Peran Dokter di Sekolah

Oleh dr. Josephine Darmawan

Peran dokter di sekolah saat ini masih belum optimal. Umumnya sekolah hanya memiliki unit kesehatan sekolah (UKS) yang fungsinya tidak bisa menggantikan fungsi dokter sekolah yang seharusnya.

shutterstock_152177597_compressed

Pendidikan dan kesehatan merupakan dua hal yang saling mendukung satu sama lain. Kedua sektor ini memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas suatu bangsa. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua hal ini menjadi sorotan dan berbagai kebijakan tentang pengadaan dokter atau unit kesehatan sekolah mulai dikembangkan. Implementasi dokter ataupun unit kesehatan yang baik di sekolah dinilai akan membantu mengurangi angka kesakitan, membantu promosi kesehatan, upaya preventif penyakit.[1,2] Akan tetapi, peranan dokter atau unit kesehatan di sekolah masih kurang terasa, terutama di Indonesia.

Setiap anak menghabiskan waktu kurang lebih 6-7 jam di sekolah per hari atau sekitar 180 hari dalam 1 tahun. Hal ini membuat lingkungan sekolah akan sangat mempengaruhi perkembangan biopsikososial anak, sehingga implementasi dokter atau petugas kesehatan di sekolah sangat diperlukan.[1,2] Kesehatan sekolah ini juga diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang kesehatan yang berbunyi “Kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat, sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis dan optimal, sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas”.[3]

Fungsi Dokter di Sekolah

Adanya dokter di sekolah dapat memberikan manfaat-manfaat tertentu. Secara umum, dokter di sekolah berperan dapat membantu dalam menangani kasus anak sakit tiba-tiba sekolah, terutama akibat kegiatan olahraga, misalnya pertolongan pertama pada trauma, dehidrasi, atau diare. Dokter juga berperan penting dalam mengurangi angka kesakitan anak dan melakukan pencegahan penyakit dengan melakukan promosi kesehatan dan edukasi, terutama untuk penyakit infeksi. Dokter sekolah juga memiliki peran dalam mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mengontrol kelayakan lingkungan sekolah, misalnya udara dan air bersih. Program imunisasi juga dapat dilakukan dengan lebih baik apabila ada dokter di sekolah.[2,4-6] Selain menjangkau para siswa, dokter juga dapat melakukan edukasi ke orang tua murid agar dapat menerapkan PHBS di rumah, mengetahui informasi nutrisi anak yang baik, serta mendukung program-program kesehatan untuk anak yang tersedia. Dokter di sekolah juga dapat mendukung kesehatan staf di sekolah, sehingga proses belajar mengajar dapat menjadi lebih efektif.[2,4]

Menurut Akademi Dokter Anak Amerika / American Academy of Pediatrics (AAP), dokter di sekolah diharapkan memiliki kompetensi dan pengetahuan lebih dalam terhadap aspek berikut:

  • Penyakit infeksi: melakukan pencegahan, kontrol outbreak, dan lainnya
  • Penyakit kronis, terutama yang berpotensi mengganggu kualitas hidup pasiennya, seperti asma, diabetes mellitus, dan lainnya
  • Kesehatan masyarakat: melakukan promosi kesehatan, penyuluhan PHBS, dan lainnya
  • Melaksanakan program imunisasi bila memungkinkan dan tidak ada kontraindikasi
  • Kebijakan hukum kesehatan, misalnya memastikan sekolah memenuhi standar dan regulasi secara medis, baik dari ventilasi, luas ruangan, kualitas udara, penyediaan air bersih, dan lainnya
  • Kesehatan olahraga
  • Kegawatdaruratan medis, terutama anafilaksis

  • Konseling dan konsultasi misalnya membantu anak-anak yang mengalami depresi, korban bullying, masalah keluarga yang mengganggu kegiatan belajar mengajar, dan sebagainya

Peran dokter di sekolah tidak jauh berbeda dengan dokter keluarga di rumah. Dokter sekolah dan dokter keluarga di rumah yang bekerja sama dengan baik akan saling melengkapi fungsi masing-masing.[1,2,4]

Meskipun banyak manfaat yang didapatkan dari dokter sekolah, terdapat beberapa kekurangan yang mungkin dapat menghambat implementasi, seperti harus menyediakan dana lebih, ruangan tersendiri, dan peranan dokter sekolah yang dapat tumpang tindih atau bertolak-belakang dengan beberapa guru, seperti guru olahraga serta bimbingan dan penyuluhan (BP).[2,4-6]

Sejarah dan Perkembangan Dokter Sekolah

Penempatan dokter di sekolah mulai dilakukan sejak tahun 1890an di Amerika Serikat. Hal ini dilakukan dalam upaya mengontrol outbreak penyakit menular dan inspeksi medis. Dokter sekolah pada waktu itu merupakan salah satu ujung tombak dalam keberhasilan program imunisasi. Dalam perkembangannya, dokter sekolah diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan masyarakat atau komunitas, mulai dari sanitasi, vaksinasi, dan kontrol penularan penyakit. Dokter sekolah berkembang pesat pada awal tahun 1900an dengan jumlah dokter sekitar 1000.[7] Pentingnya peran dokter sekolah semakin disadari, sehingga mendorong AAP pada tahun 2013 mengeluarkan kebijakan bahwa setiap sekolah harus menyediakan paling tidak 1 orang tenaga dokter sekolah dalam distrik yang sama dan 1 perawat perawat di setiap gedung sekolah.[1,4] Peranan dokter di sekolah juga semakin berkembang dari waktu ke waktu. Dokter sekolah membantu para murid yang memiliki kebutuhan khusus, misalnya penyakit kronis seperti diabetes, asma, dan lainnya. Namun demikian, implementasi dokter sekolah sampai saat ini belum merata dan efektif, termasuk di negara maju seperti Amerika Serikat.[2,4-6]

Dokter Sekolah di Indonesia

Kementrian Kesehatan Indonesia saat ini sedang menggalakkan program dokter keluarga untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, akan tetapi kebijakan atau program untuk tenaga kesehatan di sekolah masih belum jelas, padahal angka kesakitan anak usia sekolah di Indonesia cukup tinggi, terutama terkait penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes mellitus. Anak-anak usia sekolah di Indonesia juga banyak terlibat dalam tindak kekerasan, konsumsi alkohol, merokok, dan sebagainya.[8]

Program untuk mencakup kesehatan di sekolah yang ada di Indonesia saat ini adalah Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M). Program UKSM ini diharapkan dapat mencakup:

  • Peningkatan kegiatan aktifitas fisik yang sehat di sekolah
  • Edukasi tentang nutrisi, seperti penyuluhan sarapan sehat dan pembinaan kantin sekolah
  • Promosi PHBS, seperti cuci tangan yang benar, melakukan kegiataan 3M; menutup, menguras, dan mengubur di lingkungan sekolah maupun rumah
  • Memasukkan kurikulum PHBS dalam modul pendidikan anak di sekolah

Namun demikian, hal ini masih sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan peranan yang dapat dilakukan oleh dokter sekolah seperti kriteria AAP. Kebijakan baru AAP untuk pengadaan dokter dan perawat di sekolah juga belum dapat diterapkan di Indonesia. Upaya yang saat ini dilakukan adalah transformasi UKS dengan menyediakan tim Pembina UKS dari Kementrian Kesehatan (kemkes) dan dinas kesehatan (dinkes) serta pelaksanaan trias UKS. Program ini baru direncanakan untuk diimplementasi pada 10 model sekolah sehat di kabupaten-kotamadya oleh dinkes, belum ada data yang jelas mengenai keberhasilan program ini.[3,8]

Kesimpulan

Kesehatan dan pendidikan merupakan dua hal yang saling mendukung satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Pengadaan dokter di sekolah merupakan salah satu kebijakan yang dapat membantu suatu negara dalam mencapai cakupan kesehatannya, terutama pada pasien anak. Dokter sekolah berperan terutama dalam upaya preventif, kontrol penyakit, dan pertolongan pertama. Dokter sekolah merupakan salah satu ujung tombak dalam bidang kesehatan masyarakat yang seharusnya tidak dikesampingkan, namun demikian, pengadaan dokter ataupun unit kesehatan sekolah di Indonesia masih jauh di bawah rata-rata. Peranan dan cakupan UKS yang ada di Indonesia belum bisa menggantikan peranan dokter sekolah yang seharusnya, namun demikian, program transformasi UKS ini merupakan awal mula yang cukup baik. Peranan tenaga kesehatan di sekolah sangat penting dan dapat membawa banyak hal positif untuk sektor kesehatan di Indonesia, akan tetapi keberhasilan program ini masih membutuhkan waktu karena baru diimplementasikan. Dinas kesehatan dan dinas pendidikan masih harus bekerja sama dengan baik untuk mengembangkan kebijakan dan kriteria khusus tentang standar kesehatan di lingkungan sekolah dan implementasi program transformasi UKS dengan lebih baik.

Referensi