Tetes Mata Atropine dalam Penatalaksanaan Myopia

Oleh dr. Sunita

Penggunaan atropine tetes diduga dapat memperlambat progresivitas myopia. Myopia adalah masalah kesehatan global yang menyebabkan bukan hanya gangguan penglihatan tapi juga risiko kebutaan dan gangguan prestasi anak. Di Indonesia, studi berbasis populasi menunjukkan bahwa prevalensi myopia pada anak-anak mencapai 32,7%[1]. Sementara itu, pada kelompok usia dewasa di atas 21 tahun, prevalensi myopia di Sumatera mencapai 48,5%[2].

Kondisi myopia yang tidak terkoreksi dapat berdampak serius terhadap kualitas hidup. Individu yang terdiagnosis dengan myopia tinggi memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan individu yang terdiagnosis myopia ringan[3]. Tindakan bedah refraktif (misalnya LASIK), penggunaan kacamata, dan lensa kontak merupakan pilihan terapi saat ini[4].

Salah satu metode yang sedang dipelajari untuk memperlambat perburukan myopia adalah penggunaan atropine topikal[5–7]. Progresivitas kelainan refraksi akibat myopia diduga dapat diperlambat dengan penggunaan atropine, namun pertumbuhan bola mata merupakan faktor yang berpotensi menyebabkan kelainan refraksi muncul kembali saat tetes mata atropine dihentikan.

Mekanisme Kerja Atropine Untuk Pencegahan Progresivitas Myopia

Meskipun mekanisme kerja atropine untuk pencegahan progresivitas myopia masih belum diketahui dengan pasti, beberapa teori telah diajukan. Atropine merupakan suatu antagonis reseptor muskarinik nonselektif yang telah lama dipelajari efeknya terhadap hewan coba sejak beberapa dekade lalu.

Penggunaan atropine dalam memperlambat progresivitas myopia didasarkan pada asumsi bahwa akomodasi mempengaruhi perburukan myopia dan obat sikloplegik dapat mencegah hal ini. Namun, bukti lanjutan mengungkap bahwa atropine juga mencegah progresivitas myopia pada hewan dengan reseptor nikotinik alih-alih reseptor muskarinik. Sementara itu, modalitas nonfarmakologi yang berfungsi dalam menurunkan akomodasi (misalnya, kacamata) tidak memiliki efek bermakna dalam mencegah perburukan myopia. Akibatnya, fungsi akomodasi sudah tidak lagi dipikirkan sebagai faktor utama dalam progresivitas myopia[8].

Salah satu teori mengajukan bahwa terdapat peran sel amakrin dalam mengekspresikan reseptor muskarinik di membran sel. Ikatan antara atropine dengan reseptor muskarinik di sel amakrin diduga meningkatkan pelepasan dopamin yang merupakan suatu mediator kimiawi penghambat pertumbuhan mata. Penurunan kadar asam aminobutirat gamma (gamma aminobutyric acid/GABA) juga dipertimbangkan sebagai salah satu mekanisme yang menjelaskan peran atropine mengingat neurotransmiter tersebut mengalami atenuasi pasca terapi atropine pada tikus yang mengalami myopia. Selain itu, sklera juga diduga menjadi target kerja atropine sebab sel fibroblas sklera memiliki lima macam reseptor muskarinik pada membran selnya dan ikatan reseptor tersebut terhadap atropine berpotensi menghambat remodeling sklera.[9]

Asian women were carrying drugs and getting eye drops

Manfaat Atropine Pada Pengobatan Myopia

Studi ATOM (Atropine for the Treatment of Childhood Myopia) 1 dan ATOM 2 menjadi dasar ilmiah awal manfaat atropine pada pengobatan myopia[10,11]. ATOM 1 merupakan suatu uji klinis acak terkontrol dengan penyamaran ganda yang merekrut 400 partisipan anak-anak usia sekolah yang mengalami myopia dengan berbagai derajat keparahan (-1,00 s.d. -6,00 D) dan astigmatisme ringan (≤ 1,5 D). Partisipan diacak dan dibagi dalam dua kelompok dengan jumlah yang sebanding untuk mendapat tetes mata atropine 1% pada satu mata tiap malam sedangkan mata sisi sebelahnya mendapat plasebo[10].

Setelah menjalani terapi selama 2 tahun, rerata progresivitas myopia lebih rendah pada partisipan yang mendapat atropine topikal 1% dibandingkan partisipan pada kelompok kontrol. Penggunaan atropine berlangsung selama 2 tahun kemudian dihentikan dan partisipan dipantau lebih lanjut selama 12 bulan setelah terapi. Selama periode tanpa terapi tersebut, terjadi fenomena myopia rebound yang lebih bermakna pada kelompok yang mendapat atropine (-1,14±0,80 D) dibandingkan plasebo (-0,38±0,39 D). [12].

Menindaklanjuti hasil penelitian ATOM 1, studi ATOM 2 merekrut dan mengacak 400 partisipan lainnya dalam 3 kelompok dengan rasio 2:2:1 untuk mendapat atropine 0,5%; 0,1%; dan 0,01% untuk menguji hipotesis apakah pemberian atropine dosis rendah sama efektifnya dalam mencegah progresivitas myopia dibandingkan dengan atropine 1%[11].

Penggunaan atropine berlangsung selama 2 tahun kemudian dihentikan dan pasien dipantau lebih lanjut selama 1 tahun. Hasil penelitian ATOM 2 menunjukkan bahwa rerata progresivitas myopia dalam 24 bulan pertama pada kelompok partisipan yang mendapat atropine 0,5% adalah -0,30±0,60 D. Pada kelompok atropine 0,1% adalah -0,38±0,60 D. Dan pada atropine 0,01% adalah -0,49±0,63 D[7,11].

Pada 12 bulan berikutnya, fenomena myopia rebound lebih nyata terlihat pada pasien yang mendapat atropine 0,5% dibandingkan yang mendapat atropine 0,1% dan 0,01%. Progresivitas myopia total selama 3 tahun masa studi paling rendah ditunjukkan pada kelompok partisipan atropine 0,01% diikuti partisipan atropine 0,1% dan 0,5%. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang lebih rendah, atropine lebih efektif dalam menekan perburukan myopia dan memiliki tingkat myopia rebound yang lebih kecil.[7]

Kendati hasil studi ATOM 1 dan ATOM 2 telah menunjukkan efektifitas pada myopia, praktik pemberian atropine masih belum dilakukan secara luas. Hal ini sebagian dipengaruhi oleh kekhawatiran tentang dosis ideal, keamanan obat, dan seberapa jauh hasil uji klinis yang sebagian besar dilakukan pada populasi Asia tersebut dapat diaplikasikan pada kelompok etnis yang berbeda.

Sebuah tinjauan sistematik dan meta analisis dilakukan oleh Gong et al untuk menilai manfaat dan risiko pemberian berbagai dosis atropine topikal sebagai terapi myopia pada anak-anak. Hasil tinjauan sistematik tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang bermakna antara kelompok intervensi yang mendapat atropine dibandingkan kelompok kontrol terkait progresivitas myopia sebesar 0,50 D per tahun untuk atropine dosis rendah (atropine 0,01%); 0,57 D per tahun untuk atropine dosis sedang (atropine 0,01%-0,5%), dan 0,62 D per tahun untuk atropine dosis tinggi (0,5%-1.0%). [13]

Ditinjau dari efek samping yang ditimbulkan, pemberian atropine dosis tinggi berhubungan dengan efek samping yang lebih tinggi. Kejadian fotofobia pada penggunaan atropine dosis tinggi terjadi pada 43,1% kasus. Sedangkan hanya 6,3% dan 17,8% partisipan mengalami fotofobia pada kelompok yang mendapat atropine dosis rendah dan sedang. Perbedaan tingkat efek samping yang dipengaruhi dosis ini juga terlihat pada efek samping lain seperti kurangnya tajam penglihatan dekat dan reaksi alergi. [13]

Studi Gong et al ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, tingkat heterogenitas antar studi yang menjadi sampel analisis cukup tinggi sebab berbagai jenis desain studi dimasukkan dalam meta analisis untuk dapat menghitung besaran efek yang hendak dinilai. Kedua, analisis mendalam terhadap efek samping pemberian atropine dibatasi oleh sistem laporan efek samping yang belum komprehensif serta perbedaan tingkat insidens gejala efek samping yang dilaporkan pada masing-masing studi. Ketiga, tingkat kejadian myopia rebound tidak banyak dilaporkan pada berbagai sampel studi[13].

Implikasi Klinis

Implikasi klinis dari berbagai literatur yang telah dibahas pada bagian sebelumnya adalah pemberian obat tetes mata atropine dapat dipertimbangkan pada pasien anak-anak dengan myopia untuk memperlambat progresivitas myopia.

Edukasi dan evaluasi persepsi orang tua dan pasien tentang tujuan, prosedur, potensi efek samping, tingkat keberhasilan terapi perlu dilakukan sebelum mengawali terapi. Orang tua dan pasien perlu memahami bahwa pemberian atropine topikal bertujuan untuk memperlambat perburukan myopia, bukan memperbaiki tajam penglihatan seperti halnya terapi refraksi menggunakan teknik ortokeratologi.

Selain itu, komitmen terapi jangka panjang sekurang-kurangnya selama 2 tahun perlu diberikan oleh pasien dan orang tuanya disertai pemantauan selama dan setelah terapi untuk menjaga agar status myopia ringan tidak meningkat menjadi myopia tinggi sebelum beranjak dewasa. Penggunaan atropine dosis rendah, misalnya pada dosis 0,1%, lebih disarankan sebab memiliki efikasi yang sama dengan dosis lebih tinggi sedangkan tingkat efek sampingnya lebih rendah. Frekuensi dosis pemberian yang disarankan adalah satu kali sehari sebelum tidur.

Kesimpulan

Untuk memperlambat progresivitas myopia, pemberian obat tetes mata atropine dapat dipertimbangkan. Walaupun mekanisme tegas yang menjelaskan peran atropine dalam mengurangi perburukan myopia belum diketahui, beberapa teori mengungkap bahwa terdapat peran reseptor muskarinik di sel amakrin, penurunan level asam aminobutirat gamma, serta reseptor muskarinik pada sel fibroblas di sklera sebagai target kerja atropine. Berbagai uji klinis dan tinjauan sistematik menyimpulkan bahwa atropine dosis rendah lebih baik digunakan untuk mencegah progresivitas myopia dibandingkan dengan dosis tinggi. Penggunaan dosis rendah juga mencegah terjadinya myopia rebound.

Referensi