Pemantauan Gula Darah Kontinu VS Mandiri pada Diabetes Melitus Tipe 2 - Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr.Eduward Thendiono, SpPD,FINASIM

Continuous Glucose Monitoring Versus Self-monitoring of Blood Glucose in Type 2 Diabetes Mellitus: A Systematic Review with Meta-analysis

Janapala RN, Jayaraj JS, Fathima N, et al. Cureus. 2019. 11(9):e5634. doi:10.7759/cureus.5634

studiberkelas

Abstrak

Latar Belakang: Setiap 1 dari 11 orang dewasa menderita diabetes dan sepertiga dari orang dewasa mengalami prediabetes. Lebih dari 95% kasus diabetes merupakan diabetes mellitus tipe 2. Bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa diabetes melipatgandakan risiko penyakit jantung maupun stroke selain meningkatkan risiko komplikasi mikrovaskuler. Oleh sebab itu, dibutuhkan kontrol glikemik yang ketat. Namun, kontrol glikemik ketat meningkatkan risiko hipoglikemia, khususnya pada pasien diabetes yang sudah lama. Pemantauan gula darah kontinu (continuous glucose monitor/CGM) menggunakan sensor untuk mengukur kadar glukosa secara kontinu pada cairan interstitial setiap 10 detik dan memberikan mean value setiap 5 menit. CGM merupakan alat baru untuk manajemen diabetes mellitus tipe 2.

Tujuan: Untuk mengevaluasi apakah terdapat bukti penyokong yang cukup bahwa CGM lebih efektif daripada pemantauan gula darah mandiri (self-monitoring of blood glucose/SMBG) pada diabetes mellitus tipe 2 (T2DM).

Metode: Kami melakukan tinjauan sistematik dengan meta analisis pada basis data Medline (PubMed) terhadap semua studi yang relevan dengan tujuan utama.

Hasil Penelitian: Kami menemukan berbagai level bukti yang menyokong bahwa penerapan CGM dapat mengurangi glycated hemoglobin (HbA1c), kejadian hipoglikemia dan meningkatkan kepuasan pasien. Akan tetapi, beberapa studi melaporkan tidak ada manfaat signifikan.

Tinjauan sistematik dengan meta-analisis ini menyimpulkan bahwa penerapan CGM bermanfaat pada diabetes melitus tipe 2 (T2DM), CGM mampu mengurangi HbA1c secara signifikan jika dibandingkan dengan metode SMBG. Pooled mean difference untuk HbA1c sebesar -0,25 (-0,45 hingga -0,06) dan signifikan secara statistik (p=0,01) untuk keunggulan CGM.

Pemantauan Gula Darah Kontinu VS Mandiri pada Diabetes Melitus Tipe 2-min

Ulasan Alomedika

International Diabetes Federation memperkirakan bahwa setiap 1 dari 11 orang dewasa mengalami diabetes di seluruh dunia, dimana mayoritas adalah diabetes mellitus tipe 2. Diabetes mellitus meningkatkan risiko komplikasi mikrovaskuler, penyakit jantung, maupun stroke.

Pemantauan kadar glukosa sangat penting dalam manajemen kasus diabetes mellitus tipe 2. Saat ini, ada 2 cara yang tersedia yakni pemantauan kadar gula darah mandiri (self-monitoring of blood glucose/SMBG) dan pemantauan kadar gula darah kontinu (continuous glucose monitor/CGM). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bukti ilmiah yang tersedia untuk mengetahui apakah penerapan CGM lebih efektif daripada metode lazim SMBG dalam pencapaian kontrol glikemik.

Ulasan Metode Penelitian

Penulis melakukan tinjauan sistematik dan meta analisis terhadap basis data di MEDLINE (PubMed) untuk semua studi yang relevan dengan tujuan penelitian dalam rentang 10 tahun terakhir. Penulis menerapkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) flow diagram.

Adapun kriteria inklusi mencakup studi yang membandingkan CGM terhadap SMBG pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dewasa (≥19 tahun), studi yang mengukur HbA1c sebagai luaran dengan baseline mean HbA1c ≥ 6,5%, serta artikel studi dalam bahasa Inggris atau bahasa lain yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Kriteria eksklusi adalah studi pada pasien hamil dan rawat inap.

Analisis statistik dilakukan dengan Review Manage 5.3 (RevMan 5.3). Luaran utama adalah mean difference HbA1c grup CGM dibandingkan grup SMBG. Heterogenitas antar studi dinilai dengan tes I2. Penilaian kualitas dan bias studi dilakukan menggunakan Cochrane Risk-of-Bias tool for randomized trial.

Ulasan Hasil Penelitian

Dari 628 studi yang terjaring pada pencarian basis data, hanya 5 uji klinis (374 pasien diabetes mellitus tipe 2; 186 CGM vs 188 kontrol) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Durasi studi berkisar antara 3-8 bulan. Cumulative mean baseline HbA1c untuk 5 RCT tersebut adalah 8,53% (poorly controlled diabetes).

Dengan penilaian heterogenitas yang rendah (I2= 0%), peneliti menerapkan fixed-effect model. Hasil analisis kumulatif menemukan bahwa Pooled mean difference untuk HbA1c CGM vs SMBG sebesar -0,25 untuk keunggulan CGM. Funnel plot  tidak menunjukkan bias publikasi. Pada kesimpulannya, penelitian ini menemukan bahwa CGM bermanfaat dan tampaknya lebih efektif pada pencapaian kontrol glikemik pada pasien diabetes mellitus tipe 2 daripada metode pemantauan gula darah mandiri.

Kelebihan Penelitian

Kelebihan penelitian ini terletak pada penerapan metode tinjauan sistematik dengan meta analisis yang sudah mengikuti pedoman PRISMA. Adapun studi yang diikutsertakan adalah uji klinis acak terkontrol (RCT) yang disertai dengan penilaian tes heterogenitas antar studi maupun penilaian bias publikasi.

Limitasi Penelitian

Basis data yang diikutsertakan pada pencarian literatur hanya MEDLINE, dan hanya RCT yang berbahasa Inggris atau dengan terjemahan bahasa Inggris yang masuk dalam kriteria inklusi. Oleh karenanya, hanya 5 studi yang diikutkan dalam analisis.

Sample size studi ini juga termasuk kecil, sehingga sulit untuk menerapkan analisis sensitivitas.

Selain itu, studi ini tidak melakukan perbandingan terkait efek samping hipoglikemia ataupun analisis cost benefit antara pemantauan gula darah kontinu (CGM) dengan pemantauan mandiri (SMBG).

Aplikasi Penelitian DI Indonesia

Pemantauan kadar gula darah kontinu (continuous glucose monitor/CGM) merupakan metode yang masih baru dalam manajemen pasien diabetes mellitus tipe 2. Meskipun demikian, tinjauan sistematik ini mengindikasikan bahwa metode ini mampu meningkatkan kontrol glikemik pada pasien sehingga berpotensi untuk diterapkan pada pasien diabetes di Indonesia. Dengan penerapan teknologi seperti CGM, diharapkan kontrol glikemik akan meningkat dan komplikasi dapat menurun. Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui dengan lebih detail terkait manfaat dan risiko dari metode pemantauan gula darah kontinu (CGM).

Referensi