Pemanfaatan Antipsikotik pada Delirium Pasca Operasi

Oleh :
dr. Zuhrotun Ulya, Sp.KJ, M.H.

Pemanfaatan antipsikotik pada delirium pasca operasi diketahui dapat menurunkan angka mortalitas. Delirium pasca operasi atau post operative delirium (POD) merupakan gangguan neurokognitif kompleks yang, sering menimbulkan tantangan dalam manajemen pascaoperasi.[1,2]

Delirium pasca operasi ditandai dengan gangguan perhatian, kewaspadaan, fungsi kognisi setelah tindakan operasi mayor yang bersifat fluktuatif seiring komorbiditas dan perjalanan penyakit yang mendasari. Delirium pasca operasi sering ditemukan dengan prevalensi mencapai 11%, dan meningkat pada pasien pasca operasi khususnya populasi lanjut usia mencapai 87%.[3,4]

Intravenous,Injection,Clsoe,Up.,Professional,Physician,Injects,A,Patient.

Penatalaksanaan Delirium Pasca Operasi

Penatalaksanaan awal delirium pasca operasi adalah menemukan dan mengobati penyebab reversibel seperti hipoksia, memperbaiki kadar glukosa dan elektrolit serum, memastikan pasien tidak dehidrasi, mengobati infeksi terutama infeksi saluran kemih, dan meninjau obat-obatan yang dapat menyebabkan atau memperburuk delirium.[5]

Selain itu, penatalaksanaan berupa memperbaiki lingkungan dan orientasi pasien, memastikan kecukupan tidur, mobilisasi dini, serta menyediakan alat bantu penglihatan (kacamata) atau alat bantu dengar yang dipakai. Setelah ini, pada delirium persisten atau delirium hiperaktif, obat antipsikotik mungkin diperlukan.[5]

Efikasi Pemberian Antipsikotik pada Delirium Pasca Operasi

Studi Kim, et al (2023) pada 17.115 pasien berusia ≥65 tahun yang mendapatkan antipsikotik oral pasca operasi mayor (tanpa riwayat gangguan psikiatrik sebelumnya), mendapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam risiko mortalitas.[6]

Namun, pemberian antipsikotik atipikal seperti risperidone, olanzapine, dan quetiapine, serta haloperidol oral dosis rendah-sedang tetap berisiko memunculkan efek samping klinis pada pasien lanjut usia. Tidak terdapat cukup data mengenai faktor perancu seperti tingkat dan jenis delirium yang dialami, kelompok yang tidak diberikan penanganan, serta adanya restriksi obat antipsikotik selama proses rawatan.

Hasil studi ini tetap membawa klinisi pada suatu sudut pandang kebermanfaatan pemberian antipsikotik khususnya pada kondisi delirium pasca operasi. Terdapat perdebatan mengenai apakah tindakan tersebut bijak dan memberi manfaat perbaikan ataukah justru memperberat kondisi delirium dan menimbulkan efek samping klinis bermakna.[6]

Peran Antipsikotik dalam Membantu Perbaikan Klinis Delirium Pasca Operasi

Antipsikotik pada kondisi delirium relatif aman diberikan dalam rentang periode di mana delirium terdeteksi, yaitu 3–7 hari. Jenis antipsikotik yang digunakan seperti haloperidol, risperidone, quetiapine, aripiprazole, olanzapine, tiapride. Pilihan antipsikotik tergantung pada kondisi klinis pasien saat mengalami delirium dan ketersediaan di masing-masing layanan kesehatan (tabel 1).[7,8,9]

Di Jepang, pada beberapa kasus consultation liaison psychiatry dengan delirium pasca pembedahan kanker, bedah digestif, dan bedah mayor, haloperidol intravena (IV) dipilih sebagai tatalaksana pasien dengan kondisi gelisah akibat delirium. Pemberian haloperidol dianggap mudah karena sediaan obat mudah tersedia, dapat diberikan pada pasien yang tidak bisa konsumsi obat oral, dan dapat diberikan melalui injeksi saat pasien dalam kondisi gelisah.[8,10]

Antipsikotik lain seperti risperidone oral juga menjadi pilihan, tetapi perlu melihat kemampuan pasien dalam meminum obat. Beberapa penelitian mengarah pada pemanfaatan quetiapine untuk delirium pasca operasi dengan alasan memiliki waktu paruh yang pendek, efek sedatif kuat, efek samping ekstrapiramidal sindrom lebih kecil, sedikit efek antikolinergik, dan ditengarai tidak mengganggu siklus tidur bangun pada populasi lanjut usia.[8]

Hal ini serupa halnya dengan olanzapine yang diharapkan mampu menurunkan potensi agitasi pasien delirium. Pemanfaatan haloperidol, risperidone, quetiapine dan olanzapine sering ditujukan untuk pasien delirium pasca operasi yang mengalami agitasi atau tipe delirium hiperaktif.[8,9]

Pilihan Antipsikotik untuk Delirium Pasca Operasi

Pemanfaatan antipsikotik untuk delirium pasca operasi di Indonesia tetap dapat mengacu dalam Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa, di mana haloperidol dinilai memiliki rekam jejak baik untuk pengobatan delirium dengan rentang dosis injeksi 2–5 mg IM/IV yang dapat diulang setiap 30 menit (dosis maksimal 20 mg/hari).[11]

Tabel 1. Antipsikotik yang Digunakan untuk Terapi Delirium

Antipsikotik Dosis, Dimulai dari Keterangan Perhatian Klinis
Haloperidol 0,5 mg, dapat diprogram 2x/hari ketika agitasi atau perburukan gejala psikotik (PO > IV > IM) Waktu paruh 14–30 jam, dosis maksimal 20 mg/hari, Monitor khusus dan pemberian dipertimbangkan dihentikan apabila didapatkan temuan perpanjangan QTc, gejala ekstrapiramidal, peningkatan fungsi liver, glaukoma sudut tertutup, Parkinson, demensia Lewy bodies, hipotensi ortostatik, atau akathisia
Quetiapine 12,5 mg PO, dapat diprogram 3x/hari apabila dibutuhkan Waktu paruh 6–7 jam, dosis maksimal 800 mg/hari,
Risperidone 0,5 mg dapat diprogram 2x/hari apabila dibutuhkan (PO > ODT) Waktu paruh 20–30 jam, dosis maksimal 8 mg/hari,
Aripiprazole 5 mg, dapat diprogram 2x/hari apabila dibutuhkan (PO) Waktu paruh 75 jam, dosis maksimal 30 mg/hari
Olanzapine 25 mg, dapat diprogram 2x/hari apabila dibutuhkan (PO > ODT > IM) Waktu paruh 30 jam, dosis maksimal 20 mg/hari, Hindari pemberian olanzapine pada pasien dengan pemberian benzodiazepine parenteral karena risiko potensiasi obat.

Keterangan: IM = intramuskular; IV = intravena; ODT = orally disintegrating tablet; PO = per oral.

Sumber: Zuhrotun Ulya, 2024.[9]

Dosis tersebut masih dinilai sebagai rentang aman pemberian pengobatan pada kondisi delirium sesuai penelitian meta analisis oleh Shen et al (2018) yang menjelaskan profilaksis haloperidol ≥ 5 mg/hari dapat mengurangi insiden delirium pasca operasi.[12]

Tiapride telah digunakan secara luas di Jepang untuk terapi delirium, yang juga bermanfaat untuk terapi delirium pasien COVID-19, gejala lepas alkohol, agresivitas, agitasi, diskinesia, tic dan gangguan Tourette.[8,13]

Aripiprazole dapat menjadi pilihan ketika pasien delirium dalam kondisi hipoaktif, meski banyak klinisi cenderung menghindari pemberian antipsikotik dalam kondisi tersebut karena risiko sedasi yang akan mengaburkan gejala delirium yang dialami.[8]

Kajian Berbasis Bukti Mengenai Manfaat dan Risiko Pemberian Antipsikotik pada Delirium Pasca Operasi

Pada kondisi delirium tipe hiperaktif yang diikuti gejala agitasi, gelisah, gangguan penilaian realita, diharapkan dapat tertangani segera dan baik untuk menghindari risiko perburukan gejala. Pemahaman tersebut perlu didampingi dengan kajian berbasis bukti terkait manfaat dan risiko pemberian antipsikotik pada delirium pasca operasi (tabel 2).[4,6,9,14]

Tabel 2. Kajian Berbasis Bukti Mengenai Intervensi Antipsikotik pada Kondisi Delirium

Penelitian Hasil
Wu, et al, (2019), meta analisis Kombinasi haloperidol dan lorazepam memberikan response rate yang baik untuk terapi delirium dibandingkan plasebo atau kontrol. Ramelteon secara signifikan dapat mencegah kejadian delirium dibandingkan olanzapine, risperidone, dan dexmedetomidine[4]
Liu, et al, (2019), tinjauan sistematis dan meta analisis RCT Olanzapine dan risperidone cukup memberikan manfaat perbaikan delirium pasca operasi, tetapi membutuhkan bukti yang lebih kuat. Sementara, dexmedetomidine secara signifikan menurunkan insiden delirium pasca operasi[14]
Van der Vorst, et al, (2020), RCT (fase III) Pengobatan delirium pada pasien kanker menggunakan olanzapine tidak jauh berbeda dengan haloperidol dalam hal perbaikan delirium response rate (DRR) dan treatment to response (TTR). Olanzapine memiliki DRR 45%, TTR 4,5 hari, sedangkan haloperidol DRR 57% dan TTR 2,8 hari[9]
Kim, et al, (2023), studi kohor Pemberian antipsikotik tidak signifikan terhadap risiko kematian (selama rawat inap) pada pasien pasca pembedahan dengan haloperidol sebagai standar, olanzapine, quetiapine, dan risperidone[6]

Keterangan: RCT = randomized controlled trial.

Sumber: Zuhrotun Ulya, 2024.[4,6,9,14]

Pro dan kontra pemberian antipsikotik pada delirium berdasarkan kajian kedokteran berbasis bukti dapat dipahami sebagai bagian tinjauan analisis ilmiah. Penerapan di lapangan berdasarkan keadaan klinis dapat dilakukan dengan meninjau ulang ketepatan diagnosis dan jenis delirium yang dialami, rangkaian proses pembedahan dan penyakit medis yang mendasari, potensi interaksi obat yang didapatkan, serta faktor risiko yang dimiliki oleh pasien.[15]

Pemanfaatan obat untuk pencegahan dan perbaikan kondisi delirium tidak terbatas pada pemberian antipsikotik. Beberapa penelitian mengarah pada kombinasi propofol, paracetamol, ketamin, dexmedetomidine, diazepam, flunitrazepam, pethidine.

Namun, hal ini tetap membutuhkan kajian mendalam dan tergantung pada ketersediaan obat di masing-masing penyedia layanan kesehatan.[15]

Efek Samping Pemberian Antipsikotik pada Delirium Pasca Operasi

Secara umum pemberian antipsikotik tetap berisiko menimbulkan efek samping seperti gangguan konduksi jantung, perpanjangan QTc interval yang dapat menyebabkan torsade de pointes, efek antikolinergik, perdarahan pankreatitis akut, status epileptikus, leukopenia, tardive dyskinesia dan neuroleptic malignant syndrome.[5,7]

Insiden kejadian efek samping berat lebih rendah pada pemberian antipsikotik atipikal. Namun, pemberian golongan ini masih diperdebatkan untuk memberikan efek manfaat perbaikan atau pencegahan kondisi delirium. Pemberian antipsikotik atipikal perlu meninjau potensi risiko sindrom metabolik atau faktor risiko yang sudah dimiliki pasien.[14]

Kesimpulan

Delirium pasca operasi tidak jarang terjadi dan dapat disebabkan oleh obat-obatan selama dan pasca operasi, faktor lingkungan, kondisi medis serta adanya faktor pasien. Terapi utama tetap ditujukan untuk mengobati gangguan medis yang mendasari serta memastikan pasien berada di lingkungan yang optimal untuk orientasi, tidur di malam hari, dan mobilisasi dini.

Pemberian antipsikotik lebih ditujukan atas dasar hipotesis keterlibatan proses multifaktorial yang menyebabkan gangguan hiperdopaminergik, gangguan sistem retikular yang dapat memicu timbulnya kondisi gelisah, gangguan kewaspadaan, gangguan persepsi. Pemanfaatan antipsikotik tetap mempertimbangkan profil pasien.

Studi penggunaan antipsikotik pada delirium pasca operasi akan terus berkembang seiring dengan temuan obat antipsikotik baru dan relevansi terhadap kondisi delirium yang menyertai. Sehingga, tidak ada obat antipsikotik yang ideal untuk menangani delirium pasca operasi.

Pemahaman tentang farmakologi dan profil efek samping diperlukan untuk membantu memilih obat. Oleh karena itu, dalam praktik klinis, dokter diharapkan tidak sebatas melihat dan mengoreksi delirium dari sudut pandang kebermanfaatan penggunaan antipsikotik semata. Dokter tetap perlu melakukan mitigasi terhadap faktor risiko yang dimiliki pasien.

Referensi