Pengaruh Rokok Elektrik terhadap Kesehatan Mental – Telaah Jurnal

Oleh :
dr. Zuhrotun Ulya, Sp.KJ, M.H

Smoking Cessation and Improvement in Mental Health Outcomes: Do People Who Quit Smoking by Switching to Electronic Cigarettes Experience Improvement in Mental Health?

Dahal R, Adhikari K, Patten SB. Can J Psychiatry. 2020; 65(7):512-514. doi:10.1177/0706743720917775

Abstrak

Latar belakang: Didapatkan bukti kuat mengenai perbaikan kesehatan mental ketika seseorang melakukan upaya berhenti merokok (seperti berkurangnya gejala dan perbaikan kualitas hidup). Tetapi, tidak cukup jelas apakah efek sama dialami seseorang yang berhenti merokok lalu mengganti dengan alternatif lain. Hal ini menjadi perhatian karena rokok elektrik telah dianggap sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok tembakau, dan direkomendasikan dalam program pengurangan risiko dan direkomendasikan sebagai metode yang efektif dalam program berhenti merokok. Meskipun begitu, banyak rokok elektrik mengandung nikotin, yang diduga memiliki efek negatif terhadap kesehatan mental. Studi ini menguji kondisi depresi pada mantan perokok yang dikelompokkan berdasarkan penggunaan rokok elektrik pada populasi rumah tangga di Kanada.

Metode: Studi ini menggunakan Public Use Microdata File dari Canadian Community Health Survey (CCHS) 2015-2016. Data dikumpulkan oleh Statistics Canada dari subjek penelitian yang representatif berasal dari populasi rumah tangga dengan keseluruhan angka respon mencapai 59,5%. Status merokok responden diklasifikasikan menjadi saat ini masih merokok (termasuk golongan merokok setiap hari dan kadang-kadang), mantan perokok, dan tidak pernah merokok. Penggunaan rokok elektrik diidentifikasi secara mandiri terhadap pertanyaan berikut: “Dalam 30 hari terakhir apakah menggunakan rokok elektrik?” Hasil survey responden dengan skor ≥10 pada Patient Health Questionnaire 9 dikategorikan memiliki tingkat gejala depresi yang signifikan. Analisis didasarkan pada proporsi dan odds ratios (ORs), dengan tingkat kepercayaan 95%. Survey CCHS digunakan secara bertingkat yang mencakup kemungkinan pengelompokan dan pemilihan yang tidak seimbang. Analisis efek menggunakan 1000 set replikasi sampek yang disediakan oleh Statistics Canada.

Hasil: Status merokok menjadi pengukuran utama yang dilakukan di beberapa daerah dalam laporan CCHS 2015-2016, sedangkan pengukuran kondisi depresi dan penggunaan rokok elektrik bersifat opsional. 9 provinsi menilai depresi dan 4 menilai penggunaan rokok elektrik, sehingga n1/4 adalah 52.956 orang yang memiliki data depresi dan merokok; serta 35.863 responden memiliki data depresi, merokok dan menggunakan rokok elektrik. Dari 52.956 responden dengan data status merokok dan depresi, 17,6% perokok aktif, 22,8% mantan perokok, dan 6,8% responden mengalami peningkatan gejala depresi. Dari 35.863 responden dengan data lengkap, 3,1% pengguna rokok elektrik. Seperti yang dicantumkan dalam tabel, 12,5% responden perokok aktif dan 14,7% menggunakan rokok elektrik mengalami peningkatan gejala depresif dibandingkan hanya 5,8% mantan perokok. Dari mantan perokok yang beralih menggunakan rokok elektrik, 16,1% mengalami peningkatan gejala depresi dibandingkan 5,5% mantan perokok yang tidak menggunakan rokok elektrik. Nilai odd ratios peningkatan gejala depresi mencapai 2,9 kali lebih tinggi pada perokok saat ini dan 1,5 kali pada mantan perokok dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok. Namun, nilai OR peningkatan gejala depresif mantan perokok dibandingkan yang tidak pernah merokok sama sekali berbeda berdasarkan pengguna rokok elektrik, dengan nilai OR 4,2 jika menggunakan rokok elektrik dan OR 1,4 jika tidak menggunakan rokok elektrik.

shutterstock_1371934901

Ulasan Alomedika

Berhenti merokok telah dilaporkan mampu meningkatkan kesehatan mental.[2] Tetapi, belum diketahui apakah manfaat yang sama didapatkan ketika pasien berhenti merokok tembakau dengan beralih ke rokok elektrik.[1]

Ulasan Metode Penelitian

Studi ini menggunakan data populasi penduduk di Kanada dalam rentang tahun 2015-2016. Peneliti mengelompokkan status merokok responden menjadi kelompok perokok aktif, mantan perokok, dan tidak pernah merokok sama sekali. Peneliti juga mengambil data terkait penggunaan rokok elektrik dalam 30 hari terakhir. Selain itu, dilakukan pula evaluasi gejala depresi menggunakan Patient Health Questionnaire 9. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kualitas kesehatan mental pada pasien yang berhenti merokok dengan beralih pada rokok elektrik.

Ulasan Hasil Penelitian

Dari keseluruhan data survey, didapatkan 52.956 orang yang mencantumkan data depresi dan merokok. Dari jumlah ini, 17,6% adalah kelompok perokok aktif ; 22,8% mantan perokok; dan 6,8% dari responden tersebut mengalami peningkatan gejala depresi.

35.863 orang memiliki data lengkap, yaitu data status merokok, gejala depresi, dan status penggunaan rokok elektrik. Dari jumlah ini 3,1% adalah pengguna rokok elektrik.

Hasil analisis menunjukkan bahwa 12,5% perokok aktif dan 14,7% pengguna rokok elektrik mengalami peningkatan gejala depresi, dibandingkan hanya 5,8% pada mantan perokok. Selain itu, di antara mantan perokok yang beralih ke rokok elektrik, 16,1% mengalami peningkatan gejala depresi dibandingkan hanya 5,5% pada mantan perokok yang tidak beralih ke rokok elektrik.  Odds ratio peningkatan gejala depresi pada mantan perokok yang beralih ke rokok elektrik adalah 4,5, dibandingkan OR 1,4 jika mereka tidak beralih ke rokok elektrik.

Kelebihan Penelitian

Studi ini adalah salah satu studi pertama yang meneliti efek dari peralihan berhenti merokok tembakau ke rokok elektrik terhadap kesehatan mental pasien. Data yang digunakan adalah data nasional, sehingga jumlah sampel yang didapat menjadi cukup besar.

Limitasi Penelitian

Studi ini adalah studi observasional, sehingga tidak bisa menentukan hubungan kausatif antar variabel. Selain itu, data gejala depresif dan penggunaan rokok elektrik dalam 30 hari didapat berdasarkan kuesioner, dimana data yang didapat tidak cukup detail, sehingga tidak diketahui seberapa sering penggunaan rokok elektrik dalam 30 hari terakhir, apa jenis rokok elektrik yang digunakan (mengandung nikotin atau tidak), serta apakah pasien menggunakan alat bantu berhenti merokok lain.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Sama seperti Kanada, rokok elektrik semakin banyak dan populer digunakan di Indonesia. Rokok elektrik sering kali dianggap sebagai alat yang aman, murah, dan efektif untuk program berhenti merokok tembakau, sehingga hasil studi ini tentunya akan meningkatkan kewaspadaan dokter. Studi ini mengindikasikan bahwa berhenti merokok secara total, tanpa peralihan ke rokok elektrik, memiliki efek yang lebih baik terhadap kesehatan mental.

Referensi