Epidemiologi Hidradenitis Suppurativa
Data epidemiologi menunjukkan bahwa hidradenitis suppurativa lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria. Penyakit ini juga dilaporkan sering terlambat didiagnosis, dengan rerata waktu dari onset ke diagnosis adalah 10 tahun.[9]
Global
Hidradenitis suppurativa merupakan penyakit inflamasi kronis yang terutama mengenai individu usia 18–40 tahun. Prevalensi diperkirakan sekitar 0,1–1% di Amerika Serikat dan Inggris.
Hidradenitis suppurativa lebih sering ditemukan pada perempuan, dengan prevalensi pada perempuan di Amerika Serikat sekitar 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi berhubungan dengan kejadian dan tingkat keparahan hidradenitis suppurativa.
Epidemiologi hidradenitis suppurativa juga ditandai oleh keterlambatan diagnosis yang panjang. Rata-rata waktu dari munculnya gejala hingga diagnosis mencapai 10 tahun, dan sekitar 65% pasien menjalani sedikitnya 6 kali kunjungan dokter sebelum diagnosis ditegakkan.
Selain manifestasi kulit, hidradenitis suppurativa memiliki beban komorbiditas sekitar 2 kali lebih besar dibandingkan populasi umum, termasuk polyendocrine metabolic ovarian syndrome pada sekitar 9% perempuan dengan hidradenitis suppurativa dan gangguan psikiatri, terutama depresi yang prevalensinya dilaporkan mencapai 43%.[4,9]
Indonesia
Sampai sekarang belum terdapat studi yang meneliti prevalensi hidradenitis suppurativa di Indonesia.
Mortalitas
Tingkat mortalitas hidradenitis suppurativa dalam lima tahun dilaporkan sebesar 2,4%. Risiko kematian pada pasien hidradenitis suppurativa adalah sebesar 3,1 kematian per 100.000 pasien. Faktor seperti usia, jenis kelamin laki-laki, dan status merokok telah dilaporkan berhubungan dengan tingkat mortalitas pada pasien hidradenitis suppurativa.[10]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha