aspek jasmani.[1,2]

Pada saat pascabencana penyebaran penyakit menular sering terjadi. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai sebab, seperti terkonsentrasinya tempat tinggal korban maupun relawan bencana alam di tempat yang kurang memadai, infrastruktur yang terganggu, maupun gangguan alur pelayanan kesehatan yang terjadi. Hal ini menyebabkan mudahnya transmisi berbagai penyakit menular, terutama yang disebarkan melalui vektor seperti malaria, demam dengue, Japanese encephalitis, demam tifoid, dan yellow fever.[2]

Rekomendasi Vaksinasi pada Relawan Kesehatan

Hingga saat ini, tidak ada suatu konsensus atau arahan yang pasti mengenai jenis imunisasi apa yang sebaiknya diterima oleh relawan kesehatan pada saat menjalankan tugas pada tempat yang baru saja mengalami bencana alam. Namun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memberikan rekomendasi mengenai jenis vaksinasi untuk relawan kesehatan berdasarkan lokasi terjadinya bencana maupun jenis vaksinasi yang harus diterima oleh relawan kesehatan.[3]

Rekomendasi Center of Disease and Control Prevention (CDC)

Imunisasi yang direkomendasikan oleh CDC untuk relawan kesehatan saat ini adalah imunisasi tetanus dan hepatitis B. Vaksinasi lain yang direkomendasikan untuk diberikan pada relawan kesehatan yang bertugas di daerah bencana alam di luar Amerika Serikat adalah hepatitis A, tifoid, kolera, meningokokus, dan rabies.[3]

Imunisasi tetanus diberikan pada relawan yang tidak memiliki riwayat imunisasi yang jelas maupun telah memiliki riwayat imunisasi tetanus lengkap lebih dari 10 tahun sebelumnya. Imunisasi hepatitis B diberikan pada relawan yang akan bertugas melakukan penanganan langsung pada pasien dan memiliki risiko kontak dengan cairan tubuh korban bencana alam.[3]

Tidak banyak kepustakaan yang membahas mengenai mengapa kedua imunisasi tersebut dibutuhkan. Namun, CDC mengatakan bahwa imunisasi tetanus diperlukan mengingat kondisi lingkungan pasca terjadinya bencana umumnya memiliki sanitasi yang kurang baik, sehingga bila terjadi luka akibat pekerjaannya, risiko terjadinya luka kotor meningkat.[4]

Selain itu, mengingat manusia tidak mempunyai kekebalan alamiah terhadap tetanus, dan tetanus sendiri merupakan penyakit menular yang dapat menginfeksi luka, terutama luka pada saat bencana alam. Sehingga pemberian imunisasi aktif dengan tetanus toksoid maupun imunisasi pasif dengan tetanus imunoglobulin direkomendasikan.[5]

Sedangkan untuk hepatitis B, CDC mengatakan bila seorang relawan telah melakukan 2 kali imunisasi hepatitis B sebelum keberangkatan, kemungkinan besar telah terbentuk antibodi protektif terhadap hepatitis B yang akan melindungi relawan dari infeksi hepatitis B. [4] Namun, bila seorang relawan telah berangkat dan terekspos hepatitis B di tempat kerjanya, maka profilaksis pasca pajanan hepatitis B dapat diberikan dengan memberikan Hepatitis B immunoglobulin secara injeksi intramuskular 3mL pada larutan 16% paling lama seminggu setelah pajanan.[6]

Sebelum menerima vaksinasi, pastikan relawan kesehatan memiliki rekam imunisasi agar dapat menentukan imunisasi apa saja yang diperlukan sebelum terjun ke area bencana. Perlu diingat, bahwa hal ini bukanlah langkah mutlak yang harus dilakukan agar dapat terjun ke area bencana alam, melainkan dianggap sebagai langkah preventif agar relawan kesehatan tidak membebani area bencana alam dan berfungsi sebagai tindakan pencegahan.[3]

Imunisasi pada Relawan Kesehatan

Berdasarkan CDC, tetanus dan hepatitis B merupakan vaksin yang diberikan pada relawan kesehatan saat bencana. Namun ada beberapa imunisasi tambahan yang diberikan sesuai dengan kondisi setiap negara. Imunisasi lainnya adalah vaksin hepatitis A, vaksin tifoid, vaksin kolera, vaksin meningokokus, dan vaksin rabies.

Vaksin Tetanus

Bila tidak memiliki riwayat imunisasi, dapat diberikan Tdap atau dosis tunggal toxoid Tetanus/Difteri (T/d) yang diberikan secara intramuskular (0,5 mL). Perlu diingat tetanus dapat menular walaupun tidak ada luka yang kasat mata.[3,7,8]

Vaksin Hepatitis B

Pada relawan yang telah menerima 3 dosis hepatitis B, maka tidak perlu melakukan imunisasi ulangan.[3,7,8]

Pada relawan yang belum menerima imunisasi hepatitis B, maka hepatitis B diberikan secara intramuskular sebanyak 1,0 mL dengan 3 dosis pada hari 0, 7, dan hari ke-21 dengan booster diberikan dalam rentang 1 tahun untuk memerkuat imunitas terhadap hepatitis B.[3,7,8]

Bila relawan belum menerima imunisasi lengkap hepatitis B melakukan kontak dengan cairan tubuh, dapat diberikan profilaksis pasca pajanan hepatitis B.[3,7,8]

Vaksin Hepatitis A

Imunisasi hepatitis A akan memberikan efek kekebalan dalam 2 minggu pascaimunisasi. Imunisasi dapat diberikan pada relawan yang bekerja menangani sumber air minum, mengelola air limbah buangan, maupun selokan. Imunisasi diberikan secara intramuskular (1 mL) pada otot deltoid secara tunggal.[3,7,8]

Vaksin Tifoid

Tidak direkomendasikan mengingat vaksin tifoid menghasilkan kekebalan terhadap demam tifoid dalam jangka pendek.[3,7,8]

Vaksin Kolera

Belum ada keterangan rekomendasi mengingat penggunaannya terbatas pada kasus bencana alam.[3,7,8]

Vaksin Meningokokus

Tidak ada indikasi imunisasi meningokokus pada relawan bencana alam mengingat pada relawan dipilih individu yang tidak memiliki faktor risiko terjadinya infeksi meningokokus.[3,7,8]

Vaksin Rabies

Dapat diberikan sebagai profilaksis pascapajanan pada relawan yang terekspos atau menyelamatkan atau kontak dengan binatang di area bencana alam.[3,7,8]

Profilaksis pascapajanan dapat diberikan dalam bentuk virus anti rabies 0,5 mL secara intramuskular pada otot deltoid kanan dan kiri pada hari ke-0, dilanjutkan 0,5 mL pada hari ke-7 secara intramuskular di deltoid, dan akhirnya 0,5 mL pada hari ke-21 secara intramuskular di deltoid.[3,7,8]

Penggunaan Alat Pelindung Diri Selama Bencana

Kekurangan dan ketersediaan vaksin yang sulit tidak serta merta menghentikan relawan bencana untuk bekerja. Setiap relawan bencana memiliki risiko kontak langsung dengan jenazah maupun hewan. Sehingga setiap relawan harus memakai alat pelindung diri sesuai dengan universal precaution.[9,10]

Risiko tergigit oleh hewan liar di bencana mungkins aja terjadi. Hewan liar seperti ular, kucing, hingga anjing liar. Penting untuk selalu memakai alat pelindung diri setiap saat, hindari mendekati hewan dan panggil tim terkait untuk mengamankan hewan liar. Berikut ini beberapa komplikasi akibat gigitan hewan, selulitis, sepsis, nekrosis jaringan hingga kematian.[9-12]

Penting untuk segera melakukan protokol profilaksis. Seperti protokol profilaksis rabies dan tetanus.

 

Kesimpulan

Pada kondisi khusus, yaitu bencana alam, diperlukan suatu penanganan secara komprehensif oleh berbagai pihak, khususnya oleh tenaga yang bertugas sebagai relawan atau disease responder yang dapat terdiri dari berbagai kalangan, latar belakang, hingga elemen. Untuk itu, diperlukan suatu persiapan, khususnya vaksinasi mengingat kondisi area bencana alam umumnya telah memiliki higiene dan sanitasi yang kurang baik.

Selain itu, risiko terjadinya penyakit infeksi terutama tetanus meningkat oleh karena risiko terjadinya luka pada relawan saat melakukan tugasnya besar dan luka yang terjadi dapat merupakan luka kotor. Selain itu, pada saat melakukan tugasnya, ada risiko terekspos oleh cairan tubuh korban bencana alam.

Oleh karena itu, CDC merekomendasikan vaksinasi tetanus dan hepatitis B sebagai upaya pencegahan yang seyogyanya dilakukan sebelum relawan berangkat ke area bencana alam. CDC juga merekomendasikan penggunaan alat pelindung yang tepat sesuai dengan lokasi dan tipe bencana.

Profilaksis tersebut tidaklah menjadi suatu keharusan mutlak, melainkan dapat dimodifikasi seperti dapat diberikannya profilaksis pascapajanan pada relawan yang belum terimunisasi hepatitis B namun telah terjun ke lapangan. Selain itu, vaksinasi yang dianjurkan sesuai dengan unit kerjanya adalah hepatitis A dan rabies.

Referensi