Pencegahan Jatuh pada Populasi Geriatri Tanpa Osteoporosis atau Defisiensi Vitamin D

Oleh :
Graciella N T Wahjoepramono

Populasi geriatri, termasuk yang tidak memiliki osteoporosis dan defisiensi vitamin D, lebih rentan mengalami jatuh. Secara klinis, kejadian jatuh pada lansia memiliki efek signifikan, termasuk dapat menyebabkan disabilitas dan penurunan activities of daily living (ADL). Pencegahan jatuh pada populasi geriatri tanpa osteoporosis atau defisiensi vitamin D memerlukan intervensi yang multifaktorial, termasuk intervensi olahraga.[1,2]

Faktor Risiko Terjadinya Jatuh Pada Geriatri

Cedera yang dialami oleh pasien geriatri setelah jatuh memiliki dampak yang buruk yaitu mengakibatkan disabilitas, menyebabkan ketergantungan dengan orang lain, dan meningkatkan mortalitas. Oleh karena itu, setiap pasien jatuh memerlukan pemeriksaan menyeluruh yang mencakup analisis faktor risiko yang bisa dimodifikasi.[1,2]

Pencegahan Jatuh pada Populasi Geriatri Tanpa Osteoporosis dan Defisiensi Vitamin D

Sebuah penelitian menganalisis data dari sekitar 4,000 subjek penelitian berusia > 60 tahun. Penelitian ini melaporkan bahwa jatuh lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, namun mekanisme pasti mengenai hubungan antara jenis kelamin dan kejadian jatuh belum diketahui.

Beberapa hal lain yang menjadi faktor risiko jatuh adalah adanya nyeri hebat dan penyakit kronis, di mana penyebab yang sering ditemukan pada wanita adalah inkontinensia dan kerapuhan (frailty), sedangkan pada pria sering ditemukan faktor depresi, usia yang lebih tua, dan keseimbangan yang buruk.

Penyebab umum lainnya yang dapat dipertimbangkan mencakup riwayat jatuh sebelumnya, kelemahan di ekstremitas bawah, stroke, transient ischemic attack, gangguan kognitif, penggunaan obat psikotropika, artritis, riwayat merokok, hipotensi ortostatik, dan anemia.[3,4]

Intervensi untuk Pencegahan Kejadian Jatuh Pada Geriatri

Rekomendasi oleh US Preventive Services Task Force (USPSTF) yang dipublikasikan pada tahun 2024 merekomendasikan beberapa intervensi yang digunakan untuk mencegah jatuh di populasi lanjut usia tanpa osteoporosis atau defisiensi vitamin D. Pedoman USPSTF ini merupakan pembaruan dari pedoman terdahulu yang dipublikasikan tahun 2018.[2]

Intervensi Olahraga

Olahraga telah dilaporkan oleh berbagai bukti ilmiah bermanfaat dalam mencegah jatuh. Olahraga dapat meningkatkan status kesehatan keseluruhan, termasuk dalam fungsi fisik dan keseimbangan. Sebuah meta analisis menunjukkan bahwa intervensi olahraga menurunkan jumlah jatuh dan risiko jatuh secara signifikan.

Beberapa jenis olahraga yang dianjurkan adalah:

  • Latihan ketahanan
  • Latihan keseimbangan, seperti walking heel to toe dan berdiri satu kaki
  • Latihan koordinasi
  • Tai-Chi yang menggunakan gerakan lambat dan ritmik.[1,5,6]

Intervensi Multifaktorial

Intervensi multifaktorial memiliki jangkauan yang luas, yang menganalisa berbagai komponen komprehensif seperti keseimbangan, gait, penglihatan, kesehatan kardiovaskular, pengobatan, lingkungan, fungsi kognitif, dan kesehatan psikologis.

Tata laksana yang diberikan sesuai dengan analisis faktor risiko per individual, tata laksana multifaktorial ini dapat mencakup olah raga, intervensi psikologis, terapi nutrisi, edukasi, pemberian pengobatan, tata laksana inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, dan rujukan ke berbagai terapis atau dokter spesialis. Tata laksana multifaktorial diberikan sesuai keperluan pasien, sehingga jarang ditemukan satu program sama dengan yang lain.[1,5,6]

Modifikasi Lingkungan

Modifikasi lingkungan merupakan salah satu strategi pencegahan jatuh pada lansia tanpa osteoporosis maupun defisiensi vitamin D. Upaya yang dapat dilakukan meliputi memastikan pencahayaan rumah cukup terang, terutama di area tangga dan kamar mandi, mengurangi hambatan seperti kabel atau karpet yang mudah tergelincir, menggunakan alas kaki yang tidak licin, serta memasang pegangan tangan pada tangga dan kamar mandi.

Penataan furnitur juga perlu dibuat lebih aman agar jalur berjalan tetap luas dan mudah dilalui. Selain itu, penggunaan kursi atau tempat tidur dengan tinggi yang sesuai dapat membantu lansia bergerak dan berdiri dengan lebih stabil. Pada intinya, lingkungan dibuat aman dan mudah diakses untuk membantu mempertahankan keseimbangan, meningkatkan mobilitas, dan menurunkan risiko jatuh.[7,8]

Peninjauan Obat yang Digunakan

Pemberian terapi farmakologi pada geriatri memerlukan perhatian khusus. Penggunaan lebih dari empat macam obat (polifarmasi) dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk efek samping akibat interaksi obat maupun penggunaan obat yang sebenarnya sudah tidak lagi diindikasikan.

Tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan secara cermat pemberian obat, terutama agen yang bekerja pada sistem saraf pusat, karena dapat memengaruhi waktu respons, fungsi kognitif, keseimbangan tubuh, serta perfusi serebral pada lansia. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan risiko jatuh pada populasi geriatri.

Beberapa kelompok obat yang perlu mendapatkan perhatian khusus meliputi opioid, benzodiazepin, diuretik, vasodilator, antidepresan trisiklik, relaksan otot rangka, beta-blocker, antihistamin, serta hipnotik atau obat tidur.[1,9,10]

Suplementasi Kalsium dan Vitamin D Tidak Dianjurkan

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa suplementasi kalsium dan vitamin D pada lansia tanpa osteoporosis atau defisiensi vitamin D tidak membawa manfaat bermakna. Bahkan, ada studi yang menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D pada lansia sehat justru malah meningkatkan risiko fraktur. Dalam pedoman USPSTF tahun 2024, suplementasi vitamin D, dengan atau tanpa kalsium, tidak lagi disarankan untuk tujuan mencegah jatuh pada lansia.[2,11,12]

Kesimpulan

Jatuh merupakan masalah yang rentan dialami populasi geriatri, termasuk mereka yang tidak memiliki osteoporosis ataupun defisiensi vitamin D. Pada lansia, jatuh dapat menyebabkan peningkatan morbiditas, yaitu mempengaruhi kualitas hidup, menyebabkan dependensi, hingga meningkatkan mortalitas.

Untuk pencegahan jatuh, olahraga adalah salah satu intervensi yang direkomendasikan. Olahraga bisa meningkatkan keseimbangan, ketahanan, dan memperbaiki status kesehatan keseluruhan. Pilihan lainnya adalah intervensi multifaktorial yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Selain itu, pencegahan jatuh juga dilakukan dengan modifikasi lingkungan rumah untuk memastikan area yang sering dilalui bersifat aman dan leluasa untuk mobilitas. Obat-obat yang digunakan pasien juga perlu dievaluasi untuk memastikan tidak ada polifarmasi yang tidak diperlukan.

Dalam hal suplementasi vitamin D, dengan atau tanpa kalsium, pedoman dan bukti alamiah yang ada saat ini tidak mendukung manfaatnya untuk pencegahan jatuh. Bahkan, terdapat bukti yang mengindikasikan bahwa suplemen vitamin D pada lansia sehat justru berkaitan dengan peningkatan risiko fraktur. Oleh sebab itu, vitamin D dan kalsium sebaiknya tidak diberikan pada lansia jika tidak ada indikasi yang jelas.

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi