Pemberian Antibiotik Sistemik Untuk Abses Kulit dan Jaringan Lunak

Oleh dr. Yelvi Levani

Pemberian antibiotik sistemik untuk abses kulit dan jaringan lunak masih dalam perdebatan. Infeksi pada kulit dan jaringan lunak sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, baik di unit gawat darurat maupun poliklinik. Di Amerika Serikat, terdapat 6 juta kunjungan pasien yang menderita infeksi kulit dan jaringan lunak ke Rumah Sakit atau klinik setiap tahunnya.[1,2] Abses terdapat pada hampir dari separuh infeksi tersebut dan insidennya meningkat setiap tahun.[2,3]

Manajemen klinis standar terhadap abses kulit dan jaringan lunak adalah insisi dan drainase, sedangkan pemberian antibiotik secara sistemik masih kontroversial. [4] Abses kulit dan jaringan lunak dapat disebabkan oleh bakteri methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Rekomendasi dari Asosiasi Penyakit Infeksi di Amerika Serikat menyatakan bahwa terapi abses yang disebabkan oleh bakteri MRSA pada anak-anak dan dewasa adalah berupa insisi dan drainase saja, sedangkan pemberian tambahan antibiotik dapat diberikan pada pasien tertentu.[5] Rekomendasi ini dibuat berdasarkan studi-studi terdahulu yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pasien abses yang dilakukan insisi dan diberikan antibiotik sistemik dengan pasien abses yang hanya dilakukan insisi saja.[6,7] Tetapi studi terdahulu tersebut menggunakan jumlah sampel yang kecil dan pilihan antibiotik yang terbatas. Baru-baru ini terdapat 2 studi randomized controlled trials (RCT) yang melibatkan jumlah sampel yang besar dan menunjukkan lama penyembuhan yang lebih baik pada pasien abses yang diberikan antibiotik sistemik sebagai tambahan terapi standar. [8,9]

Depositphotos_51274471_m-2015

Pemilihan Antibiotik Sistemik pada Abses Kulit

Idealnya, kultur bakteri dari cairan abses harus dilakukan setelah insisi dan drainase untuk mendapatkan informasi mengenai bakteri penyebab pasti sebelum diberikan antibiotik. Pada beberapa kasus, terapi empirik dapat diberikan terlebih dahulu, untuk kemudian terapi tersebut bisa disesuaikan dengan hasil kultur bakteri dan tes kepekaan antibiotik. Antibiotik empiris yang bisa digunakan berdasarkan pedoman dari Asosiasi Penanggulangan Penyakit Infeksi Amerika Serikat adalah Trimetoprim-sulfametoksazol, doksisiklin, vankomisin, daptomisin, linezolid, televancin dan ceftarolin.[6]

Studi Superioritas Antibiotik Sistemik terhadap Plasebo pada Abses Kulit

Sebuah studi randomized double blind control trial dilakukan untuk menentukan apakah antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol yang diberikan selama 1 minggu lebih superior dibandingkan plasebo pada pasien abses kulit tanpa komplikasi setelah dilakukan insisi. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan tingkat kesembuhan pasien pada kelompok antibiotik adalah 80.5% sedangkan pada kelompok plasebo adalah 73.6%. Pemberian antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol mengurangi tingkat insisi ulang (3.4% vs 8.6%) dan mengurangi infeksi baru di tempat lain (3.1% vs 10.3%) dalam waktu 14 hari setelah terapi selesai. Walaupun begitu, kelompok yang diberikan antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol mengalami gangguan saluran pencernaan lebih banyak bila dibandingkan dengan kelompok plasebo.[9]

Studi randomized double control blind trial lain dilakukan untuk menilai penggunaan antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol, klindamisin dan plasebo pada pasien abses yang berukuran kecil (diameter < 5cm) yang telah dilakukan insisi dan drainase. Sebanyak 786 pasien dilibatkan dalam studi tersebut dimana diantaranya 505 orang adalah pasien dewasa dan 281 orang adalah pasien anak-anak. Dari hasil studi tersebut ditemukan bahwa tingkat kesembuhan pada pasien kelompok antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol sama dengan kelompok antibiotik klindamisin, dan tingkat kesembuhan pada kelompok antibiotik baik klindamisin maupun trimetoprim-sulfametoksazol lebih tinggi secara signifikan bila dibandingkan dengan kelompok plasebo. Efek samping obat ditemukan lebih banyak pada kelompok klindamisin dibandingkan dengan kelompok trimetoprim-sulfametoksazol dan plasebo, tetapi semua efek samping tersebut hilang tanpa sekuele.[10]

Studi lain yang menggunakan metode meta analisis dilakukan dengan melibatkan 4 studi randomized controlled trial (RCT) yang terdiri dari 2,406 partisipan dengan rentang usia 4 tahun sampai 44 tahun dimana 57.2% diantaranya adalah laki-laki.[11] Studi RCT yang digunakan membandingkan tingkat kesembuhan pada kelompok pasien abses yang mendapatkan insisi dan antibiotik sistemik dengan kelompok pasien yang mendapatkan insisi dan plasebo. Tiga studi menggunakan antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol [9,12-13] dan satu studi menggunakan antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol atau klindamisin.[10] Dari studi meta analisis tersebut ditemukan 49% abses disebabkan oleh bakteri MRSA, 16,3% disebabkan oleh bakteri methicillin-sensitive Staphylococcus aureus (MSSA), sisanya disebabkan oleh bakteri lain. Terdapat 89 kasus gagal terapi (7.7%) pada kelompok antibiotik dan 150 kasus gagal terapi (16.1%) pada kelompok plasebo.[11]

Rekurensi infeksi atau timbulnya lesi baru dibagian tubuh yang lain ditemukan pada 68 pasien (6.2%) pada kelompok antibiotik dan 134 (15.3%) pada kelompok plasebo dalam waktu 10 sampai 30 hari. Terdapat 327 (24.8%) efek samping obat atau kejadian yang tidak diinginkan pada kelompok antibiotik dan 233 (22.2%) pada kelompok plasebo. Tetapi efek samping yang dialami pasien umumnya ringan seperti gangguan pencernaan, ruam ringan dan gejala sistemik seperti mengantuk dan sakit kepala. Diare terjadi pada 155 kasus (11.8%) pada kelompok antibiotik dan 118 kasus (11,2%) pada kelompok plasebo. Terdapat dua kasus reaksi hipersensitivitas terhadap obat antibiotik. Satu reaksi digambarkan sebagai reaksi ringan [12], sedangkan satu reaksi digambarkan memberikan gejala demam, ruam merah, trombositopenia dan hepatitis yang diinduksi oleh trimetoprim-sulfametoksazol tetapi sembuh tanpa bekas.[10] Tidak ada reaksi berat yang mengancam nyawa yang ditemukan pada kedua kelompok.

Keterbatasan studi meta analisis ini adalah adanya perbedaan metode dan kriteria dalam melakukan studi sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya bias. Studi lebih lanjut tentunya dibutuhkan untuk menilai faktor apa saja yang memberikan manfaat lebih banyak dengan pemberian antibiotik sistemik pada pasien abses kulit dan jaringan lunak.

Kesimpulan

Pemberian antibiotik sistemik setelah insisi dan drainase pada pasien dengan abses kulit dan jaringan lunak masih kontroversial. Tetapi studi terbaru menunjukkan pemberian antibiotik sistemik pada pasien abses kulit dan jaringan lunak setelah dilakukan insisi dan drainase dapat mempercepat lama penyembuhan dan mengurangi infeksi berulang. Walaupun begitu, klinisi harus tetap mempertimbangkan risiko dan efek samping dalam pemberian antibiotik sistemik selain manfaatnya.

Referensi