Peran Kortikosteroid dalam Penanganan Croup pada Anak

Oleh dr.Della Puspita Sari

Kortikosteroid telah lama digunakan sebagai salah satu bentuk terapi croup pada anak. Berbagai studi menunjukkan pemberian kortikosteroid memberikan dampak yang baik dalam penanganan croup pada anak. Namun jenis kortikosteroid, rute pemberian serta dosis yang terbaik masih menjadi perdebatan.

Depositphotos_41014825_m-2015_compressed

Croup atau laringotrakeobronkitis merupakan penyakit infeksi di saluran nafas atas yang dicirikan dengan demam tidak terlalu tinggi, batuk yang seperti menggonggong dan gangguan pernafasan. Penyakit ini menyerang anak usia 6 bulan hingga 3 tahun dengan prevalensi tertinggi pada usia 2 tahun. Di Amerika, diagnosis croup mencapai 15% dari seluruh kunjangan anak di unit gawat darurat rumah sakit karena gangguan saluran nafas. Diperkirakan 80% kasus croup disebabkan oleh infeksi virus yaitu virus parainfluenza tipe 1-3. Infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae, respon alergi dan refluks gastroesofagus juga dapat memicu kondisi croup. Penularan croup akibat infeksi terjadi melalui transmisi droplet di udara dan melalui kontak langsung.[1,2]

Gejala croup dimulai dengan demam tidak terlalu tinggi, hidung berair, batuk dan nyeri tenggorokan. Setelah itu, secara tiba-tiba gejala dapat memberat menjadi batuk yang seperti menggonggong dan ditemukannya tanda distres pernafasan berupa nafas cuping hidung, retraksi dada maupun stridor inspirasi akibat edema dan produksi mukus yang berlebihan pada laring dan trakea. Pada kondisi yang ringan, batuk biasanya berkurang dalam 2 hari hingga 1 minggu. Malam hari dan kondisi agitasi dapat memperberat gejala. Pada umumnya, 85% anak dengan croup yang datang ke unit gawat darurat mengalami croup ringan, 1 hingga 8% membutuhkan perawatan di rumah sakit dan kurang dari 3% dari yang dirawat membutuhkan intubasi.[1,2]

Walaupun croup merupakan self-limiting disease, penyakit ini menyebabkan kehawatiran yang besar bagi orang tua serta menimbulkan beban yang besar karena tingginya tingkat kunjungan ke dokter, unit gawat darurat hingga perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu diperlukan pemberian terapi yang tepat untuk penanganan croup sehingga dapat mencegah mortalitas dan morbiditas.[1]

Terapi croup terdiri atas terapi suportif, pemberian kortikosteroid, nebulisasi dengan epinefrin serta pemberian oksigen. Pemberian kortikosteroid merupakan salah satu pilihan terapi croup yang telah digunakan sejak lama. Kortikosteroid dianggap mampu mengurangi inflamasi, permeabilitas vaskular dan edema pada mukosa laring sehingga mengurangi distres nafas pada anak.[1,2]  Berbagai studi telah dilakukan untuk mengetahui efektivitas kortikosteroid dalam penanganan croup pada anak dengan hasil yang cukup beragam. Selain itu jenis kortikosteroid, rute pemberian, serta dosis yang optimal masih menjadi perdebatan

Sebuah telaah sistematis oleh Russel et al pada tahun 2011 yang terdiri atas 41 studi bertujuan untuk mengetahui efektivitas kortikosteroid dibandingkan dengan plasebo ataupun terapi lainnya dalam penanganan croup pada anak. Keluaran utama yang dibandingkan adalah perubahan klinis croup (berdasarkan skor Westley) dan kunjungan ulang pasien ataupun perawatan inap kembali. Selain itu keluaran sekunder seperti lama perawatan, perbaikan klinis, dan penggunaan terapi lainnya juga dinilai.[3]

Efek Kortikosteroid pada Perbaikan Klinis Croup pada Anak

Dari 41 studi yang ada dalam telaah sistematis tersebut, terdapat 24 studi yang membandingkan langsung efek penggunaan kortikosteroid (seperti deksametason, budesonide, metilprednisolon, dan flutikason) dengan plasebo. Dari hasil analisis didapatkan penurunan derajat keparahan croup secara klinis (dinilai dengan skor Westley) yang signifikan pada 6 jam (-1.2, 95% CI -1.6 hingga -0.8) dan 12 jam (-1.9, 95% CI -2.4 hingga -1.3) pasca pemberian terapi pada kelompok dengan kortikosteroid. Analisis regresi lebih lanjut menunjukkan tidak terdapat perbedaan skor Westley yang bermakna antar jenis kortikosteroid yang berbeda (P=0,107). Selain berdasarkan skor Westley, proporsi perbaikan secara klinis juga terjadi lebih banyak secara signifikan pada kelompok dengan kortikosteroid dengan persentase mencapai 86% dan number needed to treat (NNT) sebanyak 5 pasien.[3]

Efek Kortikostreroid terhadap Readmisi dan Lama Perawatan

Penggunaan kortikosteroid menurunkan frekuensi kunjungan ulang dan readmisi sebanyak 0,5 kali dibandingkan dengan plasebo. Frekuensi kunjungan ulang pasien setelah menggunakan kortikosteroid rata-rata adalah 12% dengan NNT sebanyak 17. Selain itu, kelompok pasien yang menggunakan kortikosterid memiliki durasi perawatan 12 jam lebih singkat dibandingkan dengan kelompok plasebo. Penggunaan kortikosteroid juga menurunkan frekuensi penggunaan terapi tambahan berupa nebulisasi epinefrin sebanyak 10% dengan NNT 10. Tidak terdapat perbedaan kebutuhan intubasi atau trakeostomi pada kedua kelompok.[3]

Jenis Kortikosteroid, Rute, dan Dosis yang Dianjurkan

Jenis kortikosteroid dan rute administrasi yang paling sesuai untuk penanganan croup pada anak belum dapat dipastikan. Dari hasil analisis tidak ditemukan adanya perbedaan keluaran yang signifikan antara penggunaan budesonid (nebulisasi 2mg), deksametason (0,15-0,6mg/kgBB), betametason dan prednisolone (1mg/kgBB) maupun kombinasi di antaranya. Dua studi membandingkan langsung pemberian deksametason menggunakan rute oral atau intramuskular. Hasil menunjukkan penggunaan oral lebih diutamakan namun tidak menimbulkan perbedaan keluaran yang signifikan.[3] Sebuah studi menunjukkan pada anak dengan croup ringan, penggunaan deksametason oral lebih cepat menyebabkan perbaikan klinis dibandingkan penggunaan deksametason dengan nebulisasi.[4]

Saran Penggunaan

Kortikosteroid dosis tunggal sebaiknya diberikan pada pasien anak dengan croup ringan hingga berat sesegera mungkin sejak gejala klinis muncul. Deksametason adalah kortikosteroid yang paling direkomendasikan karena memiliki waktu paruh yang lama sehingga pemberian dosis tunggal dapat memberikan efek antiinflamasi hingga 72 jam. Dosis yang disarankan adalah 0,15-0,6 mg/kg dengan dosis maksimal 10 mg. Pada kondisi berat, sebaiknya gunakan dosis yang tinggi karena terbukti aman dan lebih efektif. Rute oral merupakan rute yang direkomendasikan apabila memungkinkan. Pada pasien dengan kondisi sakit berat dan membutuhkan rute parenteral, pemberian kortikosteroid melalui jalur intravena lebih direkomendasikan dibandingkan intramuskular. Pemberian intramuskular hanya disarankan apabila rute oral dan intravena tidak memungkinkan.[1,3,5]

Selain itu, pemberian kortikosteroid lain seperti nebulisasi budesonide 2mg tidak terlalu direkomendasikan karena dapat memperparah kondisi agitasi pada anak dan memicu perburukan gejala.[2] Belum ada studi yang membandingkan langsung penggunaan kortikosteroid dosis tunggal dengan dosis berulang namun pada umumnya apabila dibutuhkan terapi jangka panjang, penyebab utama dari gangguan nafas harus ditangani.[1]

Tidak dilaporkan adanya efek samping yang berhubungan dengan penggunaan kortikosteroid pada pasien croup seperti perdarahan saluran cerna, varicella dengan komplikasi dan trakeitis bakterial, terlebih lagi dengan penggunaan dosis tunggal. Namun penggunaan kortikosteroid perlu diwaspadai dan dipertimbangkan pada pasien dengan diabetes mellitus, kondisi immunocompromised dan riwayat perdarahan saluran cerna.[1,6]

Kesimpulan

Penggunaan kortikosteroid dosis tunggal terbukti bermanfaat dalam mengurangi gejala klinis croup pada anak dalam 6 dan 12 jam setelah pemberian, menurunkan angka readmisi dan menurunkan kebutuhan terapi tambahan berupa nebulisasi epinefrin. Deksametason oral dosis tunggal (0,6mg/kgBB) merupakan sediaan kortikosteroid yang direkomendasikan dan dapat digunakan untuk terapi croup ringan hingga berat pada anak. Tidak ditemukan adanya efek samping yang signifikan setelah penggunaan kortikosteroid pada pasien croup.

Referensi