Potensi Risiko Skrining Prostate Specific Antigen (PSA)

Oleh dr. Paulina Livia

Skrining kanker prostat dengan pemeriksaan prostate specific antigen (PSA) memiliki potensi manfaat dan risiko. Potensi manfaat skrining ini adalah deteksi dini kanker prostat. Namun, belakangan ini beberapa penelitian menunjukkan bahwa potensi risiko skrining PSA lebih besar dibandingkan manfaatnya.

Prostate specific antigen (PSA) adalah enzim glikoprotein yang dihasilkan oleh sel epitel prostat. Enzim ini berfungsi untuk mencairkan semen di seminal coagulum selama proses ejakulasi sehingga sperma dapat bergerak bebas. PSA juga terdeteksi di darah dalam bentuk bebas atau terikat protein plasma. Kadar normal PSA adalah 0–4 ng/mL. Namun, kadar normal ini berbeda-beda sesuai usia. Pertambahan usia >60 tahun berhubungan dengan peningkatan kadar PSA hingga >4 ng/ml tanpa disertai kelainan pada prostat.[1,2]

Kondisi normal yang dapat menurunkan kadar serum PSA adalah obesitas dan obat tertentu, yaitu inhibitor 5α reduktase, asetaminofen, antiinflamasi nonsteroid, dan statin. Sedangkan peningkatan kadar PSA dapat disebabkan oleh kondisi berikut:

  • Kanker prostat : Peningkatan kadar PSA dapat terjadi 5–10 tahun sebelum gejala kanker prostat. Meskipun dalam batas normal, peningkatan PSA >0,35 ng/mL setiap tahunnya dapat merupakan tanda kanker prostat
  • Prostatitis : Kadar PSA akan kembali normal 6–8 minggu setelah gejala membaik

  • Benign prostate hyperplasia (BPH) : Tingginya kadar PSA sebanding dengan volume pembesaran prostat

  • Pasca biopsi prostat atau transurethral resection (TURP) : Setelah tindakan invasif pada prostat, PSA dapat meningkat dengan drastis (median 7,9 ng/mL). Pemeriksaan PSA sebaiknya dilakukan 6 minggu pasca tindakan
  • Retensi urine akut atau pemakaian kateter urine : Pemeriksaan PSA sebaiknya dilakukan 2 minggu kemudian
  • Ejakulasi : Dalam 48 jam setelah ejakulasi, kadar PSA dapat meningkat hingga 0,8 ng/mL [2]

Potensi Risiko Skrining Psa

Pemeriksaan PSA digunakan dalam tata laksana kanker prostat, yaitu dalam proses skrining dan evaluasi terapi. Sebagai skrining, batasan/cut-off yang digunakan adalah 3,0 ng/mL atau 4,0 ng/mL.[1] Dulu, skrining PSA dilakukan rutin karena berpotensi untuk mendeteksi kanker prostat lebih dini. Namun, akhir-akhir ini berbagai penelitian menunjukkan bahwa skrining PSA memiliki potensi risiko.

Positif Palsu

Penelitian the Prostate, Lung, Colorectal, and Ovarian (PLCO) menyatakan bahwa dari 68.436 subjek yang menjalani 14 kali skrining PSA, sekitar 10,4% di antaranya pernah mendapat hasil positif palsu minimal pada 1 kali pemeriksaan. Sekitar 85% dari subjek yang mendapat hasil positif palsu melakukan skrining ulang. Subjek yang melakukan pemeriksaan radiologi untuk mengonfirmasi adalah 44,1%. Sebanyak 45,5% subjek menjalani prosedur invasif, termasuk biopsi. Sementara itu, studi European Randomized Study of Screening for Prostate Cancer (ERSPC) mengatakan bahwa positif palsu ditemukan pada 17,8% dari 61.604 subjek.[3,4]

Overdiagnosis

Suatu meta analisis tahun 2010 memperkirakan bahwa overdiagnosis kanker prostat terjadi pada 29–50% skrining PSA. Sebab, skrining PSA meningkatkan diagnosis kanker prostat hingga 1,46 kali lipat.[5]

Komplikasi Biopsi

Studi yang dipublikasi tahun 2012 melaporkan bahwa komplikasi yang dapat terjadi pasca biopsi adalah nyeri (43,6%), demam (17,5%), hematuria (65,8%), hematochezia (36,8%), dan hemoejakulasi (92,6%). Gejala tersebut dapat menetap hingga 35 hari. Komplikasi pasca biopsi akan memberikan pengalaman tak menyenangkan bagi pasien, terutama nyeri dan gejala infeksi. Hal ini dapat menyebabkan pasien enggan untuk melakukan biopsi di kemudian hari. Dari studi tersebut, tidak ada kasus kematian yang terjadi akibat komplikasi perdarahan dan infeksi. [6]

Komplikasi Terapi

Secara garis besar, pengobatan kanker prostat stadium awal dibedakan menjadi terapi konservatif dan terapi non-konservatif (tindakan operatif ataupun radiasi). Terapi non-konservatif berhubungan dengan komplikasi yang lebih sering dibandingkan kelompok konservatif. Komplikasi yang dimaksud adalah inkontinensia urine, disfungsi ereksi, gangguan pada usus besar, ataupun inkontinensia feses. Meskipun demikian, terdapat perbedaan antar hasil studi. Beberapa studi justru mengatakan bahwa komplikasi terapi non-konservatif lebih ringan dibandingkan terapi konservatif atau komplikasi keduanya tidak berbeda bermakna.[7]

Depositphotos_13281336_original

Potensi Manfaat Skrining PSA

Skrining PSA memiliki sensitivitas 27% dan spesifisias 97%. Berbagai penelitian menyatakan bahwa pemeriksaan PSA dapat mendiagnosis kanker prostat lebih dini. Meskipun demikian, hal ini tidak berhubungan dengan mortalitas kanker prostat. Studi PLCO, ERSCP, dan CAP menyatakan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara tingkat mortalitas kelompok skrining PSA dan kelompok kontrol. Oleh karena itu, potensi manfaat skrining PSA dianggap relatif lebih kecil dibandingkan potensi risikonya.[7,8]

Panduan Klinis Yang Ada Saat Ini

Berikut adalah rekomendasi dari berbagai guideline/panduan mengenai skrining PSA dalam kanker prostat:

American Society Clinician Oncology (ASCO) 2012

  • Pada pria dengan kemungkinan hidup <10 tahun, tidak disarankan untuk melakukan skrining PSA.
  • Pada pria dengan kemungkinan hidup >10 tahun, disarankan melakukan skrining PSA. Namun, perlu diingat bahwa skrining PSA dapat menimbulkan bahaya akibat biopsi, operasi, atau terapi radiasi yang seharusnya tidak perlu.[9]

National Institute for Health and Care Excellence (NICE) 2014

Kadar PSA yang tinggi tidak boleh menjadi dasar pemeriksaan biopsi, kecuali didukung dengan anamnesis, pemeriksaan rectal touche, atau tanda lain yang mendukung diagnosis kanker prostat.[10]

European Society for Medical Oncology (ESMO) 2015

Skrining PSA pada pria <70 tahun yang asimptomatik tidak disarankan. Sedangkan, skrining PSA pada populasi umum tidak disarankan karena menyebabkan overdiagnosis dan overtreatment.[11]

U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) 2017

Skrining PSA untuk kanker prostat pada pria 55-69 tahun merupakan keputusan pasien. Sebelum melakukan keputusan klinis, pasien diberi kesempatan untuk mendiskusikan potensi manfaat dan risiko dari pemeriksaan PSA.

Sedangkan pada pria usia > 70 tahun, tidak disarankan melakukan skrining PSA untuk kanker prostat.[12]

American Urological Association (AUA) 2013

  • Skrining tidak boleh dilakukan untuk pria <40 tahun.
  • Skrining rutin untuk pria 40–54 tahun dan >70 tahun tidak disarankan.
  • Skrining dapat dilakukan untuk pria 55–69 tahun setelah berdiskusi dengan dokter.
  • Skrining rutin dilakukan setiap dua tahun.[13]

Kesimpulan

Skrining PSA memiliki potensi manfaat berupa deteksi dini kanker prostat. Namun, pemeriksaan PSA juga memiliki potensi risiko berupa kemungkinan positif palsu, overdiagnosis, komplikasi pasca intervensi diagnostik lanjutan, dan komplikasi terkait tatalaksana. Oleh karena itu, pemeriksaan PSA pada populasi umum sudah tidak disarankan lagi.

Pemeriksaan PSA dianjurkan dengan mempertimbangkan usia dan faktor risiko pasien. Selain itu, dokter perlu mendiskusikan kepada pasien terlebih dahulu mengenai potensi manfaat dan risiko sebelum melakukan skrining PSA. Untuk mengurangi potensi risiko, kadar PSA yang tinggi tanpa disertai faktor risiko, gejala, atau pemeriksaan lain yang mendukung kemungkinan ke arah kanker prostat sebaiknya tidak dilakukan tindakan lebih lanjut, seperti biopsi. Jika dokter ragu, dapat dilakukan pemeriksaan PSA ulangan untuk konfirmasi. Perlu diperhatikan bahwa saat melakukan pemeriksaan PSA, pasien tidak memiliki kondisi yang dapat meningkatkan kadar PSA, misalnya prostatitis.

Referensi