Penggunaan Antibiotik untuk Abses Kulit Tanpa Komplikasi

Oleh :
dr. Graciella N T Wahjoepramono

Penanganan abses kulit sering kali identik dengan pemberian antibiotik, bahkan dalam kondisi tanpa komplikasi. Praktek pemberian antibiotik untuk abses kulit tanpa komplikasi ini perlu dipertanyakan manfaatnya, terutama di era Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Abses kulit adalah kumpulan pus/nanah yang terisolasi di bagian dermis maupun hingga lapisan kulit yang lebih dalam. [1,2] Abses kulit tanpa komplikasi (uncomplicated) adalah abses tanpa infeksi sistemik, infeksi jaringan yang lebih dalam, infeksi superfisial (pustul/papul), hidradenitis supuratif, atau pasien dengan kondisi imunokompromais.[2]

Angka kejadian abses kulit terus meningkat, contohnya di Amerika jumlah pasien dengan abses kulit meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1995 hingga tahun 2005. [3] Di Indonesia abses kulit termasuk dalam kategori pioderma, yang menempati urutan empat besar jumlah kunjungan rawat jalan menurut data dari Departemen Kesehatan pada tahun 2008.[4] Bersama dengan peningkatan angka kejadian abses kulit, ditemukan juga peningkatan penemuan community-associated methicillin-resistant Staphylococcus aureus sebagai penyebab terbesar infeksi jaringan lunak.[5] Belum banyak data mengenai prevalensi MRSA di Indonesia, namun sebuah penelitian menemukan infeksi MRSA pada 47% infeksi kulit dan jaringan lunak pada 171 pasien rawat inap di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).[6]

Depositphotos_125933620_m-2015_compressed

 

Pedoman Penggunaan Antibiotik pada Abses Kulit Tanpa Komplikasi

Pedoman klinis untuk infeksi kulit dan jaringan lunak oleh Infectious Diseases Society of America pada tahun 2014 tidak menyarankan penggunaan antibiotik untuk abses kulit tanpa komplikasi. Pada pedoman klinis tersebut, dinyatakan bahwa terapi utama abses kulit adalah insisi dan drainase. Pemberian antibiotik sebagai terapi tambahan prosedur ini tidak disarankan untuk pasien tanpa tanda inflamasi sistemik (seperti suhu >38 C, takipnea, takikardi, atau leukositosis) atau tanpa gangguan sistem imun.[7] Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemberian antibiotik dapat meningkatkan penyembuhan jangka pendek untuk abses kulit tanpa komplikasi, sehingga rekomendasi guideline disarankan melakukan peninjauan ulang.[2, 8]

Penelitian mengenai Manfaat Antibiotik pada Abses Kulit Tanpa Komplikasi

Sebuah meta analisis terkini tahun 2018 mencari signifikansi dan pengaruh pemberian antibiotik untuk abses kulit tanpa komplikasi. Penelitian ini meninjau 14 randomized controlled trials (RCTs) yang mencakup 4,198 pasien dengan populasi dewasa serta anak-anak. Pertanyaan penelitian adalah pengaruh antibiotik vs plasebo; perbedaan antara pemberian kotrimoksazol atau clindamycin vs cephalosporin; dan perbedaan antara pemberian kotrimoksazol vs clindamycin. Penelitian ini meninjau pengaruh dari kotrimoksazol dan clindamycin terutama karena efektivitasnya terhadap MRSA. Hasil yang ditemukan adalah antibiotik menurunkan jumlah kegagalan terapi dibandingkan dengan tanpa antibiotik (OR 0.58, 95% CI 0.37 – 0.90, kualitas rendah). Pemberian antibiotik juga menurunkan angka rekurensi di bulan pertama dan bulan ketiga, mengurangi rasa nyeri, dan angka perawatan inap di rumah sakit (RS). Bila diberikan antibiotik, pemberian kotrimoksazol atau clindamycin lebih disarankan dibandingkan pemberian cephalosporin. Cephalosporin tidak menurunkan angka kegagalan terapi saat dibandingkan dengan plasebo. Penelitian ini juga merekomendasikan pemberian kotrimoksazol dibandingkan clindamycin karena clindamycin memiliki risiko diare karena antibiotik yang 10% lebih tinggi. Untuk faktor kegagalan terapi, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kotrimoksazol atau clindamycin. Perencanaan terapi untuk abses kulit tanpa komplikasi disarankan untuk didiskusikan bersama dengan pasien. Pasien sebaiknya dijelaskan mengenai pengaruh antibiotik yaitu mengurangi angka kegagalan terapi, mengurangi nyeri, rekurensi dan angka rawat inap. Namun efek samping pemberian antibiotik juga harus dijelaskan, terutama efek samping gastrointestinal seperti mual dan diare (terutama pada penggunaan clindamycin).[2,8]

Terdapat beberapa penelitian lainnya yang mendiskusikan topik ini, dan memberikan hasil yang bervariasi. Ada dua meta analisis yang meneliti antara penggunaan antibiotik vs plasebo untuk penyakit ini. Kedua studi ini tidak menemukan manfaat pemberian antibiotik sistemik bersama dengan insisi & drainase, dibandingkan dengan tindakan saja.[9, 10]

Penelitian menggunakan cephridine, cephalexin, atau kotrimoksazol tidak menemukan peningkatan persentase pasien yang sembuh sekitar 7-10 hari setelah terapi (88.1% vs 86.0%; OR 1.17 (95% CI 0.70-1.95)) dibandingkan plasebo.[9] Penelitian kedua yang mencakup 5 RCTs juga tidak menemukan manfaat antibiotik terhadap penyembuhan[10]. Perbedaan hasil antara kedua meta analisis ini dengan meta analisis terkini diperkirakan karena penggunaan antibiotik cephalosporin vs plasebo, juga karena perbedaan kekuatan penelitian mendeteksi pengaruh antibiotik yang ringan-sedang.[8]

Penelitian prospektif, double-blind pada tahun 2017 meneliti mengenai penggunaan antibiotik clindamycin atau kotrimoksazol vs plasebo untuk abses kulit berukuran kecil (diameter < 5 cm). Angka penyembuhan di kelompok dengan pemberian antibiotik lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan plasebo (68.9%, P<0.001). [11] Penelitian randomized trial lain yang meneliti perbedaan kotrimoksazol vs plasebo menemukan bahwa pemberian antibiotik dapat meningkatkan angka penyembuhan (92.9%; 95% CI, 3.2-11.2). Pemberian antibiotik juga mengurangi keperluan drainase ulang, infeksi kulit baru, dan penyebaran infeksi kulit ke orang di rumah tangga.[5]

Kesimpulan

Terdapat informasi mengenai manfaat pemberian antibiotik untuk penatalaksanaan tambahan abses kulit tak berkomplikasi. Meta analisis terkini, serta beberapa penelitian trial lainnya mendukung pemberian antibiotik, terutama yang efektif terhadap mikroba Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) seperti kotrimoksazol atau clindamycin. Hasil ini didukung oleh prevalensi MRSA yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Hal lain yang perlu dipertimbangkan dan didiskusikan dengan pasien adalah efek samping gastrointestinal dari pemberian antibiotik tersebut. Walau guideline penatalaksanaan infeksi kulit dan jaringan lunak belum menyarankan pemberian antibiotik untuk abses kulit tanpa komplikasi, informasi terbaru ini dapat digunakan sebagai pertimbangan rencana terapi.

Referensi