Parent-based Language Intervention untuk Balita yang Terlambat Bicara

Oleh :
dr. Hunied Kautsar

Beragam metode intervensi dini bagi balita yang terlambat bicara terus dikembangkan, salah satunya adalah metode parent-based language intervention.

Keterlambatan bicara pada balita seringkali menjadi kekhawatiran orang tua namun tidak sedikit dari orang tua yang menganggap bahwa hal ini adalah wajar. Sebanyak 95% di antara balita ini merupakan late bloomers yang akan catch up ketika memasuki usia prasekolah. [1] Fakta ini mungkin menjadi landasan metode "wait and see" yang seringkali diterapkan. Namun, penelitian lain menyatakan bahwa hampir 50% dari balita yang mengalami keterlambatan bicara terutama specific expressive language delay (SELD) tidak dapat menanggulangi gangguan tersebut secara spontan. [2]

Parent-based Language Intervention

Secara umum parent-based language intervention adalah sebuah metode yang menjadikan orang tua sebagai pengganti speech therapist. Orang tua akan diberikan silabus yang berisi materi yang harus dipraktekkan di rumah bersama balita mereka yang mengalami keterlambatan bicara. Orang tua akan menjalani beberapa sesi latihan bersama speech therapist, biasanya sesi latihan diadakan dalam bentuk berkelompok yang terdiri dari beberapa orang tua. Orang tua akan diajarkan mengenai strategi spesifik yang dapat meningkatkan interaksi komunikasi dengan balita mereka. Melalui sesi latihan ini, orang tua diharapkan dapat menguasai materi dan kemudian menerapkannya ketika mereka berinteraksi dengan balita mereka di rumah.

Orang tua dinilai dapat menggantikan peran speech therapist melalui metode parent-based language intervention karena balita yang belum sekolah akan kurang responsif terhadap orang baru yang belum mereka kenal (speech therapist) dibandingkan dengan orang tua mereka sendiri. Selain itu, penyampaian materi dengan strategi spesifik kepada balita akan lebih diserap jika disampaikan oleh orang tua karena mereka yang menghabiskan waktu paling banyak bersama balita tersebut. Strategi spesifik dalam berinteraksi dengan balita yang mengalami keterlambatan bicara penting untuk diterapkan karena perbedaan gaya dalam berinteraksi dengan balita memberikan efek terhadap perkembangan bahasa dan komunikasi mereka. [3]

Heidelberg Parent-based Language Intervention adalah salah satu jenis dari metode parent-based language intervention yang dipakai di Jerman dan negara lain dengan bahasa pengantar bahasa Jerman, Metode ini dikembangkan oleh Anke Buschmann pada tahun 2003 dan diperuntukkan bagi orang tua dan balita (usia 2 tahun) yang mengalami keterlambatan bicara. Sebelum menerapkan metode ini, harus dipastikan bahwa keterlambatan bicara tidak disebabkan oleh gangguan pendengaran, retardasi mental, autisme, atau gangguan neorologis seperti palsi serebral atau deprivasi psikososial. [4]   

Buschmann et al mengadakan uji kontrol terkendali terhadap 58 balita (usia 24-27 bulan) yang mengalami specific expressive language delay (SELD) dan memiliki perbendaharaan kata kurang dari 50 kata. Subjek dari penelitian ini diberikan pre-test kemudian dibagi kedalam dua kelompok yakni kelompok intervensi (intervention group) dan kelompok menunggu (waiting group). Kelompok intervensi diberikan intervensi dengan metode Heidelberg Parent-based Language Intervention yang diberikan dalam jangka waktu 3 bulan dan berisi tujuh sesi (setiap sesi berdurasi 2 jam) serta satu sesi berdurasi 3 jam yang diberikan enam bulan kemudian. Topik utama dari intervensi ini adalah orang tua membaca buku cerita bergambar bersama dengan balita mereka (picture book sharing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa grup intervensi memiliki skor post-test yang lebih tinggi dari grup menunggu (waiting group). Hasil follow up 12 bulan setelah intervensi dimulai juga menunjukkan bahwa kelompok intervensi memiliki lebih banyak perbendaharaan kata secara signifikan  jika dibandingkan dengan kelompok menunggu (waiting group). [5]

Uji kontrol terkendali mengenai parent-based language intervention juga diadakan di Amerika. Uji kontrol terkendali yang diadakan oleh Roberts dan Kaiser melibatkan 97 balita berusia 24 - 42 bulan yang memiliki risiko keterlambatan bicara. [6] Subjek penelitian dibagi kedalam dua kelompok yakni kelompok intervensi (caregiver-implemented intervention) dan kelompok kontrol (usual-care control group). Kelompok intervensi diberikan intervensi dengan metode Enhanced Milieu Teaching [7] yang terdiri dari 28 sesi (setiap sesi berdurasi 1 jam) selama 3 bulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa balita dalam kelompok intervensi memiliki kemampuan bahasa reseptif yang lebih baik jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemampuan bahasa ekspresif dari kedua kelompok. Penelitian ini menyimpulkan bahwa balita dalam kelompok kontrol memiliki risiko 1,4 kali lebih besar untuk mengalami keterlambatan bicara jika dibandingkan dengan kelompok intervensi. [6]

parent baby learn

Parent-based Language Intervention vs. Clinic-based Direct Intervention

Baxendale dan Hesketh membandingkan metode parent-based language intervention dengan clinic-based direct intervention. Dalam penelitiannya yang melibatkan 37 balita berusia 2-3 tahun, Baxendale membagi subjek penelitiannya kedalam dua kelompok, yakni kelompok parent-based language intervention yang menggunakan metode Hanen Parent Programme (HPP) [8] dan kelompok clinic-based direct intervention yang menggunakan metode one-on-one antara balita dengan speech therapist. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam efektivitas dari dua metode intervensi tersebut. Namun hasil dari pengolahan data kualitatif dan data quantitatif deskriptif mengindikasikan bahwa setiap jenis terapi memberikan efek yang berbeda kepada setiap keluarga sehingga sebaiknya pemilihan jenis metode terapi disesuaikan dengan kebutuhan setiap keluarga. [9]

Jika dilihat dari segi biaya, penelitian yang diadakan oleh Baxendale dan Hesketh menyimpulkan bahwa metode Hanen Parent Program (HPP) membutuhkan biaya yang lebih besar jika dibandingkan dengan metode clinic-based direct intervention. [9] Hal yang berbeda dikemukakan oleh Buschmann dalam uji kontrol terkendali yang diadakannya menggunakan metode Heidelberg Parent-based language intervention. Buschmann menyimpulkan bahwa metode Heidelberg Parent-based language intervention membutuhkan biaya yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan metode clinic-based direct intervention. [5] Perbandingan biaya tidak dapat disimpulkan dengan mudah mengingat penelitian tersebut diadakan di dua negara berbeda dan di waktu yang juga berbeda. Biaya yang dikeluarkan juga tidak bisa hanya dihitung berdasarkan biaya terapi per sesi, namun harus juga mempertimbangkan biaya transportasi serta waktu khusus yang harus disediakan untuk pergi ke pusat rehabilitasi.

Kesimpulan

Secara garis besar, intervensi dini untuk balita yang mengalami keterlambatan bicara terdiri dari dua metode yakni metode parent-based language intervention dan clinic-based direct intervention. Saat ini sudah dikembangkan beragam metode parent-based language intervention. Dengan menggunakan metode ini diharapkan balita dapat lebih menyerap materi karena materi disampaikan dengan strategi spesifik oleh individu yang sudah mereka kenal, yakni orang tua mereka sendiri. Selain itu diharapkan orang tua tetap dapat melanjutkan interaksi dan komunikasi dengan strategi spesifik tersebut di rumah ketika berinteraksi dengan balita mereka walaupun durasi intervensi sudah terlewati. Berdasarkan penelitian, tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari efektivitas kedua metode sehingga pemilihan metode dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap keluarga.  Namun yang pasti, metode parent-based language intervention ditemukan lebih baik jika dibandingkan dengan metode wait-and-see.

Referensi