Peran Terapi Pernapasan pada Asthma

Oleh :
dr. Hendra Gunawan, Sp.PD

Terapi pernapasan diduga mampu meningkatkan kontrol gejala pada asthma. Terdapat berbagai teknik terapi pernapasan yang dapat digunakan, seperti teknik Buteyko dan yoga.

Telah banyak bukti ilmiah menunjukkan peran positif penatalaksanaan nonfarmakologi pada berbagai penyakit, termasuk untuk meningkatkan kualitas hidup tanpa intervensi obat-obatan yang berpotensi menimbulkan efek samping.[1] Hal ini juga berlaku pada asthma, suatu penyakit kronik inflamatorik pada jalan napas yang ditandai dengan mengi, sesak napas, batuk, dan rasa berat di dada.[2]

shutterstock_1702385605-min

Dalam perjalanan penyakitnya, pasien asthma dapat mengalami episode eksaserbasi yang tidak terprediksi dan mengurangi kualitas hidup. Sebagian pengidap asthma juga memiliki spektrum penyakit yang lebih berat, walaupun memiliki kepatuhan yang baik terhadap terapi. Hal ini menyebabkan kompleksitas terapi asthma, dan manajemen nonfarmakologi seperti breathing exercise diharapkan mampu  meningkatkan luaran pasien.[3-5]

Efikasi Terapi Pernapasan pada Asthma

Terdapat berbagai jenis terapi pernapasan yang dapat digunakan dalam tata laksana asthma, seperti teknik Buteyko dan pernapasan teknik yoga.[6] Namun, studi yang meneliti efikasi teknik pernapasan tersebut masih sangat terbatas.

Secara garis besar, terapi pernapasan pada asthma dapat dikelompokan menjadi 3:

  • Terapi yang bertujuan memanipulasi pola pernapasan
  • Terapi meningkatkan kekuatan atau stamina otot pernapasan
  • Terapi yang bertujuan meningkatkan fleksibilitas rongga dada dan memperbaiki postur[7]

Santino et al., melaporkan bahwa terapi pernapasan umumnya berfokus pada tidal volume, meningkatkan relaksasi, memotivasi pasien untuk melakukan latihan mandiri di rumah, dan memodifikasi pola pernapasan dengan pernapasan hidung, menahan napas, hingga menggunakan pernapasan abdomen.[6]

Terapi Pernapasan: Yoga

Salah satu jenis terapi pernapasan yang dapat digunakan dalam tata laksana asthma adalah terapi pernapasan dengan menggunakan gerakan dari senam Yoga. Berbagai contoh teknik pernapasan yoga yang dapat digunakan oleh pengidap asthma adalah pranayama (latihan pernapasan dalam), kapalabhati (mengatur pola napas), bhastrika (pernapasan cepat dan dalam dengan menggunakan otot abdominal), ujjayi (pranayama dengan suara yang lebih intens), meditasi, dan shavasana (terapi relaksasi).[8,9]

Sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2017 mencoba menganalisis efikasi terapi pernapasan menggunakan gerakan yoga Pranayama yang ditambahkan dalam terapi asthma standar. Kualitas hidup pasien diukur menggunakan skor St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ). Studi ini melibatkan 60 pasien asthma stabil yang telah mendapat terapi medikamentosa terstandar selama setidaknya 3 bulan. Peneliti menyimpulkan bahwa terapi pernapasan meningkatkan skor SGRQ secara signifikan. Namun, studi ini tidak menganalisis perubahan fungsi paru pada spirometri, seperti Forced Expiratory Volume in 1s, Forced Vital Capacity, maupun Peak Expiratory Flow Rate. [9]

Sebuah studi lain oleh Sodhi et al., melibatkan 120 pasien asthma ringan yang dirandomisasi untuk mendapat terapi pernapasan yoga dan kelompok kontrol. Pada studi ini, fungsi pernapasan diukur pada awal penelitian, 4 minggu, dan 8 minggu. Hasil analisis menunjukkan tren peningkatan signifikan pada kelompok yang menjalani terapi pernapasan yoga dibandingkan kontrol. [10] Hasil serupa dilaporkan oleh uji klinis lain yang melibatkan 60 pasien dengan asthma derajat ringan hingga sedang. Terapi pernapasan dilaporkan secara signifikan meningkatkan fungsi paru dan bermanfaat sebagai tata laksana adjuvan pada asthma. [8]

Terapi Pernapasan: Buteyko

Terapi pernapasan Buteyko dikembangkan oleh Konstantin Buteyko berdasarkan pemahaman bahwa hiperventilasi adalah dasar dari terjadinya bronkospasme pada asthma, meskipun hal ini bukanlah patogenesis asthma yang diakui. Hal ini disebabkan akibat hipokapnia yang terjadi pada saat hiperventilasi.[12] Dalam metode Buteyko, prinsip yang digunakan adalah memodifikasi pola pernapasan menjadi pernapasan yang dangkal, menurunkan frekuensi pernapasan diselingi dengan penghentian pernapasan dengan kendali, dan menganjurkan pernapasan dengan hidung.[12,13]

Tinjauan sistematik yang dilakukan oleh Burgess et al., melaporkan bahwa terapi pernapasan dengan metode Buteyko dapat meningkatkan kualitas hidup pengidap asthma, dan menurunkan kebutuhan terhadap â2-agonis seperti salbutamol. Namun, Burgess et al., juga melaporkan bahwa metode Buteyko tidak memperbaiki fungsi paru yang diukur dengan peak expiratory flow rate, forced vital capacity, maupun forced expiratory volume in 1s (FEV1). [13]

Manfaat penggunaan terapi pernapasan dengan metode Buteyko masih menjadi kontroversi, mengingat ada studi yang melaporkan hiperventilasi dan hipokapnea bukan merupakan dasar terjadinya asthma. Ditambah lagi, tidak didapatkan bukti perubahan kadar karbondioksida pada terapi Buteyko. [12]

Hasil Tinjauan Terbaru Terkait Efikasi Terapi Pernapasan pada Asthma

Pada Maret 2020, Santino et al mempublikasikan tinjauan sistematik mengenai efikasi terapi pernapasan pada asthma di Cochrane Database of Systematic Reviews. Tinjauan ini merupakan pembaruan dari tinjauan sebelumnya yang dipublikasikan pada tahun 2013.

Pada tinjauan sistematik ini, dimasukkan 9 studi baru (total partisipan 1910 orang), sehingga total studi yang dianalisis menjadi 22 studi dengan total jumlah sampel 2880 orang. Dari keseluruhan studi tersebut, 14 studi menggunakan terapi pernapasan yoga, 4 studi menggunakan breathing retraining, 1 studi menggunakan metode Buteyko, 1 studi menggunakan metode Buteyko dan Pranayama, 1 studi menggunakan metode Papworth, dan 1 studi lain menggunakan metode pernapasan diafragma.

Hasil analisis menunjukkan bahwa terapi pernapasan mampu meningkatkan kualitas hidup pasien 3 bulan setelah terapi dimulai. Terapi pernapasan tidak ditemukan membantu mengurangi gejala asthma. Namun, ditemukan mengurangi gejala hiperventilasi pada 4-6 bulan setelah memulai terapi. FEV1 ditemukan mengalami peningkatan pada kelompok pasien yang melakukan terapi pernapasan. [6] Perlu dicatat bahwa kualitas bukti ilmiah yang ditinjau berkisar antara rendah hingga sedang. Masih dibutuhkan studi dengan sampel lebih besar dan metodologi lebih baik sebelum kesimpulan dapat diambil

Kesimpulan

Banyak studi terdahulu mengindikasikan manfaat terapi pernapasan dalam tata laksana asthma. Terapi pernapasan dapat dilakukan menggunakan berbagai metode, seperti yoga dan metode Buteyko.

Walaupun bukti ilmiah terkait efikasi terapi pernapasan masih terbatas, bukti ilmiah yang tersedia saat ini menunjukkan potensi terapi pernapasan sebagai adjuvan dalam terapi asthma ringan-sedang. Terapi pernapasan dilaporkan mampu meningkatkan kualitas hidup pasien, mengurangi gejala hiperventilasi, dan meningkatkan nilai forced expiratory volume in 1s (FEV1) pada spirometri. Perlu dicatat bahwa studi dengan jumlah sampel lebih besar dan metodologi lebih baik masih dibutuhkan sebelum kesimpulan yang lebih pasti dapat ditarik.

Referensi