Pencegahan Depresi pada Pasien Lanjut Usia

Oleh :
dr. Damba Bestari, Sp.KJ

Depresi pada pasien lanjut usia adalah hal yang semakin umum terjadi dan secara bermakna menurunkan kualitas hidup serta meningkatkan risiko kematian akibat bunuh diri. Pencegahan depresi pada lansia dapat dilakukan melibatkan intervensi farmakologi dan nonfarmakologi.[1,2]

Faktor Risiko Depresi pada Lanjut Usia

Seiring bertambahnya usia, beberapa penyesuaian dalam hidup secara signifikan dapat meningkatkan risiko depresi. Gejala depresi pada lansia sebetulnya hampir menyerupai gejala depresi secara umum, namun lebih banyak menonjolkan keluhan fisik seperti gangguan tidur, nyeri berkepanjangan, dan mudah lelah. Beberapa contoh faktor risiko yang sering menyebabkan depresi pada lansia, antara lain:

  • Komorbiditas medis : Penyakit dan kecacatan, nyeri kronis, penurunan kognitif, hingga kepercayaan diri yang berkurang akibat penyakit dapat menjadi kontributor depresi pada lansia
  • Kesepian dan isolasi : Hidup sendirian, lingkaran sosial yang semakin menyempit akibat kematian teman atau relokasi, mobilitas yang menurun karena sakit, atau kehilangan hak mengemudi
  • Berkurangnya tujuan hidup : Pensiun dapat menyebabkan hilangnya identitas, status sosial, kepercayaan diri, dan kestabilan
  • Kecemasan : Rasa takut terhadap kematian, masalah keuangan dan kesehatan
  • Berkabung : Berduka karena kematian teman, anggota keluarga, hewan peliharaan, dan kehilangan pasangan merupakan penyebab umum depresi pada lansia[3]

Depositphotos_107825190_s-2019-min

Skema Pencegahan Depresi pada Lanjut Usia

Saat ini, skema pencegahan depresi dapat diklasifikasikan berdasarkan populasi target, seperti yang dirangkum oleh Institute of Medicine (IOM). IOM membagi skema pencegahan depresi pada lansia menjadi pencegahan terindikasi, selektif dan universal. Pencegahan terindikasi akan menargetkan populasi yang memiliki gejala subsindrom depresi, misalnya murung dan anhedonia. Pencegahan selektif menargetkan populasi risiko tinggi, yaitu populasi dengan kecacatan atau gangguan fungsi, tinggal sendiri, dan memiliki komorbiditas medis. Pencegahan universal menargetkan seluruh populasi tanpa melihat faktor risiko.[4]

Pencegahan universal pada seluruh populasi merupakan suatu konsep yang menarik, namun secara empiris dan statistik kurang bermanfaat. Akibatnya tidak terlalu banyak literatur yang menampilkan contoh keberhasilan pencegahan universal. Lain halnya dengan pencegahan selektif dan terindikasi yang digunakan spesifik pada populasi tertentu. Berbagai tinjauan literatur menunjukkan bahwa efisiensi modalitas pencegahan ini lebih tinggi dibandingkan pencegahan secara universal. Intervensi yang dilakukan pada modalitas pencegahan terindikasi dan selektif mencakup aspek farmakologi dan nonfarmakologi.[4,5]

Tabel 1. Skema Pencegahan Depresi pada Lanjut Usia Menurut IOM

Modalitas Target
Pencegahan Terindikasi Populasi yang memiliki gejala depresi subsindrom (murung, anhedonia)
Pencegahan Selektif Populasi yang memiliki risiko tinggi mengalami depresi (cacat atau gangguan fungsi, tinggal sendirian, komorbiditas medis)
Pencegahan Universal Populasi umum, tanpa melihat faktor risiko

Intervensi Farmakologi

Intervensi farmakologi yang banyak digunakan dalam pencegahan depresi lansia adalah golongan obat antidepresan dan antiansietas.

Antidepresan

Penggunaan antidepresan dikaitkan dengan perbaikan prognosis. Dalam beberapa studi, antidepresan profilaksis diberikan terutama untuk fase rumatan dan mencegah kekambuhan pada lansia yang baru pulih dari gangguan depresi mayor.

Antidepresan, terutama golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) seperti citalopram dan sertraline, telah dilaporkan memiliki efikasi yang baik dalam pencegahan depresi pada lansia oleh berbagai literatur. Obat golongan ini juga memiliki efek samping yang minimal.

Reynolds et al. meneliti populasi pasien gangguan depresi mayor berusia ≥ 70 tahun dengan intervensi kombinasi psikoterapi dan antidepresan (paroxetine). Pasien dibagi secara acak untuk mendapat antidepresan atau plasebo, dikombinasikan dengan psikoterapi selama dua tahun. Hasil studi menyatakan, individu yang menerima plasebo memiliki risiko kekambuhan sebesar 2 kali lebih besar dibandingkan yang mendapat paroxetine.[5,6]

Antiansietas

Obat antiansietas golongan benzodiazepine seperti diazepam, alprazolam dan triazolam cenderung kurang efektif untuk gejala depresi subsindromal. Bahkan obat-obat tersebut sering dikaitkan dengan sejumlah efek samping seperti risiko jatuh, lemas, maupun gangguan kognitif. Hal ini menyebabkan pasien merasa tidak nyaman dan lebih memilih pengobatan nonfarmakologi.  Apabila obat antiansietas dipilih sebagai modalitas pencegahan, sebaiknya tetap dikombinasikan dengan modalitas terapi nonfarmakologi.[5,7]

Intervensi Nonfarmakologi

Intervensi nonfarmakologi dalam pencegahan depresi pada lansia dapat berupa cognitive behavioural therapy dan problem solving therapy.

Cognitive Behavioural Therapy (CBT)

Cognitive behavioural therapy (CBT) merujuk pada penggunaan kerangka perilaku kognitif, dengan target melakukan restrukturisasi pikiran dan aktivitas yang disfungsional sehingga mengubah perilaku. Bentuk yang paling umum digunakan adalah pedoman "Coping with Depression" oleh Lewinsohn, yang merupakan modifikasi psikoedukasi dari CBT. Seorang terapis berfungsi sebagai instruktur untuk sekelompok peserta, mengajarkan keterampilan yang berguna untuk mengelola gejala depresi dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan, mengembangkan keterampilan sosial, relaksasi, serta teknik untuk restrukturisasi proses berpikir maladaptif.

Sebuah penelitian randomized controlled trial (RCT) dengan total 43 partisipan oleh Konnert et al. menguji coba terapi ini pada penghuni panti jompo selama 7 minggu, terdiri dari 13 sesi. Dengan menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale selama 6 bulan follow up, didapatkan skor depresi menurun secara signifikan dan lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol.[5,8]

Problem Solving Therapy (PST)

Problem solving therapy (PST) merupakan sebuah intervensi dengan pendekatan perilaku yang berfokus pada melatih sikap dan kemampuan pemecahan masalah agar lebih adaptif.

Rovner et al. menggunakan terapi ini sebagai intervensi (selama 8 minggu, 6 jam/sesi) pada total 188 responden lansia yang mengalami degenerasi makula. Mengingat penderita degenerasi makula akan mengalami gangguan penglihatan sentral yang mengurangi kemampuan dalam beraktivitas, modalitas terapi ini dapat menjadi solusi agar pasien mampu beradaptasi dengan gangguan visual yang ada dan mencegah munculnya depresi.

Dalam studi tersebut, PST dinyatakan menurunkan kejadian depresi menjadi separuh dibandingkan dengan kelompok kontrol (11,6% vs 23,2%). Intervensi ini efektif pada lansia dengan penyakit kronis di mana depresi dan kecacatan umum terjadi, sehingga dapat dimasukkan pada pencegahan selektif.[5,9]

Penelitian lain yang menggunakan modifikasi terapi ini dilakukan di India pada tahun 2017 dengan 181 lansia yang mengalami gejala depresi subsindromal. Beberapa lay counselors dilatih untuk melakukan intervensi depression in later life (DIL), suatu modifikasi dari PST dan terapi perilaku insomnia. Hasilnya, insiden depresi mayor pada kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (4,40% vs 14,44%). Selain itu, terapi ini juga dilaporkan berpengaruh dalam meregulasi tekanan darah dan indeks massa tubuh partisipan.[10]

Program Pencegahan Depresi Lainnya

Program pencegahan depresi lain, seperti reminiscence atau latihan fisik, memiliki tingkat standarisasi lebih rendah dari intervensi farmakoterapi dan psikoterapi. Namun, lebih dapat ditoleransi dan bersifat non stigma untuk para lansia. Sebagian besar program ini memiliki target lansia yang tinggal di komunitas, sehingga dapat digunakan pada modalitas pencegahan universal.

Reminiscence Therapy

Terapi ini pada dasarnya mengajak individu untuk merefleksikan kehidupan mereka kembali atau mengulang memori masa lalu dengan kegiatan seperti menonton film lama atau saling bercerita tentang pengalaman masa muda. Melalui refleksi tersebut, diharapkan lansia dapat menyelesaikan konflik dan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, sehingga mampu menghadapi masalah yang dihadapi saat ini.

Dalam studi oleh Pot et al. yang melibatkan 171 lansia, didapatkan hasil bahwa terapi ini dapat mengurangi risiko kejadian depresi. Studi mengenai terapi ini masih terbatas, namun dapat dipertimbangkan karena metodenya yang mudah, murah, dan memiliki efek samping minimal.[11]

Latihan Fisik

Menurut berbagai studi, latihan fisik telah lama dihubungkan dengan perbaikan mood karena memperbaiki biosintesis serotonin di otak yang memengaruhi gejala depresi. Tetapi, sayangnya hanya sedikit penelitian yang berfokus pada pencegahan.

Pada penelitian eksperimental tahun 2007 oleh Baker et al. dengan populasi para pensiunan yang tidak memiliki gejala atau memiliki gejala depresi ringan, dilakukan program latihan fisik selama 10 minggu (1 jam/sesi, 3 kali/minggu). Intervensi yang diberikan berupa latihan resistensi intensitas tinggi, latihan aerobik intensitas sedang, dan latihan keseimbangan. Karena gejala depresi sudah rendah, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Namun, partisipan yang telah memiliki gejala depresi pada awal studi, dilaporkan mengalami perbaikan.[5,6]

Kesimpulan 

Seiring dengan bertambahnya usia, beberapa perubahan dalam hidup dapat meningkatkan risiko depresi. Kejadian depresi pada lanjut usia adalah hal yang semakin sering dijumpai dan menimbulkan berbagai masalah, seperti penurunan kualitas hidup dan peningkatan risiko kematian akibat bunuh diri.

Saat ini, skema pencegahan depresi pada lansia dapat diklasifikasikan berdasarkan populasi target yaitu berupa pencegahan terindikasi, selektif, dan universal. Intervensi farmakologi dan non farmakologi umum dilakukan di tahap pencegahan selektif dan terindikasi yang lebih spesifik pada populasi dengan risiko tinggi. Sementara itu, pencegahan universal memiliki target populasi umum tanpa risiko dan mencakup pendekatan psikososial seperti reminiscence dan latihan fisik.

Referensi