Red Flag Retensi Urine

Oleh :
dr. Audric Albertus

Red flag atau tanda bahaya retensi urine perlu dikenali agar dokter dapat mengetahui kasus mana yang perlu penanganan lebih lanjut atau hospitalisasi. Retensi urine dapat bersifat akut maupun kronik dan umumnya lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan, karena ukuran uretra laki-laki yang lebih panjang dan adanya prostat.

Etiologi tersering dari retensi urine adalah obstruksi, baik karena benign prostatic hyperplasia atau BPH (terutama), kanker prostat, kanker buli, batu buli, striktur uretra, maupun massa pelvis yang lain. Namun, retensi urine juga dapat disebabkan oleh etiologi infeksi/inflamatori, etiologi neurologis, dan trauma.[1-4]

shutterstock_1075846787

Definisi Retensi Urine

Retensi urine akut didefinisikan sebagai kondisi tidak bisa mengeluarkan urine secara tuntas yang terjadi mendadak, disertai dengan rasa nyeri suprapubik, dan kandung kemih dapat terpalpasi atau terperkusi. Namun, dokter perlu teliti dalam melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, karena beberapa pasien retensi urine mungkin tidak mengeluhkan nyeri.

Red Flag Retensi Urine

Penemuan red flag retensi urine dapat membantu klinisi mengidentifikasi etiologi serius yang perlu penanganan lebih lanjut atau hospitalisasi. Berikut ini merupakan beberapa red flag retensi urine:

  • Retensi disertai hematuria yang tidak self-limiting dan terus berlanjut setelah irigasi kandung kemih
  • Retensi disertai gejala dan tanda urosepsis, seperti demam, abnormalitas heart rate, sesak napas, dan leukositosis/leukopenia
  • Retensi disebabkan oleh trauma di area genital atau pelvis
  • Retensi disertai dengan gejala dan tanda cedera ginjal akut, seperti peningkatan kreatinin serum
  • Retensi disertai kecurigaan keganasan, seperti penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, riwayat keluarga dengan kanker, dan riwayat bekerja di industri kimia yang menjadi faktor risiko kanker
  • Retensi disertai nyeri kepala yang dapat menandakan space-occupying lesion di otak
  • Retensi disertai nyeri sepanjang saraf panggul (skiatika) bilateral dan hilangnya sensasi pangkal paha yang dapat menandakan lesi pada kauda equina
  • Retensi disertai riwayat tindakan intervensi transuretra atau kateterisasi uretra jangka panjang yang berarti bahwa pasien mungkin telah mengalami striktur uretra dan dokter tidak bisa mendapatkan akses uretra
  • Retensi disertai riwayat trauma korda spinalis, hipotensi, paralisis flaccid, dan inkontinensia fekal yang umumnya menandakan pasien sudah mengalami syok spinal[2,5-12]

Tata Laksana Retensi Urine

Penanganan awal retensi urine adalah kateterisasi uretra dengan ukuran 14–18 French gauge. Bila terjadi kegagalan atau terdapat kontraindikasi kateterisasi uretra, pasien dapat menerima kateterisasi suprapubik atau dirujuk ke urolog. Setelah melakukan dekompresi kandung kemih, klinisi dapat melakukan investigasi lebih lanjut untuk mencari etiologi dan menata laksana sesuai etiologi yang ditemukan.

Sebagian besar pasien yang berhasil dikateterisasi uretra dan tidak memiliki indikasi hospitalisasi maupun red flag dapat dipulangkan setelah kateterisasi.[1,2,4]

Sekilas tentang Manajemen Pasien dengan Red Flag Retensi Urine

Setelah dekompresi kandung kemih, penemuan red flag pada pasien retensi urine perlu diikuti dengan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan etiologi dan menentukan langkah perawatan lebih lanjut.

Anamnesis

Anamnesis yang lengkap dapat membantu klinisi mengevaluasi etiologi seperti tersebut di atas. Etiologi trauma, infeksi berat atau sepsis, keganasan, dan etiologi neurologis perlu diwaspadai. Untuk semua kasus, dokter perlu mengevaluasi akses uretra. Bila pasien memiliki riwayat striktur uretra, cedera uretra, atau riwayat sulit kateterisasi uretra, lakukan kateterisasi suprapubik atau rujuk pasien ke urolog. Dokter juga perlu menyelidiki riwayat penggunaan obat yang dapat memicu retensi, misalnya antihistamin dan antikolinergik.[1,2,4]

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik abdomen dapat menemukan distensi, perkusi buli yang redup, dan palpasi suprapubik yang nyeri. Pada suspek BPH atau kanker prostat, digital rectal examination dapat dilakukan untuk memeriksa prostat. Penurunan sensasi perineal dan tonus sfingter ani pada pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan sindrom kauda equina. Pada wanita, lakukan pemeriksaan pelvis lengkap untuk mengevaluasi massa atau prolaps organ. Pemeriksaan neurologis seperti tonus otot, sensorik, dan refleks juga perlu dilakukan untuk evaluasi etiologi neurologis.[1,2,4]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan urine postvoid residual (PVR) dengan USG dapat memastikan ada tidaknya retensi. Urinalisis dapat dilakukan untuk menilai perdarahan, kristal, atau infeksi saluran kemih. Pemeriksaan fungsi ginjal berupa ureum dan kreatinin juga diperlukan untuk mengevaluasi ada atau tidaknya gangguan ginjal bersama retensi urine.[1,2,4]

Referensi