Penggunaan Kortikosteroid Topikal pada Keratitis Bakterialis

Oleh dr. Alexandra Francesca

Penanganan utama keratitis bakterialis adalah antibiotik topikal. Namun dalam praktiknya, banyak klinisi yang juga menggunakan tambahan kortikosteroid topikal. Penggunaan kortikosteroid topikal untuk keratitis bakterialis masih diperdebatkan.

Keratitis merupakan kondisi inflamasi kornea yang mengancam penglihatan. Penyakit ini dapat disebabkan oleh agen infeksi (misalnya bakteri atau virus), maupun non-infeksi (misalnya trauma atau benda asing). Keratitis bakterialis merupakan infeksi okuler serius akibat bakteri yang dapat menyebabkan kebutaan. Trauma kornea dahulu dikenal sebagai penyebab utama keratitis bakterialis, namun saat ini yang menjadi penyebab utama adalah penggunaan lensa kontak.[1, 2] Keratitis bakterialis sebelumnya lebih sering ditemukan pada orang tua, namun saat ini lebih banyak diderita orang muda usia produktif, sehingga saat ini keratitis bakterialis menjadi salah satu penyebab utama kebutaan pada usia muda.[2]

Penatalaksanaan Medikamentosa Keratitis Bakterialis

Penatalaksanaan tradisional keratitis bakterialis adalah antibiotik topikal gentamisin 15 mg/mL atau tobramisin 15 mg/mL 1 drop setiap setengah jam selama 1-2 hari kemudian dapat diubah menjadi setiap 2 jam bila ada perbaikan. Namun, tatalaksana terbaru keratitis bakterialis yaitu monoterapi fluorokuinolon generasi 4, terutama untuk kasus keratitis yang ringan atau ulkus yang kecil, seperti moxifloxacin atau gatifloxacin yang diberikan 1 drop setiap jam.[3, 4]

eye drops

Kortikosteroid Topikal Untuk Keratitis Bakterialis

Penggunaan kortikosteroid sebagai terapi tambahan untuk keratitis bakterialis masih diperdebatkan. Di satu sisi, penggunaan kortikosteroid topikal dianggap dapat menunda penyembuhan dan mengakibatkan perburukan infeksi.[5] Di lain pihak, penggunaan kortikosteroid untuk keratitis bakterialis didasari poin-poin berikut:

  • Meningkatkan keluaran pasien dengan mengurangi inflamasi sehingga dapat mengurangi pembentukan skar. Hal ini terjadi karena kortikosteroid menghambat kemotaksis neutrofil sehingga mengurangi aktivitas kolagenase dan sitokin yang dapat menyebabkan pembentukan ulkus dan skar
  • Mengurangi neovaskularisasi,
  • Mengurangi stromal melt (kondisi disolusi stroma kornea),

  • Mengurangi nyeri dan rasa tidak nyaman pada mata. Hal ini dinilai dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam berobat [5, 6]

Sebuah meta-analisis Cochrane terbaru tahun 2014 mencakup 4 randomized controlled trial (RCT) yang meneliti manfaat kortikosteroid topikal sebagai terapi tambahan keratitis bakterialis, menemukan bahwa antara kelompok antibiotik-steroid dan kontrol (hanya antibiotik):

  • Tidak ada perbedaan bermakna pada keluaran visus
  • Tidak ada perbedaan bermakna lama re-epitelisasi pada satu studi terbesar yang diteliti (Steroids for Corneal Ulcers Trial / SCUT)
  • Tidak ada perbedaan bermakna untuk adverse event pada 3 studi lainnya

  • Tidak ada perbedaan kualitas hidup[1]

Meskipun semua studi yang dianalisis memiliki metodologi yang baik, namun semuanya memiliki loss to follow-up cukup banyak (>10%) dan 3 dari 4 studi sebenarnya tergolong lemah (underpowered) untuk dapat mendeteksi adanya perbedaan treatment effect kedua kelompok.[1]

Perlu diingat bahwa penggunaan kortikosteroid perlu dihindari pada kasus-kasus atipikal dengan etiologi yang belum jelas. Sekalipun hasil kultur bakteri positif, adanya kemungkinan infeksi sekunder atau superinfeksi jamur pun perlu diwaspadai. Oleh karena itu, pemberian kortikosteroid topikal harus dipantau dan sebaiknya dihentikan jika infeksi semakin memburuk.[6]

KESIMPULAN

Hingga kini kortikosteroid topikal masih belum terbukti bermanfaat sebagai terapi adjuvan keratitis bakterialis dalam hal memperbaiki visus, ukuran ulkus, atau adverse event. Namun demikian, hal ini dapat disebabkan karena kebanyakan studi yang ada masih terlalu lemah untuk dapat mendeteksi treatment effect kortikosteroid untuk keratitis bakterialis.

Referensi